Zeline Dan King

Zeline Dan King
Demam


__ADS_3

Crkrek...Cekrek... Cekrek


Kilatan blitz bertebaran menyinari wajah dan tubuh gadis cantik berambut hitam pekat sebahu menggunakan mini dress putih berkerah shabrina yang mengekspose bagian pundak dan sebagian dadanya, terdapat selendang dengan warna warni yang ia pegang dengan kedua tangan tertiup angin makin menambah indah gayanya, gadis itu berganti pose dengan selendang sebagai objek utamanya.


Ia pun berjalan perlahan lebih ke bibir pantai, agar kaki jenjang telanjangnya mengenai air laut yang mulai mendekati bibir pantai, sedikit berjinjit tatkala air laut menyentuh kakinya tak lupa ia pun berpose.


Fotograpfer itu terus mengambil angle yang berbeda-beda, begitu pula pose si model cantik.


Sampai akhirnya hari sudah menjelang siang, potografer menghentikan aktifitasnya karena dirasa ia sudah cukup puas dengan hasil yang didapat.


"Oke Zeline... Bagus! Saya sangat puas, sampai ketemu lagi nanti..." sang potografer mengakhiri sesi pemotretannya.


Zeline tersenyum dan menganggukkan kepala. Ia tak perlu melihat bagaimana hasilnya selain potografer yang dipercaya mengambil gambarnya ini sudah sekelas internasional, besok pun pasti Anin sudah mendapatkan hasil jadinya.


Zeline menghela nafas.


Rasanya begitu lelah hari ini, selama tiga hari berturut-turut ia melakukan sesi pemotretan di luar ruangan, kulitnya berkali-kali diterpa oleh polusi, debu dan sinar matahari.


Sebelum pulang ke jakarta ia akan menghabiskan waktunya ditempat spa.


"Anin... Ayooo, aku cape!!" rengek Zeline manja.


"Duluan gih, aku beresin ini dulu dan masih ada yang mau aku omongin sama potografernya. Kamu diantar Joe dulu ke tempat spa, entar suruh Joe balik lagi jemput aku" Anin berujar sambil membereskan kebutuhan Zeline.


Tanpa menjawab ia pun menuruti perintah sang asisten, dengan langkah gontai ia menyeret kakinya menuju parkiran.


"Hatchiii... Hatchiiii... Hatchiiii" Zeline merasa tidak enak dengan hidungnya, berkali-kali ia bersin dan menggesek hidungnya, belum lagi kepalanya terasa berat.


Setelah memberi instruksi pada Joe, mobil mewah sewaan itu pun melaju dengan kecepatan sedang menuju tempat spa terbaik di daerah Ubud.


Selama 330 menit Zeline dimanjakan dengan perawatan wajah dan tubuhnya. Sebelum pesta pernikahannya di Perth, gadis itu memang sudah marathon menyelesaikan semua kontraknya sampai tak ada waktu untuk melakukan perawatan.


Gadis itu sangat menikmati spa yang dibandrol seharga 5 juta rupiah. Zeline mengagumi tempat spa yamg ditata apik dengan lanskap bertingkat yang mengikuti kontur sisi lembah ditemani taman tropis, dan dilengkapi kolam renang pribadi, Jacuzzi, sauna, hingga sudut relaksasi. Sebelum memulai, ia dapat memilih di antara dua vila khusus, sesuai peruntukannya yaitu Relaxing dan Royal dan pilihan jatuh pada Relaxing karena ia butuh mengendurkan otot-otot tubuhnya. Ia pun mencicipi signature facial spa di sesi Relaxing Facial yang dapat mengembalikan kelembapan kulit wajah, hingga healing package yang mencakup Wind of Peace dengan terapi royal healing, facial dan pijat kepala.


(Copas, destinasian.co.id)


Setelah selesai melakukan paket lengkap spanya, Anin dan Joe sudah menanti di loby dengan wajah kelelahan, kelelahan menunggu lebih tepatnya karena hampir setengah hari gadis itu didalam sana dan kini matahari sudah digantikan oleh sang rembulan.


"Segeeeerr...." gumamnya dengan wajah berseri seraya berlari kecil menghampiri asisten dan bodyguard yang merangkap supir.


"Lama amat sie! 10 menit lagi kamu ga keluar, aku udah nyiapin surat resign nih" dengus Anin dengan kesal.


"Jangan gitu donk, cayang... ini semua demi penampilan aku, kalo aku burik entar ga laku trus kamu juga ga dapet gaji!" Zeline merajuk dengan senyum gigi putih bersihnya.


Anin membalas dengan memutar bola matanya jengah.


"Hatchiiii...." gadis itu kembali bersin saat berjalan menuju tempat parkir.


"Nin... Kayanya aku mau flu deh..." Zeline menggesek hidungnya yang mulai terasa tidak nyaman.


"Entar aku beliin obat...sekarang kita langsung balik Jakarta ya!" Anin menginstruksikan pada Joe yang dibalas anggukan oleh Joe.

__ADS_1


*****


"Kita sudah sampai, Tuan Puteri... " Joe menginjak pedal gas dengan mulus.


Tapi sang Tuan Putri masih betah berada dalam alam mimpinya, sedangkan diloby apartemen mewah itu sang pangeran sudah menanti dengan kaos rumahan yang mencetak jelas setiap otot tubuhnya dipadankan dengan celana tidur panjang motih kotak-kotak berbahan katun dingin, sepertinya nyaman dipakai untuk tidur. Walau hanya memakai baju rumahan biasa tapi tak mengurangi kadar ketampanannya.


"Zeline... Bangun, kita sudah sampai!" Anin menepuk-nepuk pipi Zeline lembut.


"Emmh..." Zeline hanya bergumam dan membalikan tubuhnya dengan mata terpejam.


King melangkah menghampiri mobil yang pintunya sudah terbuka, karena kakinya sudah pegal menunggu istri keras kepala yang tak kunjung keluar dari mobil.


"Ada apa?" tanyanya.


"Ini... Em... Zeline ga mau bangun!" ucap Anin terbata.


Setelah itu King memutari setengah badan mobil, membuka pintu yang lebih dekat dengan Zeline kemudian menyelipkan satu tangannya di bawah lutut dan satu tangannya melingkar dipunggung gadis itu.


Untuk kedua kalinya, pria itu menggendong Zeline dari mobil.


Zeline langsung tersadar.


"King?" gumamnya.


Tapi tubuhnya terlalu lemah dan kepalanya masih terasa sakit, selama penerbangan dari Bali hingga Jakarta, ia habiskan untuk beristirahat tapi seolah itu belum cukup. Didalam mobil pun ia kembali melanjutkan mimpinya.


"Hem?" King membalas dengan gumaman.


"Dimana ini?" tanyanya dengan suara lemah, ia pun bisa melihat Anin dan Joe mengikutinya dari belakang dengan beberapa koper menyibukan tangan keduanya.


"Apartemen kita..." saut King datar.


"Apa?" tanya Zeline dengan pandangan yang hampir kabur tapi ia sempat melingkarkan tangannya dipundak pria itu, walau bagaimana pun jarak dari loby hingga lift cukup jauh karena ia sudah merasakan tangan King yang sudah mulai melemah.


King tidak membalas, bukan tak ingin tapi ia sudah hampir kehabisan nafas karena menggendong gadis itu.


"King turunkan aku..." pinta Zeline


Tapi gengsi pria itu tiada duanya hingga menembus langit ketujuh, ia masih menggendong Zeline walau lift sialan itu lama terbuka.


Zeline sudah tidak punya tenaga untuk berdebat, ia pun menyandarkan kepalanya dipundak pria yang masih sabar menggendongnya menuju unit apartemen yang katanya milik mereka.


"paswordnya tanggal ulang tahun Zeline... " King memberikan kode dengan dagunya kepada Anin untuk menekan paskey apartemen.


Klik!


Pintu apartemen terbuka, King seperti mendapatkan oase di tengah padang gurun yang gersang.


Ia pun mendudukan Zeline di sofa besar ruang tamu apartemennya.


"Kenapa aku disini? Aku mau pulang... Aku sakit Anin!" rengek Zeline sambil memijit pelipisnya dengan mata terpejam.

__ADS_1


"Kamu itu cuma Influensa biasa, Zeline!" seru Anin sambil menuju kearah dapur membuat kan bubur untuk Zeline. "Aku bikin bubur sehat nih buat kamu, kamu harus makan dulu sebelum minum obat!" tambah Anin lagi sambil berteriak dari dapur.


"Dan mulai sekarang kamu tinggal disini sama suami kamu!" teriak Anin dengan sangat begitu jelas dari dapur.


Dengan sisa tenanga Zeline menghentak menolah kearah suara "Apa kamu bilang?" teriak Zeline dengan mata melebar sempurna.


"Ga usah pura-pura ga denger, kamu cuma influenza bukan budeg!" teriak Anin lagi.


Kemudian ia menatap Joe yang lalu lalang memasukan kopernya melewati pintu yang ia yakin adalah kamarnya mulai saat ini kedepan.


King menyandar di bingkai pintu kamar dengan tangan yang terlipat didada, kaki satunya menyilang dengan bertumpu pada ibu jari. Jangan lupakan senyum yang mengembang dari bibir pria tampan itu. Senyum perpaduan antara puas, mesum dan jahil.


Tenggorokan Zeline tercekat, nafasnya mulai tersengal seolah udara enggan masuk kedalam paru-parunya. Kepalanya kini mulai berdenyut makin kencang.


Tidak cukup gejala influenza yang bertubi menyerangnya, kini ia harus menerima kenyataan untuk tinggal satu apartemen dengan laddy killer yang sayangnya sudah syah menjadi suaminya.


Tiba-tiba ucapan Mama dan Papa saat sidang keluarga beberapa hari lalu di Perth, terngiang jelas hingga berubah menjadi dengungan lebah yang memekakan pikirannya.


Kembali kepala cantik itu berdenyut kencang, ia sudah tidak bisa membantah lagi. Tak ingin kedua orang tua yang sangat disayanginya menanggung dosa karena ia tidak menurut kepada suami.


Diam-diam dalam hati Zeline meminta kepada Tuhan untuk jatuh miskin saja karena ia belum pernah merasakan satu penderitaan itu seumur hidupnya, dari pada menikah dan tinggal bersama dengan pria tampan, bertubuh atletis dan sukses tapi brengsek itu.


Ah shit! Kenapa pikiran Zeline jadi memuja King?


Ia pun hanya bisa berpasrah diri, melorotkan tubuhnya disofa besar berbahan suede yang harganya bisa satu tahun gaji Anin.


"King... Apa bisa kau buat dirimu berguna? Dengan memijit kepala ku, mungkin?" gumam Zeline yang masih terdengar oleh King.


King berdecak kesal.


Perempuan ini, pergi tiba-tiba satu hari setelah pernikahan mereka dan sekarang datang dalam keadaan sakit, dan sekarang dengan tanpa dosa meminta King memijit kepalanya. Zeline memang gadis luar biasa.


Dengan enggan dan sangat terpaksa, King mendekati Zeline yang sedang merebahkan tubuh disofa. Pria itu pun berjongkok dan menghela tangan Zeline lalu mulai memijit pelipis gadis itu.


Panas, yang ia rasakan. Sejenak ia menghentikan pijitannya dan menyentuh kening kemudian leher gadis itu.


"Kamu demam... " King terkejut dengan suhu tubuh istrinya.


Zeline masih memejamkan matanya dengan tubuh gelisah mencari kenyaman.


"Anin..." teriak King


Anin berlari menghampiri King yang sedang mengendong Zeline ke kamar.


Setelah membawanyanya ke ranjang, King menarik selimut untuk menutupi tubuh Zeline yang menggigil.


"Aku akan panggil dokter, tubuhnya panas tinggi!" kemudian ia pergi ke ruang kerjanya mengambil telepon selular.


Beberapa menit berlalu.


Zeline masih bergerak gelisah dalam balutan selimut, sesekali ia menendang kain berbahan wool halus itu. King sudah tiga kali mengganti handuk kecil basah yang bertengger di kening istrinya.

__ADS_1


Anin dan Joe saling pandang melihat perhatian Tuan Muda didepannya, dan saling melempar senyum. diam-diam Anin mengambil gambar dan video King yang sedang mengompres Zeline untuk ia abadikan. Entahlah ia ingin saja, untuk dokumentasi pribadinya, pikir Anin.


__ADS_2