Zeline Dan King

Zeline Dan King
Tidak Rela


__ADS_3

Pagi sekali bunyi bel apartemen King sudah memenuhi seluruh ruangan, seseorang seperti tidak sabar memencet bel tersebut.


Dengan mata masih sedikit tertutup Zeline bangun, hatinya mengumpat kesal bahkan ia berjanji akan memukul orang yang memencet bel itu karena sudah menganggu tidur lelapnya.


Zeline memutar knop pintu kamar, dan sedikit berlari menuju pintu utama apartemen, tapi saat melewati kamar sebelah tiba-tiba...


Brugh....


Zeline menabrak susatu yang tidak lain adalah tubuh suaminya yang saat itu juga sedang terburu hendak membuka pintu, gadis itu hampir terjengkang kebelakang kalau saja tangan kekar milik King titdak menariknya dan Zeline kini jatuh dalam dekapan pria tampan itu.


Merasakan hangat dan aroma khas tubuh King membuat Zeline tidak langsung bangun malah mengesekan kepala pada dada bidang suaminya sambil memejamkan mata.


King tersenyum samar, kedua tangan yang melingkar dipunggung gadis itu makin ia eratkan.


"Kangen ya, semalem ga tidur sama aku?" goda pria itu dengan santai


Bel masih terus saja berbunyi hingga memekakan telinga.


"Ih paan sih..." Zeline langsung meronta melepaskan pelukan suaminya lalu beranjak bangun dengan wajah merona meninggalkan King yang masih terlentang dilantai berkarpet empuk.


"Begooo... Kenapa aku malah nyaman dipeluk dia sih? Iiissshhh.... " Zeline menggelengkan kepalanya.


Ceklek...


Anin terbelalak melihat Zeline dengan pakaian tidur dan rambut acak-acakan, ekspresi bangun tidur masih tercetak di wajah cantiknya.


"Ya Tuhan Zeline...kamu tidur apa mati sih susah banget dibangunin!!" omel Anin sembari masuk diikuti Joe


Mungkin Zeline dan King bisa mendapat predikat mempelai pengantin paling santai didunia karena keduanya yang akan menikah tapi orang-orang disekitarnya lah yang paling sibuk sedangkan King dan Zeline saat ini saja masih baru bangun padahal pesta akan dimulai beberapa jam lagi.


Zeline menonjok tangan Joe dengan kesal dan alis tertaut tajam. Sesuai dengan janjinya dalam hati ia akan memukul orang yang membangunkannya pagi ini, dan pilihan jatuh pada Joe karena tidak mungkin ia memukul Anin.


"Aww... Non, ko mukul?" ringis Joe dengan dahi berkerut


"Kesseeelll!!" rengek Zeline dengan suara manja lalu menghentakan kaki masuk kedalam kamar.


Joe hanya menggelengkan kepala sambil mengusap lengan yang sedikit sakit dengan tangan satunya.


"Tuan Muda saya akan buat kan sarapan dulu" ucap Anin sambil menuju dapur


King mengangguk sambil mengulas senyum.


"Tuan... Kopernya sebelah mana?" tanya Joe dengan sopan


"Bawalah dulu gaun pengantin Zeline dan tuxedo saya di kamar sebelah ke mobil... Saya ambil dulu kopernya dikamar" titah King kepada Joe.


Keduanya akan honeymoon ke paris dan pergi malam ini juga setelah acara berlangsung.


Tanpa tim yang biasanya meliput liburan atau acara jalan-jalan Zeline untuk kebutuhan konten videonya.


Kali ini Papa Andra tidak mengijinkannya, mereka hanya harus berdua saja seperti pasangan pengantin baru.


Joe langsung menuju kamar tamu sesuai perintah Tuannya membawa gaun pengantin dan tuxedo untuk digunakan hari ini.


Setelah mempelai pengantin itu mandi,keduanya duduk manis di meja makan saling bersebelahan.


Hanya suara denting garpu dan sendok yang mengenai piring terdengar menemani sarapan yang sedikit kesiangan, selebihnya hening. Sepasang suami istri itu tak berbicara sepatah kata pun.


Anin dan Joe yang menunggu di sofa tak jauh dari sana saling pandang, Anin menatap Joe dengan tanya yang dibalas hanya dengan mengendikan bahu oleh Joe. Keduanya memang ahli dalam mengartikan kode satu sama lain.


Setelah selesai sarapan, mereka langsung menuju hotel mewah milik Papi Zach dimana acara akan berlangsung.


King dan Zeline duduk dibelakang didalam mobil pengantin yang sudah dihias dengan bunga berwarna putih dan peach.


Joe yang mengemudi dan Anin berada disebelahnya.


Zeline dan King masih saling diam, merasa bosan karena perjalanan menjadi sangat lama disebabkan oleh jalanan yang padat, Zeline mengubah posisi duduk dengan lebih merilekskan tubuhnya menyandar pada kursi mobil mewah yang empuk itu, tangannya yang sebelumnya terlipat didada ia simpan di kursi disamping pahanya.


Ternyata tangan Zeline menyentuh tangan King yang tepat berada diseblahnya.


King mengangkat tangannya yang bersentuhan dengan tangan Zeline lalu menyimpannya diatas tangan gadis cantik itu.


Zeline tidak bergeming, ia tak menolak atau memindahkan tangannya. Jemari King mulai nakal mengusap lembut dan memainkan jari Zeline yang berada dibawahnya.


Zeline menggigit bibir, hal-hal manis sepele seperti ini membuat hati gadis itu bergetar. Ia memalingkan wajah menatap keluar jendela menyembunyikan rona merah yang mulai mewarnai wajah cantiknya.

__ADS_1


King menarik tangan Zeline dalam genggaman dan menyimpannya di paha, menggeser duduk agar lebih dekat dengan gadisnya.


Mencondongkan kepala lebih dekat dengan telinga Zeline kemudian berbisik.


"Udah... Marahnya?"


Zeline bisa merasakan hembusan nafas panas King di telinganya.


Gadis itu menoleh tanpa menjawab dan wajah keduanya menjadi sangat dekat. Jantung Zeline mulai berdetak lebih kencang, matanya mengedip perlahan mengibas bulu mata lentik miliknya.


Satu tangan King yang bebas menangkup pipi Zeline lalu mengusap bibir ranum itu dengan ibu jarinya.


"Bibir ini..." King menggantungkan kalimatnya, bola mata abu yang tadi menatap mata hitam Zeline beralih menatap bibir gadis itu.


"Jangan pernah kau ijinkan mengucapkan kata cerai lagi ya!" tambahnya lalu menelan saliva.


Ingin sekali mengecup bibir ranum itu tapi ia tak ingin membangunkan singa dalam diri Zeline dan membuatnya makin kesal, bisa jadi nanti ia akan sendirian berdiri dipelaminan. Siapa yang tau bila gadis itu sudah marah, apa pun bisa ia lakukan meski harus lari dari pesta pernikahannya.


"Apa? dia ga pengen cerai? Benarkah?" batin Zeline


King hanya bisa menatap bibir yang terbuka sedikit itu dengan tatapan nanar dan sesekali menatap mata Zeline yang kini berbinar, seolah meminta persetujuan mengecup sedikit saja bibir Zeline.


"Kamu boleh ko... " ucapan Zeline menggantung


"Boleh apa... " saut King dengan mendesah, wajah keduanya masih sangat dekat, hanya berjarak 5cm.


Zeline menelan salivanya lalu mengedip sebentar


"Cium aku... " jawabnya sangat pelan hampir tidak terdengar.


King tersenyum lalu tanpa berpikir panjang langsung mencium bibir Zeline dengan sangat lembut menikmati setiap jengkal bibir lembab dan hangat itu, tak disangka Zeline menyambutnya ikut andil dalam setiap kecupan yang King mainkan.


Ciuman itu semakin lama semakin dalam dan menuntut membuat tubuh keduanya memanas.


"Ekhem...." Anin berdehen sengaja menginterupsi.


"Bisa dilanjut ciumannya nanti di paris? Nona Zeline harus dirias dulu sekarang!" ucap Anin sambil membuka pintu.


Keduanya langsung melepaskan pagutan dan melihat keluar jendela ternyata mobil yang mereka tumpangi sudah tiba di depan loby hotel.


King mengusap bibirnya, ciuman panas itu menyisakan jejak basah dibibir.


Joe hanya mesem-mesem sendiri karena telah lancang melihat secara live adegan vulgar majikannya dari kaca spion tengah.


King dan Zeline turun dari mobil lewat pintu masing-masing.


Keduanya langsung di giring ke kamar hotel yang sudah disediakan, kamar presidential suite pada hotel bintang lima ini didominasi warna kuning keemasan menampilkan kemewahan. Kamar dengan tempat tidur yang membentang sepanjang 12 kaki yang dilengkapi dengan seprai 1.000 count thread dan terbungkus dengan kain sutra elegan. 


Tidak hanya itu, kamar ini juga dilengkapi dengan jacuzzi, shower berlapis emas 24 karat, toilet Neorest dan perlengkapan kamar mandi mewah. Selain itu, kamar itu juga memiliki bantal Nancy Corzine edisi terbatas dan barang-barang dekoratif dari Jay Strong. 


Konon kamar ini dibandrol seharga 216 juta rupiah satu malam.


Tim make up dan hairdo sudah standbye disana menunggu sang mempelai pengantin wanita yang cantik, sungguh tugas berat bagi seorang penata rias yang namanya sudah terdengar hingga manca negara itu, pasalnya Zeline adalah seorang model dan aktris yang sudah sangat familiar dengan make up diwajahnya dan hari ini penata rias tersebut diminta agar membuat Zeline tampil beda.


Tapi harga tidak akan pernah bisa berbohong, keahlian yang di hargai cukup fantastis itu dalam dua jam berhasil membuat Zeline benar-benar beda dari biasanya dengan bantuan hairdo yang anggun dan elegan makin memancarkan aura kecantikan gadis itu yang berbeda dari biasanya.


Bahkan King tidak berkedip saat menatap istrinya itu, bukan hanya karena wajah yang 75% sudah berubah karena bantuan make up tapi gaun pengantin yang benar-benar mengekspose tubuh sintalnya.


Dengan tuxedo yang membalut tubuh tegapnya, King terlihat sangat tampan. Bulu-bulu halus di rahang sengaja ia biarkan membuatnya terlihat masculin.


Dengan mata melebar sempurna pria itu berjalan perlahan kearah Zeline yang sedang berdiri menatap kaca panjang yang melebihi tinggi tubuhnya.


"Zeline... Kau kah itu?" gumam King yang masih terdengar oleh orang-orang yang ada dalam ruangan tersebut.


Anin dan tim rias merapihkan gaun Zeline yang melebar dari pinggang hingga menyentuh lantai, tersenyum mendengar gumaman Tuan Muda tampan pemilik perusahaan-perusahaan besar di Negrinya itu.


"Kenapa? Aku jelek ya?" tanya Zeline sambil menatap cermin.


"Kamu cantik... Sangat!" ucap King terdengar meyakinkan.


Blushing!


Zeline merona mendengar pengakuan King, padahal gadis itu sudah sering mendengar ungkapan cantik dari setiap orang bahkan tim rias dan hairdo saja dalam dua jam ini sudah 10 kali lebih melontarkan pujian cantik untuk Zeline.


Tapi kenapa mendengar pujian cantik dari King jantungnya langsung berdebar kurangajar dan pipinya merona mengalahkan blushon yang diaplikasikan ke wajahnya.

__ADS_1


"Lebih cantik dari pernikahan kita di Aussie?" tanya Zeline menatap King menunggu jawaban tapi pria itu terlalu hanyut dalam kecantikan istrinya.


"Lebih cantik dari Jenifer?" tanya Zeline lagi membuat King terhentak ke bumi.


King tidak akan terkecoh oleh umpan lambung dari istrinya yang cerdik itu


"Lebih cantik dari semua itu" jawabnya lugas, meraih tangan Zeline kemudian menciumnya.


Zeline tersenyum memperlihatkan gigi kelincinya, senyum yang selalu membuat King ingin menerkamnya bahkan saat ini juga.


Mata abunya kini beralih pada gaun indah pilihan Mami Azuri yang di pesan dari perancang busana asal Surabaya yang menjadi langganan para artis hollywood itu memiliki harga yang sangat fantastis tapi King sangat tidak menyukai gaun yang Zeline kenakan karena gaun itu terlalu terbuka dan bahkan sangat sangat sangat terbuka.


Untuk pertama kalinya King tidak rela bagian tubuh gadisnya dilihat oleh banyak orang. Kalau wanita lain, King tidak memperdulikan bahkan Jenifer sekalipun pria itu tidak pernah seposesif ini tapi pengecualian untuk istri cantiknya.


Pasalnya bagian dada yang terbuka itu belum pernah ia sentuh apalagi menikmatinya dan King tidak rela bagian sintal didada istrinya yang terlihat halus, putih dan mulus dinikmati oleh banyak pasang mata di pesta nanti.


"Aku tidak rela!!" batin King geram


"Apa ga ada baju lain?" pertanyaan bodoh keluar dari mulut manis pria tegap itu.


Semua menoleh dengan mengangkat kedua alisnya penuh tanya.


"Maksud Tuan?" tanya Anin bingung


"Gaun itu sangat terbuka!" seru King dengan dahi berkerut kemudian pria itu berbalik menuju pintu pembantas kamar dan ruang tamu.


Beberapa detik kemudian King kembali masuk membawa jaket jeans sebatas pinggang yang dipakai Zeline sebelumnya.


"Pakai ini..." pintanya sambil memberikan jaket tersebut.


Zeline terkekeh dan yang lain menahan senyum mengerti akan pemikiran sempit King.


"Udah beres kan? Kalian boleh keluar... " pinta Zeline yang kemudian mendapat anggukan dari Anin dan tim tata riasnya.


Sebelum menutup pintu, Anin membalikan tubuhnya.


"Waktu kalian cuma 15 menit ya buat nego!" ucapnya sambil menunjuk King dan Zeline bergantian lalu menutup pintu itu rapat.


"Kenapa aku harus pake jaket itu? Ga cocok banget kan King!" Zeline meminta jawaban dengan menyimpan kedua tangannya dipinggang dengan menukikkan alisnya kebawah.


"Punggung sama pundak kamu terbuka, nanti kamu masuk angin, baby! Trus itu bagian dada kamu apa ga bisa kamu angkat dikit keatas gaunnya? biar aset kamu yang berharga itu ga keliatan sama orang-orang!" seru King dengan tatapan tak terbaca.


Zeline makin tertawa hingga terbahak.


"Ko malah ketawa? Aku ga rela ya baby!" klaim King dengan dahi berkerut menandakan keseriusannya.


"Tapi memang gini gaunnya, sayang..." ucapnya lembut, lagi-lagi otak cerdik Zeline berfungsi. Mendengar panggilan sayang, pasti pria itu tidak akan berkutik.


Seorang pebisnis sekaliber King tidak akan membuang kesempatan negosiasi ini. Lampu hijau sudah menyala bahkan kini sangat terang benderang.


"Oke... Aku ijinin kamu pake gaun itu, tapi kamu juga harus ijinin aku untuk melaksanakan kewajiban sebagai suami ngasih nafkah batin buat kamu!" tawarnya dengan senyum devil.


Glek!


Zeline menelan saliva dengan susah payah, matanya berkedip berkali-kali.


"Kalau aku ga mau?" tantang Zeline


"Kamu harus pake jaket itu ditambah dosa!" jawabnya dengan tegas


"Ya udah..." ucap Zeline menarik gaunnya keatas agar memudahkannya berjalan menuju pintu.


"Ya udah apa?" kejar King


"Ya udah tinggal kasih aja..." Zeline membuka pintu


Lengan kekar King menahannya, Zeline menoleh dan pria itu makin mendekatkan wajahnya dengan satu tangan menahan pintu disamping kepala Zeline.


"Kasih apa?" bisiknya didepan wajah Zeline


Kembali jantung itu berdegub kencang, hingga Zeline memegang dadanya.


"Nafkah bathin... " ucapnya lirih dengan rona merah diwajah.


King mengulas senyum tipis lalu mulai lebih mendekatkan wajahnya ingin meraup bibir merah itu dengan bibirnya tapi kedua tangan Zeline menahan dada bidang King.

__ADS_1


"Ngga sekarang..." Zeline menggelengkan kepala.


King menjauhkan tubuhnya dengan senyum yang masih mengembang dibibir lalu membukakan pintu untuk Zeline dan keduanya keluar disambut oleh Anin yang sudah panik karena acara akan segera dimulai.


__ADS_2