Zeline Dan King

Zeline Dan King
Masa Lalu


__ADS_3

Setelah membaca hasil tes tersebut, tidak ada air mata yang mengalir karena perasaan lega berhasil mengambil alih.


Mungkin juga karena Zeline terlalu bosan mengeluarkan buliran bening itu atau pikiran yang sudah lelah membayangkan kejadian-kejadian buruk di masa depan.


Yang pasti King dan Zeline merasa sangat bersyukur, bahagia dan lega sekaligus.


Pria berjas putih itu pamit meninggalkan mereka berdua didalam ruang aula rapat.


Keduanya tidak bisa mengungkapkan rasa bahagia itu karena perasaan ini terlalu luar biasa dan sulit untuk dipercaya.


King dan Zeline hanya bisa diam dengan pikiran masing-masing dan tangan saling menggenggam berjalan menuju ruang praktek dokter kandungan.


Saat dokter menggerakan alat USG diperut Zeline, layar monitor menampilkan suatu gumpulan.


Gumpalan seperti biji kacang hijau itu menurut dokter cukup sehat terdengar dari detak jantungnya.


King mengeratkan genggaman tangannya membuat Zeline menoleh kemudian perempuan itu tersenyum.


Senyuman bahagia terlihat jelas dari binar matanya, ia merasa dicintai.


Sudah sangat lama dari terakhir kali King melihat senyum itu.


Nafas king memburu dengan perasaan membuncah bahagia kemudian menarik kedua sudut bibirnya untuk tersenyum samar.


"Setelah makan siang, aku anter kamu pulang... langsung istirahat ya... " titah sang suami kepada Zeline.


Sang istri menggelengkan kepala, "Mau ikut ke kantor" rengek Zeline, rasanya ia enggan berpisah dengan ayah dari janin yang ada dalam kandungannya.


"Baby.... Nanti kamu bosan... " tolak King halus karena ia tidak akan bisa konsentrasi bila sang istri menemaninya dikantor.


Dan mengingat saat terakhir kali Zeline ke kantornya, ia harus memindahkan seorang karyawati ke cabang lain di luar kota.


"Ngga... Aku ga akan bosan... " kekeuh Zeline tidak mau ditinggalkan oleh King.


"Ya udah... Tapi kalau nanti kamu bosan, kamu pulang duluan ya... " King mengelus pipi Zeline dengan punggung tangannya.


"Hem... " Zeline menggumam, tidak mengatakan iya tidak juga tidak.


Setelah keduanya sampai di kantor, Elgi langsung menghampiri.


"Tuan... Sudah ditunggu Tuan Kurota di ruang rapat!" ucap Elgi tenang, padahal tadi ia sudah mendapat amukan dari sekertaris Tuan Kurota karena King terlambat datang dirapat yang telah mereka sepakati.


Pria itu lupa mencharge ponselnya sehingga sulit sekali untuk dihubungi.


"Ya Tuhan... Aku lupa!" Pekik King sambil menepuk jidatnya.


"Baby... Kamu keruangan aku duluan ya, tau kan tempatnya?" King memegang kedua pundak Zeline, meyakinkan apakah wanita itu akan baik-baik saja.

__ADS_1


"Oke... " balas Zeline sambil mengedipkan satu matanya.


Kemudian mereka memasuki lift yang sama hanya saja King dan Elgi keluar terlebih dahulu.


Dilantai berikutnya, masuk dua karyawati dengan stelan blazer dan rok pendeknya.


Dua karyawati tersebut tidak menyadari disudut lift ada model dan aktris papan atas juga istri dari Bosnya.


Baju yang karyawati itu kenakan cukup berani karena ujung rok yang sangat jauh jaraknya dari lutut juga make up yang dikenakanannya tidak sesuai dengan tempat mereka bekerja.


Zeline pikir mereka lebih cocok untuk bekerja di club daripada di kantor suaminya.


"Setelah Tuan King menikah, kere gue! Ga ada panggilan lagi dari si Bos!" celoteh karyawati yang memakai pewarna bibir merah merona.


"Ya eyalah... Udah punya bini yang mending sama bininya!" komentar karyawati satunya.


"Padahal dulu dia sampe nagih setiap maen sama gue, udah punya bini lupa!" wajah si karyawati memberengut.


Bayangkan hormon ibu hamil yang sedang Zeline alami sekarang memicu emosi yang sudah akan meledak seperti bom yang menghancurkan Nagasaki dan Hiroshima, tapi Zeline menahannya dengan mengepalkan kedua tangam dan dan yang bergemuruh.


Ting... Bunyi tanda lift akan terbuka.


Zeline berdekhem, kemudian berjalan diantara dua karyawati tersebut sambil menggeser tubuh mereka.


Sekilas Zeline melayangkan tatapan kesal dan dua karyawati tersebut membulatkan mata dengan mulut menganga tidak menyangka istri Bos mereka sedari tadi ada di dalam lift.


Kemudian dengan menghentakan kaki, Zeline melangkah masuk keruangan King.


"Punya laki hyper, jijiiiiikkk.... Udah berapa cewe yg dia celup-celupin sebelum sama aku, coba? Hoek!!!" tiba-tiba Zeline merasa mual kemudian berlari menuju kamar mandi memuntahkan sesuatu.


Setelah menuntaskan hasrat ingin muntahnya, Zeline keluar dari kamar mandi, saat menopang tubuh lemasnya di salah satu lemari, tidak sengaja Zeline menekan salah satu panel yang merupakan kunci menuju ruangan lain.


Tubuh yang tadi lemas kini menjadi segar dan rasa ingin tau Zeline menuntunnya masuk kedalam ruang rahasia itu.


Terdapat ranjang berukuran King size, lemari yang komplit dengan pakaian dalam, stelan jas juga kemeja dan dasi.


Pakaian casual dengan beragam jenis sepatu juga tertata rapih disana.


Disudut ruangan terdapat kulkas kecil dengan beberapa botol air mineral juga teko listrik.


Semua yang ada disana percis seperti dalam kamar hotel berbintang.


Zeline duduk disisi ranjang dengan bahu merosot, memang ia bisa melihat debu disana sepertinya sang suami sudah lama tidak menggunakan kamar ini tapi tetap saja rasa kecewa itu sudah bersarang di hatinya.


Sepertinya hampir seluruh wanita digedung ini pernah suaminya tiduri.


Kenapa semakin kesini masa lalu suaminya yang buruk itu muncul satu persatu.

__ADS_1


Bukannya Zeline sudah mencintai King itu berarti ia juga harus mencintai masa lalu lelaki itu.


Zeline mengelus seprei putih yang melapisi ranjang empuk yang sedang ia duduki, tidak... Zeline tidak boleh menangis, juga tidak boleh marah.


Mereka baru saja mendapat kebahagiaan, ia tidak boleh mengacaukannya.


Walau dengan perasaan sesak, tapi wanita yang kini tengah mengandung 7 minggu itu mencoba berbaring di ranjang yang terlihat nyaman.


Perlahan ia menutup matanya yang terasa mengantuk setelah menghabiskam banyak sajian seafood saat makan siang tadi.


Beberapa jam berlalu, Zeline tersadar tapi belum mau membuka matanya.


Indera penciumannya menangkap aroma masculin dari parfum yang bercampur keringat sang suami, ia juga merasakan hembusan nafas hangat menerpa wajahnya dan pinggangnya terasa berat karena ada tangan melingkar disana.


Zeline membuka mata perlahan dan benar saja, King sedang terlelap disampingnya entah sejak kapan.


Kemudian mendongak lalu mencium rahang tegas yang sudah ditumbuhi sedikit bulu itu.


King tersenyum dengan mata masih terpejam, Zeline kembali mencium pipi King dan sang suami malah terkekeh.


"Sejak kapan kamu disini?" Zeline bertanya dengan suara serak.


"Baru saja dan gimana kamu bisa tau tempat ini?" King beranjak dari ranjang untuk mengambil air mineral kemudian menuangkannya kedalam gelas lalu diberikan kepada sang istri.


"Maksud kamu tempat ini? Tempat kamu memuaskan hasart dengan Jenifer atau para wanita cantik di gedung ini?" ucap Zeline sarkas dengan suara rendahnya.


Perempuan itu menyaut gelas yang diberikan King kemudian meneguk habis air didalamnya.


King berdecak kesal, " Ck! Kamu ngomong apa sih?" pria itu menampakan wajah kesal, sangat manusiawi bila seorang pria melakukan defensif seperti itu ketika kesalahannya terbongkar.


Zeline terkekeh, "Ga apa-apa ko sayang... Aku ga apa-apa, hati aku sekuat batu karang!" Zeline berucap dengan mendramatisir sambil menempelkan telapak tangan didada kirinya.


King menghembuskan nafas lega, ia pikir akan terjadi pertempuran malam ini karena tebakan Zeline tentang fungsi kamar tersembunyi tersebut adalah benar.


"Sini... " Zeline menepuk bagian kosong diranjang tersebut.


"Aku ingin mengukir sejarah sama kamu disini!" imbuh sang istri dengan tatapan menggoda.


Dan King tidak bisa untuk bilang tidak, pria itu langsung membuka satu persatu kancing kemejanya dan melepaskan sembarang.


Perlahan merangkak keatas ranjang dan melucuti pakaian Zeline.


Kali ini King harus bisa sedikit menahan dirinya karena didalam sana ada segumpal daging yang sedang berjuang untuk hidup.


Tapi pria sekaliber King dengan ratusan jam terbang dalam hal memuaskan dan dipuaskan diranjang selalu punya cara dan gaya agar si jabang bayi tidak tersakiti.


Maka di salah satu ruangan gedung pencakar langit itu, Zeline lebih memilih menghapuskan jejak wanita lain di ranjang yang dahulu kala sering suaminya gunakan untuk memuaskan hasrat.

__ADS_1


Daripada menghukum King dengan amukan atau memindahkan karyawati itu ke kota lain seperti sebelumnya.


Zeline akan mentolelir masa lalu King karena ia begitu mencintai suaminya dan tidak ingin merusak moment bahagia yang baru saja mereka dapatkan.


__ADS_2