
Setelah mendapat persetujuan dari sang istri untuk pindah rumah, King langsung membelikan Zeline satu buah rumah besar di perumahan kaum jetset.
King membiarkan sang istri untuk memilih desain interior rumah tersebut dan kini Zeline disibukan memilih desain interior dan perabotan rumah yang akan ditempatinya nanti.
Sesekali King menemani tapi selebihnya Zeline bersama Anin juga Joe.
Mama Rena dan Mami Azuri pun tiap hari bergantian menemani Zeline.
Kesibukannya ini bisa sedikit mengalihkan pikiran tentang penculikan yang baru saja di alaminya.
Ternyata memilih desain, berdiskusi dengan arsitek dan desainer interior juga berburu perabotan merupakan hal yang menyenangkan dan cukup menyita waktunya.
Perlahan Zelinenya seperti hidup kembali dan King sangat mensyukurinya.
"Sayang... Aku ingin desain interior shabby chic untuk rumah kita!" Zeline memperlihatkan puppy eyesnya.
"Apa tuh?" Kening King mengernyit.
"Kaya gini..." Zeline memberikan majalah yang berisi beragam desain interior dan membuka bagian desain interior shabby chic untuk King lihat.
"Ya ampun, baby! Jangan semua ruangan ya, gimana kalo kamar kita aja? Itu kan rumah kita untuk selamanya sayang, desainnya harus long last, dan elegan....Bagaimana kalau nanti kita mengundang calon besan atau klien aku untuk makan malam dan melihat interior rumah seperti anak kecil seperti itu? " bujuk King pelan.
Zeline mencebikan bibir, tidak suka dengan apa yang dikatakan sang suami karena hal itu benar adanya.
"Ya udah oke... Kamar aja...!" Zeline mengerucutkan bibir.
"Sama dapur deh... " tawar King lagi.
Zeline menoleh, "Bener?" matanya berbinar.
King mengangguk sambil tersenyum dan langsung mendapat pelukan dari sang istri.
Hanya dalam waktu dua minggu rumah besar itu telah disulap menjadi rumah mewah dan elegan dengan bantuan desiner interior ternama.
Kedua orang tua Zeline dan King hadir pada saat acara pindahan, sayangnya Azalea yang berada di Italy dan Ken yang berada di London tidak bisa hadir melengkapi acara keluarga tersebut.
"Ada yang bikin party tapi ga ngundang-ngundang nih kayanya... " ujar Kevlar membuat semua menoleh kearahnya.
"Kev... " Zeline berhamburan memburu Kevlar di pintu.
"Bunga yang cantik, untuk wanita tercantik" Kevlar memberikan satu buket bunga untuk Zeline.
"Thank You... " Zeline menggandeng Kevlar untuk masuk lebih dalam ke rumahnya.
"Dasar buaya!" desis King saat memeluk Kevlar dengan masculin dan pria itu hanya terkekeh.
Kevlar pun menyalami kedua orang tua Zeline dan Uncle juga Auntynya secara bergantian.
"Kev... Kamu kapan nyusul King?" selalu itu yang ditanyakan oleh Azuri kepada para keponakannya seolah bangga dengan anak-anaknya yang telah menikah terlebih dahulu.
"Kapan-kapan, Aunty... " jawabnya asal sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Kamu tuh Ya... " Mami Azuri berdecak.
Papa Andra dan Papi Zach terlihat serius berbincang tentang bisnisnya di ruang tamu, kedua pebisnis sukses itu tidak pernah lepas dari seputaran bisnis bila bertemu.
Sedangkan Mami Azuri dan Mama Rena beserta Zeline sedang membuat kue dan makan siang, mencoba semua perabotan dapur baru yang dihadiahkan Mama Rena dan Mami Azuri untuk Zeline.
Kevlar dan King memilih untuk mengobrol di dekat kolam renang.
"Gimana keadaan Zeline sekarang?" tanya Kevlar sambil menatap Zeline dari tempatnya duduk.
__ADS_1
"Seperti yang kamu lihat, sedikit teralihkan dari traumanya karena sibuk mendesain rumah ini... " balas King sambil menyandarkan tubuhnya di kursi.
"Syukurlah... Memang perlu waktu, tapi kamu harus berusaha lebih keras dan lebih sabar, King..." Kevlar menundukan pandangannya.
"Kamu tau sesuatu?" King bertanya sambil menaikan satu alisnya, mendengar sesuatu tersirat dari kalimat sang sepupu.
King tau betul masih ada yang ingin Kevlar utarakan.
Menghembuskan nafas, "King... Aku minta maaf, beberapa waktu lalu sempat bekerja sama dengan Jeni untuk memisahkan kalian... Tapi aku menyesal!" tutur Kevlar hati-hati.
King tersentak dengan mata melotot, tubuh yang tadi bersandar ke sofa kini ia tegakan.
"Tapi aku berani jamin kalau kejadian Reka itu bukan rencana kita, sumpah! Bahkan Jenifer sendiri tidak percaya kalau Reka berani melakukan itu!" tambah Kevlar dengan kedua telapak tangan terangkat.
King mendengus, "Aku ga nyangka kamu tega, Kev!" pria itu membuang tatapannya.
"Maaf King, tapi aku benar-benar menyesal sekarang.... Dan aku minta kamu hati-hati sama Jenifer, dia masih akan membuat kalian berpisah... Kalau bisa kamu selesaikan dulu urusan kamu dengan Jenifer secara baik-baik, walau bagaimana pun dia wanita yang selalu ada disamping kamu selama 10 tahun terakhir ini!" setelah mengucapkan itu Kevlar bangun dari duduknya meninggalkan King yang masih termenung mencerna semua perkataan Kevlar.
"Bagaimana aku mau menyelesaikan hubungan baik-baik dengan Jenifer kalau gadis itu tidak pernah ingin berpisah?!" gumam King sambil memejamkan matanya.
"Sayang... kamu apain Kevlar sie? Ko dia pulang sebelum makan siang?" Zeline memberengut.
King menarik tangan Zeline hingga gadis itu terduduk dipangkuannya.
"Kamu ko kesel gitu Kevlar pulang?" King mencium rahang Zeline.
"Aku seneng kalian udah baikan, dia kan sepupu kamu, King!" Zeline mengerucutkan bibir.
"Bukan karena masih cinta?" bibir King mengecup-ngecup lembut leher Zeline, gadis itu mengerang.
"Buukaaan, sayaaaang.... Aku juga ga enak hati karena dia udah ga mempermasalahkan kontrak lagi, euuunngghhh....!" Zeline melenguh ketika tangan kekar sang suami memijat lembut dadanya.
"Ck.. Ck.. Ck..! Get a room, King!!!" seru Papi Zach sambil melengos melewati keduanya.
"Udah ditunggu Mama sama Papa di meja makan, King!" Zeline berteriak seraya melangkah masuk kedalam rumah.
*****
"Jen... " Kevlar membuka pintu apartemen Jenifer yang tidak terkunci setelah beberapa kali ia memencet bel.
"Kev... " sapanya dari sofa.
Mata sembab, kusut, kusam, muram, Jenifer terlihat berantakan dan depresi.
Kevlar menjatuhkan tubuhnya di sofa disamping Jenifer memandang lurus gadis itu.
"Ga perlu mengasihani aku, Kev... Aku sudah biasa seperti ini!" cibir Jeni.
Pria itu mengambil ponsel disaku celana kemudian mengotak-atiknya.
"Mau makan apa?" tanya Kevlar datar.
Jenifer menoleh, gadis itu hanya menatap Kevlar sambil mengernyit.
Tidak perlu mendengar jawaban, Kevlar langsung memesan makanan untuk mereka berdua.
Kevlar memiringkan posisi duduk menghadap Jenifer yang masih menatapnya.
Tangannya terangkat memegang pelipis Jenifer dengan luka yang masih belum mengering.
"Masih sakit?" tanya pria itu lembut.
__ADS_1
Jenifer menjauhkan kepalanya dari tangan Kevlar, "Mau apa kamu kesini, Kev?" Jenifer terlihat waspada.
"Melihat keadaan mu... " jawabnya dingin dengan aura kelam, pria itu menyentuh setiap luka ditubuh Jenifer.
Jenifer bergidik dan makin membulatkan matanya, masih belum menangkap maksud dari pria bertubuh tegap itu.
Jenifer terpekik saat tubuhnya melayang, Kevlar menggendong dan membawa wanita itu kekamar mandi.
Jenifer meronta tapi tenaga wanita mungil sepertinya tidak berpengaruh apapun bagi Kevlar.
Dengan pelan Kevlar memasukan Jenifer ke dalam bathub, memutar kran air panas dan dingin secara bersamaan.
Menatap sebentar Jenifer yang memberengut tidak suka lalu membantu wanita itu melepaskan pakaiannya.
"Keluarlah Kev... Aku bisa sendiri!" usir Jenifer ketus.
Tak ingin berdebat, Kevlar keluar dari kamar mandi meninggakan Jenifer untuk membersihkan tubuhnya.
wanita itu seperti sudah berhari tidak mandi dan keluar rumah, karena memang masih banyak memar disekujur tubuhnya.
Makanan yang di pesan Kevlar sudah sampai, dengan cekatan ia menatanya di meja beserta piring dan gelas berisi air mineral.
Entahlah kenapa ia harus repot-repot melakukan ini yang pasti ada rasa iba dihatinya pada Jenifer.
Kevlar tau bagaimana hubungan Jenifer dengan King, bahkan merasa mirirs karena jaman sekarang masih ada saja wanita yang setia seperti Jenifer walau King tidak mencintainya dan hanya menjadikannya pelampiasan hasrat saja.
Kevlar masuk kedalam kamar dan sudah mendapati Jenifer sedang duduk didepan meja rias sambil melamun.
Saat melihat Kevlar masuk, gadis itu mengusap buliran bening di mata dan tak luput dari perhatian Kevlar.
Pria itu berdiri dibelakang Jenifer, tangannya terjulur mengambil sisir kemudian merapikan rambut Jenifer dengan lembut.
"Apa mau kamu Kev? Kenapa kamu lakukan ini?" Jenifer melirih.
"Sudah rapih, ayo kita makan!" bukannya menjawab, pria kekar itu malah kembali menggendong Jenifer dan membawanya ke meja makan.
Mendudukan Jenifer di sofa dan menarik kursi kemudian duduk tepat didepan Jenifer.
"Makan... Kamu harus minum obat!" titah Kevlar.
Terlalu lemas untuk berdebat, Jenifer menuruti perintah Kevlar memakan makan siang yang hampir kesorean hingga habis.
Kevlar tidak banyak bicara, pria itu fokus memakan makan siangnya.
Setelah Jenifer meneguk air mineral digelas hingga tandas, Kevlar menyodorkan beberapa obat yang harus diminum Jenifer, menurut dokter ada luka dalam akibat pemukulan yang dilakukan bodyguard King yang perlu diobati.
Jenifer mendongak sambil mengernyit yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Kevlar.
Mau tak mau ia membuka mulut ketika Kevlar mendekatkan satu butir obat kemulutnya.
Kembali Kevlar menyodorkan air mineral didalam gelas untuk mendorong obat yang baru saja di telan Jeni.
Tanpa basa-basi pria itu menggendong Jeni dan membawanya kekamar sebelah kemudian merebahkan tubuh mungil berkulit putih itu disana.
"Kamu sebenernya mau apa sih Kev? Aku ga ngerti sama kelakuan kamu ini!" Jenifer mendorong tubuh Kevlar saat akan masuk kedalam selimut bersamanya.
Tatapan mata Kevlar tidak terbaca, pria itu sedikit mengerutkan alisnya.
"Kev...Aku ga mau dikasihani " Jenifer berujar dengan linangan air mata.
Kevlar merangkak diatas ranjang, membawa Jenifer dalam pelukannya sambil merebahkan tubuh sejajar dengan tubuh wanita itu.
__ADS_1
"Tidurlah, Jen... Dan saat bangun nanti, lupakan semuanya... Lupakan King, mulai kembali hidup kamu!"
Satu tangan Kevlar mengelus kepala Jenifer dan satu tangannya lagi mengelus punggung wanita yang masih bergetar karena menahan tangisnya.