
Zeline duduk dengan gelisah di ruang tunggu, dadanya masih saja bergemuruh.
Ada rasa penyesalan disudut hatinya karena telah membohongi King untuk menemui Reka tapi ia pun tidak bisa menjelaskan masalah ini pada suaminya.
Bisa tidak Zeline memutar waktu agar kejadian bodoh itu tidak terulang?
Di ruang tunggu dengan beberapa meja dan kursi, Zeline mengambil tempat di sudut ruangan tak ingin ada seseorang yang mengenali, gadis itu tidak memakai riasan sama sekali.
Tidak lupa ia memakai kacamata dan rambut palsu untuk merubah penampilannya.
Dan ternyata usahanya berhasil, tidak ada yang mengenalinya.
Hanya seorang petugas yang memeriksa kartu tanda pengenal Zeline yang mengetahui hal ini tapi selipan beberapa lembar uang berwarna merah ketangannya bisa membuat mulutnya bungkam dan pura-pura tidak mengenal Zeline.
Zeline mendongak saat seseorang berdiri disampingnya,
"Reka... " ucapnya tanpa suara.
Pria itu menyeringai kemudian duduk didepan Zeline.
"Kamu merindukan ku?" Reka berujar dengan tatapan meledek.
Zeline berusaha menahan emosinya dengan mengepalkan kedua tangan dibawah meja.
"Ka... Apa yang terjadi waktu kamu menyekap ku?" Zeline langsung bertanya dengan nada suara rendah, matanya sudah memanas menahan buliran bening yang sedari tadi ia bendung.
Reka menatap Zeline dengan mengerutkan kening meminta penjelasan.
"Apa kamu memperkosa ku?" tanya Zeline pelan.
Kening Reka semakin terlipat dalam, pasalnya ia belum melakukan rencana selanjutnya tapi Zeline sudah mendatanginya dan bertanya hal yang tidak ia duga.
"Kenapa memangnya? Bukannya kamu menikmatinya? " pria itu kembali menyeringai dengan menaikan satu alisnya membuat Zeline semakin jijik.
"Apa salah aku, Ka? hingga kamu melakukan hal sekejam itu?" Zeline bertanya dengan surak serak sambil menghapus buliran bening yang mengalir tanpa permisi.
"Salah kamu itu karena menikahi King dan membuat Ka Jeni menderita!!" seru Reka tanpa perasaan.
"Tapi awalnya itu bukan kemauan aku, Ka... Aku sudah bilang berkali-kali kalau ini diawali oleh keserakahan Jeni, andai dia tidak menjebak ku mungkin aku tidak akan pernah bertemu King... " tutur Zeline menjelaskan kembali apa yang sering ia jelaskan kepada Reka.
Reka berdecak sambil memutar bola matanya, "Terus saja kamu mengatakan hal itu, seharusnya kamu tidak mencintai King dan meninggalkannya!"
"Tapi King tidak pernah mencintai Jeni, setidaknya itu yang selalu ia katakan... " tukas Zeline membalas.
"10 Tahun Zeline!! 10 Tahun mereka bersama, apa namanya kalau bukan cinta? Pikir pake otak, kamu mau aja di bohongin King!" seru Reka sambil menggebrak meja membuat tubuh Zeline bergetar kemudian terisak.
Reka mencondongkan tubuhnya melewati meja agar bisa menggapai Zeline, "Semua yang bermasalah dengan Alterio pasti berakhir dengan kehilangan nyawa, kamu tau kenapa aku masih hidup setelah menculik wanita milik alterio?" Reka menjeda kalimatnya menunggu ekspresi Zeline.
Zeline menggelengkan kepala,
"Karena itu keinginan King, dia tau Jeni hanya mempunyai aku didunia ini setelah orang tua kami meninggal... King tidak ingin Jeni hingga harus mengalami sakitnya kehilangan aku, apa artinya itu kalau bukan cinta?" imbuh Reka sambil berbisik.
Zeline terisak merasakan perih dihatinya, mana yang harus ia percaya, suaminya atau Reka?
"Tau dirilah, harus nya kamu mundur... " ucap pria itu kembali sambil membuang tatapannya.
Zeline tidak kuat, ia menangis tersedu sambil menutup wajah dengan tangan di tumpukan di meja.
Bahunya bergetar hebat,"Baiklah... Kalau anak yang ada dalam perut ini bukan anak King, aku akan melepaskan King.... Tapi kalau ternyata anak ini adalah anak King dan bukan anak kamu, kamu dan Jeni harus terima dan berhenti mengganggu rumah tangga ku dan King!" ucap Zeline dengan nada tersendat kemudian berdiri hendak pergi dari hadapan Reka tapi Reka menahannya.
__ADS_1
"Kamu hamil?" tanya pria itu dengan alis melengkuh kebawah.
Zeline melepaskan cengkaraman tangan Reka dilengannya dengan kasar.
"Tenang aja, kalau ini anak kamu... Aku ga akan pernah meminta pertanggung jawaban kamu!" Zeline berdecih dengan tatapan benci.
"Hey... Hey... Tunggu dulu... " Reka masih bersikeras menahan Zeline.
"Lepas!!!" Zeline meronta kemudian menampar Reka hingga suara tamparan itu menggema dan mengambil alih perhatian para pengunjung lapas dan beberapa polisi penjaga.
"Aku ga mau, anak aku punya ayah sampah seperti kamu!!" dengan menghentakan langkah kakinya seiring air mata yang terus bergulir, Zeline keluar dari lapas itu.
Dadanya sesak mendengar kenyataan yang Reka katakan, ia membenci pria itu seumur hidupnya.
*****
Setelah pulang dari lapas, Zeline meminta Anin untuk membawanya langsung pulang ke rumah.
Tubuhnya benar-benar lemah bahkan untuk bernafas saja ia merasa sesak.
Zeline menyandarkan tubuh di kursi mobil, tatapannya jauh menerawang dan Anin belum tega menanyakan apa yang mereka bicarakan di lapas tadi.
"Lin... Waktu aku nunggu kamu di mall, aku cari di google bagaimana bila melakukan tes dna pada bayi yang masih ada didalam kandungan dan ternyata sudah bisa dilakukan, tapi itu juga bisa beresiko untuk Ibu dan Janin... Apa kamu mau kita konsultasi dulu?" dengan hati-hati Anin mengungkapkannya.
Zeline menoleh, "Aku mau konsultasi dulu, Nin!" jawab Zeline antusias.
"Tapi Nin... Masalahnya kalau kita tes di rumah sakit milik Tuan Zach, kabar ini pasti langsung sampai ke mereka.... " Anin menjeda.
Zeline menghembuskan nafas kasar, ia tau apa yang dikatakan Anin benar.
"Kita bisa saja melakukannya di rumah sakit lain, tapi dengan status kamu yang publik figur seperti itu apa justru ga akan membuat masalah baru? Tau sendiri kan kamu berita kaya gitu cepet tersebarnya?" imbuh Anin lagi.
Zeline terdiam mencerna perkataan Anin, ia kembali menyandarkan tubuhnya di kursi mobil.
*****
Seorang pria tampan dengan tubuh menjulang terlihat menegang saat menerima panggilan telepon, keningnya berkerut dengan tatapan tajam seolah tidak suka dengan informasi yang diterimanya.
Setelah mengakhiri panggilan telepon, jari Elgi menggeser layar benda pipih ditangannya mencari nomor kontak seseorang kemudian menempelkan kembali ponsel ditelinganya.
"Ha... Hallo... " Anin menjawab dengan terbata, ia sudah tau hal seperti ini akan terjad.
"Temui aku jam delapan malam di Oh Caffe!" titah Elgi datar, kemudian memutuskan panggilannya tanpa memberikan kesempatan kepada Anin untuk menjawab.
Setelah itu Elgi berjalan pelan menuju ruang rapat mendampingi Tuannya yang sedang melakukan meeting dengan klien dari Australia.
Seharian ini King memang memiliki agenda meeting yang begitu padat, dari klien satu ke klien lainnya belum lagi pagi tadi dimulai dengan peninjauan ke lapangan membuatnya sementara melupakan Zeline.
Maka setelah semua meeting marathon itu selesai, King langsung meminta Elgi untuk tidak mengganggunya selama di rumah.
Pria itu menyerahkan semua kepentingan, panggilan telepon dan lainnya kepada Elgi karena ingin fokus bersama Zelinenya.
Hingga ia lupa menanyakan apa saja yang dilakukan Zeline selama di mall, tapi rasa sayang dan percaya King melupakan itu semua.
King yakin sang istri tidak akan berbuat macam-macam karena memang Zeline bukan wanita murahan seperti itu bahkan Kevlar pun, berhasil ia sadarkan.
Mungkin Zelinenya hanya ingin bersantai dan berbelanjan untuk menghilangkan bosan selama terkurung di rumah.
Mobil mewah milik King berhenti tepat di depan pintu rumah megahnya, ia langsung turun dari mobil kemudian langkah panjangnya menghentak di lantai marmer dan menggema di seluruh ruangan.
__ADS_1
"Tuan.... " seorang maid menunduk menyapanya.
"Dimana istri ku?" tanya King
"Di kamar Tuan.... " jawab maid itu cepat.
*****
Di balkon kamarnya, Zeline termenung sambil memandangan halaman luas dibelakang rumah mewahnya.
Ingatannya kembali pada apa yang dikatakan Reka siang tadi.
"*Semua yang bermasalah dengan Alterio pasti berakhir dengan kehilangan nyawa, kamu tau kenapa aku masih hidup setelah menculik wanita milik alterio?"
"Karena itu keinginan King, dia tau Jeni hanya mempunyai aku didunia ini setelah orang kami meninggal... King tidak ingin Jeni hingga harus mengalami sakitnya kehilangan aku, apa artinya itu kalau bukan cinta*?"
Apa benar suaminya itu masih mencintai Jenifer? Apa benar dirinya telah menjadi orang ketiga dan membuat Jenifer menderita? Padahal dari awal ia harus menderita karena menikah dengan pria yang tidak ia cintai itu.
Sampai akhirnya dengan usaha King, Zeline bisa luruh dan jatih cinta kepada pria yang dipaksa menikah dengannya.
"Bila King masih mencintai Jeni? Untuk apa ia susah payah membuat ku jatuh cinta?" Zeline bergumam.
"Karena aku tidak mencintai Jeni, seumur hidup ku... Hanya kamu lah wanita pertama dan terakhir yang aku cintai!" suara bariton sexy milik sang suami mengejutkannya.
Zeline langsung membalikan tubuhnya dengan mata membulat sempurna.
King menyerahkan satu gelas susu ibu hamil untuk sang istri dan Zeline menyaut gelas yang diberikan King tapi tidak langsung meminumnya, malah menatap King lekat.
"Baby... Apa yang mengganggu pikiran mu, hem? Apa usaha ku bekum cukup meyakinkan mu?" King mengusap pipi Zeline kemudian mencium bibir sang istri cukup lama, Zeline tidak membalas dan hanya memejamkan mata menikmati bibir King mencumbu bibirnya.
Setelah King menjauhkan wajahnya, pria itu menarik tangan Zeline yang sedang mengenggam gelas kemudian mendekatkan kemulut sang istri.
Zeline menurut, walau rasanya tidak enak dan bikin mual tapi Zeline terpaksa meminumnya hingga tandas.
"Udah makan?" tanya Zeline penuh perhatian, ia mengalihkan topik tidak menjawab pertanyaan King sebelumnya.
"Udah... Kamu?" tanya King balik, tangannya ia rentangkan agar Zeline masuk kedalam pelukannya karena kini keduanya sedang duduk di sofa besar menghadap televisi layar datar besar di kama tersebut.
Zeline melesak masuk kedalam pelukan King, aroma mascullin King begitu menenangkan seperti aroma theraphy bagi Zeline.
"Udah tadi... Maaf, aku belum bisa masakin kamu, tadi pulang dari mall badan aku lemes... " tutur Zeline lemah.
"Nanti kalau mau ngemall lagi tunggu weekend ya biar aku yang anter dan mulai sekarang kamu ga usah masak dulu, udah ada koki di rumah ini!" tukas pria itu sambil mengelus kepala Zeline dengan satu tangannya lagi mengelus perut datar sang istri.
Zeline mengangguk sambil mengeratkan pelukannya.
"Apakabar anak Daddy hari ini?" King seolah bertanya pada janin di perut Zeline.
Zeline tersenyum getir, Kemudian melapisi tangan King yang sedang mengelus perutnya dan menautkan jarinya disana.
"Sayang... " panggil Zeline lembut.
"Hem?" King menjawab dengan gumaman.
"Apa kamu mencintai aku?" tanya Zeline hati-hati.
"Tentu saja, dengan segenap jiwa dan raga!" jawab King berlebihan kemudian mengecup puncak kepala Zeline.
Zeline mengeratkan pelukannya, kini dunianya sudah berpindah pada pria itu.
__ADS_1
Zeline tidak bisa kehilangan King, maka apapun yang terjadi dia akan berjuang dan melupakan janjinya pada Reka.
Dengan cara apapun, ia akan mempertahankan King dan tidak akan membuat suaminya kembali pada Jeni walau sekalipun anak yang dikandungnya adalah anak Reka.