
"King... Mami mau ajak Zeline ya ke Italy jenguk Azalea!" Wanita sosialita itu begitu saja masuk keruangan King tanpa mengetuk.
Semua petinggi diperusahaan sang anak sontak menoleh kearahnya.
"Eeeeh... Lagi meeting ya, ko meeting disini? Kan ada ruang meeting disisi lain gedung ini!" ucap Mami Azuri santai dan langsung mendapat pelototan dari sang anak.
Para direktur dibawah kepemimpinan King saling pandang lalu menahan senyum.
Sebagai istri dari Tuan Zachery, Azuri bebas melakukan apapun seperti kali ini dan semua bisa maklum.
"Oke... Maaf, Mami tunggu di coffe shop dibawah ya!" Mami Azuri mengedipkan satu matanya sebelum memutar tubuh dan menghilang di balik pintu.
"Maaf.... " ucap King tulus.
"Tidak masalah, Tuan.... " jawab para pria paruh baya itu serentak.
Setelah menyelesaikan meetingnya, King langsung menemui Maminya yang sedari tadi sudah menunggu di coffe shop.
Tidak bisa King bayangkan, bagaimana murkanya sang Mami karena telah menunggu hampir tiga jam disana.
Tapi setelah King mendekati pintu kaca pembatas coffe shop dengan loby di kantornya, pria itu menganga merasa takjub melihat Maminya sedang dikelilingi pria mudah sekitaran umurnya yang tidak lain adalah karyawan disana.
"Ekhem.... " King berdekhem dan pria-pria tampan dengan tubuh atletis itu langsung menoleh dan serentak berdiri.
Tanpa berkata apapun mereka tersenyum canggung kemudian menunduk sambil melipir satu persatu meninggalkan coffe shop.
"Mami apaan sih? Bikin malu King aja?" seru King dengan kerutan diantara alisnya.
"Itu tadi Mami nanya mereka kerja bagian apa, Mami bilang anak Mami juga kerja disini mereka ga tau anak Mami bosnya mereka ya!" Azuri menjulurkan lidahnya.
"Mi... Jangan genit gitu donk, Mami tuh istri alterio loh!" King berdecak kesal.
"Laaaah... Sapa yg genit sayang, Mami tuh memang magnet aja buat cowo-cowo ganteng kaya gitu!" balas Azuri pongah.
Tubuh mungil yang langsing karena rutin berolah raga, wajah tanpa kerutan maha karya sang dokter kulit terkenal di Singapura juga style yang elegance, muda dan segar membuat? Mami Azuri terlihat seperti wanita yang masih berumur awal 30an.
King berdecak kesal, kerutan di keningnya masih belum pudar.
"Kamu jangan marah-marah gitu lah, cepet tua entar!" imbuhnya lagi sambil menyolek dagu sang anak.
"Apa tadi? Mami mau ajak Azuri?" King mengalihkan topik pembicaraan tanpa mengomentari celotehan sang Mami.
"Iya sayang, boleh ya! Biar Zeline refreshing, kemarin-kemarin kan dia di rumah terus... Tenaaang, anak buah Uncle Bianco akan selalu siap menjaga kita!" rayu Mami Azuri.
Sebetulnya bukan tidak boleh tapi King tidak bisa jauh dari Zelinenya, ia sudah terbiasa disambut oleh wanita cantik bermata bulat itu setiap kali pulang ke rumah.
"Berapa hari?" tanya King penasaran sambil mengangkat alisnya.
"Dua minggu lah!" jawab Mami Azuri cepat.
__ADS_1
"What!!!" King membulatkan matanya.
"Tiga hari aja Mi!" tawar King sambil memelas.
"Tiga hari mah waktu tempuh bolak balik!" Mami Azuri mencebik.
"Kalau aku kangen Zeline gimana, Mi?" belum ditinggal ekspresi wajah King terlihat merana.
"Ya udah seminggu ya, nanti kamu jemput Mami dan Zeline ke Italy, lagian kamu ga kangen sama Azalea? Bentar lagi kamu punya ponakan loh, kapan kamu nyusul?" Mami Azuri memicingkan mata.
"Lagi usaha ini Mami!" jawab King asal.
*****
"Sayaaaang.... Ko cemberut gitu? Aku ga akan pergi loh kalo kamu ga ijinin!" Zeline yang sedang membereskan pakaian kedalam koper, menghampiri King yang sedang menampilkan wajah memberengut di ranjang.
"Tapi aku pengen kamu liburan dan aku belum bisa menemani mu, Baby!" King memeluk sang istri dalam pangkuannya.
"Tapi kalau kamunya cemberut gini aku jadi berat ninggalinnya.... " Zeline mencium kening King kemudian menempelkan hidungnya dengan hidung mancung milik sang suami.
Tiba-tiba King menyeringai, tatapan hangatnya berubah dan Zeline tau arti dari tatapan itu.
Maka ia pun pasrah seperti biasa melayani nafsu besar suaminya, mungkin malam ini ia tidak akan bisa tidur dengan nyenyak mengingat selama seminggu akan meninggalkan King ke Italy.
Pria itu pasti akan menerjangnya habis-habisan, tapi Zeline tidak akan pernah menolak.
Ia menganggap berhubungan intim dengan King bisa menghapus jejak Reka ditubuhnya.
Tapi bangun dengan keadaan polos disamping Reka yang juga dalam keadaan polos, semua orang pun pasti akan berpikir demikian.
Zeline frustasi, ia benci dirinya sendiri, benci dengan kebodohannya.
Andai ia lebih menurut pada King untuk tidak pergi ke Bali mungkin ini semua tidak pernah terjadi, sekarang ia sangat tersiksa berpura-pura baik-baik saja didepan sang suami dan semua orang itu melelahkan.
Ia hanya tidak mau Kingnya sedih, pria itu begitu terpukul saat menemukan dan melihat keadaanya yang sangat memprihatinkan di Bali.
Bahkan pria itu menangis, seorang King Edzard Alterio menangis suatu kejadian yang sangat langka.
King sendiri lupa kapan terakhir kalinya ia mengeluarkan air mata, tapi untuk Zelinenya air mata itu luruh begitu saya.
King, pria brengsek yang selalu dulu ia sebut play cap kampak itu begitu mencintainya.
Zeline mengusap rahang King yang mulai ditumbuhi bulu halus, membelainya dengan lembut dan konstan juga penuh sayang.
King membuka mata, ia belum tertidur. Pergulatan panjang dan hebat tadi belum bisa membuatnya lelah hingga terlelap.
Pria itu menarik Zeline lebih masuk dalam pelukannya, "Baby... Aku ingin anak!" gumamnya tidak jelas.
Suatu keajaiban lagi terjadi, pria yang selalu ingin hidup bebas itu menginginkan anak, sebuah keluarga kecil yang akan selalu mengikatnya.
__ADS_1
Zeline terkekeh, "Bukannya kita sedang membuatnya... " balas Zeline sambil melingkarkan tangan ditubuh sang suami.
"Bersenang-senanglah selama di Italy... Belanja yang banyak, makan yang banyak nanti aku jemput!" King mencium kening Zeline kemudian merubah posisi tubuhnya hingga berada diatas sang istri.
"Lagi, baby.... " bisik pria itu kemudian dan mulai menjamah tubuh sang istri..
"Oh... God!" Zeline bergumam dengan mata terbelalak.
*****
"Ma... Mi... King titip Zeline ya... " pria itu berucap dengan tulus kepada dua wanita paruh baya didepannya.
"Iya King... Mama sama Mami Azuri pasti jagain King.. " Mama Rena mengusap lengan King lembut memberikan ketenangan.
Pria bertubuh kekar itu terlihat merajuk dengan wajah ditekuk dan bibir mengerucut.
Saat itu Papa Andra dan Papi Zach turut mengantar istri mereka ke landasan pacu pribadi, sambil menunggu privat jet siap, mereka mengobrol di ruang tunggu berdinding kaca.
"Nanti disana jangan genit-genit ya... " King menjawil hidung Zeline dan menghadiahkan ciuman diwajah sang istri kemudian mendapat pukulan pelan dari istrinya.
"Mami juga.... " tambah King sambil memicingkan mata.
Mami Azuri mengedip-ngedipkan mata memberi kode kepada si sulung agar bisa menjaga mulutnya.
"Tenang King... Papi udah suruh Uncle Bianco jagain para ladies ini, bahkan nyamuk pun tidak akan bisa menggigit mereka!" Papi Zach berujar dengan mata mengancam tapi bibirnya menyunggingkan senyum.
Papa Andra tergelak, selama menikahi Mama Rena, dirinya tidak pernah was-was dan selalu mempercayai wanita cantik dan sederhana itu karena Mama Rena memang selalu bisa menjaga kehormatannya sebagai seorang istri.
King tidak bisa untuk tidak memutar bola matanya, apa sih yang tidak bisa dilakukan Papinya yang kaya raya itu?
Seorang petugas mengintrupsi perbincangan mereka, memberitahu bahwa pesawat sudah siap untuk tinggal landas.
Acara saling peluk pun di mulai, dan ekspresi wajah ke tiga pria yang memimpin perusahaan besar di Negaranya itu berubah muram seperti sudah kehilangan tender besar, ah tidak ini lebih dari itu.
Selama seminggu akan ditinggal sang istri, bagaimana hidup mereka nanti?
Siapa yang mereka peluk saat tidur? Siapa yang akan mengikatkan dasi? Siapa yang akan menyiapkan sarapan?
Tapi setidaknya, seminggu ini mereka tidak merana sendirian.
Setelah pesawat yang ditumpangi istri-istri ketiga pria itu menghilang di udara, mereka memutar tubuh melangkah sejajar menuju parkiran.
"Club mana yang akan kita datangi malam ini?" Papa Andra bertanya dengan santai
"Club punya klien ku saja, tempatnya cozy berada di rooftop salah satu hotel paling mewah disini...wanitanya pun lebih elegan" balas Papi Zach sambil mengedipkan satu matanya.
King melongo takjub tidak sadar menghentikan langkahnya, apa ia tidak salah dengar? Kakek-kakek ini akan pergi ke Club?
"Kamu ikut King?"
__ADS_1
Lebih takjub lagi saat sang mertua mengajaknya ikut serta.