Zeline Dan King

Zeline Dan King
Salah aku apa?


__ADS_3

King duduk sendirian dimeja paling mahal di club itu, berbagai merk minuman mahal ada diatas meja, dua diantaranya telah kosong.


Sesekali matanya melirik para manusia yang berjoget dibawah kilatan lampu strobo.


Hentakan musik membuat kepala King kembali dipenuhi oleh berbagai hal yang berkecamuk, antara ingin lari atau mati saja, King lelah.


Buru-buru menegak minumannya, dia ingin sejenak melupakan.


Tentang cintanya pada Zeliene.


Tentang tubuh Zeline yang disentuh pria lain.


Dan tentang bayi yang ada didalam kandungan Zeline.


Saat pandangannya kabur, King beranjak dari duduk kemudian meminta security untuk memanggil taksi.


Pria itu masih mencintai hidupnya, ia tau akan berakhir seperti apa bila menyetir sendiri dalam keadaan mabuk.


Dengan sempoyongan karena pengaruh alkohol, King berjalan menuju pintu keluar club.


Beberapakali ia menyenggol pengunjung yang sedang asyik berjoged hingga akhirnya ia bisa melewati kerumunan manusia di lantai dansa.


Taxi yang membawa King membelah jalanan Ibu Kota dimalam hari yang seolah tidak pernah terlelap.


Setibanya didepan rumah mewah itu, King dibantu security masuk kedalam rumah.


King meracau tidak jelas, mengumpat dan bahkan menendang guci di ruang tamu seharga ratusan juta rupiah hingga suara hantaman guci yang mengenai lantai itu terdengar kekamar Zeline di lantai dua.


Zeline tersentak mendengar suara ribut dari lantai bawah, diliriknya jam dinding sudah pukul 2 dini hari dan sang suami belum ada di ranjangnya.


Dengan mata yang masih ingin terpejam Zeline beranjak dari ranjang ketika suara teriakan dari bawah semakin kencang.


Wanita itu menyambar nightrobe yang digantung di walk in closet kemudian setengah berlari menuruni tangga dan langsung mendapati sang suami yang sedang berteriak tidak jelas dengan pakaian yang sudah lusuh.


Dua security rumah yang membantunya terlihat kewalahan.


Zeline bergegas mendekati sang suami, "Sayaaang.... " panggil Zeline lembut.


King mendongak untuk menggapai wajah wanita yang memanggilnya kemudian Zeline berjongkok mensejajarkan tubuh dengan King yang terduduk di lantai.


Ditangkupnya rahang tegas King dengan kedua telapak tangan mungil Zeline.


"Kenapa mabuk?" tanya sang istri lembut.


Dengan kasar King menjauhkan tangan Zeline, "Kamu istri durhaka yang ga pernah nurut sama suami dan sekarang... Hek... Sekarang kamu mau mau me.. hek... Nyelesaikan masalah ka.. Hek... Sendiri, heh?" King meracau kemudian tertawa kering.


Kening Zeline mengkerut, bingung dengan apa yang terjadi dan yang barusan dikatakan suaminya.


Kemudian meminta dua security tersebut membawa King kekamar sebelum pria itu meracau lebih gila lagi dan didengar oleh security.


"Sayaaang.... " panggil Zeline lagi masih dengan suara lembut saat membersihkan wajah dan tubuh King dengan handuk basah.


King memalingkan wajah bergerak membelakangi Zeline, wanita itu masih tidak mengerti apa yang telah terjadi kepada suaminya.

__ADS_1


Mungkin ia harus menunggu besok pagi untuk menanyakan langsung kepada King.


Tapi mendengar apa yang suaminya teriakan ketika mabuk tadi pasti ini menyangkut dirinya.


Zeline mendesah, mengangkat tangannya kemudian memijit pelipisnya yang terasa sakit.


Wanita itu masih termenung disisi tempat tidur, siang tadi ia dan Anin sudah mendatangi dokter kandungan untuk menanyakan apakah kondisinya cukup baik untuk melakukan tes DNA mengingat Zeline dan kandungannya cukup lemah.


Dokter tidak bisa memastikan hanya mengatakan kalau dengan kondisi Zeline dan kandungannya yang lemah seperti ini masih memungkinkan terjadinya resiko.


Tapi sepertinya ia harus mengambil resiko itu dari pada membiarkan masalah ini berlarut-larut.


Bumi terasa berguncang pagi ini seperti ada ratusan kembang api meledak di dalam kepalanya, King kesulitam walau hanya untuk sekedar menegakan kepala, pusing sekali rasanya.


Beginilah akibatnya bila dia sangat mabuk semalam, maka paginya jangan harap kondisinya baik-baik saja.


"Sayang.... " suara lembut sang istri terdengar indah ditelinganya tapi belum bisa memadamkan api yang berkobar didalam dada King.


King menatap sekilas kemudian menyaut satu gelas susu yang istrinya berikan karena merasa sangat butuh dengan cairan tersebut.


Setelah meneguknya hingga tandas pria itu menurunkan kakinya melewati Zeline yang sedang duduk disisi ranjang.


Menyimpan gelas di nakas dengan cara dilempar hingga Zeline berjengit dari duduknya.


King langsung beranjak menuju kamar mandi, tanpa menoleh kearah Zeline.


"Kiing... Kamu kenapa? Tadi malem pulang pagi sambil mabuk terus sekarang ngerasa ga berdosa gitu malah diemin aku, salah aku apa?" teriak Zeline dari ranjang.


King berhenti melangkah lalu mendengus kesal sambil memejamkan mata dengan kedua tangan yang ia simpan dipinggang.


Ia tidak bisa melihat Zelinenya menangis tapi egonya terlalu tinggi untuk berbalik walau hanya sekedar melihat Zeline.


Maka ia memutuskan untuk tetap melangkah menuju kamar mandi tanpa memperdulikan istri yang sedang terisak diranjang.


Hati Zeline terasa perih mendapat perlakuan dari suaminya sedangkan ia belum tau apa yang telah dilakukannya hingga King mendiamkannya seperti itu.


Beberapa menit berlalu, Zeline menyiapkan pakaian yang akan dipakai King didalam walk in closet dan saat pria itu keluar dari kamar tatapan mereka bertemu.


Cukup singkat hingga akhirnya King memutusnya terlebih dahulu, ia mengambil kemeja di lemari bukan yang telah disiapkan oleh Zeline.


Lagi-lagi Zeline dibuat bingung, perutnya terasa mual dan secepat kilat ia berlari ke kamar mandi untuk mengeluarkan sesuatu dari mulutnya.


Biasanya King akan menghampiri kemudian memijit tengkuknya hingga rasa ingin muntah itu hilang.


Tapi pagi ini, King tidak menemaninya sampai Zeline keluar dari kamar mandi dan tidak mendapati suaminya di kamar.


Dengan tubuh lemas, wanita itu melangkahkan kaki menuruni undakan tangga mencari sang suami di meja makan, tapi nihil tidak ada siapa pun disana.


Terdengar suara mobil King menderu di halaman depan, Zeline berusaha mengejarnya lalu kakinya tidak sengaja menginjak pecahan guci yang luput tersapu oleh maid.


Tapi Zeline tidak menghiraukannya, kakinya terus melangkah dan pecahan itu semakin masuk menusuk telapak kakinya dan darah sudah berceceran dilantai marmer dari ruang tamu hingga teras rumah.


Zeline melihat mobil sport King melesat kencang keluar dari halaman rumah, tidak seperti biasa hari ini pria itu pergi kekantor dengan mengemudikan mobilnya sendiri.

__ADS_1


Maid yang lewat langsung berteriak histeris dan memburu Zeline yang masih mematung di depan rumah dengan rasa sakit dihatinya.


Security pun ikut memburu Zeline dan membawa Zeline masuk kedalam rumah, tatapan Zekine kosong telinganya tidak berfungsi dengan baik.


Roh Zeline seperti terbang meninggalkan raganya.


Jeritan dan pertanyaan-pertanyaan khawatir yang maid dan security lontarkan tidak bisa ia dengar.


Zeline seperti boneka yang digerakan oleh Tuannya ketika maid dan security itu menuntunnya kedalam kemudian mendudukannya di sofa ruang keluarga.


Kenapa?


Kenapa pecahan kaca yang menusuk kakinya tidak sesakit hatinya yang seperti dicabut paksa dari rongga dadanya kemudian diremas dengan tangan tak kasat mata.


Apa yang terjadi dengan King?


Tidak berselang lama, Anin masuki dari ruang tamu dengan kening yang berkerut saat melihat maid sedang membersihkan darah yang cukup banyak menggenang di ruang tamu.


"Itu darah siapa, Bi?"


"Darah Non Zeline... " jawab maid itu dengan dagu mengendik ke ruang tamu menunjuk sang Nona yang sedang di obati oleh maid yang lain.


Anin berlari menghampiri Zeline, "Ya Tuhan Zeline... Ini lukanya dalem banget kamu harus ke rumah sakit!!! " seru Anin penuh kekhawatiran.


"Iya Mbak makanya saya ga berani cabut karena ini terlalu dalam!" security berujar.


"Hey... Zeline kamu kenapa sih?" Anin menepuk lembut pipi Zeline dan wanita cantik itu hanya mengengerjap.


"Joe!!" teriak Anin dari dalam disusul dengan Joe yang barlari menghampiri.


"Kenapa?" tanya Joe dengan ekspresi heran.


"Gendong Zeline ke mobil, kita ke rumah sakit sekarang!" titah Anin dan secepat kilat Joe langsung menggendong Zeline.


Zeline masih diam, entah ia sadar apa tidak dengan apa yang dialaminya.


Tatapan wanita itu masih kosong.


Anin mengaduk tasnya mencari ponsel untuk menghubungi Elgi, beberapa kali terdengar nada sambung hingga akhirnya panggilan tersebut masuk kedalam voice mail tapi Anin tidak menyerah ia masih terus menghubungi Elgi.


"Hallo.... " saut Elgi dari sebrang sana.


"Kaki Zeline tertusuk pecahan guci cukup dalam, darahnya sudah terlalu banyak keluar dia harus ke rumah sakit!! " sambar Anin


"Cepat bawa ke rumah sakit milik Tuan Zach, saya akan hubingi pihak rumah sakit sekarang juga!!" balas Elgi cepat kemudian sambungan telepon terputus.


Wajah Zeline sudah pucat pasi, darah masih saja terus mengalir dari kaki hingga membanjiri lantai mobil kabin belakang, keringat dingin membanjiri pelipisnya.


"Joe! Cepetan ngebut!!" seru Anin tidak sabar padahal sedari tadi Joe nengendarai mobil itu tidak sedikit pun menyentuh pedal remnya.


Zeline menyandarkan tubuhnya, lama-lama matanya terpejam.


Ia merasakan kantuk yang luar biasa, dan tiba-tiba udara disana sangat dingin.

__ADS_1


__ADS_2