Zeline Dan King

Zeline Dan King
Penyesalan King


__ADS_3

Seumur hidup hal yang paling King sesali didunia ini adalah menyakiti Zelinenya, ia benci tidak mendengar penjelasan istrinya terlebih dahulu, ia benci tidak bisa mengontrol amarahnya dan ia benci Zeline malah menyusulnya dan memohon kepadanya untuk pulang.


Sungguh, bila ia harus membayar agar dapat mengulang waktu, akan ia bayar berapapun itu walau harus dengan nyawanya sendiri untuk bisa kembali disaat ia melihat istrinya sedang berpelukan dengan Kevlar.


Mungkin ia akan hanya menarik tangannya saja kedalam mobil, kemudian meminta istrinya menjelaskan semua maksud dari pelukan tersebut dan setelah itu ia akan bercinta habis-habisan dengan Zelinenya.


Bukan malah sebaliknya, seperti yang telah ia lakukan kepada istrinya tadi


King makin mengeratkan pelukannya, kini ia dan Zeline sudah terbaring sejajar sambil berpelukan diatas ranjang didalam kamar apartemennya yang sejuk.


Keduanya masih belum terlelap, terutama Zeline karena belum menjelaskan mengenai pelukannya dengan Kevlar yang menjadi pusat kemarahan suaminya itu.


"Kiiing... " panggil Zeline lembut.


"Hem?" saut King, kemudian mengecup puncak kepala Zeline.


"Udah ga marah? Aku mau jelasin masalah tadi..."


"Udah ga usah dibahas... "


"Tapi haruuuuus... " rengek Zeline dengan suara manjanya, wanita itu melepaskan pelukannya dari King untuk kemudian duduk bersimpuh di depan suaminya.


King merubah posisinya, setengah menyandarkan tubuh di kepala ranjang.


"Emm... Jadi giniiii... " Zeline menarik nafas dalam, kemudian menghembuskannya perlahan.


"Aku memang sengaja mendatangi Kevlar, ingat kata Papa Andra waktu makan malam yang bilang untuk mencoba menemui pimpinan tertinggi atau pihak terkait mengenai masalah kontrak aku itu? Naaah, dari situ ide tercetus untuk menemui Kevlar.... Aku minta maaf ga bilang kamu dulu karena kamu pasti ga akan setuju" Zeline menundukan pandangannya karena melihat ekspresi wajah datar King.


"Aku cuma pengen masalahnya cepet beres, King... Aku pikir walau bagaimana pun, Kevlar itu sepupu kamu dan kalau aku udah ga mencintai Kevlar lagi aku harus bisa menghadapinya bukan malah menghindarinya... " Zeline sengaja menjeda kalimatnya, kemudian mendongak sedikit mengintip ekspresi suaminya.


Ekspresi King berubah, suaminya itu mulai tertarik.


"Dan aku bisa menghadapi Kevlar, aku menemuinya tanpa hambatan, ga ada deg-degan atau sesak nafas... Begitu ringan, aku memintanya untuk menyetujui kontrak baru yang aku ajukan, dan bersedia membayar ganti rugi... Aku juga memintanya untuk berhenti mengganggu ku dan menghargai ku sebagai istri dari sepupunya" Zeline menatap King dalam, ia menarik nafas kembali.


"Lalu?" King mulai bersuara


"Dia setuju gitu aja, dengan syarat aku dan dia masih berteman... Hanya teman, dan aku setuju... Kemudian, saat aku akan kembali ke ruang rias... Dia meminta pelukan persahabatan, gitu sayang... Terus kamu masuk"


King berdecak,


"Ck... Apa itu pelukan persahabatan, jangan mau dibegoin dia... Nanti kalo dia ngajak nongkrong bareng dengan alasan teman, padahal cuma mau modusin kamu doank, gimana?"


"Ya, aku minta ijin dulu sama kamu... Kalo dibolehin aku pergi, kalo ngga ya udah"


King mendesah,


"Pokoknya aku ga mau kamu sampe dipeluk-peluk apa lagi dicium sama dia... Jangan sampe berduaan sama dia lagi, kalo sampe terjadi, aku akan marah" King berucap dengan nada rendah, tidak ada amarah disana.


Zeline berhamburan memeluk suaminya, menggesek-gesekan wajahnya didada bidang sang suami.


"Iya sayang, aku janji!" Zeline terisak, membuat King mengernyit.


"Baby?? Kenapa? kamu kenapa?" King menjauhkan tubuhnya untuk menjangkau wajah Zeline, ia bisa melihat air mata luruh kembali membasahi pipi istrinya.


"Hiks... Hiks... Hiks... "


"Baby...mana yang sakit?" King membingkai wajah Zeline dengan kedua tangannya, ia bingung kenapa Zeline kembali menangis padahal tadi ia baik-baik saja saat menjelaskan mengenai pelukan itu bahkan Zeline mengeluarkan nada manja yang selalu membuat King gemas.


"Hati aku, sa... kiit.. hiks..hiks... Kenapa kamu malah pergi ke apartemen Jenifer, Hah? Padahal kamu abis... hiks.. hiks... Kamu nyakitin aku tauuu!!! Kamu jahat, sampe sekarang masih sakit, perih, bahkan aku butuh perjuangan waktu nyusul kamu ke apartemen Jenifer hiks.. hiks.. Kamu tuh ja.. Haaaat!!!! Huu... Uuuu.. Uuu" isakan itu berubah menjadi tangisan pilu.


Jangan lupakan kepalan tangan Zeline yang memukul dada King bertubi-tubi.


King menghembuskan nafas, ia lupa mempunyai istri jelmaan singa betina yang labil. Masih untung lah Zeline tidak mengusirnya dari apartemen mereka.


"Aku minta maaf baby, ga akan pernah terjadi lagi, aku janji" King menarik Zeline kedalam pelukannya, membuat keduanya kembali berbaring diranjang dengan Zeline yang masih terisak.

__ADS_1


"Kenapa King? Kenapa harus ke apartemen Jenifer?" Zeline membatin. Sesak didadanya belum hilang, apalagi hatinya yang sudah hancur lebur. Tapi ia akan bertahan, baru kali ini pria itu berbuat seperti itu.


Zeline akan berusaha melupakan dan memaafkannya, demi cintanya pada pria itu.


Tapi sekarang, saat hatinya masih terasa sakit ia tak ingin pria itu memeluknya.


Zeline melepaskan pelukan King, kemudian menjauh dan hendak turun dari ranjang.


"Mau kemana?" tanya pria itu, setelah terduduk diranjang.


"Tidur dikamar sebelah" jawab Zeline ketus. King menghembuskan nafas lelahnya, ia mengaku salah dan maklum bila Zeline belum memaafkannya, mungkin istrinya itu masih jijik dengan perlakuannya tadi dikamar mandi.


"Jangan... Aku aja yang tidur disana, disana ga nyaman... " King mengalah, kemudian turun dari ranjang, dan Zeline kembali merebahkan tubuhnya.


King menarik selimut hingga pundak Zeline yang sedang membelakanginya, lalu pergi keluar dari kamar setelah mencium kepala istrinya.


Tidak lupa pria itu mematikan lampu dengan tepukan.


*****


Pagi menjelang, Zeline merasakan nyeri dan ngilu disekujur tubuhnya. Pergelangan tangan yang membiru, dan belakang kepala yang terasa sakit mungkin karena benturan saat kemarin King melampiaskan amarah padanya di kamar mandi.


Air mata Zeline kembali mengalir tanpa persetujuan dibarengi dengan hati yang terasa sakit. Apa namanya ini bila belum bisa memaafkan? Tapi Zeline ingin memaafkan pria itu, ia rindu bangun tidur dalam pelukannya.


Ceklek...


Pintu terbuka, King dengan nampan berisi bubur, air mineral dan jus strawbery berjalan mendekat.


"Kata Anin hari ini ga ada kuliah, kamu dirumah dulu ya" ucap pria itu kemudian menyimpan nampan diatas nakas samping tempat tidur.


Zeline tidak menjawab, hanya menundukan pandangannya.


King menarik tangan Zeline yang sudah membiru karena cengkaramannya kemarin kemudian mengecupnya berkali-kali.


"Mana lagi yang sakit?" King mengangkat dagu lancip Zeline dan terlihat jejak air mata dipipi istrinya.


"Apa yang harus aku lakukan agar kamu bisa melupakan kejadian kemarin?" tambah pria itu lagi dengan suara berat.


"Peluk... " jawan Zeline sambil terisak.


Pagi ini terasa mellow, seperti cuaca diluar yang mendung karena sang mentari enggan bersinar.


Tuh kan labil, baru tadi malam ia meminta pisah ranjang, pagi ini Zeline sudah minta dipeluk. King tersenyum samar lalu memeluk istrinya, menyalurkan kehangatan juga rasa sayang yang tulus dan dalam untuk istrinya itu.


Berkali-kali mencium kepala Zeline menghirup aroma vanila yang menguar dari rambut lembut Zeline.


"Kiing... Udah jam delapan, kamu ga ngantor?" Zeline mendongak menatap wajah tampan bermanik abu itu.


"Emmm.... Kamu ga apa-apa aku tinggal?" tanya King, tak yakin.


"Ga apa-apa, nanti aku suruh Anin dan Joe kesini" Zeline melepaskan tangannya yang melingkari tubuh King kemudian menghapus air mata.


"Mereka ada di luar, aku mandi dulu ya...Kamu sarapan dulu " King mengecup kening Zeline, lalu beranjak menuju kamar mandi.


King tidak mengijinkan Zeline untuk turun dari ranjang kecuali ke kamar mandi, sebelum pergi bekerja, pria itu mewanti-wanti Anin dan Joe untuk menjaga istrinya di apartemen mereka.


"Kamu sih, sok-sok an jadi pahlawan... Pake ngedatengin si mantan bayangan kamu segala" sewot Anin dari dapur, tangannya sibuk membuat jus tapi mulutnya tidak berhenti memarahai Zeline yang duduk di sofa ruang TV.


"Tapi kan masalahnya sekarang beres Nin" sanggah Zeline datar.


"Nanti lagi Nona bisa mengajak saya...pasti Tuan Muda ga akan marah " sela Joe dari single sofanya.


"Untung Tuan Muda hanya marah dan ga nyeraiin kamu, coba kalo dia sampe seperti itu... Jadi janda kembang kamu, lin!" Omel Anin lagi.


"Janda kembang mah, yang ditinggal meninggal suaminya sebelum diperawanin Anin!" celetuk Joe

__ADS_1


"Yaaa... Apalah itu namanya, yang pasti jadi janda!" Anin mendekat membawa nampan berisi tiga buah jus mangga dan biskuit untuk camilan.


Zeline tidak akan pernah cerita kepada siapapun tentang keburukan suaminya, King yang bertemu Jeni di club, King yang melecehkannya dikamar mandi, dan setelah itu pergi ke apartemen Jeni. Walau sesakit apapun, orang lain tidak boleh tau keburukan suaminya. Karena suaminya adalah Rajanya di dunia, begitu Mama Rena bilang.


Zeline menghembuskan nafas,


"Aku jatuh cinta, kayanya Nin" hanya itu yang bisa Zeline ucapkan dari serentetan omelan Anin tadi yang dibalas hi five oleh Anin dan Joe.


"Puas... Lo puas... " teriak Zeline, berakting marah kepada Anin dan Joe.


Drrt... Drrt... Drrt...


Ponsel Zeline bergetar, ada foto Nafeesa disana.


"Halo.. Sya?" jawab Zeline


"Lin... Kakek Lin" ucap Nafeesa tidak jelas karena nafasnya tersengal disela tangisnya.


Deg.


"Kakek kenapa?" Zeline membalas dengan bentakan.


"Kakek... Jantungnya.... "


"Iya... Kenapa lagi sama jantungnya?"


"Anfal Lin, akut karena Ken!"


"Hah? Maksudnya? Apa maksudnya Sya?" cecar Zeline.


"Kakek dibawa ke singapura pagi ini, orang tua kamu ga kasih tau? Kita ketemu disana!" Nafeesa menutup sambungan teleponnya.


"Nin... Kake, Nin" Zeline terduduk lemas di sofa, jarinya langsung menghantam ponsel yang ia pegang mendial nomor Mama Rena, tapi tidak ada jawaban kemudian menekan tombol darurat satu, langsung terhubung dengan Papa Andra, tapi juga tidak ada jawaban.


Zeline mendesah, maksudnya apa Kakek Anfal gara-gara Ken? Ia tau kakeknya memang mempunyai riwayat penyakit jantung, bersyukur pada Tuhan karena masih bisa hidup hingga saat ini, tapi penyakit kakeknya yang kambuh karena Ken? Apa maksudnya?


Zeline bergegas masuk kamar, "Nin, beli tiket ke singapura sekarang juga!" titah Zeline sambil berteriak dari dalam kamar.


Joe langsung menghubungi Elgi atas kode dari Anin, agar sekertaris Tuannya itu memberitahukan masalah ini kepada King. Anin sibuk mencari kursi kosong penerbangan ke singapura didetik-detik terakhir penerbangan.


Zeline kembali menghubungi om dan tantenya juga keponakan-keponakannya menanyakan perihal penyakit Kakek Roni.


Entah dipanggilan yang keberapa panggilan telepon Zeline tersambung, itu pun ponsel Aqila yang menjawab.


"Hallo Ka?" jawab Qila


"Qila... Gimana keadaan Kakek?"


"Qila ga diajak ka, katanya Qila ga boleh bolos sekolah kalo pengen jadi dokter"


Zeline menepuk jidatnya, disaat urgent seperti ini kenapa Qila yang menajwab panggilannya.


"Oh gitu... Trus sekarang kakek gimana?" tanya Zeline lagi berusaha sabar.


"Kakek udah dibawa ke singapura ka pagi tadi sama Ka Ken, juga Om Ricko dan Tante Lia, kata Ka Keenan Kakek jantungnya kumat karena Ka Ken akan maried by acident sama Ka Azalea, bukannya Ka Azalea adiknya Abang King ya Ka? Trus kenapa Ka Ken harus nikah karena kecelakaan sih ka? Bukan karena cinta? Heran deh Qila" suara polos Qila disebrang sana membuat Zeline mulas dan sesak nafas.


"Qila.. Nanti kaka telepon lagi ya, kaka nyusul kakek dulu ke singapura, bye Qila" Zeline mengakhiri panggilan teleponnya.


Tangannya bergetar saat mencari nomor King diponselnya, coba cek Jantung Zeline yang sudah menggedor-gedor rongga dadanya. Ia tau apa yang telah terjadi.


"Tidak... Itu tidak boleh terjadi" batin Zeline.


"Baby... " jawab suara bariton disana, berhasil membuat hati Zeline berdenyut nyeri.


"King... Azalea hamil."

__ADS_1


__ADS_2