
Flash Back On
Setelah pulang dari Paris, Ken dan Azalea menjadi sering berkomunikasi lebih tepatnya Azalea yang selalu menghubungi Ken.
Jarak yang jauh dan perbedaan waktu membuat Ken yang membalas pesan itu setelah waktu luang selepas bekerja. Tapi saat Ken membalas pesan tersebut ternyata Azalea sudah tertidur pulas karena lelah seharian menunggu balasa pesan dari Ken.
Tak sering Azalea uring-urungan yang berimbas pada kuliah dan pekerjaannya di kantor. Sekertaris pribadinya yang selalu menjadi pelampiasan mungkin sudah resign bila tidak mengingat mencari pekerjaan sangat susah sekarang ini.
Sedangkan Ken di London sangat fokus dalam menjalankan bisnisnya dan setengah hati membalas pesan Azalea, ia hanya terikat tanggung jawab karena sudah tidur dengan gadis itu.
Bahkan malam itu ia tidak merasakan apapun, gadis itu masih virgin ataupun tidak sama sekali Ken tidak tahu.
Ken mengerang frustasi saat mendapat amukan pesan dari Azalea, pria tampan itu menyugar rambutnya dan mengusap wajah dengan kasar.
Bagaimana tidak, gadis itu menyudutkan dirinya dengan mengatakan habis manis sepah dibuang. Karena selalu terlambat membalas pesan, Azalea murka dan mengatainya seolah Ken pria jahat yang telah menikmati tubuhnya kemudian menjauh.
Lelah rasanya Ken menghadapi gadis seperti Azalea, padahal setaunya Azalea merupakan gadis yang mandiri. Tapi jangan lupakan Azalea juga adalah anak bungsu, sedikit banyaknya gadis itu memiliki sifat manja.
Ken membanting ponselnya saat Iren sang sekertaris masuk membawa laporan yang Ken minta.
Iren sedikit terhenyak saat ponsel itu hancur lebur tepat disebelah kakinya. Iren sedikit berjongkok untuk mengambil serpihan ponsel Bosnya tapi Ken menghentikannya.
Ia memegang kedua lengan Iren dan membawanya kembali berdiri,
"Biar OB yaNg membereskannya... Tolong belikan lagi ponsel baru" ucap Ken tanpa melihat kearah Iren, bukan membenci gadis itu tapi ia tak sanggup menatap matanya.
"Baik Pak, ini laporan yang Anda minta... " Iren memberikan berkas ditangannya kepada Ken.
"Saya permisi, Pak!" Iren membungkukan sedikit tubuhnya kemudian berbalik menuju pintu, langkahnya terhenti saat pria itu kembali memanggilnya.
"Ren, nanti malam temani saya datang ke pesta pernikahan anak dari Tuan Rudolf, belilah gaun yang cantik dengan kartu kredit ku" perintah Ken lagi
"Baik Pak...," jawab Iren kemudian berjalan keluar setelah menutup pintu ruangan Bosnya.
Iren memang sering menemani Ken saat acara-acara pesta dan itu adalah hal lazim karena memang Ken belum memiliki pasangan. Dalam acara pesta sering kali dijadikan ajang untuk melakukan pendekatan kepada klien ataupun melakukan transaksi bisnis maka dari itu Ken membutuhkan Iren disampingnya.
Tapi setelah kejadian di Paris beberapa waktu lalu, entah kenapa membuat Iren enggan dan sedikit menjaga jarak kepada Bosnya. Entahlah Iren tidak mengerti, yang jelas gadis itu merasa dikhianati oleh Ken padahal Iren hanyalah sekertarisnya dan hubungan mereka pun hanya sebatas sekertaris dan Bos saja.
Iren menggeleng-gelengkan kepalanya, untuk menghapus segala pikiran tentang Bosnya itu.
Tepat pukul tujuh Malam, Ken menjemput Iren dari apartemennya. Sang supir membukakan pintu untuk Iren di kabin belakang, Iren sedikit heran karena biasanya ia akan duduk disamping supir, tapi tak ayal ia pun masuk ke dalam mobil dengan Ken yang sudah berada didalamnya.
Iren tersenyum sekilas,
"Gaun yang bagus... " ucap Ken memuji
"Terimakasih Pak... Terimakasih juga telah membelikannya untuk ku saat ulang tahun ku tahun lalu" Jawab Iren sarkas.
__ADS_1
King menipiskan bibirnya, ia tidak tahu kalau ia lah yang membelikan gaun tersebut karena dahulu ia meminta sekertarisnya yang lain untuk membeli kado ulang tahun Iren.
Sesampainya di tempat acara, tangan Iren langsung melingkar di lengan Ken. Kini ia berperan buka hanya sebagai sekertaris tapi juga sebagai pasangan Ken, malam ini dan merupakan hal yang biasa terjadi.
Benar saja, dalam pesta tersebut mereka banyak bertemu dengan klien bisnis bahkan mereka saling berbincang tentang prospek bisnis yang akan berlanjut dengan pertemuan berikutnya di hari kerja untuk melakukan kesepakatan bisnis.
"Good Job, Iren! Kamu memang selalu membuat ku terkesan!" puji Ken terang-terangan.
Wajah Iren merona, sebetulnya ia sering mendapat pujian seperti itu saat telah berhasil memikat klien dengam kemampuan presentasi dan negosiasinya untuk bekerja sama dengan perusahaan Ken tapi malam ini, ungkapan pujian yang Ken berikan seperti terselip maksud lain.
"Terimakasih, Pak!" jawab Iren sambil tersenyum getir.
"Dia hanya memuji, Iren! Dia tidak menyukai mu, dan dia akan segera menikah!" batin Iren pilu.
"Ayo kita, bersulang!" Ken mengangkat gelasnya dan di balas oleh Iren.
Keduanya merayakan keberhasilan kerja sama yang akan terjalin ditengah-tengah pesta koleganya itu.
Drrt... Drrt... Drrt...
Ponsel Ken berdering, terlihat foto Azalea disana yang masih bisa Iren liat dari tempatnya duduk.
Setelah menggeser ikon hijau dilayar, Ken mendekatkan benda pipih tersebut ketelinganya kemudian beranjak menjauh dari Iren.
Iren, kembali meneguk cairan beralkohol yang sudah bartender tuangkan kembali untuknya.
Ken kembali duduk disamping Iren, meminta bartender untuk mengisi gelasnya kembali kemudian meneguknya hingga tandas, dan ia meminta bartender mengisinya kembali.
Iren menoleh pada Ken, dilihatnya raut wajah bosnya itu seperti baru saja kalah tender. Padahal sebelum menerima telepon tadi, Ken terlihat bahahia dan berbinar.
"Pak... Maaf, tapi anda sepertinya sudah terlalu banyak minum, mari kita pulang!" ajak Iren sambil memegang lengan berotot Ken.
Ken malah menutup wajahnya dengan kedua tangan yang ditopang sikut pada meja bar tersebut.
"Paaak... " panggil Iren lembut, sepertinya bosnya itu sudah mabuk berat.
"Entah apa yang disampaikan kekasihnya tadi, sepertinya Ken dan Azalea sedang bertengkar" batin Iren.
Iren menarik satu tangan Ken untuk dilingkarkan dipundaknya. Jarinya sudah mendial nomor supir untuk menjemputnya di Loby.
Dengan sekuat tenaga, ia menopang tubuh kekar itu berjalan keluar. Tapi tidak seberat yang ia kira. Ken masih sadar tentunya untuk hanya sekedar berjalan hingga loby tapi pria itu memilih mengikuti keinginan sekertaris yang menopangnya hingga loby.
Ken bisa merasakan tangan Iren merangkulnya di belakang pinggang. Berada sedekat ini dengan sekertarisnya itu membuat hati Ken menghangat, entah kenapa perasaan ini tidak bisa ia rasakan saat berdekatan dengan Azalea.
Sesampainya di rumah, Oma Mery sudah tidur hanya Maid bernama Nancy yang menyambut kepulangan mereka. Nancy membiarkan Iren membawa Ken menuju kamarnya, hal yang sering Iren lakukan bila bosnya itu sedang dalam keadaan mabuk.
Iren membuka pintu besar didalam rumah mewah itu, dan setelah keduanya masuk, pintu itu otomatis tertutup sendiri.
__ADS_1
Dengan pelan Iren merebahkan Ken di ranjang, gadis asal Indonesia yang mencari nafkah di london itu membungkuk hendak membukakan dasi kupu-kupu dileher Ken, tapi Ken malah menariknya hingga Iren terjatuh didalam pelukannya.
Gadis itu dengan posisi sejajar berada diatas Ken, Iren memberontak hendak bangun dari atas Ken tapi Ken menahannya.
Iren berada dalam belenggu tangan Ken, "Biar kan dulu seperti ini, sebentar saja... Aku mohon!" ucap Ken lirih.
Jantung Iren berdetak kencang sama halnya dengan jantung Ken yang berdetak seperti sedang berlari marathon.
Iren berhenti memberontak, detik ketiga tangan yang tadinya berada didada Ken ia pindahkan perlahan kepunggung bosnya itu, Iren balas memeluk Ken. Lalu kepalanya ia benamkan diceruk leher Ken.
"Aku terpaksa harus menikahi Azalea, gadis itu hamil" tutur Ken dengan suara bergetar.
Dada Iren bergemuruh, jantungnya makin menaikan ritme debarannya dan membuat dadanya sesak.
Berkali-kali Ken menceritakan bahwa ia tidak sadar sama sekali saat tidur dengan Azalea dan Ken sangat menyesali itu dan Iren percaya karena memang ia tau Ken bukan tipe pria seperti itu.
Tapi sekarang mengetahui Bosnya akan menikah, dari lubuk hati yang paling dalam Iren tidak rela. Tapi ia cukup tau diri, mengingat statusnya hanya sebagai sekertaris.
"Saya ucapkan selamat, Pak!" ucap gadis itu berbisik.
Iren bisa merasakan air menetes mengenai pipinya, ia tau Ken menangis. Ya, pria kekar itu menangis terasa dari sedikit getaran ditubuhnya. Bertahun-tahun bekerja dengan Ken baru kali ini Iren melihat pria itu menangis.
Seperti tertular, rasa sesak yang Iren rasakan sejak tadi seketika lega seiring dengan air mata yang begitu saja mengalir dari ujung matanya hingga mengenai leher Ken.
Ken yang merasalan lelehan air mata Iren makin mengencangkan pelukannya begitu juga Iren, mungkin ini terakhir kalinya gadis itu akan memeluk Ken, bila ia boleh serakah ingin rasanya menghentikan waktu agar bisa lebih lama memeluk Ken. Tapi ia bisa apa? Iren hanya seorang sekertaris, partner Ken dalam memajukan perusahaannya.
Flashback Off
"Ka... Maaf ya, karena aku kakek anfal dan maaf kakak juga terpaksa harus menikahi aku" ucap Azalea datar.
Ken bingung dengan sikap Azalea akhir-akhir ini yang seperti dingin kepadanya dan menghindarinya tidak seperti beberapa waktu lalu yang selalu menerornya dengan kata dan perbuatan mesra. Apa karena hormon ibu hamil?
Beberapa hari lagi mereka akan menikah, Ken tidak pernah menyentuh Azalea semenjak kejadian di Paris waktu itu, karena selain memang ia tidak pernah berhasrat sedikit pun pada gadis itu, Ken juga tidak ingin menyentuh wanita manapun sebelum ikatan pernikahan.
Walau seperti sekarang keduanya tidur satu kamar dan satu ranjang dihotel mewah yang akan menjadi tempat pernikahannya, Ken hanya tidur memunggungi Azalea.
Azalea tau betul bahwa Ken tidak pernah mencintainya, pria itu hanya terikat tanggung jawab.
King yang sedang mematuti layar laptopnya di meja kerja beranjak menghampiri Azalea yang sedang berdiri didekat jendela, melihat pemandangan malam hari Negara Singapura.
Ken memegang kedua lengan Azalea yang sedang membelakanginya, ia tau gadis itu sedang bersedih karena perasaan bersalah menderanya.
Sebagai calon suami, Ken harus bisa menenangkannya maka dari itu Ken menelusupkan tangannya diantara tangan Azalea memeluk gadis itu dari belakang membiarkan Azalea bersandar didadanya. Kedua telapak tangannya membelai perut yang masih terlihat rata itu.
"Kenapa kamu sedih? Aku malah bahagia akan memiliki makhluk kecil duplikat ku sendiri, mau cewe atau cowo aku akan menyayanginya" ucap Ken menghibur Azalea.
Tapi Azalea malah terisak, ia menahan isakannya dengan kedua tangannya. Satu tangan Ken mengelus kepala Azalea membiarkan gadis itu meluapkan emosinya.
__ADS_1