Zeline Dan King

Zeline Dan King
Remuk Redam


__ADS_3

Zeline beranjak dari tempat tidur, ia memungut pakaian yang tadi di lepaskan begitu saja sesaat sebelum bercinta, kemudian memakainya kembali.


Tenggorokannya terasa kering, ia pun pergi kedapur mencari segelas air dan sedikit buah-buahan untuk mengganjal rasa laparnya hingga pagi.


"Sshh... Pinggul ku pegal sekali, tadi King semangat banget sih!" gerutunya sambil berjalan menuju dapur.


Setelah meneguk segelas air mineral dan menggigit satu buah apel, ia kembali ke kamar.


Terdengar suara notification pesan masuk dari ponsel King, entah kenapa ia merasa penasaran. Cuma iseng sih awalnya, ia pun mengambil ponsel yang suaminya simpan diatas nakas samping tempat tidur.


Terlihat notifiication pesan masuk dari Jenifer.


[Thanks ya King, udah mau denger curha......] hanya itu yang bisa ia baca dari layar ponsel suaminya, karena ponsel King terkunci.


Deg!


Jantung Zeline mulai menambah kecepatan ritmenya, ia pun mendekatkan ponsel tersebut dengan jempol King hingga menempel.


Klik.


Ponsel itu pun terbuka, yang pertama kali ia cari adalah aplikasi pesan instan yang tadi sempat ia baca dan ternyata benar, ada nama Jenifer disana.


Ia bisa melihat pesan dari Jenifer dari 6 hari yang lalu.


Jenifer :


[Kenapa kamu menghindar? Aku hanya ingin bicara, hubungi aku]


[Sayang, aku tak apa kau menikah dengan Zeline tapi jangan tinggalkan aku, please]


[King please.... Biarkan aku jadi simpanan mu]


[King!!! Angkat telepon ku, kita harus bicara!!!]


[Heh!!! Brengsek!!! Jangan membuat pengorbanan ku sia-sia selama 10 Tahun ini!!!]


[Oke... Kamu akan menyesal King, lihat saja! Kamu tidak akan pernah bahagia bersama Zeline!!!]


Dan malam ini :


[Thanks ya King, udah mau denger curhatan aku tadi! Ga nyangka bisa ketemu kamu hari ini di NightClub, aku seneng bangetttt! Good night, sleep tight]


Deg.. Deg..Deg..


Kini jantung Zeline sudah berlari marathon, ia pun tak sadar terduduk dilantai sambil terisak sambil memegang dadanya.


Hatinya remuk redam, terasa sakit seperti dihujam dengan jutaan pisau.


Zeline segera berdiri, tak ingin membangunkan suaminya. Ia mencari ponsel miliknya dan kemudian keluar kamar menghubungi seseorang.


Tuut... Tuut... Tuuut...


"Selamat Malam Nyonya Zeline... " suara Elgi disana terdengar parau seperti baru terbangun dari tidur nyenyaknya.


"Ka Elgi, hiks... Hiks... " Zeline terisak, tak kuat menahan tangisnya.


Bila dulu saat Kevlar mengkhianatinya ia lebih memilih untuk pergi dan lari dari sakit yang ia rasakan, kini ia mencoba berpikiran dewasa dan menghadapi itu semua karena prasangka tersebut terjadi pada suaminya.


"Ada apa Nyonya?" suara Elgi kini terdengar khawatir.

__ADS_1


"Tadi dari kantor, King pulang jam berapa?" tanya Zeline dengan suara bergetar


"Tadi Tuan Muda mendampingan Tuan Jacob, client dari Jerman pergi ke NightClub. Tuan Jacob merupakan pria single jadi mengajak Tuan Muda kesana, saya pulang duluan jadi tidak tau Tuan Muda hingga jam berapa berada disana,maafkan saya Nyonya, apa Tuan Muda belum pulang?" tutur Elgi


"King udah pulang tapi..." kalimat Zeline tertahan, ia kembali terisak.


"Tapi apa Nyonya?" Elgi kini memberi tekanan pada nada suaranya, ia pun takut terjadi sesuatu pada Tuannya.


"Aku kirim pesan Jenifer dari hp King ya..." kemudian Zeline terlihat mengotak ngatik ponsel suaminya, ia memforward pesan jenifer kepada Elgi lalu mengscreenshoot pesan tersebut dan mengirimkannya kepada nomornya sendiri.


Ia sedikit terkejut saat melihat foto profil pesan instan miliknya di hp King bernamakan 'My Lovely Wife'. Tapi tak lantas ia melupakan rasa sakit yang sudah King torehkan.


"Mungkin Tuan Muda tidak sengaja bertemu dengan Jenifer disana" ucapan Elgi mengambang, ia tidak bisa berpikir jernih antara rasa kantuknya atau ia belum mempunyai pengalaman akan hal seperti ini hingga tidak tau harus merespon seperti apa.


"Oh gitu..." saut Zeline datar, sangat tidak puas dengan jawaban Elgi.


"Besok pagi saya akan meminta cctv nightclub untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi" Elgi berusaha ada dipihak Nyonya nya walau ia sudah membuat rencana untuk memberitahukannya terlebih dahulu pada King.


"Emang bisa?"


"Saya akan usahakan, Nyonya!" jawabnya lugas.


"Baiklah... Makasih ya Ka Elgi, aku tunggu kabarnya!" Zeline mengakhiri panggilan telepon.


Ia buru-buru menghapus pesan yang baru saja ia kirimkan dari hp King kepada Elgi dan pada nomornya.


Mengusap air mata kemudian ia beranjak berdiri, ia sudah memasuki kamar tamu karena kesal dengan King tapi niat untuk tidur dikamar tersebut ia urungkan, ia pun masuk kembali kekamarnya.


Meletakan ponsel suaminya seperti semula kemudian berbaring disamping King yang masih tertidur pulas dengan selimut menutup tubuh polosnya.


*****


Setelah sarapan pagi itu selesai dibuat, Zeline bergegas mandi dan memakai pakaian terbaiknya. Hari ini adalah hari pertama ia menjadi aktris yang dikontrak selama 2 tahun oleh statsiun TV milik Papi Zach.


Bukan karena nepotisme bukan, tapi memang sudah menjadi keputusan CEO stasiun TV tersebut yang memilih Zeline menjadi artisnya dan tidak ada hubungannya dengan Papi Zach.


Pagi ini ia akan menjadi bintang tamu di acara talkshow pagi hari di stasiun TV tersebut.


"Mau kemana hari ini?" pertanyaan dengan suara datar itu mengejutkan Zeline saat keluar dari kamar mandi.


"Kenapa ekspresi nya masih datar? Kan udah aku 'kasih' tadi malem? Harusnya aku marah loh pagi ini karena baca pesan dari Jenifer tadi malam" batin Zeline kesal


"Aku ada talkshow di stasiun TV punya Papi" ucap wanita itu kemudian mencium sekilas pipi King.


"Mandi gih, aku udah buatin sarapan" imbuhnya lagi sambil memasuki walk in closet.


"Kamu nangis?" King setengah berteriak dari pintu kamar mandi membuat Zeline menghentikan langkahnya tepat dipintu walk in closet.


King bisa melihat kedua mata istrinya bengkak dan ada sedikit kantung mata disana.


Zeline tersenyum pelik, kemudian mengangguk perlahan. "Udah aku lupain... " ucapnya kemudian berbalik.


King mengernyitkan dahi kemudian memasuki kamar mandi.


Beberapa menit kemudian, King yang sudah rapi dengan stelan tiga potongnya sambil membawa tas menghampiri Zeline yang sedang sarapan dimeja makan.


"Lupain apa?" King dengan to the point bertanya saat bokongnya sudah duduk di kursi meja makan.


Zeline menghela nafas,

__ADS_1


"Aku baca pesan dari Jenifer, kamu ketemu di club ya sama dia?" wanita itu pun tidak kalah to the point nya.


King mengernyitkan dahi, ia langsung mengambil ponselnya yang ia simpan disaku jas.


Memainkan jempolnya di ponsel dan tak berapa lama matanya membulat sempurna.


"I.. Ini ga seperti yang kamu kira, baby! King terbata, kini wajahnya mulai pucat pasi.


"Sial, kenapa aku membuka blokir nomor Jenifer? Perempuan itu pasti sengaja mengirim pesan setelah aku pulang!" batin King geram


"Kalau aku yang ada di posisi kamu, perasaan kamu gimana?" tanya Zeline dengan suara berat menahan tangis.


"Aku... Aku... Aku minta maaf, baby! Kemarin aku ga sengaja ketemu Jenifer di Nightclub dan ternyata, Jenifer merupakan model dari iklan yang Jacob buat untuk Hotelnya... Jacob meminta Jeni stay, dan dia memang sedikit curhat tapi bukan hanya pada ku pada Jacob juga!" tutur King dengan tatapan dalam.


"Kamu percayakan sama aku?" King memegang kedua lengan Zeline.


Beberapa detik Zeline masih menatap manik King, dan entah kenapa ia bisa melihat ada sedikit kebohongan disana. Tapi mungkin ia salah mengartikan dan menepis semua keraguan itu.


Zeline memaksakan senyumnya "Aku percaya..." ucap wanita itu membohongi hatinya sendiri.


Kemudian pria itu menarik Zeline dalam dekapannya, dan menghujani ciuman di puncak kepala istrinya itu.


"Aku anter ya?" ucap pria itu setelah melepaskan pelukannya.


"Ga usah... Nanti aku dijemput Joe dan Anin... Kamu pergi aja duluan"


King menghela nafas dengan wajah ditekuk, seperti seorang anak kecil yang dilarang bermain oleh Ibunya, membuat Zeline terkekeh.


"Ya udah... ayo, aku ambil tas dulu.... " akhirnya Zeline mengiyakan tawaran suaminya.


Dalam perjalanan menuju stasiun TV milik Papi Zach, keduanya terdiam tanpa mengatakan sepatah kata pun, hanya deru suara knalpot mobil sport King menemani perjalanan mereka. Zeline masih membayangkan pesan singkat yang Jenifer kirim untuk suaminya.


Atas saran Anin selama dua minggu ini ia akan mengkonsumsi pil kontrasepsi dengan begitu ia masih bisa melayani suaminya. Tapi kenapa disaat ia berusaha membahagiakan King dan menjadi istri yang baik, pria itu malah membuka hati untuk Jenifer? Kenapa dia tidak pulang saja saat Jenifer datang? Memang sepenting apa sih Tuan Jacob itu?


Sedangkan King merasa bersalah atas apa yang sudah ia lakukan tadi malam dengan Jenifer, ia tidak bohong bahwa Jenifer menjadi model dari iklan hotel milik Jacob tapi masalahnya tadi malam ia sempat berciuman dengan perempuan itu. Pria normal mana yang tidak akan termakan rayuan Jenifer dengan wajah cantik dan body goals yang tak kalah dari istrinya.


Tak ia pungkiri, King merindukan wanita yang bisa ia atur semaunya, yang mengejar-ngejar dan memohon untuk ia cumbu bukan sebaliknya yang ia lakukan pada Zeline.


Tapi kini ia menyesal, andai tadi malam kejadian itu bisa ia undo. Seharusnya ia membuat Jenifer menjauhinya bukan malah termakan rayuan perempuan itu.


Hal penting yang pertama kali harus ia lakukan sekarang adalah memblokir kembali nomor perempuan itu. Jangan sampai kejadian konyol tadi malam terulang dan yang paling mengejutkan, istrinya yang jelmaan singa itu tidak marah sama sekali. Zeline malah hanya menangis tanpa membangunkannya, hingga kedua matanya terlihat bengkak keesokan paginya.


Bisa King bayangkan, wanita itu menangis sendiri menikmati sakit hati yang ia torehkan ketika melihat pesan dari Jenifer, dan pagi harinya ia mengatakan bahwa telah melupakannya. Kini perasaan bersalah itu semakin menjadi menusuk sudut hatinya.


Istrinya itu hanya menyerahkan kembali kepadanya, bagaimana bila ia ada diposisinya. Mungkin ia sudah akan marah pada keduanya hingga memukul pria yang sudah bersama istrinya di NightClub. Ia pun tak akan semudah itu memaafkan Zeline.


Tapi apa yang Zeline lakukan? Wanita itu memaafkannya. Perasaan bersalah kini sudah menajalar seperti virus di sel-sel tubuh King.


Pria itu menarik tangan Zeline dan menggenggamnya, kemudian membawanya untuk ia kecup.


"Tadi malam kamu berubah pikiran?" tanya pria itu, dengan perhatian yang masih fokus pada kemudi.


"Ngga... Cuma ga kepikiran pake pil kontrasepsi aja kemarin...," saut Zeline, pandangannya masih menatap luar jendela.


"Jadi sekarang kamu minum pil?" tanya King lagi.


"Iya... Ga apa-apa kan? Hanya sampai kita yakin Azalea ga hamil" Zeline mengalihkan pandangannya menatap King.


Dengan berat hati dan kecewa, King menganggukan kepala.

__ADS_1


__ADS_2