
"Kamu bisa dapatkan Zeline kembali, bila kita bekerja sama" Jenifer menghampiri Kevlar dengan penuh keyakinan.
"Benarkah begitu? Jenifer, kan?" balas Kevlar sambil menaikan satu alisnya,
Jenifer tersenyum menggoda.
Keduanya bersulang untuk tujuan yang sama.
*****
"Kamu haus? Aku ambil minum sebentar ya? Jangan kemana-mana, tunggu disini" King menegakkan tubuh Zeline, dan setelah mendapat anggukan dari sang istri, pria itu pun pergi menuju stand minuman.
Sesaat setelah King pergi,
"Ekhm... " suara bas yang Zeline kenal terdengar dari belakang.
Zeline menoleh dan mendapati Kevlar sedang tersenyum manis sambil memasukan kedua tangannya kedalam saku celana.
Kevlar terlihat tampan malam ini tapi entah kenapa Zeline tidak terpesona.
"Hai Kev... " sapa Zeline, tentu Kevlar ada disana karena teman Zeline yang berulang tahun ini merupakan artis yang juga dikontrak oleh stasiun TV milik Kevlar.
"Kamu sendirian?" tanya Kevlar basa-basi, padahal ia tau Zeline bersama King.
"King lagi ambil minum..." jawab Zelin, dibalas Kevlar dengan mengangguk samar.
Beberapa detik keduanya hanya diam, "Apa kamu benar-benar bahagia bersamanya?" tanya Kevlar hati-hati,
"Pertanyaan macam apa itu? Jelas lah aku bahagia, King itu pria sejati... " jawab Zeline yakin, sambil tertawa pelan.
"Jadi aku bukan pria sejati?" tanya pria itu lagi sambil menaikan satu alisnya,
"Udahlah Kev... " rengek Zeline mulai jengah.
Zeline sudah tidak ingin mengungkit masa lalu, ia hanya ingin hidup bahagia bersama King.
"Kamu tau dulu King seperti apa? Dia ga akan berubah Zeline!" ucap Kevlar dengan suara tertahan.
"Trus aku harus gimana? Berpisah dengan dia dan bersama kamu? Bukannya kamu sama aja dengan dia?" Zeline menjawab dengan membalikan pertanyaan.
Kevlar tidak bisa membalas ucapan Zeline, pria itu mematung hanya bisa menatap dalam wanita yang masih memiliki tempat di hatinya.
"Suami kamu dateng, aku pergi... " Kevlar hendak berjalan pergi tapi Zeline menarik tangannya.
"Jangan pergi, sapa dulu kaka sepupu kamu... " Zeline masih memegang tangan Kevlar sambil menatap pria itu dan tak luput dari perhatian King.
Rahang King mengetat dengan alis tertaut. King berjalan cepat kearah sang istri.
"King..." Zeline menoleh, lalu melepaskan tangan Kevlar dengan pelan tanpa segan.
King memberikan satu gelas minumannya kepada Zeline dengan wajah tak ramah dan gadis itu menyaut sambil tersenyum dalam hati.
"King... " sapa Kevlar tapi King tak menghiraukan.
Pria itu duduk lalu merentangkan tangannya merangkul pundak Zeline sambil menopang satu kaki. Tak lupa King mengecup pipi Zeline dengan sengaja didepan Kevlar.
Kevlar salah tingkah dibuatnya, "Ya sudah, suami kamu udah ada... Aku pergi ya!" pamit Kevlar tanpa menoleh kearah King.
"Daaah... Kev... " balas Zeline sambil melambaikan tangan.
"Ngapain kamu pegang-pegang tangan Kevlar?" tanya King ketus.
Zeline terkekeh, "Tadi dia mau kabur sebelum kamu dateng, tapi aku tahan biar bisa ngobrol dulu sama kamu!" jawab Zeline tanpa dosa.
__ADS_1
"Dia ngomong apa aja?" tanyanya lagi,
"Ngga ada, kamunya keburu dateng... " jawab Zeline berbohong.
Zeline tidak ingin hubungan King dan Kevlar makin retak, wanita itu pun tidak terpengaruh dengan apa yang diucapkan Kevlar karena Zeline memang sudah tau siapa King sebelum bersamanya.
"Kita pulang!" King menarik tangan Zeline, ekspresi wajahnya masih terlihat tidak ramah.
Zeline menurut saja sambil tertawa dalam hati melihat tingkah cemburu sang suami.
Sebetulnya Zeline memang sengaja memegang tangan Kevlar agar King merasakan cemburu seperti yang dirasakannya saat melihat King memeluk Jenifer.
Didalam mobil, King masih merasa kesal terlihat dari kerutan diantara alisnya.
Pria itu pun sengaja duduk menjauh bahkan menyandar pada pintu.
"Sayaaaang.... " panggil sang istri sambil memeluk tangan King dan menyandarkan tubuh dipundak pria kekar itu.
"Kamu marah ya? Kalau aku salah aku minta maaf..." Zeline merajuk,
"Kalau salah kata kamu? Jelas-jelas salah lah, kamu megang tangan Kevlar tadi" seru King sambil melepaskan pelukan Zeline dengan pelan.
"Kamu cemburu karena itu? Trus gimana aku yang ngeliat kamu satu mobil sama Jeni? Pake peluk-peluk segala lagi turunnya" Zeline mulai nyolot.
"Aku kan udah minta maaf... " protes King.
"Ya udah, sekarang aku juga minta maaf... " balas Zeline kemudian,
Driver yang sesekali melirik kaca spion tengah mulai pucat pasi mendengar pertikaian sang majikan.
Pria paruh baya itu berusaha fokus mengemudi dan pura-pura tidak mendengar pertengakaran Tuan dan Nyonyanya.
King membuang tatapannya Kesamping, pria itu terlihat seperti anak gadis yang sedang merajuk dengan bibir mengerucut dan dahi mengkerut.
Zeline mengulum senyum, "Di maafin gaaa?" Zeline kembali merayu sang suami dengan mencium pipinya sekilas.
King yang sudah beberapa minggu tidak mendapatkan haknya sebagai suami mulai tergoda.
"Kamu sengaja ya tadi... " King membawa Zeline dalam pelukannya, mengusap punggung Zeline kemudian mengecup puncak kepala istrinya. Pria itu luluh.
Zeline mengangguk sambil menyeringai, "Biar kamu rasa, apa yang aku rasain" jawabnya sambil mendelik kesal.
King menjauhkan wajahnya kemudian menggigit pipi Zeline gemas.
Sang driver akhirnya bisa bernafas lega, dan menghapus keringat yang mulai mengucur dikening padahal pendingin mobil sudah bekerja secara maksimal.
Tibalah keduanya di lobby kemudian turun sambil saling berangkulan mesra, didalam kotak besi yang mengantar keduanya ke lantai unit apartemen, King memojokan tubuh sang istri kedinding sambil menyambar bibir ranum yang sudah lama tidak ia nikmati.
"Emmpphh... King, ada cctv itu!" Zeline mendorong pelan dada King dengan kedua tangannya.
"Biarkan saja... " balas pria itu lalu kembali mencium bibir Zeline kemudian turun ke rahang dan lehernya membuat sang istri tertawa geli.
"Kiiiing..." rengeknya sambil menjauhkan tubuh King.
"Kamu tadi mancing-mancing sih... " King masih saja merayu Zeline dengan meraih pinggang ramping yang selalu membuatnya mabuk kepayang.
"Iya tapi ga disini juga.... " tolak Zeline sambil mendorong tubuh sang suami.
Tapi King tidak peduli, ciumannya turun hingga kedada Zeline yang terbuka.
Dan aktifitas King harus terhenti karena bunyi lift tanda keduanya telah sampai dilantai yang dituju.
King menggendong Zeline ala bridal style sambil terus mencium bibir yang sudah menjadi candu itu, membuat sesuatu sudah mengeras dibawah sana.
__ADS_1
Saat keduanya sudah kehabisan nafas dan hampir menjangkau pintu apartemen, King dan Zeline dikejutkan oleh sesosok wanita yang dikenalnya.
Gadis itu berdiri menatap King dan Zeline dengan tatapan nanar sambil membawa koper ditangannya.
King menurunkan Zeline dengan sangat terpaksa, kemudian menghela nafas kasar.
"Nafeesa? Ada apa kemari?" tanya Zeline dengan penuh tanda tanya, pasalnya sepupunya itu merupakan seorang dokter dengan jadwal yang padat dan hari ini merupakan hari kerja.
Jadi tidak mungkin gadis itu sedang liburan apalagi dengan wajah sendu membawa koper datang ke apartemennya.
"Aa.. Aku... " jawab Nafeesa terbata,
"Ya udah masuk dulu yu... " ajak Zeline tapi matanya menatap wajah King yang sudah sulit terdefinisikan.
"Kamu duduk dulu ya, kalo laper ambil makanan di kulkas atau di meja makan... Aku ganti baju dulu!" ucap Zeline lalu menuju kamar menyusul sang suami yang tidak sopan karena tidak menyapa Nafeesa sama sekali.
"Kiiing... Ga sopan banget sih ga nyapa Nafeesa!" gerutu Zeline sambil membuka sleting dressnya.
King meraih kembali tubuh Zeline dan mulai mencumbunya, "Emmhh... King, ada Nafeesa diluar.. " tolak Zeline lembut.
"Trus kenapa? Sebentar aja... " King masih meneruskan aksinya,
"Ya udah bentar... Aku bilang dulu sama Nefeesa... " negosiasi Zeline berhasil dan King melepaskannya,
"Sha... Aku kelonin King dulu sebentar ya, setengah jam aja" Zeline berteriak dari pintu yang terbuka sedikit hanya memperlihatkan kepalanya.
Zeline menoleh kearah King meminta persetujuan dan sang suami malah melototkan matanya tanda waktu yang diberikan kurang.
"Sejam deh, Sha... Kamu makan trus bersih-bersih dulu ya... Pake aja kamar sebelah!" teriak Zeline lagi, kini King mulai melucuti stelan jas yang dikenakannya.
"Astagaaa Lin, santai aja... " jawab Nafeesa akhirnya.
Setelah mendapat jawaban dari Nafeesa, Zeline langsung mengkunci pintu.
"Issh.. Kamu ya kalo udah pengen tuh ga bisa ditahan!!!" seru Zeline dengan kesal.
King tergelak, Zelinenya sangat menggemaskan bila sedang marah dan malah semakin menaikan hasratnya.
Setelah penyatuannya dengan sang istri yang begitu luar biasa, King tergeletak tidak berdaya disamping Zeline.
Zeline masih sadar kalau ada Nafeesa yang sedang menunggunya dan ia pun harus menghilangkan dahaga akan pertanyaan tentang kedatangan adik sepupu yang umurnya lebih tua darinya itu.
Setelah menyelimuti tubuh King, Zeline beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuh dan sisa-sisa percintaannya dengan sang suami.
Beberapa menit kemudian, wanita itu sudah segar dengan piyamanya keluar dari kamar mencari Nafeesa.
"Sha... " panggil Zeline, dan menemukan Nafeesa sedang melamun di meja makan.
"Tumben kamu dateng kesini? Ada apa?" tanya Zeline tanpa basa basi.
"Aku hamil, Lin... " tangis Nafeesa pecah.
Mata Zeline membulat sempurna, tanpa sadar satu tangannya menutup mulut yang menganga.
"Sama siapa?" tanya Zeline hati-hati.
Beberapa saat Nafeesa hanya terisak, Zeline menggenggam tangan Nafeesa erat.
"Rangga... " jawanya dengan suara serak.
"Rangga... Pangeran aku?" mata Zeline sudah hampir keluar dari rongga matanya.
Nafeesa mengangguk lemah.
__ADS_1
"Ya Tuhaaaan... Kenapa mereka seneng banget hamil diluar nikah? Apa mereka ga kenal sama yang namanya alat kontrasepsi sekali pakai atau pil penunda kehamilan?" Zeline membatin, gadis itu mengusap wajahnya dengan gusar.
Tangannya terangkat memijat pelipis yang tiba-tiba saja merasa sakit.