
Setelah makan malam, WO mempersilahkan kan Zeline untuk mengikuti rangkaian acara Bridal Shower dengan diliput oleh beberapa kru cameraman, sepupu perempuan dari pihak King pun ikut andil menambah kemeriahan.
Mengingat Zeline merupakan aktris, membuatnya wajib mengabadikan moment-moment spesial seperti ini untuk kebutuhan media sosialnya.
Zeline dan para sepupu perempuan beralih tempat menuju area kolam renang yang sudah dihias dengan berbagai balon juga desert table. Kebetulan disana banyak sekali para turis bahkan warga Australia sendiri yang kebetulan menginap disana.
Sehingga Zeline dan yang lainnya menjadi pusat perhatian kala itu.
King beserta para sepupu pria yang lain dan tak lupa Ken yang yang baru saja tiba langsung digiring oleh pihak WO ke dalam bar exclusive yang tidak jauh dari area kolam renang, bahkan King masih bisa melihat apa yang dilakukan Zeline dari tempatnya berada.
"Ga usah ditatap segitunya, Bro! Bentar lagi Zeline akan menajadi milik mu!" Kevlar menepuk pelan pundak King lalu duduk disampingnya sambil menatap gadis yang sama yang sedang sepupunya itu tatap.
King nenatap Kevlar dengan tatapan tidak suka, dan ini merupakan kesempatannya untuk menanyakan hubungan Kevlar dengan calon istrinya itu.
"Apa hubungan mu dengan Zeline?" tanya King kemudian.
"Ken dan Zeline adalah teman ku, rumah almarhum Grandpanya yang kini ditempati Ken berada tepat di depan rumah ku...Dulu setiap liburan sekolah, Zeline dan Ken selalu berkunjung. Dan aku.... kau tau sendiri.... Tak bisa melihat gadis cantik menganggur begitu saja!" Kevlar tergelak tapi berbeda dengan King yang menatapnya kesal.
"Apa yang sudah kau perbuat kepadanya hingga ia seperti melihat setan saat menatap mu!" tanya King datar.
"Tidak ada, tapi dugaan ku... Ia pernah melihat ku sedang bercinta dengan wanita lain dan setelah itu ia tidak pernah datang lagi ke London!" Kevlar mengendikan bahu.
"Lalu kenapa dia berhenti menemui mu saat melihat mu bercinta dengan wanita lain, kau bilang hanya teman!" cecar King dengan tatapan tajam yang tidak disadari Kevlar.
Sepertinya King tidak perlu menanyakan hal itu mengingat kelakuan Kevlar yang tidak jauh dengannya. Bedanya King tak pernah merayu para wanitanya, walaupun begitu tak membuat mereka menolak bergulat diatas ranjang tanpa status.
Sedangkan Kevlar merupakan perayu ulung yang menjadikan status sebagai alasannya bercinta.
"Kau tau lah bagaimana bebasnya pertemanan di luar Indonesia, tapi aku jamin Zeline masih suci hanya saja aku yang mengambil ciuman pertamanya! Maaf Bro! Kau mendapatkan bekas ku!" Kevlar tegelak.
Wajah King sudah memerah menahan amarah dengan tangan mengepal memperlihatkan buku jari yang mulai memutih.
"Kau tau kan aku tidak menyukai amatiran, dan saat itu Zeline adalah gadis yang masih sangat polos bahkan ia tak tau bagaimana caranya berciuman!" Kevlar kembali tergelak.
Tak lama tawa itu mengudara terkembang dari mulut Kevlar hingga akhirnya kepalan tangan King mendarat cantik di rahang Kevlar.
King melayangkan tinjunya kearah Kevlar membuat semua terhenyak, dan membisu beberapa saat.
Merasa tidak terima dengan perlakuan King, kini Kevlar balas melawan dengan bogemnya hingga terjadi aksi saling serang diantara keduanya.
Seluruh keluarga berusaha melerai perkelahian antar sepupu itu, bahkan Zeline yang sedang asyik berbincang dengan para sepupu perempuannya terhenti karena keributan yang diciptakan oleh calon suaminya.
Tak percaya dengan apa yang dilihat, Zeline langsung berlari dengan menarik keatas gaunnya. Kaki dengan dibalut heels 10 cm itu tak berhenti menerjang kerumunan para tamu hotel yang membentuk lingkaran.
"King!! Kevlar!!" teriaknya histeris melihat darah diwajah kedua pria tampan di depannya.
King masih terus menerjang Kevlar begitupun sebaliknya hingga Zeline memberanikan diri menahan tubuh King yang akan kembali menerjang Kevlar.
"King berhenti... Sebentar lagi polisi datang, ini bukan dinegara kita kau tak bisa seenaknya" seru Zeline.
Tapi King masih terus berusaha menerjang Kevlar bahkan ia menyingkirkan tubuh Zeline hingga hampir terjatuh tapi Zeline tak menyerah, ia terus menahan King dengan memeluk pria itu.
Pelukannya semakin erat saat King akan melangkah lagi.
"King...Bila terjadi sesuatu, besok kita bisa tidak jadi menikah... Berhentilah, ayo kita pergi!" Bisik Zeline yang sedang menenggelamkan kepalanya di dada King.
Seketika King berhenti melangkah, dengan nafas yang naik turun menahan amarah ia menunduk menatap Zeline.
Gadis itu melepaskan pelukannya kemudian menarik tangan King keluar dari sana.
Seluruh keluarga bertanya-tanya tanpa ada satupun yang bisa menjawab kenapa perkelahian itu bisa terjadi.
Dan satu-satunya yang bisa menjawab adalah Kevlar, karena King sudah dibawa pergi oleh calon istrinya.
Semua menatap Kevlar, dan pria itu hanya tersenyum smirk sambil menggelengkan kepala sesekali memegang rahangnya yang membiru.
"Ada apa sebenarnya, hah?" tanya Ken pada Kevlar seraya membantunya berdiri.
__ADS_1
*****
Disaat yang sama Zeline menarik tangan King kekamarnya, ia meminta resepsionis membawa obat-obatan dan es untuk mengobati luka King.
"Duduklah!" Zeline melepaskan cengkraman tangannya dipergelangan King.
"Apa yang kau lakukan? Besok itu hari pernikahan kita, dan mereka akan banyak mengambil foto kita berdua. Tapi bagaimana hasilnya nanti bila wajah mu babak belur seperti ini?! Haiiiissss.... Kau membuat ku susah saja?!" seru Zeline sambil meraba-raba wajah King.
King hanya bisa meringis sambil memperhatikan wajah Zeline dengan seksama.
"Apa dia hanya memikirkan nama baiknya saja? Tidak memikirkan perasaan ku sama sekali?" batin King.
Ya kenapa juga King harus terbawa perasaan dengan omongan Kevlar, sedangkan pernikahan mereka hanyalah keterpaksaan.
Terdengar suara seseorang mengetuk pintu. Zeline segera berdiri dan membuka pintu tersebut tak lama ia kembali duduk disamping King dengan es dan obat-obatan untuk menyembuhkan lukanya.
"Apa perlu kita kerumah sakit?" tanya Zeline.
"Tidak perlu, kau obati saja luka ku!" King membuka Jas dan kemejanya yang sudah berantakan dan sedikit sobek dibeberapa sisi karena perkelahian tadi, hingga terpampang lah otot diseluruh tubuh bagian atasnya membuat Zeline menatap intens dan kesulitan menelan saliva.
"Kau terpesona?" King tersenyum miring.
Zeline langsung mengalihkan pandangannya kesuluruh ruangan menghindari pemandangan indah tubuh King didepannya.
"Ayo obati aku... Kau mau menunggu ku mati, hah?" seru King
Zeline mencebikan bibirnya.
"Mana bisa kau mati hanya dengan luka kecil seperti ini!" dengus Zeline.
Zeline mulai membersihkan luka diwajah King dengan alkohol kemudian memberikan obat luka dan menempelkan perban di luka tersebut. Lalu menempelkan es di tempat yang membiru.
King memperhatikan Zeline yang merawat lukanya, bahkan saat ini Zeline menempelkan es yang dibungkus plastik itu kewajahnya padahal King bisa saja melakukan itu sendiri.
Tanpa sadar tangan King terangkat, merapikan rambut yang menjuntai menghalangi wajah Zeline lalu menyelipkannya kebelakang telinga.
Lalu tangan itu bergerak mengelus lembut pipi Zeline dan mengusap bibir bawah Zeline dengan jempolnya.
Tangan King yang satunya melapisi tangan Zeline yang sedang menempelkan es dirahangnya yang terluka. Lalu melepaskan es itu dari wajahnya.
Perlahan tubuh King mendekat, dan kini wajahnya hanya berjarak 30 cm saja dari wajah Zeline.
King memiringkan sedikit kepalanya dan makin mendekatkan bibirnya dengan bibir Zeline sambil memejamkan mata.
Semakin dekat hingga nafas King menerpa wajah Zeline.
Tiba-tiba kepala King terhentak kebelakang.
Zeline mendorong kening King dengan telunjuknya.
King berdecak Kesal.
"Ck... Zeline!!! Apa yang kau lakukan?" geram King dengan tatapan tajam.
"Harusnya aku yang bertanya, apa yang akan kau lakukan?" Zeline mendelik lalu merapikan obat yang berceceran dipangkuannya.
"Aku ingin menghapus bekas ciuman Kevlar dibibir kamu!" King mendengus dengan melipat tangannya didada.
"Apa? Menghapus ciuman Kevlar dengan ciuman mu, maksud mu begitu?" Zeline tergelak kosong, matanya berkaca-kaca.
"Jadi si brengsek itu menceritakan semuanya pada King!" batin Zeline pilu.
"Jadi tadi kamu berkelahi dengan Kevlar karena dia bilang pernah mencium aku, begitu? Aah... So sweet! Lalu apa lagi yang dia bicarakan?" Zeline memaksakan tawanya yang malah terdengar memprihatinkan.
Tapi saat ia mengatakan so sweet pada King, itu memang tulus dari hatinya, malah ia sedikit tersentuh. King, pria yang terpaksa menikahinya malah berkelahi dengan sepupunya sendiri karena tidak terima sepupunya itu sudah pernah mencium calon istrinya. Setidaknya seperti itu yang ada dipikiran Zeline.
Menghela nafas, King menyandarkan tubuhnya di sofa.
__ADS_1
"Tidak ada, hanya itu... " balasnya enggan menjelaskan apapun.
"Lalu kenapa kamu marah dan memukulnya?"
King menggelengkan kepala dengan tatapan kosong ke langit-langit kamar.
Ia pun tak mengerti dengan perasaannya saat ini, entah kenapa ia marah sekali tadi saat mendengar Kevlar mendapatkan ciuman pertama Zeline.
"Harusnya kau tonton semua film yang aku bintangi, sejak SMA banyak film yang mengharuskan adegan ciuman, bibir ini sudah banyak di dicium oleh pria lain, King!" tutur Zeline santai seolah hal itu biasa.
King menoleh menatap Zeline dengan menyatukan alisnya.
"Tapi hanya sebatas ciuman biasa, kau tak perlu semarah itu. Sedangkan kamu, sudah berapa banyak wanita yang tidur dengan mu, hah? Ruginya aku mendapatkan bekas!" sindir Zeline dengan memutar bola matanya.
Hati King tercubit mendengar penuturan calon istrinya, ia pun berdecak kesal, membuang tatapannya kearah lain karena malu tak berani menatap wajah bak malaikat bernama Zeline itu.
Beberapa menit hening menguasai ruangan kamar itu, keduanya bingung kenapa tak ada seorang pun yang datang ke kamar itu menanyakan keadaan King, apa orang tua King sudah tidak perduli lagi padanya?
Zeline merasa sedikit iba, lalu ia menggeser duduknya mendekati King.
"Mana liat wajah mu, apa masih bengkak?" Zeline menarik dagu King dengan jarinya.
Ia kembali mengoleskan salep di wajah King dengan lembut.
"Besok kalau belum hilang memarnya, kamu harus didandani ya pake foundation atau concelar...,"
"Ogah ah... Emang aku boyband apa?" desis King menolak.
Zeline tergelak, gelak tawanya bahkan membuat gadis itu terlihat lebih cantik dan tak luput dari perhatian King.
"Jadi, bagaimana ceritanya hingga kamu bisa jatuh dalam pelukan pria seperti Kevlar?"
"Memangnya dia pria seperti apa? Seperti kamu?" sindir Zeline
"Dia lebih Parah dari aku...,"
"Masa? Memang ada yang lebih parah dari kamu?" saut Zeline santai tapi bisa memancing emosi King.
"Kenapa kamu mau saja dia cium-cium padahal tidak ada ikatan?" geram King menahan emosi.
"Dia bilang gitu?" Zeline malah balas bertanya.
King menghembuskan nafas kasar. Emosinya sudah diubun-ubun, memang ia tidak bisa berbicara baik-baik dengan Zeline yang sialnya akan menjadi istrinya mulai besok.
"Dia itu player... Zeline, dia perayu ulung! Biasanya dia akan memulai semua aksinya bila gadis itu telah menjadi kekasihnya" tutur King dengan ketus.
Zeline tertohok.
"Jadi karena Kevlar tau aku sangat menyukainya, bahkan sebelum menjadi kekasihnya dia sudah dengan mudahnya mengambil ciuman pertama ku yang sukarela aku berikan, binalnya aku ini Ya Tuhaaaan"
Zeline hanya mengendikan bahu berusaha acuh padahal hatinya merana juga sangat malu.
"Aku pikir dia pria baik...," ucap Zeline lirih lalu menundukan kepala.
Hening kembali mengambil alih hingga beberapa saat.
"Kau mau aku buatkan susu coklat panas?" tawar King dengan suara lembut.
Zeline mendongak menatap King kesal.
"Kamu mau aku gendut ya? Trus nanti setelah kita nikah, kamu selingkuh dengan alasan karena aku gendut, ya kan? ya kan?" Zeline berteriak sambil melemparkan bantal sofa kearah King.
King menahan bantal sofa itu dengan kedua tangannya, ia betanjak dan berlari kearah pintu meninggalkan kamar gadis manis dengan mood berubah-ubah itu.
"Kadang lembut, kadang kasar...." King mendesis gusar sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sepertinya ia butuh istirahat untuk hari pentingnya besok.
__ADS_1