Zeline Dan King

Zeline Dan King
Sang Putra Pangeran


__ADS_3

"Udah siap?" dari ambang pintu kamar, King menghampiri Zeline yang masih saja mematung di depan jendela. Tatapan matanya kosong menatap mobil berjejer dijalan raya yang terlihat seperti miniatur dari jendela apartemen mereka.


Zeline mengesah, "Udah, aku nunggu Nafeesa dan yang lain! Kamu inget kan, mereka ikut kita?" jawab Zeline berbohong.


"Tapi kenapa kamu terlihat kesal, baby?" King membingkai wajah cantik Zeline dengan kedua telapak tangannya membuat pipi Zeline tertekan dan bibirnya sedikit mengerucut.


Belum Zeline menjawab, King sudah menyambar bibir dengan lipstik berwarna nude itu. Dikecupnya sedikit dengan sangat lembut, membuat Zeline mencebikan bibirnya setelah ciuman King berakhir dan pria itu terkekeh.


"Kamu tuh ya, aku lagi kesel jugaaaa" rajuknya dengan suara manja.


"Kamu masih ga terima Azalea jadi kaka ipar kamu?" King memicingkan mata.


"Iyalah, harusnya kan dia jadi adik aku... Aku tuh pengen punya adik, apalagi adik perempuan!!" Zeline mengerucitkan bibirnya.


"Kamu kan punya Qila, sayang... Dia adik sepupu kamu! Gimana kalau kita suruh Qila tinggal sama kita, aku bisa masukin dia di Universitas terbaik di Jakarta" tawar King kepada istrinya, pria itu akan melakukan apapun untuk membahagiakan Zeline bahkan mengambil rembulan pun akan ia lakukan untuk dipersembahkam kepada Zeline tercinta, bila gadis itu meminta.


Zaline ingat kalau Qila tergila-gila dengan King, lalu pikirannya dihinggapi dengan cerita novel konyol yang pemeran prianya merupakan hypersex hingga sampai meniduri adik ipar dan sahabatnya.


"Tentu tidak, Ferguso!!!" batin Zeline sambil menggeleng-gelangkan kepalanya menghampus pikiran kotor dan sekaligus kode penolakan atas ide suaminya tersebut.


"Loh... Kenapa?" tanya King heran.


"Aku ga suka ada orang lain di rumah kita" jawab Zeline sambil melepaskan tangan King yang melingkar dipinggangnya, wajahnya pucat pasi.


Zeline memang mengidap penyakit PTSD Post-traumatic Stress Disorder. Traumanya karena pengkhianatan Kevlar membuat gadis itu sulit mencintai pria lain dan selalu memiliki ketakutan tentang sesuatu yang belum tentu terjadi.


King tidak tau saja, setengah mati Zeline harus menekan emosi, amarah dan sakit hatinya saat pria itu mengatakan sedang berada di apartemen Jenifer. Semua perkiraan terburuk tentang yang dilakukan Jeni dan King ada dalam benaknya saat itu, hingga didalam taksi perjalanan ke apartemen Jeni, berkali-kali ia menjabak rambutnya sendiri kemudian memukul dadanya yang terasa sakit.


Ia tidak ingin melampiaskan amarah kepada King, walau ingin karena takut King malah meninggalkannya. Zeline tidak sanggup kehilangan cinta lagi.


Begitu juga saat tau Ken yang menghamili Azalea, pikiran Zeline mensugesti dirinya sendiri bahwa ia harus berpisah dengan King apabila Azalea hamil dan menikah dengan Ken ditambah lagi ia berpikir pasti kedua orang tuanya akan memisahkan mereka. Begitu rumit pikiran Zeline, membuat dirinya harus meminum obat penenang atau obat tidur agar bisa beristirahat.


King menarik kembali Zeline dan mendekapnya erat, "Apa yang harus aku lakukan untuk membuat mu tersenyum kembali" bisik pria itu ditelinga Zeline.


"Jangan pernah khianati apalagi meninggalkan aku" jawab Zeline dengan nada rendahnya.


"Never!" King menjawab dengan cepat dan tegas, membuat hati Zeline kembali tenang.


Ting... Tong...


"Sepertinya mereka sudah tiba, ayo kita berangkat" King melepaskan pelukannya, mencium kening Zeline sekilas kemudian merangkul istrinya itu dan membawanya berjalan menuju pintu apartemen mereka untuk menyambut Nafeesa dan sepupunya yang lain.


Sesampainya di Singapura, mereka semua langsung menuju hotel dimana pesta pernikahan Ken dan Azalea akan berlangsung. Mereka tiba sudah larut malam, Pilot sempat menunda penerbangan selama beberapa jam dikarenakan cuaca yang tidak memungkinkan untuk mengudara.


Keesokan harinya,

__ADS_1


Cuaca pagi hari itu begitu hangat, sinar mentari seolah menebus badai yang semalam mengamuk tak kenal ampun. Seluruh keluarga sudah siap dengan pakaian terbaiknya, pagi ini dimulai dengan pengucapan ikrar janji Ken dan Azalea sekaligus penandatangan serifikat yang mengesahkan Azalea dan Ken sebagai sepasang suami istri dimata hukum Negara.


Azalea sudah memakai gaun pengantin putih panjang yang membentuk lekuk tubuhnya, bila dilihat gaun itu cukup sederhana mengingat Azalea merupakan putri dari Zachery Alterio yang terkenal dengan kerajaan bisnisnya.


Sama halnya dengan wajah Azalea yang terlihat sendu, sama sekali ia tidak terlihat bahagia seperti gadis yang dipaksa menikah karena perjodohan.


Di ruang ballroom hotel itu semua berkumpul, petugas dari pencatatan sipil sudah duduk di meja yang telah disiapkan, berhadapan dengan Ken.


Semua tinggal menunggu Azalea, semua menunggu dengan sabar saat pintu yang harusnya Azalea lewati masih belum terbuka juga. Seorang WO terlihat panik saat pintu tak kunjung terbuka, King juga Zeline dan keluarga yang lain terus saja menoleh kearah pintu.


Dan akhirnya, pintu itu terbuka. Azalea berjalan dengan pelan dan anggun sambil memegang perutnya dengan kedua tangan. Pandangannya menunduk menatap karpet merah yang ia lewati, tidak ada senyum apalagi lambaian tangan.


Semua mata yang melihat mengernyitkan dahi, bahkan Papi Zach dan Mami Azuri saling pandang.


Ken menatap Azalea yang berjalan menghampirinya seperti gerakan slow motion. Ia bisa melihat raut wajah sendu gadis itu, sungguh Ken tidak mengerti apa yang terjadi pada Azalea.


Azalea terus berjalan dengan pelan sambil menunduk menuju dimana Ken berada, gadis itu ingin mundur tapi tidak mungkin sampai akhirnya tangan Ken terjulur menyentuh tangannya.


Ternyata Azalea sudah sampai, ia mendongak saat Ken berdiri dengan tubuh menjulang. Tatapan mata Ken yang ditangkap Azalea terlihat sendu, Azalea tau pria itu terpaksa menikahinya dan saat ini Azalea yakin Ken terpaksa tersenyum kepadanya.


Waktunya untuk mengucapkan ikrar pernikahan, Ken dan Azalea saling berhadapan dengan kedua tangan saling menggengam.


Dimulai dengan Ken yang mengucapkan ikrar pernikahan dipandu oleh petugas pencatatan sipil, pria itu mengucapkannya cukup lantang dan lugas hingga terdengar diseluruh ruangan.


Giliran Azale mengucapkan ikrar,


Brakkk!!!!


Kalimat Azalea terhenti saat mendengar suara keras dari pintu.


Semua mata menoleh kearah suara, terlihat seorang pria muda berdarah latin memasuki ruangan dengan wajah kusut sepertinya pria itu tidak tidur beberapa hari, kantung matanya terlihat jelas juga rambut yang hanya disisir dengan jari sama sekali tidak mencerminkan seorang putra Pangeran dari suatu kerajaan di Eropa.


Azalea terkesiap hingga matanya membulat sempurna,


"Adrian.... " gumam Azalea


"Yaya.... Maafkan aku, menikahlah dengan ku demi cinta mu pada ku, demi bayi kita!!" ucap Adrian dengan lantang.


"Hah?" semua keluarga menggumamkan hal yang sama. Seketika ruangan Ballroom yang tadinya hening berubah riuh dengan suara-suara penuh tanda tanya dari seluruh keluarga.


Sungguh kejadian yang diluar dugaan, semua heran semua tidak menyangka, tidak mengerti akan apa yang tengah terjadi padahal sedari tadi mereka ada disana.


Coba lihat Ken, pria itu tersenyum walau belum mengerti apa yang sebetulnya terjadi. Tapi mendengar Adrian mengucapkan kalimat "bayi kita" itu sudah cukup membuatnya seperti terbebas dari belenggu tak kasat mata yang mengikat seluruh tubuhnya.


Adrian berjalan menghampiri Azalea dan Ken, ia membisikan sesuatu kepada Ken, dan Azalea, gadis itu lari entah kemana yang langsung disusul oleh Adrian.

__ADS_1


Tidak berapa lama, Uncle Bianco yang merupakan sahabat dari Papi Zach dan juga paman kandung dari Adrian memasuki balroom dan menghampiri Papi Zach dan Papa Andra. (Baca Novel Cinta Tanpa Syarat part Cinta untuk Bianca)


Mereka bertiga terlibat perbincangan serius hingga Papa Andra terlihat sedikit emosi dan mengacungkan jari telunjuknya.


Mami Azuri lemas tak berdaya ditopang dan bersandar dipundak Mama Rena.


"Aduh Besan... Gimana ini?" Mama Rena memeluk Mami Azuri yang sedang shock dan mengusap-ngusap lengannya.


"Aku mau mati saja rasanya" ucap Mami Azuri lirih


"Jangan seperti itu, semua sudah ditakdirkan...kita hanya bisa menerimanya" ucap Mama Rena menenangkan. Tidak ada rasa dendam sama sekali dihati Mama Rena karena Azalea telah memfitnah anaknya. Mama Rena masih yakin bahwa Azalea adalah gadis yang baik.


"Tapi aku akan berbesan dengan seorang Pangeran dan adik dari Mafia, Ren! Mau bagaimana hidup Azalea nantinya?" Mami Azuri mengesah.


"Tenang Ri, semua pasti baik-baik aja" ucap Mama Rena lagi.


Setelah Uncle Bianco menjelaskan bahwa yang menghamili Azalea adalah Adrian, anak dari Bianca adik kembarnya yang menikah dengan Pangeran Ignasio, putra mahkota kerajaan di Eropa timur juga alasan kenapa Azalea memilih membohongi semua orang, dengan hati lapang akhirnya Papa Andra menerima, itu pun karena Papa Andra masih menganggap Papi Zach karena sedari tadi Papi Zach terus memohon maaf kepada Papa Andra.


Terjawablah sudah mengapa sikap Azalea yang berubah akhir-akhir ini. Azalea sudah tau bahwa dirinya tengah hamil, maka dari itu ia mengunjungi Adrian untuk meminta pertanggung jawaban tapi Adrian sempat menolak mengingat siapa dirinya yang lahir dari keluarga kerajaan.


Skandal itu hanya akan membuat malu keluarganya,


Azalea kecewa lalu ia lari ke London dan tidak mendapati Ken disana, setelah mencari tau dimana Ken berada, Azalea menyusulnya dan malam itu di Paris sebetulnya tidak pernah terjadi apa-apa. Azalea membantu Ken kekamarnya, pria itu muntah karena terlalu mabuk hingga mengenai baju keduanya.


Azalea membuka pakaian Ken kemudian merebahkannya diranjang, ia pun membuka pakaiannya sendiri dan menggantinya dengan bathrobe, setelah itu mereka hanya tidur bersama satu ranjang tidak melakukan apapun.


Pagi harinya, King dan Zeline mendapati keduanya sedang berada dalam satu kamar yang sama. Azalea menggunakan keadaan itu memberikan Ayah kepada anak yang tengah di kandungnya.


Jahat memang, tapi saat itu pikirannya buntu. Entah apa yang harus ia lakukan, tidak mungkin Azalea menggugurkan kandungannya. Tapi ditengah-tengah ia melakukan kebohongannya, nuraninya mengambil alih. Ia tau Ken tidak mencintainya, picik rasanya mengorbankan Ken untuk bertanggung jawab atas apa yang tidak pernah pria itu lakukan.


Sebetulnya, selama ini Azalea hanya mengagumi Ken. Pria dewasa yang sukses dan bertanggung jawab, kepribadiannya pun baik dan berwibawa. Sedangkan saat itu, saat Azalea diam-diam menjalin hubungan dengan Adrian yang merupakan anak dari seorang Pangeran yang hidup bergelimang harta dan kekuasaan.


Hidup Adrian hanya diisi dengan pesta dan foya-foya, tapi Azalea mencintainya hingga rela memberikan apa yang seharusnya ia jaga.


Siang ini, setelah bujuk rayu Adrian kepada Azalea dan penjelasan panjang lebar kepada seluruh keluarga akhirnya Adrian mengucapkan ikrar pernikahannya dengan Azalea.


Pesta tetap dilaksanakan sesuai rencana tapi dengan mempelai pria yang berbeda.


"Ka Ken... Aku minta maaf... " Azalea sengaja menghampiri Ken ditengah-tengah pesta sedang berlangsung, gadis itu terlihat merasa sangat bersalah.


Tangan Ken terjulur menyelipkan anak rambut ke belakang telinga Azalea "Ga apa-apa.... " jawab Ken dengan senyumnya.


"Kaka pasti bisa dapet istri yang baik..." ucap Azalea lagi.


"Aamiin... Kamu ga apa-apa kan ga jadi nikah sama Kaka?" Ken menggoda Azalea untuk menghilangkan rasa bersalah gadis itu karena Ken memang sudah memaafkannya.

__ADS_1


Azalea terkekeh sambil menghapus air mata yang menetes dari sudut matanya.


Kini semua larut dalam pesta tersebut, semua bahagia kecuali Mami Azuri yang masih belum menerima keadaan ini tapi itu tugas Papi Zach dan Uncle Bianco untuk membujuk Mami Azuri yang kadang isi kepalanya cukup rumit seperti kebanyakan emak-emak didunia ini.


__ADS_2