Zeline Dan King

Zeline Dan King
Menggertak


__ADS_3

Sudah seperti orang gila King mengemudikan kendarannya menuju rumah sakit setelah mendapat kabar dari Elgi tentang keadaan istrinya dan lagi-lagi ia harus kabur dari rapat penting.


Beruntunglah ia lahir dari klan alterio dan mempunyai sekertaris sehebat Elgi sehingga tidak perlu pikir panjang baginya meninggalkan tanggung jawab diperusahaan untuk keperluan mendesak seperti ini.


Puluhan kali King mengumpat saat kendaraan didepannya berhenti karena harus mengantri di jalanan yang padat pagi itu.


Setelah sampai dirumah sakit, King memarkirkan Lamborghini Veneno silver-nya sembarang didepan loby rumah sakit.


Mungkin pikirnya suka-suka gue, rumah sakit babeh gue ini


Melempar kunci kepada security untuk memindahkan mobil tersebut ke basement khusus pasien VVIP.


Tapi sang satpam malah terbengong setelah menerima kunci mobil tersebut karena pada saat akan menyalakan mobil ia tidak mengerti bagaimana cara mengoprasikannya, ini kali pertama ia mengendarai mobil sport keluaran terbaru.


Akhirnya security muda itu meminta bantuan temannya yang lain untuk memindahkan mobil sport yang dikendarai anak dari pemilik rumah sakit swasta terbesar di Kota tersebut.


Saat King memasuki loby, salah satu staf rumah sakit sudah menunggunya dan menggiring King menuju ruang operasi.


Pecahan guci yang menancap di kaki Zeline cukup dalam hingga mengenai urat nadi sehingga butuh penanganan lebih serius dan akhirnya jalan operasi harus di tempuh.


Setelah sebelumnya meminta persetujuan King melalui telepon, operasi pun dilakukan mengingat banyaknya darah yang keluar hingga wanita itu hampir kehabisan darah sedangkan kondisi Zeline yang sedang hamil muda.


Cukup lama operasi itu dilakukan, kedua orang tua Zeline dan King juga berada disana bahkan sang paman yang merupakan Kakak dari Mami Azuri yang menjabat sebagai Direktur rumah sakit tersebut ikut memenuhi ruang tunggu operasi.


Semua menunggu dengan cemas termasuk King.


Sekali lagi ia menyakiti sang istri, dan penyesalan mulai menderanya.


"Jangan sampai masalah pemerkosaan Zeline dan status siapa anak yang ada didalam kandungan Zeline diketahui oleh para orang tua!" bisik King kepada Anin diluar ruang tunggu.


Anin mengangguk tanda mengerti, King tidak ingin menambah masalah bila kedua orang tua mereka tau.


Cukup ia dan Zeline yang menyelesaikan masalah ini.


10 jam berlalu....


Zeline mengerjap saat merasakan sesak didada hingga kerongkongannya, ketika membuka mata ternyata sang suami sedang menatap sambil menggenggam tangannya.


Selang oksigen yang masuk dari hidung membuatnya malah kesulitan bernafas.


Zeline merasakan kaki kanannya kebas dan ada sensasi seperti digigit semut, matanya melirik kebawah ternyata kaki itu sudah terbalut perban.


"Maaf.... " hanya itu yang keluar dari mulut King.


"A... Aku... Yang harusnya minta maaf!" balas Zeline terbata.


Tidak berapa lama dokter datang untuk memeriksa kondisi Zeline dan perawat melepas selang oksigen yang tertanam di alat pernapasan wanita itu.


"Usahakan agar lukanya tidak terkena air dulu hingga dua minggu kedepan, dan asupan nutrisinya juga harus dijaga dengan baik agar jaringan yang sobek tersambung kembali.... Besok saya akan periksa lagi kondisi luka pasca operasi, bila sudah bagus baru boleh pulang!" tutur pria berjas putih itu setelah selesai memeriksa luka di kaki Zeline.


"Terimakasih Dok... " ucap Zeline setelah suster berhasil melepaskan selang oksigennya.


Dokter tersebut mengangguk kemudian pamit kepada King dan keluar dari ruang rawat berkelas Presidential Suit tersebut bersama suster yang mendampinginya.

__ADS_1


King membawakan satu gelas air untuk Zeline karena ia tau sang istri pasti merasa haus setelah hampir 12 jam tidak sadarkan diri.


Setelah menyimpan gelas diatas nakas, King mendudukan tubuhnya disisi ranjang kemudian mengusap kepala sang istri lembut.


"Kamu bisa cerita apapun sama aku, suami kamu! Tolong jangan buat aku tidak berguna, menyakitkan kalau aku malah mendengarnya dari orang lain!" tutur King dengan merendahkan suaranya.


Zeline mengerti apa yang dimaksud oleh suaminya itu dan air mata kembali mengalir tanpa bisa ia bendung.


King merengkuh tubuh Zeline dan mendekapnya erat.


"Aku takut kamu jijik sama aku karena apa yang telah dilakukan Reka dan aku takut kamu ninggalin aku kalau ternyata bayi ini bukan anak kamu.... Aku takut King, aku sangat mencintai kamu hingga aku membenci itu....!" Zeline terisak dalam pelukan King.


"Jangan membenci cinta karena itu anugrah, tapi rubah pola pikir kamu dan percaya sama aku... Teganya kamu berpikir kalau aku akan meninggalkan kamu sedangkan aku sendiri tidak bisa hidup tanpa kamu!" King mencium puncak kepala Zeline berkali-kali dengan penuh sayang.


"Tadi aku minta sekakian dilakukan test DNA, dan seminggu lagi kita tau siapa ayah dari bayi itu!" ucap King sambil mengurai pelukannya kemudian menatap mata Zeline hangat.


"Kamu ga marah?" tanya Zeline hati-hati.


"Aku marah karena kamu ga cerita apapun sama aku dan malah mau menyelesaikan masalahnya sendiri, bahkan kamu lebih percaya sama Anin dan Elgi aja udah tau...Kamu anggap aku apa sih?" King berakting marah dengan mengerucutkan bibirnya.


Zeline tersenyum tipis kemudian memeluk tubuh sang suami erat.


"Bagaimana bila anak ini bukan anak kamu?" Zeline melirih.


"Kita bikin satu lagi, pokoknya aku ga akan berenti ngehamilin kamu sampe kamu melahirkan anak ku!" seloroh pria itu.


Zeline terkekeh, "Maksud aku bukan itu..." rengek Zeline dengan suara manja yang sangat dirindukan King.


"Jangan di gugurin, dia ga salah.... " ucap pria itu akhirnya.


"Aku mau terima anak itu kalau ternyata memang anak itu bukan anak aku!" potong King dan setelah mengatakannya seolah dada King yang sebelumnya tersa sesak kini lega.


Apalagi Zeline yang nerasa beban dipundaknya terangkat dan perasaannya kini plong seperti terbebas dari ikatan tak kasat mata yang membelit tubuhnya.


Kenapa tidak sejak awal ia menceritakan masalah ini kepada suaminya, mungkin kakinya tidak akan menjadi korban seperti saat ini.


Keesokan harinya King berangkat ke kantor dari rumah sakit setelah Mami Azuri dan Mama Rena tiba untuk bergantian berjaga menemani Zeline.


Ia harus melanjutkan meeting yang sempat tertunda kemarin dan membereskan pekerjaannya.


Setelah meeting selesai, dilantai bawah terjadi kegaduhan.


Tidak lain adalah Jenifer yang memaksa masuk untuk menemui King padahal semua security sudah menahannya.


King mulai jengah, ia sudah kehabisan akal menghadapi wanita itu.


"El... Suruh dia masuk ke ruangan saya!" titah King setelah keluar dari ruang rapat.


Ingin sekali Elgi membantah atau menanyakan untuk apa?


Tapi ia ingat bukan kapasitasnya melakukan hal itu maka ia pun meminta security untuk mengantar Jenifer ke ruangan King.


Jenifer sangat bahagia karena King mau nememuinya, perasaannya membuncah karena sebentar lagi rencananya akan berhasil.

__ADS_1


Setelah security membukakan pintu, Jenifer melenggang masuk kedalam ruangan sang kekasih, setidaknya Jenifer masih menganggapnya seperti itu.


Tatapannya langsung tertuju pada pria tampan yang duduk di single sofa dengan sorot mata tajam tapi sedikitpun ia tidak gentar karena memiliki rencana yang akan membuat pria itu bertekuk lutut dikakinya.


Dengan penuh percaya diri Jenifer melangkahkan kaki mendekati King dan duduk dipangkuan pria itu.


Dan saat King akan mendorongnya, Jenifer langsung mengacungkan flashdisk kedepan wajah King.


King tau percis apa isi flashdisk tersebut.


"Bila kamu tidak mengikuti keinginan aku, foto-foto Reka yang sedang menghamili Zeline akan tersebar luas dan pasti sangat menarik... Aku ingin tau apakah jantung Kakeknya akan baik-baik saja setelah melihat berita tersebut? Aaahh... Atau mungkin Zeline akan bunuh diri karena gadis itu begitu bodoh dan rapuh!" ucap Jenifer pongah merasa menang sebelum bertanding.


King menyeringai, tangannya mengusap punggung mulus Jenifer.


Kali ini pria itu tidak akan terprovokasi.


"Kamu tau kenapa detik ini kamu masih hidup? Itu aku yang memintanya karena bukan kamu yang menyakiti Zeline... Tapi sepertinya kamu sangat tidak tau diri, kamu terus saja membuat masalah dan hukuman apa yang diberikan kepada orang yang membuat masalah dengan Alterio? Hem?" King kembali menyeringai dengan menaikan satu alisnya.


"Hukuman mati, sayang.... Dan untuk mengagalkan rencana yang baru saja kamu bilang tadi demi kebahagian aku dan Zeline sepertinya aku harus benar-benar melenyapkan mu!" imbuhnya lagi dengan aura kelam membuat Jenifer bergidik.


Ekspresi sombong yang tadi Jenifer tampilkan berubah drastis tergantikan dengan expresi penuh ketakutan hingga wajahnya pucat pasi dan tenggorokannya tercekat.


Ia tau ancaman Alterio selalu terbukti dan 10 Tahun bersama King, Jenifer tau betul apa yang dikatakan King tidak main-main.


Usapan tangan King dipunggung terbukanya yang biasanya selalu bisa membangkitkan gairah kini malah membuatnya merasa terancam.


"Oh... Atau aku meminta 10 orang preman untuk memperkosa mu bergantian kemudian merekamnya dan menyebarkannya? Mumpung sekarang kamu ada disini mendatangi aku langsung jadi aku tidak perlu repot-repot mencari mu... Bagaimana? Apa kamu masih mau menjalankan rencana mu?" King melingkarkan kedua tangannya di tubuh Jenifer, memenjarakan wanita itu.


Jenifer tentu saja meronta berusaha melepaskan diri, jantungnya berdetak sangat kencang dan merasa bodoh telah main-main dengan King.


Tapi saat ini hanya merutuki apa yang telah dilakukannya tidak akan lantas terhindar dari hukuman yang akan King berikan maka ia harus segera bertindak.


Kungkungan King terlepas dan Jenifer berdiri menjauh dari King.


Ia melempar flashdisk tersebut dan seketika dengan mudah King menangkapnya.


Ekspresi wajah Jenifer masih pucat pasi.


"Aku tau kamu masih menyimpan copyannya, tidak mungkin kamu datang kesini dengan membawa bukti asli... "


Jenifer menggelengkan kepala, matanya sudah memerah menahan air mata.


Ancaman King tadi masih membayanginya, selain ketakutan yang teramat sangat ia rasakan, hatinyapun terasa sakit atas ancaman tanpa perasaan dari pria yang telah menemaninya selama 10 Tahun itu.


Rencananya benar-benar gagal, Jenifer mundur perlahan dan tanpa bicara wanita itu keluar sambil berlari dengan isak tangis yang mengiringinya.


Ia sudah kalah bahkan pengorbanan Reka yang kini mendekam dipenjarapun sia-sia.


Apakah ini waktunya Jenifer berhenti meneror hubungan King dan Zeline?


Jenifer tidak pernah tau, sesungguhnya ancaman itu hanya gertakan.


Demi hidup bahagia bersama Zeline kedepan, King sudah berniat untuk tidak melakukan hal kotor.

__ADS_1


Berusaha memperbaiki hidupnya dan memang disaat seseorang akan pindah kejalan yang lebih baik, cobaan selalu saja menyapa.


__ADS_2