
"Mau kemana?"
Suara bariton sexy itu menghentikan pergerakan Zeline saat akan menuruni ranjang.
Zeline tidak menjawab, malah balas bertanya.
"Hari ini kamu kerja?"
King mengangguk sambil memasang dasinya.
"Semua meeting kemarin aku undur hari ini, kamu ga apa-apa kan aku tinggal?"
"Ga apa-apa.... Sini aku pakein dasinya" Zeline menepuk ranjang meminta pria itu duduk disampingnya.
"Emang kamu bisa?" tanya King ragu sambil mendudukan bokongnya disamping Zeline.
"Bisa donk..." dengan lincah jari lentiknya memutar dan memasukan lidah dasi diantara lubang yang ia ciptakan sehingga dasi bermerk salah satu rumah mode di perancis itu terpasang sempurna menambah ke tampanan suaminya.
"Belajar dari mana?"
"Dari Mama Rena" saut Zeline
King meraih tangan Zeline lalu menciumnya.
"Thanks baby" ucapnya tulus.
Zeline membalas dengan mengulas senyum tipis.
"Hari ini kamu di rumah aja ya, Mami Azuri sebentar lagi datang nemenin kamu. Jangan lupa makan terus minum obat, kalau kamu mau tidur siang suruh Mami pulang biar ga berisik... Denger, pokoknya kamu ga boleh kerja selama belum sembuh ya, baby?" tutur King panjang lebar, tangannya terjulur menyentuh kening Zeline mengecek keadaan suhu tubuh gadis itu lalu menangkup satu pipi Zeline dan mengeluskan jempolnya disana.
"King... Aku udah sembuh, tinggal lemesnya aja itu juga karena pengaruh obat. Minggu depan aku udah mulai syuting film ke Jepang selama sebulan"
"Apa? Sebulan?" King tertegun sesaat.
Ia yakin pendengarannya tidak salah, istrinya sedang memberitahu bukan meminta ijin.
Zeline membalas dengan menggerakan kepalanya naik turun.
Membuang nafas kasar, King menarik tangannya dari pipi gadis itu kemudian berlalu.
Sebelum sampai dipintu pria itu menghentikan langkahnya.
"Kamu ga boleh pergi ke jepang, batalin kontraknya!!" King berseru kemudian menutup pintu kamar sedikit kencang.
"Kiiiing!!" teriak Zeline lalu menyusul suaminya keluar kamar.
Zeline membuka pintu dan berlari mengejar King yang sedang memakai sepatu di depan pintu, menarik tangan suaminya kasar.
"Kamu ga bisa gitu donk King...itu kontrak terakhir aku sebelum kita bikin sandiwara ini! Inget King, kita tuh nikah cuma sandiwara dan kamu ga bisa ngatur-ngatur hidup aku!" Zeline berteriak tidak sopan percis didepan wajah suaminya.
Seketika emosi King memuncak, ia sempat memejamkan matanya sekilas dengan rahang mengetat.
"Cukup Zeline, aku suami kamu dan mau ga mau kamu harus nurut apa kata aku! Berhenti bilang pernikahan kita sandiwara, aku benar-benar berjanji dihadapan Tuhan dengan tulus dan ikhlas sepenuh jiwa dan raga untuk menjadi suami kamu! Bukan sandiwara!!" Pria itu tak kalah kencangnya berteriak kepada Zeline hingga Zeline mundur satu langkah dengan wajah pucat pasi.
King sempat tertegun, menyesali apa yang sudah ia lakukan, berteriak kencang hingga menyentak hati rapuh gadis didepannya tapi amarah mengabaikan itu semua.
Bahkan ia tidak sadar telah jujur memberitahu isi hati yang sebenarnya mengenai pernikahan ini.
Masih dengan wajah kesal pria itu keluar dari apartemen mewahnya diiringi isak tangis sang istri.
"aku benar-benar berjanji dihadapan Tuhan dengan tulus dan ikhlas sepenuh jiwa dan raga untuk menjadi suami kamu! Bukan sandiwara"
Kalimat itu terngiang ditelinga Zeline dan membuat gadis itu berhenti menangis, mencoba mencerna maksud dari tiap kata yang suaminya ungkapkan dengan penuh emosi.
"Apa dia salah bicara? Kenapa dia bilang dengan tulus ikhlas sepenuh jiwa dan raga menikahi ku? Memangnya dia mencintai ku? Ah masa? Jadi maksudnya apa? Jadi gimana ini? Ko aku jadi degdegan ya? Trus kalau dia cinta kenapa ngelarang-larang aku syuting? Kenapa coba? Trus kenapa makin hari dia makin ganteng sih? Ih... Ko aku jadi mikirin dia ya?" Zeline bermonolog.
Pikirannya dihujam dengan ribuan pertanyaan yang entah kenapa otak pintar dikepala cantiknya tidak bisa menjawab itu semua.
*****
"Keruangan saya sekarang!" King memanggil Elgi melalui interkom di ruangannya.
Tok... Tok... Ceklek
Elgi membuka pintu kemudian berjalan menghampiri King yang sedang menyandarkan sebagian tubuhnya dimeja kerja sambil melipat tangan didada.
"Kamu tau kontrak terakhir film istri saya yang di buat sebelum pernikahan ini?"
"Ya Tuan... Nona Zeline ada kontrak kerja dari salah satu production house untuk film yang di adaptasi dari salah satu Novel karya pengarang terkenal, Bahkan syuting filmnya sempat di reschedule karena Nona Zeline terpilih menjadi pemenang Putri Indonesia dan harus karantina untuk Miss Universe, tapi setelah Nona Zeline batal menjadi Putri Indonesia, syutingnya dilanjutkan kembali" Tutur Elgi dengan lugas.
"Batalkan kontraknya, ganti rugi berapa pun yang mereka mau dan kalau perlu kita yang membiayai film tersebut!" dengan santai King berujar.
"Baik Tuan, ada lagi?"
King memberi kode dengan tangannya agar Elgi keluar dari ruangannya untuk melaksanakan perintahnya itu sekarang juga.
Dengan gusar ia menyiapkan bahan untuk meeting hari ini, pikirannya bercabang antara pekerjaan dengan istrinya yang tadi ia tinggalkan sedang menangis.
Merasa sangat bersalah, ia pun tak mengerti apa yang sudah gadis itu lakukan hingga membuat seorang King menjadi tak berdaya seperti ini.
*****
Ting.. Tong...
Bel apartemen berbunyi
Ceklek...
"Hai sayang? Kata King kamu sakit?" tanya Mami Azuri dengan wajah khawatir seraya menempelkan tangannya dikening Zeline.
"Iya Mi.. Tapi udah turun demamnya... " saut Zeline.
"Mana King? Apa dia kerja? Harusnya dia di rumah aja ngerawat kamu sayang, sebentar ya Mami telepon dia dulu... Mau Mami marahin itu anak nakal!" Azuri sudah mencari telepon genggamnya di dalam tas.
"Mi... Ayo duduk dulu" Zeline menarik Azuri ke sofa.
__ADS_1
"Kemarin King seharian ngerawat Zeline, sampai semua meeting kemarin dia pindahin hari ini... Lagian Zeline udah sehat ko Mi..." terang Zeline kemudian tertunduk dengan mata sayu.
"Kenapa? Apa King tidak memperlakukan mu dengan baik? Mami Azuri menarik dagu Zeline agar menatapnya.
"Kamu abis nangis?" wajah Azuri terlihat khawatir dengan kening mengkerut melihat jejak air mata disana.
Zeline kembali menundukan wajahnya.
"Ayo cerita sama Mami...," Azuri menggenggam kedua tangan Zeline.
Kemudian Zeline menceritakan tentang King yang tidak mensuport karirnya, dengan seenaknya pria itu menyuruh Zeline membatalkan kontrak filmnya padahal peran dalam film tersebut dengan susah payah Zeline dapatkan.
Menghembuskan nafas pelan, Azuri menarik tubuh Zeline kedalam dekapannya.
"Sayang, mungkin King berbuat seperti itu karena tidak ingin jauh dari kamu apalagi kalian baru menikah. Sebulan bukan waktu yang sebentar sayang... Mami malah seneng denger King melarang kamu... " Azuri menjeda kalimatnya lalu menjauhkan tubuh Zeline agar bisa menatap mata menantunya.
"Itu berarti dia sudah jatuh cinta sama kamu, kalau ngga dia ga akan ngelarang kamu dan ga akan perduli dengan apa yang kamu lakukan" imbuhnya lagi.
"Mami bukan belain King, tapi coba deh kamu pikir... Dia itu menginginkan kamu sayang sampai ga rela untuk berjauhan dari kamu" Azuri menahan rasa bahagia yang membuncah, ia tau King tak akan pernah mengecewakannya.
"Oh gitu ya Mi..." saut Zeline dengan mengerjap pelan.
"Mami boleh minta tolong?" tanya Azuri seraya mengenggam kedua tangan menantunya.
"Boleh, minta tolong apa Mi?"
"Tolong berusahalah mencintai anak Mami, karena Mami udah sayang banget sama kamu dan kamu adalah wanita yang pantas untuk anak Mami" tutur Azuri dengan mata berbinar.
Zeline mengerjap cepat.
"Tapi dia yang ga pantes buat aku Mi, dia udah ga perjaka sedangkan aku masih perawan, apa ga bisa minta yang lain Mi? Aku mah mending disuruh manjat menara eifel deh Mi, daripada harus mencintai anak Mami!" gerutu Zeline dalam hati.
Tapi entah kenapa saat genggaman Mami Azuri makin kencang, ia malah menggerakan kepalanya naik turun sambil mengulas senyum.
*****
Tuut... Tuut... Suara interkom diruangan King berbunyi.
Klik
"Ya?" jawab King
"Nona Anin sudah datang, Tuan...," suara Elgi dari sebrang sana.
"Suruh dia masuk..., "
"Baik Tuan..."
Perasaan Anin tidak enak, ia tau kenapa King memanggilnya. Mengambil nafas sebelum sesuatu atau perkataan pria didalam ruangan itu akan membuatnya sesak kemudian mengetuk pintu tiga kali.
Tangannya masih bergetar saat memegang handle pintu itu, sekuat tenaga ia menggerakan benda yang menempel dipintu tersebut.
Ceklek...
"Masuk..." King beranjak dari kursi kebesarannya dan mempersilahkan Anin duduk disofa.
"Anin, bisa bantu Elgi batalkan kontrak film terbaru Zeline?" tanya King dengan tegas.
Anin mengedip cepat, membayangkan apa yang akan dia lakukan untuk membatalkan kontrak Zeline, makian dan bentakan sutradara juga produser sudah pasti akan dialamatkan kepadanya belum lagi kedepannya Zeline akan dianggap tidak profesional dan gosip itu akan menyebar kepada sutradara lain yang akan membuat Zeline sepi job itu berarti ia akan mengemis job seperti dulu saat Zeline baru pertama kali menginjak dunia hiburan.
Anin menelan salivanya dengan susah payah dan peluh mulai menetes dari keningnya.
"Kamu tenang saja, Elgi sudah mengatur semuanya dan tidak akan membuat karir Zeline hancur, cukup temani Elgi saja" King seperti bisa membaca kekhawatiran Anin.
"Baik Tuan..., " Anin menjawab dengan meremas ujung kemejanya.
"Tolong seleksi kontrak kerja Zeline mulai sekarang jangan sampai dia kelelahan dan menyita banyak waktunya... Mulai sekarang saya yang bayar gaji kamu dan Joe, saya naikan 2x lipat dari sebelumnya. Tolong jaga Zeline dengan baik ya, Nin" Tutur King dengan suara rendah tapi terdapat penekanan dalam kalimat tersebut.
"Baik Tuan, terimakasih..., ada lagi?"
"Apa yang Zeline suka?" tanya King lagi
"Heuh?" Anin melongo
"Misalnya bunga apa atau dia suka coklat apa ngga, kalau lagi marah apa yang buat dia berenti marah..." tanya King lagi dengan kaku dan sedikit pelan.
Anin mengulum senyum, merasa lucu dengan pertanyaan dari pria penuh wibawa dihadapannya. Sebagian hati nya merasa lega karena merasakan perhatian King kepada Zeline.
"Zeline anak manja, Tuan... Dia ingin selalu disayang dan dimanja, tapi Zeline juga bukan orang yang spesifik dia akan menghargai semua pemberian apa pun itu" tutur Anin.
"Baiklah... Kamu boleh pergi"
"Terimakasih Tuan..., " Anin berdiri dari duduknya kemudian membungkuk sedikit dan keluar dari ruangan King.
Setelah menutup pintu, Anin baru bisa bernafas lega. Ternyata Tuan Muda yang menjadi suami Zeline itu cukup ramah dan memperdulikan istrinya. Ia pun heran mengapa Zeline seperti tidak menyukai pria baik seperti King.
"Nona Anin..." suara lembut Elgi membuyarkan lamuman Anin.
"Ah.. I.. Iya..." saut Anin terbata karena terkejut disuguhkan pria tampan berjas di hadapannya.
"Apa Tuan Muda sudah menginstruksikan mengenai kontrak film Nona Zeline?"
Anin mengangguk cepat.
"Kalau begitu, apa kita sudah bisa pergi sekarang?saya sudah menghubungi sekertaris produsernya untuk membuat janji" ucap Elgi
"Ah ya.. Bisa...ayo" saut Anin kemudian.
Keduanya beriringan berjalan menuju lift.
*****
Seharian ini King sangat sibuk dengan meetingnya, tanpa bantuan Elgi yang sedang ditugaskan menyelesaikan permasalahan kontrak Zeline membuat pria itu melakukan semuanya sendiri.
Sepertinya ia harus mempekerjakan satu sekertaris lagi bila Elgi sedang melakukan tugas penting.
__ADS_1
Matahari sudah kembali keperaduannya berganti dengan rembulan yang menemani sang malam, tapi kepadatan jalanan di pusat perkantoran itu masih belum juga mereda, lampu-lampu dari kendaraan yang berlalu lalang berpadu dengan lampu dari gedung-gedung yang menjulang tinggi terasa sedap di pandang dari ruang King yang berada di lantai 35.
Sudah waktunya pulang menemui istrinya, menyelesaikan masalah pagi ini dengan mengumpulkan sisa-sisa kesabaran yang masih ia punya.
Ia memiliki segalanya, tapi ia tidak bisa membeli stock sabar untuk menghadapi istri keras kepalanya itu.
Beberapa menit berlalu sampailah ia di lobby apartemen mewahnya.
Setelah memberikan kunci pada petugas valet, pria itu melenggang masuk dengan sebuket bunga di tangan kiri dan sekotak coklat di tangan kanannya.
Klik... Tanda pintu apartemen terbuka, seharian ini ia tidak mendengar kabar dari istrinya. Dan saat ini rasanya King merindukan gadis keras kepala itu.
Pandangannya langsung tertuju pada sofa, dimana Zeline sedang terbaring dengan selimut membalut pinggang hingga kakinya sambil menonton TV.
Gadis itu menoleh kearah pintu, mendapati sosok suaminya dengan tangan penuh memegang bunga dan coklat.
Zeline membuang tatapannya kearah TV.
Setelah membuka sepatu dan memakai sendal rumah, King menghampiri istrinya.
"Udah makan?" suara lembut itu menggetarkan hati Zeline lalu menurunkan kakinya memberi tempat untuk suaminya.
Zeline membalas dengan mengangguk.
King duduk disamping Zeline masih dengan memegang dua benda sakral yang terkenal romantis itu.
Zeline melirik bunga dan coklat yang dipegang King. Keningnya berkerut karena King malah asyik menonton TV. Ia yakin bunga dan coklat itu untuknya.
"Bunga buat siapa?" tanya Zeline.
"Bukan buat siapa-siapa, tapi kalau kamu mau... Boleh, ini buat kamu!" King menjawab dengan memberika bunga ditangannya pada Zeline dengan menahan senyumnya.
"Ah sialan, pria ini memang ga ada romantis-romantisnya... " geram Zeline dalam hati.
"Ga mau, kasih aja sama Office Girl gedung ini..." ucap Zeline ketus kemudian beranjak berdiri.
Tapi tangan King menariknya hingga gadis itu terjatuh dipangkuan King dengan posisi menyamping.
Wajah keduanya sangat dekat.
"Aku becanda... Bunga ini aku beli khusus buat kamu, baby! Aku minta maaf... " King meletakan bunga itu dalam genggaman Zeline.
"Maaf untuk apa?" saut Zeline datar sembari mencium bunga ditangannya.
"Bentak kamu tadi pagi"
Zeline tidak menjawab, ia masih memperhatikan bunga ditangannya.
Cup.
King mengecup rahang Zeline dan mendapatkan cubitan diperut dari gadis dipangkuannya.
"Paan sih cium-cium!" Zeline menautkan alisnya.
"Aw.. Sakit, baby" ringis King.
Zeline hanya mendelik tajam kemudian perhatiannya kembali pada bunga mawar indah dengan berbagai warna itu.
"Kamu suka?"
Zeline mengangguk dengan tatapan terpaku pada sebuket bunga ditangannya yang diikat indah dengan pita berwarna pink.
"Sengaja aku pilih yang cantik, kaya kamu" ucap King lirih.
"Heu?" Zeline mengerjap pelan dengan wajah merona.
Kenapa pria ini berubah menjadi gombal dan romantis?
"Lepas, King!" Zeline hendak berdiri dari pangkuan suaminya karena sudah merasakan jantungnya yang mulai berdebar kencang tapi tangan kekar itu tak mengijinkan dan makin mengeratkan pelukannya.
"Makan dulu coklatnya..." satu tangan King terlepas, mengambil coklat disampingnya dan memberikannya pada Zeline.
Gadis itu membuka kotak coklat dan mengambilnya satu butir, ia dekatkan ke bibir suaminya yang dibalas dengan gelengan kepala.
"Buat kamu..." ucap pria itu.
Zeline menggigit sebagian coklat yang diapit jari telunjuk dan ibu jarinya lalu mendekatkan sebagiannya lagi kebibir suaminya.
King masih menggelengkan kepala sambil memperhatikan bibir Zeline yang mengunyah coklat dimulutnya.
Zeline memasukan kembalin potongan coklat kemulut lau menjilat ibu jari dan telunjuknya membuat King menelan saliva.
Satu tangan King merayap naik kepunggung Zeline hingga tengkuk dan menekannya sedikit agar pria itu mudah mengakses bibir istrinya.
Sapuan benda hangat dan kenyal dibibirnya membuat Zeline terbuai hingga membuka sedikit bibirnya memberikan jalan untuk lidah suaminya menyecap manis dan saling menukar kenikmatan dalam kecupan.
Setelah keduanya hampir kehabisan nafas, barulah pria itu menjauhkan bibirnya lalu tersenyum tipis kemudian menyambar bibir istrinya kembali dan kali ini Zeline melingkarkan tangan dileher King dan memberikan cengkraman di sela rambut legam sang suami mengiyakan ciuman manis semanis coklat itu.
.
.
.
.
.
.
Hai readers, chapter kali ini sampe 2301 kata loh, sengaja disatuin biar ga gantung ya...
Ga janji bisa update tiap hari ya karena minggu ini sama minggu depan lagi sibuk banget.
Terimakasih untuk like, coment dan votenya...
__ADS_1
Jangan lupa like, comment disetiap chapternya yaaa dan vote disetiap minggunya...
Hug Kiss (^3^)