Zeline Dan King

Zeline Dan King
Just Friend


__ADS_3

*Kampus Zeline


"Yakin ga usah dijemput?" pria itu menarik tangan istrinya agar mendekat, kemudian mencium sekilas bibir ranum yang selalu menjadi candu itu.


"Ga usah sayaaaang, aku ada syuting sebentar sore ini"


"Di tempat Kevlar?" tanya pria itu tidak suka, yang dibalas anggukan pelan oleh istrinya.


King berdecak kesal, ia belum bisa membuat istrinya jauh dari sepupu tapi musuhnya itu. Belum ada kabar apapun dari pengacara mereka mengenai pengajuan pembatalan kontrak Zeline.


Ternyata berurusan dengan saudara sendiri tidak semudah berurusan dengan orang lain. Beberapa waktu lalu dengan mudahnya, ia membatalkan kontrak film istrinya.


"Aku jemput setelah syuting" tawar King lagi.


"Emmm... Ga ganggu kerjaan kamu?" Zeline menaikan satu alisnya.


"Ngga laaah...buat kamu apa sih yang ngga" gombal pria itu akhirnya.


"Oke.. Bye!" Zeline mencium pipi King sekilas, kemudian turun dari mobil mewah milik suami tampannya itu.


Didalam sana, jantung King seperti akan copot mendapat perlakuan manis istrinya itu. Berarti hubungan mereka kini sudah ada perkembangan, Zeline sudah benar-benar menerimanya. Bahkan ia menuruti keinginan King yang memintanya untuk membatalkan kontrak karena ia tak ingin istrinya berdekatan dengan pria yang pernah dicintainya, dulu.


Sepanjang perjalanan ke kantor, King seperti lupa bagaimana caranya berhenti tersenyum bahkan tanpa tahu malu ia berdendang mengikuti lagu yang diputar radio di mobilnya.


Sungguh membosankan kembali lagi ke kampus, Zeline sudah terbiasa didepan kamera menampilkan berbagai pose tapi kini ia harus duduk manis dengan buku-buku didepannya belum lagi harus mendengar ocehan dosen yang ia tidak mengerti. Berkali-kali Zeline menahan kantuk, sepertinya ia hanya akan menamatkan kuliah hingga S1 saja dan tak ingin melanjutkan S2 seperti harapan kedua orang tuanya.


Belum lagi, ia tidak memiliki teman. Mereka semua seperti enggan berdekatan dengan artis sepertinya. Zeline pun tidak mengerti, apa karena ia kuliah di kampus termahal di kotanya sehingga mereka merasa berada pada level yang sama dengan Zeline sehingga tidak perlu mengelu-elukan Zeline yang seorang aktris. Entahlah... Yang pasti, Zeline malas memikirkannya.


*****


"Kosong?" seorang pria yang sepertinya keturunan tionghoa membuyarkan lamunan Zeline disela jeda jam kuliahnya di kantin. pria itu menunjuk kursi kosong didepan Zeline.


Zeline mendongak, wajah tampan seperti aktor dalam drama korea itu tersenyum manis kepadanya.


"Kosong.... " jawabnya cepat sambil mengedip beberapa kali.


"Eee... Tapi, kalau duduk disini sama aku, kamu nanti masuk lambe-lambe loh!"


Cowok korea itu tergelak, "Tenar donk gue nanti" jawabnya menantang.


Zeline mendecih "Lo tenar, gue yang rugi!" gumamnya yang masih terdengar oleh lelaki itu.


"Ko bisa?" tanya pria itu polos.


Zeline tidak menjawab dan malas menanggapi, ia sibuk dengan ponselnya.


"Gue Reka" lelaki itu menyodorkan tangan, dibalas Zeline dengan mengangkat kedua alisnya sekilas menatap Reka kemudian kembali menatap ponselnya.


"Lo pasti tau kan siapa gue!" ucap gadis itu pongah.


Zeline sebisa mungkin membuat lelaki didepannya jengah agar cepat pergi dari mejanya kalau bisa detik itu juga.


Lelaki itu malah tergelak geli "Tau lah... siapa yang ga kenal lo...perebut pacar orang!" seru Reka dengan kejam, ekspresi wajah tampan, hangat dan cerianya berubah kelam membuat Zeline berjengit.


Zeline menatap heran, lelaki yang baru dikenalnya itu. Keningnya terlipat dalam.


"Jangan-jangan dia fans fanatiknya Jenifer" batin Zeline curiga.


"Bilang sama laki lo, jangan jadi pengecut! udah puas dia nikmatin tubuh kakak gue dan sekarang dia buang gitu aja dan kalau dia bisa hancurin hidup kakak gue, gua juga bisa hancurin hidupnya!" ancam Reka dengan suara tertahan dan tatapan yang menyiratkan beribu kebencian.


Zeline tertegun beberapa saat hingga punggung lelaki itu hilang dibalik tembok pembantas kantin. Ia memagangi dadanya yang terasa nyeri.

__ADS_1


*****


*Stasiun TV


Setelah talk show selesai, Zeline kembali ke ruang riasnya.


"Kamu kenapa? Tatapan kamu kosong gitu tadi didepan kamera? Jawaban kamu juga ga nyambung, apa sih yang dipikirin?" Anin mulai sewot mengomentari penampilan Zeline tadi.


Setelah di datangi Reka tadi, ia memang menjadi sangat pendiam. Semua ucapan Reka masih terekam jelas diingatan Zeline.


Hubungannya dengan King yang makin mesra, membuat Zeline merasa bersalah karena King jadi harus meninggalkan Jenifer. Trus apa katanya tadi? Setelah puas menikmati tubuh Jenifer? Ya Tuhan, Zeline baru ingat gaya pacaran King dan Jenifer yang terlampau bebas.


Dan setelah 10 tahun pacaran yang sudah seperti suami istri, King harus meninggalkan Jenifer.


Tapi ini semua juga karena ulah Jenifer, bila saja ia tidak menjebak Zeline mungkin King tidak harus menikahi Zeline.


Tapi sudut hati Zeline merasa lega dengan kedatangan Reka tadi, itu menandakan King memang sudah meninggalkan Jenifer terlepas dari pesan singkat yang Jenifer kirimkan, mungkin itu hanya akal-akalan wanita ular itu saja.


Zeline bingung dengan keadaanya, disatu sisi ia merasa kasian dengan Jenifer tapi disisi lain ia juga harus memperjuangkan rumah tangga dan kebahagiaannya dengan King. Pria yang sudah bisa membuatnya lupa akan sakit hatinya kepada Kevlar, dengan kesabarannya, King sudah bisa membawa Zeline masuk kedalam palung cinta milik King.


"Eh... Ng... Ngga..." jawab Zeline dengan wajah kusutnya.


"Kenapa?" desak Anin sambil menyimpan kedua tangannya dipinggang.


"Eh... Gimana masalah kontrak aku?" Zeline mengalihkan pembicaraan dan dibalas Anin dengan memutar bola matanya jengah.


"Belum ada kabar, pengacara kita kan baru hari ini ketemu pengacara mantan kamu!"


"Mantaan paan?" dengus Zeline tidak suka


"Mantan kekasih bayangan" Anin tergelak.


Kini Zeline yang memutar bola matanya jengah,


Zeline celingukan kekanan dan kekiri dari pintu ruang riasnya, saat dirasa Anin sudah tidak ada. Ia langsung menuju ruangan CEO, niatnya bertemu Kevlar harus terlaksana hari ini juga.


"Mbak... Saya Zeline mau bertemu dengan Tuan Kevlar!" ucap gadis itu pada wanita cantik yang menurutnya adalah sekertaris Kevlar.


"Sebentar ya... " setelah berucap, wanita itu masuk kedalam ruangan Kevlar dan tidak berapa ia kembali.


"Silahkan masuk Nona Zeline... Tuan Kevlar sudah menunggu.... " ucapnya ramah.


Zeline memberikan senyum tipis sebagai tanda terimakasih kemudian membuka pintu ruangan bertuliskan CEO.


Saat pintu terbuka, ia bisa melihat Kevlar sedang duduk dikursi kebesarannya sambil melayangkan senyum yang selalu membuat Zeline jatuh hati. Tapi kali ini ia, berusaha menepisnya.


"Hai Kev... " suara Zeline terdengar merdu ditelinga Kevlar saat memanggil namanya.


"Hai... " jawab pria itu ramah, ia beranjak dari kursinya, berjalan mendekati Zeline.


"Duduk... " Kevlar merentangkan telapak tangannya mempersilahkan gadis cantik didepannya untuk duduk di sofa.


"Kev... " panggil Zeline setelah mendudukan bokongnya di sofa, ia sengaja mengambil duduk di single sofa berhadapan dengan Kevlar.


"Hem... " jawab pria bermata hazel itu kemudian.


"Kamu tau kan maksud aku kesini?" tanya Zeline hati-hati sambil menggigit bibir bawahnya yang dibalas dengan senyum manis Kevlar.


"Ayolah Kev... " Zeline merengek membuat Kevlar tergelak dengan gemas.


"Aku ga nyangka, King sampai mengerahkan seluruh kemampuannya bahkan Uncle Zach sampai turun tangan agar aku bisa merubah kontrak itu!" Kevlar berdecak kagum, ia melipat tangannya didada sambil menggeleng-gelengkan kepala.

__ADS_1


Zeline yang baru tau hal itu juga merasa kagum dalam hati, ternyata King hingga berbuat seperti itu hanya karena ingin menjauhkannya dari Kevlar. Gadis itu pun tertawa geli dalam hati, dan merasa tersentuh. King benar-benar tidak ingin kehilangannya.


"Apa itu keinginan kamu atau keinginan King?" Kevlar memicingkan matanya penuh selidik.


Zeline menghela nafas,


"Kamu sebenernya ngomong apa sih sama King waktu di Aussie itu? Sampai dia mukul kamu? Dari situ King jadi sangat posesif bila ada hubungannya sama kamu.... " Zeline menjeda kalimatnya, ia menyandarkan tubuh di sandaran sofa sambil membuang tatapannya.


Zeline mendesah lelah,


"Apa maksudnya sih Kev? Kata King kamu yang sengaja menginginkan aku jadi artis tetap disini agar kamu bisa selalu berdekatan dengan ku? Apa aku semenarik itu setelah menikah dengan King? Padahal 4 tahun yang lalu, aku rela memberikan semuanya untuk kamu!" maniknya kembali menatap Kevlar menunggu jawaban pria dihadapannya.


Kevlar menelan saliva, wajahnya terlihat seperti seorang pacar yang kepergok selingkuh.


"Betul... Aku menyesal, dan sekarang aku ingin selalu berdekatannya dengan mu.... Kamu ga tau kesalnya aku setelah tau kamu menikah dengan King. Aku tidak rela dia menjamah tubuh kamu!" ucap pria itu, tidak menutupi isi hatinya sama sekali.


"Ih... Ko gitu sih? Sekarang udah ga bisa Kev, kamu terlambat 4 tahun... Terima aja lah, memang Angel kemana? Aku dengar sendiri kamu mencintainya saat memeregokin kamu melakukan 'itu' dengannya, dan kamu bilang kamu hanya menganggap aku adik! Sekarang tolonglah adik mu ini, tolong bantu aku batalin kontraknya... Kuliah aku ga kelar-kelar ni Kev!" desak Zeline dengan suara manjanya.


Semua perkataan Zeline tepat, dan Kevlar benci itu.


Pria itu menghembuskan nafas kasar.


"Ya udah... suka-suka kamu lah!"


"Hah? yang bener?" mata Zeline berbinar.


Kevlar menganggukan kepala,


"Masa sih Kev? Semudah itu? Ga ada ganti rugi apa?" Zeline mencoba meyakinkan lagi.


"Nanti aja itung-itungannya sama Mbak Lisa" pertahanan Kevlar hancur lebur, ia tidak bisa menguatkan hati untuk teguh pada pendiriannya lagi.


Ia tidak bisa melihat Zeline merengek manja didepannya, ia tidak bisa menolak karena sedari tadi pikiran erotis dengan Zeline berkeliaran dikepalanya. Bahkan kini sesuatu sudah mengeras dibawah sana, sekali lagi Zeline merengek, ia pastikan akan membuat Zeline mendesah dibawahnya disofa itu.


"Bener loh Kev? Jadi aku bisa semaunya ya?" Zeline memicingkan matanya.


"Iya, kamu jadi bintang tamu aja atau sesekali Ngemsi yang penting kuliah kamu kelar...." Kevlar meyakinkan Zeline lagi.


"Semudah itukah?" batin Zeline.


"Nanti aku ngomong sama pengacara aku, untuk menyetujui kontrak baru yang kamu buat" imbuhnya lagi.


Zeline tersenyum bahagia hingga bertepuk tangan.


"Tapi kita temen kan sekarang?" ucap pria itu,


Zeline mengangguk, "Just friend loh, Kev..." Zeline mengingatkan.


"Iyaaaa.... " jawab Kevlar memanjangkan kata. Rasanya lebih baik seperti ini dari pada menggunakan paksaan. Setelah ini pasti Zeline akan mempunyai hutang budi kepadanya dan ia bisa meminta sesuatu kepada Zeline tanpa bisa wanita cantik itu menolaknya.


"Ya udah, aku pulang ya... Bentar lagi King jemput" Zeline melirik arloji di pergelangan tangannya.


"Oke... " Kevlar berdiri, kemudian merentangkan kedua tangannya.


"Apaan?" kening Zeline berkerut.


"Pelukan persahabatan" jawab Kevlar sambil berjalan mendekat masih dengan kedua tangan yang terbuka.


Zeline tersenyum, kemudian menyambut pelukan Kevlar, menepuk pundaknya lembut.


Ceklek... Terdengar pintu terbuka, keduanya menoleh.

__ADS_1


Pria yang membuka pintu tersebut, mengetatkan rahang. Tangannya sudah mengepal dan siap melayangkan tinjunya pada Kevlar.


"Kiiing... " ucap Zeline dan Kevlar bersamaan, dan bodohnya posisi mereka masih berpelukan.


__ADS_2