
Sudah beberapa hari ini Zelinenya tidak banyak bicara, tapi masih saja melayani kebutuhan King dengan baik mulai dari menyiapkan pakaian kerja, membuat sarapan dan menyiapkan makan malam juga pakaian ganti setelah King pulang bekerja.
Proyek barunya dengan Jacob memang banyak menyita waktu juga emosi.
Bagaimana tidak? Lihat saja infotainment ditelevisi yang mengait-ngaitkan dirinya kembali dengan Jenifer.
Walau Jacob sendiri sudah mengkonfirmasi tapi pemberitaan tidak pernah surut bahkan semakin gencar.
Dan setiap pria itu pulang dengan lelahnya selepas bekerja, sang istri sudah tertidur atau pura-pura tertidur.
King tidak ingin mengganggunya, hanya bisa membiarkan sang istri mengobati lukanya sendiri karena sepertinya Zeline memang tidak berniat berbagi kesedihan dengannya, jelas saja King sudah berkali-kali melukainya.
Padahal King ingin sekali mengkonfirmasi pemberitaan di televisi, atau sekedar mengobrol dengan istrinya.
Karena bagi King, canda tawa juga sifat manja istrinya merupakan pelepas lelah dari rutinitasnya memimpin perusahaan.
Tapi sayangnya beberapa hari ini ia tidak bisa mendapatkan kecerian sang istri, apalagi untuk mencumbu Zeline sepertinya hal itu harus ia tahan dulu.
King membuka pintu kamar, lampu besar sudah padam tersisa lampu tidur temaram menerangi kamar dimana Zelinenya sudah terbaring didalam selimut.
Sambil melonggarkan dasi, King duduk di samping tempat tidur mencondongkan tubuh kemudian mencium dalam kening istrinya.
Tangannya terangkat mengusap kepala Zeline dan menghela rambut yang menutup wajah cantik sang istri.
"I miss you, baby**!" bisik King tepat ditelinga Zeline.
King tidak sanggup untuk tidak menyambar bibir ranum itu, maka ia pun mengecupnya lembut, mengigit pelan dan menghisapnya perlahan.
Tidak ada balasan, mungkin Zelinenya sudah benar-benar tertidur pulas.
King membuka pakaian kerjanya dan masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuh, saat sedang menggosok gigi ia melihat satu pintu lemari dikamar mandinya sedikit terbuka.
King menutupnya perlahan tapi ia heran kenapa pintu itu terbuka sedangkan lemari tersebut seingatnya hanya berisi refil keperluan mandi.
Kemudian ia pun membuka lemari tersebut, banyak botol berwarna kuning dengan beberapa pil didalamnya.
Dibagian luarnya tertera nama obat yang diresepkan seorang dokter dan yang makin membuat King heran, semua obat-obatan itu milik istrinya dari nama yang juga tertera disana.
Keningnya makin terlipat dalam saat melihat gelar dokter yang memberikan resep tersebut, Sp. KJ.
King kembali meneliti satu persatu obat-obatan tersebut, sekilas King mengenali nama obat tersebut.
Sertraline dan paroxetine untuk mengatasi depresi, anticemas dan prazosin yang setaunya untuk mengatasi mimpi buruk.
Zelinenya menemui psikiater? Tapi kenapa? Untuk apa?
King mengusap wajahnya kasar, setelah membersihkan tubuh, pria itu menyambar ponsel yang tadi ia letakan diatas nakas kemudian menghubungi Anin, "Pasti Anin tau sesuatu" gumamnya sambil keluar dari dalam kamar.
Disaat yang sama dikediaman Papa Andra.
"Pa... Udah nonton infotainment belum? Ko beritanya kejam banget ya... Zeline pasti sedih, tapi sampai detik ini belum cerita sama mama... Mama jadi khawatir" Mama Rena yang sedang menemani Papa Andra makan malam mulai buka suara.
"Maa... Kalau Zeline memang belum menghubungi Mama, berarti Zeline dan King bisa menyelesaikan masalahnya sendiri" Papa Andra berusaha menenangkan sang istri tercinta.
"Papa ko santai-santai gitu sih?" Mama Rena mengernyit,
"Soalnya sebelum berita ini beredar, King sudah menghubungi Papa dan menjelaskan semuanya... Dia takut kayanya sama Papa" Papa Andra terkekeh,
"Maksudnya?" Mama Rena meletakan sendok dan garpu, ekspresi wajahnya menuntut penjelasan.
"Jadi, kapan hari itu King ke kantor membicarakan salah satu proyeknya dengan Jacob, salah satu pebisnis sukses dari Jerman dan ternyata Jacob memilih Jenifer sebagai modelnya tanpa sepengetahuan King... Proyek ini memang penting untuk King, jadi mantu kita itu konsultasi sama Papa... Apa harus ditinggalkan aja atau lanjut?" tutur Papa Andra panjang lebar,
"Kenapa konsultasi sama Papa? Kenapa ga sama Papinya aja? Papinya juga kan pengusaha sukses?" Mama Rena terlihat bingung sambil mengetukan jari didagu lancipnya.
"Karena Papa adalah mertuanya, jadi pasti Papa akan pakai hati karena ini menyangkut anaknya juga... Justru dengan King yang berkonsultasi sama Papa, Papa jadi yakin kalo King memang benar mencintai anak kita Ma... Tapi Papa bilang, lanjutkan aja dan buktiin sama semua juga pada Jenifer bahwa dia dan Jenifer sudah tidak ada hubungan apa-apa..." Papa Andra menjeda kalimatnya lalu meneguk air mineral di meja,
"Karena Papa dengar Jenifer sangat sulit melepaskan King... Dari pada menghindar, ya mending dihadapi kan? Mama ga usah khawatir, cekcok dalam rumah tangga itu udah biasa... Biar rumah tangga mereka semakin harmonis, percaya sama Papa... King itu sangat mencintai Zeline"
"Oh gitu ya Pa! " Mama Rena malah terlihat makin bingung, tapi suaminya adalah salah satu orang yang tidak pernah berbohong jadi walau masih ragu, kali ini Mama Rena harus percaya.
KEESOKAN HARINYA
King tidak menemukan Zeline di ranjangnya, tubuh yang ia peluk sudah berganti dengan guling.
Pria itu bangun untuk kemudian beranjak menuju kamar mandi.
__ADS_1
Seperti biasa pagi itu Zeline menyiapkan sarapan untuk King, tidurnya sangat lelap beberapa hari ini sehingga tubuhnya terasa segar dipagi hari.
Berterimakasih lah pada Dokter Eric yang sudah memberikan obat penengan dan obat tidur sehingga gadis itu masih waras hingga detik ini.
Ketika Zeline akan menyiapkan sarapannya di meja makan, sang suami sudah bersidekap disana dengan botol obat miliknya berjejer rapi dimeja.
Zeline mencoba menghiraukan walau perasaannya tidak menentu, "Kenapa botol obat itu ada padanya?" Zeline membatin.
Zeline menggeser piring berisi omlette dengan sayuran dan sosis besar didalamnya. Tidak lupa kopi hangat kesukaan King.
Zeline mengambil duduk didepan sang suami, wanita itu pura-pura tidak melihat tatapan mata tak terbaca King yang tengah menatapnya.
Zeline menundukan kepala, seolah sarapan paginya begitu penting dari pada King.
"Baby...!" panggil pria itu akhirnya.
Zeline mendongak, "Ya... " ekspresi Zeline terlihat biasa saja, King mungkin lupa Zeline seorang aktris.
"Obat apa ini?" tanya pria itu sangat lembut,
Zeline tersenyum tipis, "Seperti yang tertera disana, obat anti depresi!" jawab Zeline cepat,
"Kenapa?" pria itu melengkungkan alis kebawah, meminta penjelasan.
"Apanya yang kenapa?" Zeline balas menatap King dengan tatapan tidak mengerti.
"Kenapa kamu harus ke psikiaater? Kenapa kamu ga cerita, hah? Aku suami kamu Zeline, kamu bisa ceritakan semua nya sama aku!" King menggapai kedua tangan Zeline untuk ia genggam.
"Jadi maksud kamu, aku harus bilang kalau aku gila.. Gitu? Dan kalau aku ga mengkonsumsi obat itu, aku ga akan ada disini sekarang sarapan pagi sama kamu, mungkin sekarang ini kamu sedang berada disebuah pemakaman dengan nisan bertuliskan nama ku!" tutur Zeline dengan nada suara rendah.
"Baby!!! Jangan pernah sedikitpun berpikiran untuk bunuh diri!! Aku minta maaf" manik King menggelap, pria itu bangkit dari duduknya, memutar setengah meja makan dan memeluk Zeline yang sedang terduduk.
"Kamu pikir pelecehan kamu di kamar mandi waktu itu, ditambah kamu yang malah pergi ke apartemen Jenifer dan terakhir aku harus melihat kamu satu mobil dengan mantan pacar kamu... Oh satu lagi, pemberitaan akhir-akhir ini tentang hubungan kamu sama Jenifer... Kamu pikir aku ga akan gila dengan semua kejadian ini?" Zeline berujar dengan penuh penekanan, tapi ia tak berusaha melepas pelukan sang suami.
"Aku minta maaf... " lagi hanya kata itu yang bisa King ucapkan.
Zeline mendongak agar bisa menatap wajah sang suami, "Iya aku maafin...dan sekarang aku udah baik-baik aja, ko!" dustanya seperti biasa,
"Kamu ga baik-baik aja, Baby... Aku tau semuanya dari Anin!"
Zeline melepas pelukannya, "Anin ngomong apa aja?" alis Zeline tertaut,
Pria itu tidak pernah menyangka pengkhianatan Kevlar sangat berdampak buruk pada mental Zeline, dan sekarang beberapa kali gadis itu harus merasakan kembali kesakitan itu karena tindakan bodohnya.
Selain itu, King semakin mencintai Zeline setelah mendengar semua penjelasan sang asisten, terlepas dari PTSD yang diderita Zeline, ternyata sang istri tidak pernah menjelekannya bahkan dihadapan asistennya sekalipun.
Kejadian pelecehan yang pernah ia lakukan kepada Zeline, kepergiannya ke apartemen Jeni hingga Zeline harus menjemputnya juga kejadian beberapa waktu lalu saat Ia dan Jeni berada dalam satu mobil, tak sedikitpun wanita itu ceritakan kepada siapapun bahkan sang asisten.
Pantas saja Zelinenya begitu menderita dan membutuhkan pertolongan karena sakit itu harus ia pendam sendiri, King merasa bodoh karena sudah menjadi triger penyakit Zeline yang kembali kambuh karena kedekatannya dengan Jenifer.
"Ya udah.. Kalau kamu udah tau" Zeline kembali menghabiskan sarapan dan menghiraukan King yang masih mematung disampingnya.
"Aku akan bicara dengan Jacob, agar aku tidak perlu terlalu dekat dengan Jenifer... Aku akan menceritakan semuanya, semoga dia mengerti... Aku janji tidak akan menyakiti mu lagi!" ucap pria itu sambil menarik kursi disamping Zeline dan menyesap kopinya.
"Jangan menjanjikan sesuatu yang belum tentu bisa kamu tepati, King!" komentar Zeline, sambil tertawa pelan membuat King membungkam mulutnya dan ekapresi wajahnya semakin muram.
"Kamu mau anter aku kekampus? Oh ya hari ini aku ada syuting di tempat Kevlar... " kata Zeline sambil beranjak dari kursi, membawa piring dan gelas kosong, rupanya gadis itu telah selesai dengan sarapan paginya.
Zeline terlihat baik-baik saja seperti bukan pasien seorang dokter psikiater, juga seperti tidak ada masalah dengan suaminya.
Zeline memang sudah biasa menyembunyikan masalahnya, bahkan bibirnya ikut terbiasa tersenyum walau hatinya menangis.
*Kampus Zeline
King sengaja menurunkan Zeline tepat didepan Reka yang kala itu sedang mengobrol dengan teman-temannya di taman kampus.
"Nanti aku jemput di tempat Kevlar!" ucap pria itu seraya mencium kening dan bibir ranum sang istri.
Zeline menganggukan kepala dan tersenyum samar, kemudian tangannya sudah mendorong pintu tapi King kembali menarik pinggannya.
"Jauhin Reka... Dia pshyco, aku ga mau kamu terluka... Dia cuma ingin mempengaruhi kamu agar kita berpisah, dan aku yakin begitu juga Jenifer" Kini tatapan mata King begitu tajam, tidak menerima penolakan.
"Iyaaa" jawab gadis itu kemudian menurunkan satu kakinya untuk menopang tubuh keluar dari mobil sang suami.
Walau terlihat tidak peduli, tapi perkataan suaminya barusan berhasil masuk dalam hati dan logika Zeline dan ia akan selalu mengingat hal itu.
__ADS_1
Zeline melambai dengan senyum manis pada King, dan memutar tubuhnya memasuki gedung kampus setelah mobil King menghilang dari pandangan.
"Zeline!!! " panggil Reka,
Zeline menoleh kemudian menghentikan langkahnya ketika melihat Reka berlari menghampiri.
"Tumben kamu diantar Abang King?" tanya Reka basa-basi saat sudah berada didepan Zeline,
"Hampir tiap hari ko, aku diantar King" saut Zeline kembali melangkahkan kaki,
"Tapi kamu ga apa-apa kan?" tanya Reka lagi penasaran,
"Ngga... Memangnya kenapa?" Zeline balas bertanya
"Oh yang kemarin maksud kamu? Aku ga apa-apa ko!" imbuhnya lagi sambil berjalan beriringan dengan Reka memasuki gedung kampus.
"Apa King menyakiti mu?" Reka kembali bertanya dengan hati-hati.
"Ga mungkinlah Reka, dia suami aku... Ga mungkin dia menyakiti aku! Masalah dia sama Jeni biarin lah, itu urusan bisnis... Yang penting King mencintai aku, itu udah cukup!" balas Zeline meyakinkan, senyum bahagianya ia tampilkan dengan begitu elegan dan tidak berlebihan membuat Reka percaya seketika.
"Aku duluan ya, ada kelas nih bentar lagi... Daaah Reka!" Zeline melambaikan tangan kemudian mempercepat langkahnya meninggalkan pria itu.
Zeline harus menuruti kata suaminya untuk menjauhi Reka tapi ia juga tidak menyukai cara kekerasan untuk menyingkarkan pria itu, jalan satu-satunya adalah membuktikan bahwa hubungannya dengan King sulit dipisahkan.
Dengan begitu Zeline berharap Reka dan semua orang yang berniat memisahkannya dengan King, merasa lelah dan berhenti berbuat bodoh seperti itu.
Sesuai permintaan King yang kemarin mencecar Joe habis-habisan karena terlambat menjemput Zeline hingga Zelinenya bersama Reka, maka satu jam sebelum Zeline keluar kelas, Joe sudah berada di parkiran.
"Silahkan Nona manis... " Joe membuka pintu untuk Zeline dan mendapat senyum manis dari wanita itu.
"Lin... Kamu ga berantem sama Tuan kan?" tiba-tiba pertanyaan Anin menyambut Zeline saat memasuki mobil.
"Kamu cerita apa aja sih sama King?" pancing Zeline,
"Ya cuma yang masalah obat itu aja, kenapa kamu bisa mengkonsumsi semua obat-obatan itu... Kenapa sih kamu ga mau cerita sama aku, Lin? Kamu ga percaya sama aku ya?" kali ini asisten yang galak dan cerewet itu sedang merajuk padanya,
Zeline terkekeh, "Aku sulit mengungkapkan sesuatu Anin... Apalagi masalah pribadi aku, lagian sedikit banyaknya juga kamu udah tau kan? udahlah ga usah di dibahas ya!"
Anin hanya bisa mengikuti keinginan Nona mudanya itu, tapi ia berjanji akan selalu berada disamping Zeline apapun yang terjadi.
*Stasiun TV milik Kevlar
"Suami kamu balikan sama mantannya?" suara bas yang selalu terdengar seksi itu membuyarkan lamunan Zeline.
Zeline mendelik kesal pada pria yang baru saja duduk didepannya itu, kemudian mengaduk ice caramel machiato didepannya lalu menyeruputnya sedikit.
Setelah syuting tadi, Zeline memilih menunggu King di coffeshop samping loby stasiun TV milik pria yang kini sedang membuatnya kesal itu.
"Infotainment punya kamu tuh kalo bikin berita suka asal" Zeline mendengus tidak suka,
Kevlar terkekeh, "Asal gimana maksudnya?"
"King itu cuma urusan bisnis aja sama Jenifer... Infotainment kamu tuh lebay banget!"
"Kalo ga gitu kan ga laku, sayang... " saut Kevlar santai,
Zeline berdecih, "Tega kamu tuh, sama sepupu sendiri kaya gitu... Harusnya kamu lebih ke menjelaskan atau mengkonfirmasi beritanya bukan malah nambah-nambahin makin jelek..."
Sejenak Kevlar membatu, sebetulnya apa yang dikatakan Zeline sangat masuk akal. Sebagai saudara seharusnya mereka saling membantu, bukannya malah menjatuhkan.
Tapi Kevlar sangat membenci King karena menikah dengan Zeline walau sebenarnya hubungan dia dan Zeline pun tidak jelas. Dulu Zeline tidak semenggoda sekarang, dan sekarang gadis itu sudah menjadi milik King dan ia benci itu.
Bukan salah King apalagi Zeline, ini adalah salahnya karena dulu menyia-nyiakan Zeline dan kemarahan King juga diawali karena ia menghina Zeline dan terang-terangan berusaha merebutnya.
"Hellooo... Kevlar!" Zeline melambaikan tangannya didepan wajah Kevlar membawa Kevlar kembali dari lamunannya.
Dan betapa terkejutnya saat ia melihat King sudah berada disampingnya.
"Ngapain kamu sama istri aku disini?" King menautkan alisnya dan menatap Kevlar tajam.
"Iniii... Nemenin Zeline, nunggu suaminya jemput! Udah ya, aku banyak kerjaan!" pamit Kevlar yang terlihat salah tingkah,
Sepeninggalan Kevlar, Zeline dan King tepingkal melihat ekspresi wajah Kevlar tadi.
King akhirnya bisa melihat tawa itu lagi, dan refleks berhenti tertawa hanya untuk menikmati sang istri yang sedang tertawa.
__ADS_1
"Kenapa? Ada sesuatu diwajah aku?" tanya Zeline, karena King tiba-tiba berhenti tertawa dan malah menatapnya lekat.
King menggelengkan kepala "Aku rindu tawa kamu... Aku rindu kamu, baby!"