
"Ck... Aku tau kamu belum tidur..." King berdecak kesal karena sedari tadi istrinya tidak bergeming padahal sudah 15 menit ia menciumi leher dan tengkuk Zeline bahkan tidak sedikit kiss mark yang pria itu buat memenuhi leher istrinya.
Zeline memutar tubuhnya menghadap King,
"King... Kita ga bisa ngelakuin itu dulu, kita tunggu kabar Azalea hamil atau ngga dulu ya, sabar ya!" ucapnya dengan tatapan sendu.
"Isssh.. Kamu tuh gimana sih? Harusnya omongan itu untuk Ken dan Azalea bukan untuk aku, aku suami kamu Zeline... Kalau kamu hamil kan memang seharusnya!" Dahi King berkerut, ekspresinya berubah kesal.
Yang benar saja, masa dia harus puasa tidak menyalurkan kebutuhan biologisnya hanya karena kebodohan Ken dan Azalea.
"Eh Tunggu, ko dia pengen aku hamil sih? Emang udah yakin sama pernikahan ini? Punya anak bukan perkara mudah loh... " batin Zeline
Masih besar keraguan Zeline akan suaminya itu tapi perhatian dan kata-kata manis suaminya selalu bisa meluluh lantahkan hati Zeline, seperti sekarang ini.
Perlahan Zeline yakin, King mencintainya. Cassanova seperti king ingin memiliki anak? Mungkin King benar-benar tobat, pria itu untuk pertama kali dalam hidup kini telah mencintai seorang wanita dan ingin membangun keluarga dengan Zeline dan memiliki keturunan.
Kembali hati Zeline menghangat,
"Kita pelukan aja ya tidurnya... " ucap Zeline mencoba bernegosiasi.
"Ga usah, kalo aku peluk kamu malah nanti bangunin sesuatu yang udah hampir bangun dari tadi!" seru King sambil merubah posisi memunggungi istrinya.
Zeline tersenyum pelik,
"Besok kita pulang aja ya, lebih baik kita sibukin diri dengan bekerja sambil nunggu hasil test pack Azalea beberapa minggu lagi.
"Terserah... " saut King ketus
"Good night, hubby!" Zeline mengangkat sedikit tubuhnya kemudian mencium pipi King dalam.
Mencoba meredam kekesalan suaminya, karena itu selalu berhasil.
King terseyum walau hatinya masih terasa kesal, ia belum mengerti alasan istrinya untuk tidak melakukan hubungan selayaknya suami istri hanya karena masalah Azalea yang tidur dengan Ken.
Tapi King bisa apa? bila ia memaksa akan menambah masalah baru karena Zeline tipe wanita yang tidak suka dipaksa.
Keesokan harinya, mereka benar-benar pulang tidak menuntaskan bulan madunya. Kedua hati insan yang baru dimabuk asmara pun kini mulai gelisah, dua minggu lagi adalah penentu apa mereka harus melanjutkan pernikahannya atau tidak. Dan dua minggu itu, Zeline melarang King memasukinya.
Menurut Wanita itu, masalah Ken dan Azalea harus selesai terlebih dahulu walau bagaimana pun ia tidak boleh egois. Tapi bila memang ia hamil sebelum tau masalah Ken dan Azalea setidaknya ia tidak merasa bersalah.
Selama perjalanan udara, King dan Zeline tidak banyak bicara. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing, tidak ada pelukan hangat King atau pun gombalan maut yang keluar dari mulut manis King, yang selalu bisa membuat semburat merah diwajah Zeline.
King malah seperti menghindar dari Zeline, pria itu benar-benar lelah mengejar cinta istrinya sendiri. Dan anehnya seorang King yang berkuasa atas hidupnya dan seluruh perusahaannya, lemah bila menyangkut Zeline.
Begitu pula dengan Zeline, ia sedang tidak ingin bermanja atau bermesraan dengan suaminya. Kepala cantiknya dipenuhi dengan pikiran rumit yang hanya dia mengerti.
Hampir satu hari satu malam Zeline tidak bisa tidur, matanya sudah lelah beberapa kali ia memjamkan mata tapi sulit untuk menggapai alam bawah sadar.
Setiap ia menutup mata, terbayang dirinya dan King duduk dimeja hijau mengakhiri pernikahan mereka. Padahal baru saja ia merasakan cinta tumbuh dihatinya, baru saja ia mendapatkan kasih sayang dan perhatian tulus dari King.
Zeline menggeleng kan kepala mengusir pikiran buruk itu, ia berharap Azalea tidak hamil.
*****
__ADS_1
"Kamu ga kemana-mana hari ini?" tanya King tanpa menatap wajah istrinya, ia menyesap espresso yang Zeline sediakan kemudian mulai melahap omelette dan mash potato buatan Zeline.
Zeline menggelengkan kepala,
"Hari ini aku mau foto-foto barang endors, udah numpuk tuh..." sekilas Zeline melirik kontainer besar di samping sofa besar yang berisi beberapa pakaian endors dan barang-barang lainnya.
"Sama Anin?" tanya pria itu lagi
"Yup... Sama fotographer juga" saut Zeline dengan mulut penuh makanan.
Setelah selesai sarapan, Zeline mengantar King hingga pintu. Seperti biasa, ia membawakan tas suaminya saat pria itu memakai sepatu.
"Aku pergi ya... " ucapnya datar.
Zeline mengangguk, ada perasaan aneh melihat ekspresi wajah suaminya pagi ini. Seperti tidak bersemangat, pancaran matanya penuh kekecewaan dan tersirat kesedihan.
King berbalik menuju pintu, membuat hati Zeline sakit. Kenapa King tidak menciumnya?
Saat tangan King hendak memutar knop pintu, kedua tangan Zeline menelusup diantara tangan suaminya dan memeluk tubuh tegap itu dari belakang.
King tidak bergeming, ia malah termenung dengan sikap ajaib istrinya yang labil dan sulit dimengerti, hati Zeline semakin sakit karena King hanya diam saja. Lalu tangannya mengusap dada King "Aku minta maaf... " ucap wanita itu lirih.
King melepaskan tautan tangan Zeline diperutnya dan berbalik menatap istrinya.
Menghela napas panjang "Kamu salah apa hingga harus minta maaf?" pertanyaan King itu membuat Zeline terkesiap, wanita itu tidak siap mendapat pertanyaan aneh semacam itu. Ditambah ekspresi wajah suaminya yang benar-benar datar.
"Maksud King apa sih? Nyindir apa gimana?" batin Zeline.
"Ngga baby, aku ga ngerti! Tapi aku akan mencoba untuk mengerti!" masih dengan ekspresi datarnya, King mencium kening istrinya sekilas.
"Aku pergi dulu..." ucapnya kemudian,
Zeline menggigit bibir bawahnya semakin merasa bersalah dengan ekspresi dan perlakuan suaminya itu. Mungkin harusnya King menolak mentah-mentah dan bila perlu marah saja, kalau King begini justru membuat Zeline tidak nyaman, aneh ya?
*****
Zeline tertidur beberapa jam diatas sofa karena kelelahan, seharian ini ia sudah melakukan foto shoot untuk 20 endors yang sempat tertunda karena bulan madunya.
Belum lagi di sela-sela pemotretan, wanita itu diberondong dengan berbagai pertanyaan mengenai alasannya mempercepat masa bulan madu.
Akhirnya Zeline pun menceritakan semua alasan dan masalah yang tengah rumah tangganya hadapi. Termasuk ia yang melarang King menyentuhnya. Dan pasti tau lah apa yang Anin lakukan? Ia langsung menegur Zeline dan menyerangnya dengan rentetan kalimat yang menyalahkan keputusan Zeline juga pemikirannya mengenai masalah ini yang sudah pasti tidak sejalan dengan pikiran Zeline.
Zeline hanya bisa diam, sambil mencerna perkataan Anin tapi tetap saja omongan Anin yang bilang bahwa tidak ada aturan yang tidak memperbolehkan Ken dan Azalea menikah dengan status nya sebagai adik dari Ken dan Kaka ipar bagi Azalea.
Memang betul, tidak ada hukum agama maupun hukum negara yang mengatur itu, tapi ayolaaah masa Kakaknya menikah dengan adik iparnya nanti panggilan anak-anak mereka akan seperti apa? Dan apa kata orang luar nanti?
Zeline mengesah, kepalanya sakit memikirkan itu. Ia pun melirik jam meja antik yang berada di atas nakas diruang tv tersebut.
Jam menunjukan pukul 01 lewat 45 menit, spontan ia mencari ponselnya. Kenapa sudah malam begini suaminya belum pulang dan tidak mengabarkan apa pun kepadanya.
Beberapa lama ia mencari ponselnya, tapi tidak ada bayangan ia meletakannya di mana hingga kemudian ia teralihkan oleh bunyi pintu terbuka.
"Kiiiing.... " panggilnya spontan, padahal ia belum melihat siapa yang membuka pintu tersebut, seingatnya hanya suaminya, Anin dan Joe yang mengetahui pasword apartemen mereka, itu pun Anin selalu membunyikan bel terlebih dahulu.
__ADS_1
Seorang pria dengan wajah lusuh dan dasi yang sudah melonggar yang membuka pintu itu, tebakan Zeline benar. Suaminya pulang tapi kali ini wanita itu tidak melihat ketampanan King disana, karena King sedang mabuk tapi sepertinya ia tidak terlalu mabuk hingga bisa pulang sendiri, tidak ada Elgi sang sekertaris yang menemaninya.
Zeline menghampiri King dan membantunya berjalan menuju sofa.
"Kamu dari mana aja? Kenapa baru pulang jam segini?" omel Zeline sambil membuka sepatu dan kaos kaki King kemudian meletakkannya di rak sepatu.
King tidak menjawab, ia malah menyandarkan kepalanya disofa sambil memejamkan mata, lengannya yang kekar ia simpan diatas kening hingga hampir menutupi matanya.
"King... Kamu mabuk ya? Kamu dari mana aja? Kenapa ga bilang pulang malem?" cecar Zeline dengan nada suara yang mulai meninggi.
King membuka mata, ia memindahkan tangannya yang berada di kening kemudian beranjak menuju kamar tanpa memperdulikan Zeline.
Zeline menyusul suaminya ke kamar hingga berjalan terseok-seok berusaha menyeimbangkan langkah panjang King.
Di dalam kamar, King membuka dengan kasar jasnya lalu pada saat akan membuka kancing kemeja, Zeline sudah berada didepannya kemudian menghela pelan tangan King dan mulai membuka kancing kemeja suaminya.
Dengan pelan jari lentik Zeline membuka satu persatu baju suaminya hingga hanya tersisa hanya boxer yang menutupi bagian vital King, kemudian ia mulai menarik ujung bawah minidress yang dikenakannya keatas hingga ia pun hanya memakai satu set underware berwarna hitam.
King sedikit mengerutkan dahin, ia masih bingung dengan apa yang dilakukan istri labilnya itu.
Perlahan Zeline mendorong tubuh King hingga pria itu terduduk diranjang. Keduanya saling bertatapan, tatapan King seolah menyiratkan banyak pertanyaan terlihat dari kerutan diantara alisnya sedangkan tatapan mata Zeline menyiratkan kerinduan atas suaminya.
Kerinduan akan kehangatan pelukan suaminya, senyuman suaminya juga gombalan suaminya bahkan Zeline merindukan keisengan King. Luar biasa, baru saja sehari Zeline di cuekin King tapi sepertinya wanita itu sudah sangat menderita.
Zeline memposisikan dirinya duduk dipanggkuan King dengan menghadap pria itu dan melingkarkan tangannya di leher suaminya.
"Aku yang diatas atau kamu yang diatas" bisik Zeline menggoda, saat bibirnya menempel di bibir King lalu mencium terlebih dahulu bibir suaminya.
Awalnya pria itu hanya diam tapi,
Sedetik...
Dua detik...
Dan di detik ketiga, King menyambut cumbuan istrinya yang selalu memabukan.
Tanpa Zeline sadari, kini King sudah berada diatas nya dan mereka saling berpelukan dengan tubuh polos.
Memasuki alam indah yang dinamakan surga dunia, King tidak mempertanyakan kenapa keputusan istrinya berubah, itu tidak penting. King hanya fokus dengan tubuhnya yang mengayun indah diatas tubuh istrinya , King menghentak dan mendorong memberikan kenikmatan kepada Zeline sambil ia pun mencari kepuasannya sendiri dengan satu tangan menahan tubuhnya dan satunya lagi meremat dan memijat dengan lembut bagian dada Zeline.
Dipandanginya wajah Zeline yang sedang terpejam sambil menggigit bibir bawahnya, kemudian tatapannya turun kebagian leher lalu dada yang sudah dipenuhi tanda merah saat mencumbunya tadi, semakin memicu kecepatan dorongan tubuhnya ke Zeline.
Hingga keduanya memekik,
"Aaaahhhh.... " seperti habis menegak satu gelas air dingin kala haus menerjang.
King membawa Zeline kedalam pelukannya setelah penyatuannya terlepas..
"Besok-besok kalo mau pulang malem, bilang ya! Aku khawatir tadi nungguin kamu!" ucap Zeline masih terengah, detak jantungnya masih belum kembali normal.
King membalas dengan mencium kepala Zeline, kemudian perlahan nafasnya mulai teratur. Pelukannya pun mulai mengendur, dan tak lama terdengar dengkuran halus dari hidungnya.
Zeline berdecak sebal, padahal ia baru bangun dan sekarang setelah melampiaskan hasratnya, suaminya itu langsung terkapar begitu saja meninggalkannya sendirian.
__ADS_1