
"Kamu jangan sadis gitu donk King, sama Kevlar... Dia kan sepupu kamu!" Zeline berucap lirih di pundak King, keduanya sedang menonton film sambil berpelukan diatas sofa besar didalam apartemen mewah mereka.
King menjauhkan tubuhnya dari Zeline agar bisa menatap wajah cantik istrinya, alis King tertaut dengan netra menggelap. Zeline hapal betul arti dari tatapan itu.
"Saaayaaaang, kamu sama Kevlar itu sepupu... Aku ga mau kamu berantem sama dia gara-gara aku..." Zeline berucap dengan suara manja sambil mengedip-ngedipkan mata.
"Kamu masih mencintai dia?" King memicingkan mata,
Zeline mencebikan bibir,
"Bagaimana bisa aku masih mencintai dia, bila hati ku sudah kau curi" Zeline berujar lirih sambil menenggelamkan wajahnya pada dada bidang King, pipinya merona.
King terkekeh, pria itu mengusap punggung istrinya dan menghujani kepala Zeline dengan ciuman.
Baru kali ini Zelinenya segombal itu, hati King membuncah dengan rasa bahagia yang sulit terbendung.
"Janji ya King... Baikan sama Kevlar" Zeline masih mencecar sang suami dari dalam pelukannya.
"Hemmm... " jawabnya enggan,
"Hem... Apa?" Zeline masih belum puas dengan jawabab King,
"Ada syaratnya.... " tawar King akhirnya,
"Apa?" Zeline mendongak, menatap wajah sang suami yang kini sedang menatapnya dengan tatapan penuh hasrat dan seringai dibibir.
Zeline mendesah, malam ini ia tidak akan bisa tidur nyenyak lagi karena sepertinya King akan menerkamnya semalaman.
Dan benar saja, tubuh Zeline sudah melayang dalam gendongan King yang membawanya menuju kamar mereka berdua.
Malam ini akan seperti malam-malam sebelumnya, tapi bagi King selalu terasa seperti malam pertama kali dirinya menyentuh Zeline.
*****
Siang itu King sedang makan siang dengan Tuan Jacob disalah satu restoran mewah, keduanya masih membicarakan proyek yang tengah mereka kerjakan.
"Hai Mr Jacob... " sapa seorang gadis cantik dengan bodycon dress berwarna biru elektrik yang mengikuti bentuk tubuhnya.
Stiletto yang di kenakannya makin menambah jenjang tubuh indah itu, belum lagi paras asianya yang sensual membuat setiap pria tidak berhenti menoleh kearahnya.
"Oh.. Hai Jenifer... " sapa Jacob ramah sambil menarik kursi untuk Jenifer.
Dengan anggunya gadis itu duduk, sekilas menatap King dan tersenyum manis kearahnya.
"Maaf Tuan King, saya memang sengaja mengundang Jenifer karena dia adalah model dari proyek kita..." ucap Jacob karena tidak enak melihat ekspresi King seperti kurang nyaman juga tidak ramah.
"Tidak masalah Tuan Jacob... " jawab King dengan senyum tipis.
Ketiganya terlibat perbincangan serius mengenai proyek baru itu, King mulai merasa nyaman dengan perbincangan ketiganya karena Jeni terlihat profesional.
Gadis itu seperti tidak terobsesi lagi dengan King atau mungkin menyembunyikan atau entahlah King tidak mengerti, yang pasti saat ini Jeni seperti seorang wanita terhormat, tidak genit atau menggoda Jacob maupun dirinya.
King bisa menangkap keberadaan Jeni disana hanya untuk bisnis.
"King... Aku minta maaf.." tiba-tiba gadis itu berucap dengan wajah sendu setelah Jacob pamit ke toilet.
King hanya melirik sekilas, kemudian menyesap kopinya.
"Aku memang tidak pantas untuk mu, Zeline lah yang pantas... Cintailah dia, jangan sakiti dia... Zeline gadis yang baik!" imbuhnya lagi sambil tersenyum getir.
King menatap Jenifer lekat, pria itu mencari kata bohong di mata Jeni karena King tau Jenifer merupakan seorang aktris, kali ini ia tidak mau termakan oleh aktingnya.
Setelah menatapnya beberapa saat, King menghela nafas panjang seraya menyandarkan tubuh di sandaran kursi.
"Kalau begitu berhentilah merusak pernikahan ku... " ucap King akhirnya,
__ADS_1
"Aku tidak akan mengganggu mu lagi King, aku berjanji...!! Tapi jangan usir aku dari hidup mu... 10 tahun bukanlah waktu yang sebentar, aku perlu waktu untuk mengenyahkan cinta ini... Biarkan aku melupakan mu dengan perlahan... " Jenifer memelaskan wajahnya, membuat King terenyuh.
"Baiklah Jeni... Tapi suruh Reka untuk menjauhi Zeline, jangan sampai dia menyentuh Zeline seujung kuku pun!" King mengatakannya dengan penuh penekanan dan tatapan mata serius.
"Aku minta maaf atas sikap Reka, aku janji adik ku tidak akan menyakiti Zeline, karena walau bagaimanapun Zeline teman ku... Aku benar-benar menyesali semua ini King" tutur Jenifer dengan menatap mata King penuh keyakinan.
King tidak berkata apapun, pria itu hanya mengangguk samar.
Sekembalinya Jacob dari toilet, perbincangan mengenai bisnis kembali dilanjutkan dengan begitu serius.
Beberapa saat kemudian perbincangan mereka di interupsi oleh sekertaris Jacob,
"Maaf Tuan Jacob, saya mau mengingatkan siang ini Anda masih ada meeting dengan Tuan Aryata di kantornya..."
"Oh ya... Saya hampir lupa, maaf Tuan King... Kita sudahi dulu sampai disini meeting kita karena saya harus bertemu dengan klien lain...Apakah saya bisa menitipkan Nona Jenifer kepada Anda?" Jacob sudah berdiri sambil menjulurkan tangannya.
"Baiklah Tuan Jacob, saya akan pastikan Nona Jenifer baik-baik saja... Sampai bertemu pada meeting selanjutnya" King ikut berdiri sambil menjabat tangan Jacob.
Setelah berjabat tangan dengan King, Jacob menjabat tangan Jenifer.
"Saya duluan Nona Jenifer... " pamit Jacob yang mendapat anggukan dan senyum tipis dari Jeni.
King memanggil Elgi untuk membereskan berkas yang berserakan dimeja, selain itu King tidak ingin berada satu meja hanya berdua dengan Jeni.
Mengingat Jenifer seorang public figure, apapun yang dilakukannya akan selalu menjadi pemberitaan.
Dan jangan sampai pertemuannya kali ini dengan Jenifer menjadi pemberitaan, tidak bisa King bayangkan amukan singa betina yang bersemayam didalam tubuh istrinya nanti.
"Apa lagi jadwal hari ini, El?" tanya King pada sang sekertaris
"Tidak ada Tuan, kita bisa langsung kembali ke kantor" jawab Elgi cepat,
"King... Apa aku boleh menumpang? Aku masih ada pemotretan sejalan dengan arah kantor mu" Jenifer memelaskan wajahnya,
"Tadi dia bilang akan kebengkel dulu karena ada masalah dengan freon AC mobil, tapi sampai sekarang belum datang... Ponselnya pun tidak bisa dihubungi" tutur Jenifer, terlihat gelisah.
King menghembuskan nafas kasar, "Ya sudah, ayo... " pria itu mengiyakan sambil berdiri kemudian berjalan menuju loby restoran tanpa melihat Jenifer.
Jenifer dan Elgi mengikuti dari belakang, perasaan Jenifer merasa bahagia bisa satu mobil kembali dengan kekasih hatinya tapi lain dengan Elgi yang tatapan matanya tidak lepas dari gadis itu.
Elgi menyimpan banyak kecurigaan pada Jenifer tapi tidak kuasa mengungkapkannya pada King, untuk saat ini Elgi hanya bisa mengawasi Jenifer dari jauh saja.
Disaat yang sama,
Tiiin...
Zeline mendongak mendengar suara klakson mobil yang memekakan telinga. Dengan wajah kesal, ia akan mengumpat orang yang telah menghempasnya ke bumi dari lamunan indahnya saat menunggu Joe menjemput.
Reka membuka kaca mobil kemudian tersenyum. Kening Zeline mengkerut keheranan dibuatnya. Pasalnya pria itu sangat membencinya kenapa kini tersenyum dengan sangat ramah.
Zeline menengok kebelakang, siapa tau bukan dia target dari senyum manis itu. Tapi hanya dia seorang disana, tidak ada siapapun.
Dan gadis itu terkejut saat Reka sudah berdiri didepannya, hampir saja Zeline loncat dari bangku taman yang sedang ia duduki.
"Kamu nunggu siapa disini?" sapa Reka dengan lembut,
"Nu... Nunggu supir aku" jawab Zeline terbata, ia merasa risih saat Reka sudah duduk disampingnya dan mobilnya di parkirkan begitu saja ditengah jalan area kampus.
"Ayo aku antar" Reka dengan santai berucap sambil tersenyum kearahnya.
"Ah... Ga usah, aku mau ke toko buku dulu... " tolak Zeline lembut, ia mulai berdiri karena tidak nyaman dengan kehadiran Reka. Alarm dalam dirinya sudah berbunyi kencang.
"Aku juga mau kesana... Dan aku minta maaf soal kemarin!!" ucapnya tulus, pandangannya ia tundukan sesaat kemudian kembali menatap Zeline menunggu jawaban.
"Aku maafkan... Tapi aku nunggu Joe aja dulu disini sebentar" Zeline masih menolak dengan lembut, seketika wajah Reka berubah muram membuat Zeline tidak enak hati.
__ADS_1
"Ya udah, kamu anter aku sampe toko buku aja ya sekalian kamu beli buku kan? Dari sana aku dijemput joe, gimana?" tawar Zeline akhirnya,
"Deal.. " Reka langsung berdiri dengan semangat dan tersenyum sangat lebar hingga memperlihatkan deretan gigi putihnya.
Mobil Reka keluar dari pelataran parkir dengan Zeline berada didalamnya.
"Suami kamu ga jemput?" Reka berbasa basi sambil fokus dengan kemudi.
"Ada meeting siang ini" jawab Zeline sambil menatap jendela sebelah kirinya, hatinya mulai menyesal menerima ajakan Reka.
"Zeline.... " panggil Reka dengan lembut, seperti sedang menggoda gadis itu.
"Hem?" Zeline menoleh dengan menaikan kedua alisnya.
"Aku udah tanya Ka Jeni... Dan dia cerita semuanya, aku nyesel... Maaf!! Yang aku tau hanya Ka Keni sangat terluka, aku ga tau kejadian yang sebenarnya" tutur Reka lirih,
"Ga apa-apa... Jadi ancaman kamu yang akan menghancurkan hidup King itu, ga jadi kan?" Zeline menatap Reka serius menunggu jawaban dari pria itu.
Reka tertawa pelan, "Iya lah, ngga jadi" jawab Reka,
Zeline menghembuskan nafas, membuat Reka menoleh kembali kearah Zeline.
"Kamu sayang banget sama Abang King?"
"Iya donk... Dia kan suami aku, awalnya sih ngga... Malah aku ga mau nikah sama dia... " tutur Zeline, kembali mengingat hubungannya dengan King sebelum menikah.
"Oh ya?" balas Reka,
"Hem!" Zeline mengangguk,
"Tapi keluarga King dan Keluarga aku berusaha meyakinkan kalo King pria yang tepat untuk alu, begitu pula sebaliknya... Akhirnya kita sama-sama buka hati, dan ternyata terlepas dari King yang seorang Cassanova, dia juga baik! Selama menikah, aku belum pernah liat dia bersama wanita lain" tutur Zeline dengan penuh keyakinan.
Reka tersenyum tipis, "Syukurlah... Karena dulu Ka Jeni hingga depresi karena Abang King selalu menyakiti perasaannya! Aku udah bilang kalo Abang ga pernah mencintai Ka Jeni, tapi Ka Jeni tidak percaya... Setiap Abang menginginkan tubuhnya, Ka Jeni pikir bahwa Abang mencintainya!" sadar atau tidak, Reka sudah menyulut api cemburu Zeline.
Selama sisa perjalanan, Zeline terdiam menahan marah karena cemburunya,
"Apa dia bilang? Setiap King menginginkan tubuh Jeni? Hah!! Brengsek!!!" geram Zeline dalam hati.
"Sampai!!" Reka berujar setelah berhasil memarkirkan mobilnya, membuat Zeline terhentak.
Zeline langsung membuka seatbelt dan merapihkan pakaiannya, saat akan membuka pintu ternyata Reka sudah membukanya terlebih dahulu.
"Silahkan Tuan Putri... " ucap pria itu dengan gestur seperti seorang pelayan kerajaan dengan sedikit membungkukan tubuh dan merentangkan tangannya.
Zeline tersenyum pelik, merasa tidak nyaman dengan perlakuan Reka.
Zeline berjalan terlebih dahulu dengan Reka berada tepat dibelakangnya, keduanya menyusuri trotoar karena Reka memarkirkan kendaraannya sedikit jauh dari toko buku yang menjadi tempat tujuan mereka.
Pandangan Zeline jatuh pada sebuah mobil yang baru saja berhenti tidak jauh dari toko buku, mobil yang sangat ia hapal betul karena mobil tersebut milik sang suami tercinta.
Zeline sangat gugup karena entah apa yang akan ia katakan pada suaminya bila melihatnya bersama Reka, dan jantungnya makin berdebar kencang saat melihat King turun dari kabin belakang.
Pria itu belum menyadari keberadaan istrinya karena pandangan pria itu masih lurus kedalam mobil, lalu Zeline melihat seorang wanita turun dari mobil suaminya.
Wanita cantik yang merupakan mantan sahabatnya, juga mantan kekasih suaminya.
Setelah Jenifer turun, entah sengaja atau tidak stilettonya menginjak sebuah kerikil dan membuatnya jatuh kedalam pelukan King dengan disaksikan oleh Zeline dan Reka.
Mata Zeline membulat sempurna begitu pula dengan mulutnya, dan saat itu juga King melihat Zeline yang sedang menatapnya dengan Jenifer yang masih berada dalam pelukannya.
Mata keduanya bertemu beberapa saat, nafas Zeline tersengal karena merasakan sesak didadanya.
King langsung melepaskan Jenifer hingga gadis itu tersungkur untung bisa bertahan dengan berpegangan pada bagian mobil.
"Zeline... " panggil King setengah berteriak, wajahnya mendadak pucat pasi, bukan karena takut Zeline akan mengamuk melihatnya bersama Jenifer tapi pria itu panik melihat istrinya sedang bersama Reka, adik Jenifer yang pshyco dan kini Reka sedang menyeringai kearahnya sambil memegang pundak Zeline.
__ADS_1