
Jenifer terbangun karena merasa kering ditenggorokannya, mengerjapkan mata sambil memegang kepala yang masih terasa sakit.
Ia masih ingat saat bodyguard King memukulinya dan pria itu sama sekali tidak peduli, yang dibutuhkannya hanya informasi dimana Zeline berada.
Padahal dulu King selalu menginginkannya, melindunginya dan selalu ada disampingnya setelah kedua orang tuanya meninggal.
Sakit yang Jenifer rasakan disekujur tubuhnya tidak sebanding dengan perih di hati yang ia rasakan.
Dan gadis itu mulai terisak.
"Kamu udah bangun?" suara bas Kevlar mengalihkan perhatian Jenifer.
"Kev... Sejak kapan kamu disini?" Jenifer mengernyit, baru tersadar kalau ia sudah berada di kamar dengan pakaian tidur dan kepala yang sudah dibalut perban.
Luka-lukanya pun sudah mendapat perawatan.
"Sejak tadi malam... " jawab Kevlar dingin.
"Kev... Aku ga tau dimana Zeline, sumpeh Kev! Aku juga ga bisa hubungin Reka... Aku ga tau dimana dia!" air mata Jenifer mulai luruh.
"Zeline sudah ketemu, dan Reka sudah mendekam di penjara!" turur Kevlar.
Jenifer terhenyak, "Tapi Reka masih hidupkan, Kev?" Jenifer bertanya di sela isak tangisnya.
Kevlar menganggukan kepala, "Makan lah dulu, Jen! Kamu harus minum obat... " Kevlar memberikan satu mangkuk bubur dan Jenifer langsung mengambilnya.
"Jen... Aku berhenti... " ucapan Kevlar menggantung.
Jenifer mengernyit, "Aku berhenti memisahkan King dengan Zeline... Aku menyerah, mereka saling mencintai Jen... " Kevlar menatap lururs Jenifer.
Jenifer berdecak, "Lemah kamu, Kev... " ejek Jenifer.
"Terserah... Yang pasti aku masih waras untuk berbuat gila memisahkan mereka" tandas Kevlar kemudian keluar dari kamar Jenifer.
"Kev... Kevlar!" gadis itu berteriak tapi Kevlar menulikan terlinga dan benar-benar keluar dari apartemen Jenifer.
*****
Setelah kejadian penculikannya di Bali, Zeline menjadi seorang istri yang penurut.
Ia sudah tidak memperdulikan lagi karirnya, hanya pasrah akan apa yang diperintahkan sang suami.
Bila King memintanya untuk selalu ada di rumah, maka akan ia lakukan walau seribu kebosanan menderanya.
Stasiun TV milik Kevlar sudah memutuskan kontraknya dengan Zeline tapi Kevlar akan menerima Zeline kembali bila wanita itu sudah pulih dari traumanya.
Anin dan Joe masih bekerja untuk Zeline, King tidak akan memecat mereka begitu saja karena sang istri sudah sangat nyaman dengan kedua asistennya itu.
Tiap hari Anin dan Joe mengunjungi Zeline di apartemennya, menemaninya walau Zeline sendiri masih saja merasa bosan.
* Kantor King
"King... " Kevlar memasuki ruangan sepupunya itu dengan santai.
King mendongak dari tatapan pada laptopnya dan tatapan sebal langsung ia layangkan untuk sang sepupu tapi musuhnya itu.
"Hey... Benci banget kayanya kamu sama aku, King!" Kevlar terkekeh.
King berdecak kesal, "Mau apa kamu kesini?"
"Mau nanya keadaan Zeline, aku sopan loh nanyain dia lewat kamu bukannya datang langsung ke apartemen kalian pas kamu lagi ga ada!" tutur pria itu penuh ancaman.
King meraup udara kemudian menghembuskan dengan kasar, tangannya terangkat memegang pelipis yang terasa nyeri akhir-akhir ini.
__ADS_1
Kevlar tau sepupunya itu sedang menanggung beban berat.
"Zeline banyak diam, dia seperti mayat hidup dan menuruti semua keinginan aku..." King menjeda kalimatnya untuk beranjak dan berpindah duduk ke sofa tunggal didepan Kevlar.
King sepertinya sudah tidak membenci sepupunya itu lagi, mungkin karena Kevlar sudah ikut membantu menemukan Zeline atau karena ia menghargai sepupunya yang datang kepadanya untuk menanyakan keadaan sang istri.
"Ajak liburan King... Coba kamu bawa Zeline ke Rumah Omanya di London!" Kevlar berusaha memberi solusi.
Sebetulnya ia merasa bersalah karena pernah berniat memisahkan sepupunya dengan Zeline belum lagi kejadian di Bali yang sangat ia sesali karena kehadirannya disana tidak bisa membuat Zeline aman.
"Nanti aku pikirkan dulu... Dia masih sering tiba-tiba histeris dan bangun tengah malam! Apa kamu tau, sepertinya Reka memperkosanya waktu di Bali!" King berujar sambil mengetatkan rahangnya.
"Apa kamu yakin? Lalu, apa yang akan kamu lakukan? Karena bila kamu ingin membunuh Reka di penjara, aku bisa mengabulkan itu semua sekarang juga!" cecar Kevlar dengan tatapan serius sambil memajukan tubuhnya.
"Aku belum yakin, tapi apa yang dilakukan Zeline seperti wanita yang habis di perkosa! Ia akan mandi sehari hingga 7 kali lalu menangis meraung setelah itu... Aku bisa melihatnya dari sini, Kev!" King melempar Macbooknya yang berisi tayangan siaran langsung cctv dari apartemen King.
Dan saat ini Kevlar bisa melihat Zeline sedang menangis masih menggunakan bathrobe dan handuk terlilit dikepala.
Kevlar meletakan Macbook di meja, pria itu beranjak dari duduknya "Besok berita tentang Reka yang gantung diri dipenjara sudah bisa kamu lihat di televisi!" ucapnya dingin.
King menahan Kevlar dengan menarik tangannya, "Duduk dulu, Kev... Ada yang masih ingin aku bicarakan!"
Kevlar mengernyit tapi tak urung ia pun kembali mendudukan bokongnya disofa.
"Kev... Aku sudah berjanji sama kedua orang tua Jenifer untuk menjaganya dan Reka, aku juga menyesali janji yang aku ucapkan sebelum kedua orang tua Jenifer meninggal... Kamu pikir aku tidak ingin membunuh Reka, hampir aku lakukan kemarin Kev... Tapi hanya Reka kerabat Jenifer satu-satunya didunia ini!!" King melengkungkan alisnya kebawah, pria itu belum pernah sefrustasi ini.
Kevlar memejamkan mata sambil menghirup oksigen dalam untuk menenangkan emosinya, "Tapi King, biar aku yang melakukannya karena aku tidak berjanji apapun kepada orang tua Jeni...!" seru Kevlar kemudian, masih belum bisa menahan emosinya.
"Tapi aku tau Kev, dan dengan sangat terpaksa aku harus menentang kamu!" sergah King dengan sangat menyesal.
Kevlar menatap King tajam penuh penghakiman, "Kamu ga akan pernah tau hancurnya perasaan aku sekarang! Terserah kamu mau bilang aku lemah tapi aku harus menepati janji, Kev!" ucap King pasrah.
Tanpa menanggapi perkataan sepupunya, Kevlar keluar dari ruangan King dengan amarah yang sulit ia bendung.
*****
Sebetulnya King merasa was-was, ia takut Zelinenya melompat dari atas balkon.
Zeline menoleh sambil tersenyum, "Sayang... Udah pulang?"
""Hem... " balas pria itu sambil membawa sang istri dalam pelukannya, menuntun Zeline masuk dan mengunci pintu balkon.
Tanpa Zeline sadari, sang suami mengambil kunci pintu balkon dan memasukannya kedalam saku celana.
"Aku buatin makan malam ya... Aku belum masak, aku pikir kamu akan pulang malam... "
"Boleh... Aku ganti baju dulu ya" King mencium kening Zeline dalam kemudian mengurai pelukannya.
Setelah membersihkan tubuh dan mengganti pakaiannya, King bergegas menuju dapur.
Zelinenya terlihat cantik memakai apron sambil memasak, walau tanpa make up tapi wanita itu sangat mempesona dimata King.
King melingkarkan tangannya diperut Zeline kemudian mencium pipi Zeline berkali-kali membuat gadis itu terkekeh.
"Sayang.... Aku lagi masak!" tolaknya pelan sambil menjauhkan King dari tubuhnya.
King masih menampakan wajah jailnya tapi terpaksa berhenti menggoda sang istri karena tak ingin penyakit mentalnya kambuh.
Beberapa menit berselang, King hanya terpaku menatap wanita yang sangat ia cintai itu dan akhirnya dua porsi nasi goreng seofood sudah tersaji di meja makan.
"Baby.... "
"Hem... " Zeline bergumam menjawab panggilan sang suami.
__ADS_1
"Bagaimana kalau kita pindah dari sini? Kita pindah ke sebuah rumah... Yang ada taman yang luas, kolam renang juga gazebo" tawar King disela makan malamnya.
"Terserah kamu sayang... Aku ikut aja!" jawab Zeline ringan.
King menipiskan bibirnya menatap Zeline dengan tatapan sendu, ia tau Zelinenya berusaha baik-baik saja didepannya tapi setelah King pergi kerja, wanita itu menampakan depresinya.
Hati King sakit karena Zelinenya tidak mempercayainya, tidak menjadikannya tumpuan dan tempat untuk berkeluh kesah.
Ia merasa tidak berguna, tapi tidak bisa juga memaksakan Zeline agar mempercayainya.
King akan menunggu dan selalu siap bila Zeline membutuhkannya.
"Setelah pindah rumah, kita akan ikut program kehamilan... Biar kamu ada temen di rumah nantinya" ucap pria itu lagi tanpa meminta persetujuan.
Zeline tersenyum, "Aku ingin punya anak 5" kelakarnya sambil tergelak.
"Aku ingin 10... " King tidak mau kalah.
Zeline membulatkan mata cantiknya, "Jebol donk aku nya, sayang!" Zeline kembali tergelak.
King tersenyum sambil mengelus pipi Zeline, "Baby.... Kamu percayakan sama aku?"
Zeline mengangguk dengan mulut penuh nasi goreng.
"Apa yang kamu rasain sekarang?" tanya King hati-hati.
Zeline melapisi tangan King yang sedang menyentuh pipinya, "King... Bisa kita ga bahas itu? Aku ingin melupakannya!" tatapan mata Zeline berubah sayu.
"Oke Baby.... Ayo cepat kita selesaikan makannya... " titah King kemudian.
"Memangnya kita mau kemana?" Zeline mengernyit.
"Bikin anak...!" jawab King asal.
"Heu... " Zeline mengerjapkan matanya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Maaf 🙏🙏 baru bisa up...
Diusahakan tiap hari akan up...
Terimakasih vote, like dan comment membangunnya...
Aku sayang kalian 💋💋💋
__ADS_1