Zeline Dan King

Zeline Dan King
Lega


__ADS_3

"Baby... " jawab suara bariton disana, berhasil membuat hati Zeline berdenyut nyeri.


"King... Azalea hamil"


Hening....


Hanya terdengar suara nafas yang memburu dari sebrang sana.


"King...Kake anfal, tadi pagi dibawa ke singapura! Aku boleh kesana sekarang?" suara Zeline terdengar lemah, seperti berbisik.


"Ayo, kita pergi sekarang!" jawab King cepat.


Dalam perjalanan udara menuju Singapura, Zeline menceritakan tentang penyebab anfalnya jantung Kake yang tidak lain adalah karena berita kehamilan Azalea oleh Ken.


"King...apa yang harus kita lakukan?" Zeline memeluk tangan King yang duduk disebelahnya.


"Kamu yakin sama aku? Yakin sama rumah tangga kita?" dua jari King mengangkat dagu Zeline agar mata mereka bertemu.


"Kenapa kamu nanya gitu?" kening Zeline terlipat dalam.


"Karena kalau kamu yakin dengan ku, dan rumah tangga kita, aku akan perjuangkan... Aku ga bisa berjuang sendiri, baby" ucapnya dengan tatapan sendu.


Karena memang sebelumnya, King berpikir Zeline akan mengorbankan pernikahannya agar Azalea dan Ken bisa menikah bila Azalea memang hamil, maka dari itu Zeline lebih memilih untuk menunda kehamilan.


Zeline menatap manik abu favoritenya itu, terlihat kesungguhan disana, walau sepat terlintas perlakuan kasar King beberapa waktu lalu kepadanya tapi tak urung bibir itu berucap yakin.


"Aku yakin King, a hundred percent" Zeline menjawab tanpa berkedip


King tersenyum sekilas kemudian mencium kening Zeline, kedua jarinya kembali mengangkat dagu lancip itu sedikit lebih naik agar King bisa menyatukan bibir mereka, King masih bisa merasakan luka yang belum mengering dibibir istrinya, dengan hati-hati King menyesap dan ******* daging hangat yang sealulu menjadi candu itu, Zeline memejamkan mata menikmati kelembutan yang suaminya berikan.


Setelah keduanya hampir kehabisan oksigen, King melepaskan pagutannya, ia membawa kepala istrinya itu bersandar kepundaknya kemudian King menyandarkan pipi di puncak Kepala Zeline.


"Percaya sama aku ya... " bisik King penuh keyakinan.


Zeline menganggukan kepala sambil mengeratkan pelukannya dilengan King.


Setelah privat jet itu mendarat dengan sempurna, King dan Zeline langsung menuju Rumah Sakit tempat Kake Rony dirawat.


Tidak disangka, disana semua sudah berkumpul termasuk Papi Zach dan Mami Azuri. Sepertinya akan ada rapat keluarga besar-besaran kali ini.


King merangkul pundak Zeline, dan satu tangan Zeline melingkar dipinggang belakang suaminya. Seolah keduanya ingin memberitahu seluruh dunia bahwa mereka tak bisa dipisahkan.


King dan Zeline melangkah pelan diikuti Anin dan Elgi, menuju ruang tunggu operasi yang dipenuhi oleh keluarga, keduanya gugup saat disambut tatapan tak terbaca oleh seluruh keluarga, disana ada Azalea yang menangis di pelukan Ken dan Zeline menahan diri untuk tidak berdecih.


"King... Ada yang ingin kami bicarakan!" ucap Papi Zach sesaat setelah mereka sudah memasuki ruang tunggu.


Deg.


"Pi... Kalau Papi ingin membicarakan perceraian King dengan Zeline karena Azalea hamil, itu tidak akan terjadi... King ga akan pernah menceraikan Zeline!" ucap King tegas.


Semua keluarga saling pandang sesaat kemudian mereka seperti menahan tawa, ada yang menggigit bibir, ada yang menutup bibirnya dengan tangan ada pula yang hanya menipiskan bibir.


Kemudian Keenan dan Keanu lah yang mengawali memecahkan telor, tertawa terbahak-bahak diikuti keluarga yang lain. Ruang tunggu rumah sakit yang tadinya hening kini berubah riuh dengan suara tawa dari kedua belah pihak keluarga King dan Zeline.

__ADS_1


Untung saja saat itu hanya Kake Rony pasien yang dijadwalkan operasi, bila ada pasien lain mungkin keluarga King dan Zeline sudah adu mulut dengan penunggu pasien lain karena sudah mengganggu ketenangan rumah sakit.


Dan benar saja, satu menit kemudian seorang suster didampingi security menghampiri dan menegur mereka semua untuk berhenti tertawa.


Jangan tanya King dan Zeline, mereka hanya bisa melongo dengan mulut sedikit terbuka. Masih belum mengerti apa yang tengah terjadi.


Papi Zach dan Mami Azuri juga Papa Andra dan Mama Rena mendekati King dan Zeline yang masih mematung kemudian membawanya sedikit menjauh dari ruang tunggu tersebut.


"Kalian sudah saling jatuh cinta? Mami seneng dengernya!" Mami Azuri berucap bahagia sambil memeluk King dan Zeline tapi ada setitik air mata menetes dari ujung matanya.


"Seenggaknya ada kabar bahagia ditengah kabar duka ini" tambah Mama Rena.


"Maksudnya? Kalian ga akan meminta King dan Zeline berceraikan?" tanya King meyakinkan.


"Kenapa harus?" Papa Andra mengernyit.


"Ken siap tanggung jawab, lagian kan bagus harta Papi nantinya ga akan kemana-mana, muter-muter aja diantara keluarga Alterio dan Gunadhya" Papi Zach tergelak.


King dan Zeline menghela nafas lega, batu tak kasat mata yang selama 10 hari ini menghimpit dada mereka seolah musnah begitu saja.


Zeline berpikir kalau orang tua mereka akan lebih mementingkan nama baiknya dan akan mengorbankan pernikahan mereka karena pernikahannya itu tidak didasari cinta dan bisa berpisah kapan saja. Dulu Zeline sudah siap berkorban bila itu terjadi tapi sekarang Zeline tidak rela berpisah dengan King.


Kini King dengan Zeline bisa bernafas lega, walau hati Zeline belum menerima Azalea menjadi kakak iparnya tapi setidaknya pernikahannya dengan King masih bisa terselamatkan.


"Mereka akan menikah secepatnya setelah kake Rony pulih, kalian ga masalahkan?" Papa Andra menatap Zeline dan King bergantian yang dibalas dengan senyum pelik anak dan menantunya itu.


"Serah deh, yang penting aku ga pisah sama Zeline!" batin King bahagia.


Beberapa jam berlalu, tapi pintu ruang operasi belum ada tanda-tanda akan terbuka.


Sedangkan Papi Zach dan Mama Rena beberapa saat yang lalu pamit untuk menghadiri meeting dengan klien.


King memberikan satu cup kopi hangat yang baru saja dibelinya dari kantin, pria itu tidak tega mengganggu Elgi yang sedang fokus dengan laptopnya menggantikan King mengerjakan tugas perusahaan.


"Thanks, King.... " ucap Rena seraya mengambil cup berisi kopi yang King berikan.


"Kake pasti baiik-baik aja... " King berusaha menghibur karena dilihatnya istrinya itu sedang melamun.


"Aku tau... " Zeline berusaha meyakinkan dirinya sendiri.


Ken dan Azalea menghampiri Zeline dan King dengan ekspresi wajah yang sulit diartikan.


"De, maafin Kaka ya... " ucapan tulus dari mulut Ken membuat Zeline terenyuh.


Zeline memeluk Kaka kesayangannya itu, memeluknya erat sambil terpejam menarik mundur ingatannya kebelakang tentang Kakanya yang selalu melindungi dan menyayanginya dengan seluruh jiwa dan raga.


Ken tidak akan pernah membiarkan sedikit pun Zeline terluka, tapi kini dengan tidak sengaja Ken sudah membuat adik kecilnya itu kecewa.


"Aku sayang Kaka, kalau Kaka bahagia... Aku akan bahagia" ucapnya lirih.


Ken tergegun, bila Ken boleh memberitahu dunia, tidak! Ia tidak bahagia sama sekali, Ken tidak mencintai Azalea, ia terpaksa menikahi Azalea. Ken menyesal terlalu banyak minum malam itu hingga ia tidak sadar telah menghamili Azalea.


Tapi Ken harus bertanggung jawab, Papa Andra mendidiknya menjadi pria yang harus selalau bertanggung jawab atas perbuatannya, maka dari itu Ken akan bertanggung jawab walau harus mengorbankan perasaan cintanya pada gadis lain.

__ADS_1


"Bang... " Azalea memanggil King dengan suara bergetar.


Bila dilihat lebih jelas, Azalea juga sangat terpukul. Tidak terlihat seperti beberapa waktu lalu yang tegar menghadapi masalah ini.


Apa mungkin karena ia baru menyadari bahwa ia tengah hamil? Atau perasaan bersalah karena membuat Kake Rony, Kake dari calon suaminya itu anfal karena berita kehamilannya? Atau ia merasa malu, gadis terhormat sepertinya telah hamil diluar nikah?


Yang pasti King merasakan kesedihan yang mendalam saat memeluk adiknya seperti sekarang ini, adiknya yang sulit sekali menangis, kini pundaknya bergetar hebat dalam pelukannya. Ia begitu tertekan bila mendengar dari suara tangisnya yang pilu, menimbulkan kecurigaan King.


Satu jam kemudian, pintu ruang operasi terbuka diikuti dengan pria dan wanita berpakaian hijau dengan masker dimulutnya yang tidak lain adalah dokter dan suster yang menangani operasi Kake Rony.


Seluruh keluarga memburu dokter dan suster tersebut,


"Bagaimana keadaan Bapak saya, dok?" Mama Rena bertanya terlebih dahulu.


"Operasinya berjalan lancar, tapi tetap harus dijaga keadaan jantungnya jangan sampai emosinya tidak stabil lagi" ucap dokter itu.


"Syukurlaaaah.... " kompak semua menggumamkan kata yang sama.


Kake Rony membutuhkan perawatan lebih lama pasca operasi dan Mama Rena juga Nenek Susi memutuskan tinggal lebih lama di Singapura sedangkan keluarga yang lain kembali pada aktifitasnya masing-masing dan berjanji akan bergantian berkunjung menjenguk Kakek Rony.


"Lin, ko bisa sih Azalea hamil anak Ken?" Nafeesa yang dari awal penasaran baru bisa menanyakan sekarang dalam perjalanan kembali ke Indonesia.


Zeline mengendikan bahu, ia enggan menceritakan kejadian di Paris pada Nafeesa. Apalagi dimata Zeline, Kakaknya itu seorang pria baik-baik dan tidak mungkin begitu saja menghamili wanita diluar ikatan pernikahan. Zeline yakin, Azalea yang mengambil kesempatan saat Ken sedang mabuk malam itu.


Tapi pikirannya ini juga tidak mungkin ia sampaikan pada semua orang apalagi suaminya, karena Azalea merupakan adik iparnya sendiri.


"Siapa yang ga suka dengan Azalea, gadis cantik dan mandiri ternyata dia punya perusahaan sendiri loh... " serobot Keenan dengan tatapan memuja, berakting membayangkan Azalea.


Zeline menoyor kepala Keenan sambil mendengus kesal.


"Aku geli aja ngeliat kalian, kamu manggil Azalea Kaka donk!" ledek Nafeesa yang mendapat decakan kesal dari Zeline.


Selama dua minggu kesehatan Kake Rony berangsur pulih, anak, menantu, cucu dan cucu menantunya pun bolak balik menjenguknya membuat kesehatan Kakek Rony membaik lebih cepat dari yang diperkirakan dokter.


Selama dua minggu itu pula keluarga mempersiapkan pernikahan Ken dan Azalea yang rencananya akan dilakukan di Singapura di rooftop sebuah gedung ikonik di Negara Singa tersebut, tempat yang sama saat Papi Zach melamar Mami Azuri.


Zeline melanjutkan kuliahnya dan aktifitasnya yang sudah sedikit ia kurangi seperti janjinya pada King. Selama dua minggu itu pula Zeline tidak meminum pil penunda kehamilan.


"Apa itu?" tanya King saat melihat Zeline membuang sesuatu kedalam tempat sampah.


"Pil penunda kehamilan, kita udah ga butuh itu kan?" tanya Zeline balik dengan mengangkat satu alisnya.


King tersenyum bahagia, kemudian meletakan laptopnya sembarang di sofa untuk beranjak mendekati Zeline di meja rias.


"Kamu mau punya anak berapa?" bisik King ditelinga istrinya itu, tangannya sudah melingkar dipundak Zeline.


"Ck! Kiiing... Aku pake skincare duluuu, lepasiiin!" rengek Zeline bukannya menjawab.


"Ga usah pake dulu, nanti juga abis aku jilatin!!" ucap pria itu sambil menyelipkan satu tangannya dibawah lutut Zeline.


"Aaarrrrggghhhh.... " pekik Zeline saat tubuhnya terasa melayang karena King sudah menggendongnya ala bridal style.


King menjatuhkan tubuh Zeline dengan lembut diatas ranjang,

__ADS_1


"Mau ngapain iih... " Zeline menekan dada King dengan kedua tangannya, pria itu kini sudah berada diatasnya dengan tatapan lapar.


"Mau bikin anak...kamu mau Cowo atau Cewe?" bisik King menggoda.


__ADS_2