Zeline Dan King

Zeline Dan King
Luka Hati


__ADS_3

"King... Anter aku pulang!" Zeline menarik tangan King.


"Ka Elgi dianter sama Joe dan Anin ya, Tuan Muda harus memastikan Nonanya selamat sampai di rumah" Zeline berujar saat melewati Elgi lalu memberi kode pada Anin dan Joe.


Setelah keluar dari toko perhiasan, King menahan langkahnya.


Zeline menoleh kebelakang karena dirasa langkahnya semakin berat.


"Ayoooo.... Antar aku pulang!" rengeknya dengan alis melengkung kebawah.


"Kamu manggil Elgi dengan sebutan Kaka tapi kamu manggil aku hanya nama padahal umur kita terpaut cukup jauh" protes King dengan tatapan kesalnya.


"Jadi kamu mau aku panggil apa? King Kong? Iya?" Zeline tergelak.


King melepaskan tangan Zeline dari lengannya lalu berdecak kesal.


"Ck... Pulang saja sendiri, aku lelah!" King membuang tatapannya.


"Ayolah King, ada yang mau aku omongin sama kamu nanti!" Zeline memohon.


"Ngga... Panggil aku dulu dengan sopan!" seru King.


Menghela nafas...


"Anter aku pulang ya, calon suami ku sayang!" Zeline berucap dengan nada manja


Lalu detik berikutnya,


"Puas lo!! Puas?" geram Zeline memelototkan matanya.


King tersenyum simpul.


"Tapi kamu yang nyetir!" ucap King santai, ia melempar ke udara kunci mobil yang sebelumnya di berikan Elgi padanya.


Secepat kilat, Zeline menangkap kunci mobil itu sebelum mengenai keningnya.


"Kampret!! Masa cewe disuruh nyetir!" dengus Zeline kesal tapi tak urung, ia pun mengikuti King ke basement.


*Didalam Mobil.


King memundurkan jok mobil kebelakang membuat nyaman dirinya lalu melipat tangan untuk menyangga kepala.


"Nyetirnya yang bener!" ucapnya dengan mata terpejam.


"Belum juga jalan..., " Zeline mencebik.


Setelah mobil yang mereka tumpangi keluar dari basement, Zeline memulai pembicaraan. Ada perkataan yang harus ia ralat karena kedatangan Jenifer tadi sore.


"King.... " panggil Zeline


"Hmm... " saut King masih dengan mata terpejam.


"Kita bikin perjanjian yu!" tawar Zeline dengan suara pelan.


"Hah? Apa? Perjanjian? Kamu mau kita kawin kontrak? Berapa lama?" Tiba-tiba King menanggapi dengan bersemangat.


"Emang ga apa-apa, kalau kita cerai setelah beberapa tahun menikah?" tanya Zeline ragu.


"Entahlah.... " kini King pun ragu, karena tidak ada sejarah dalam keluarganya ada yang bercerai, dan ia yakin keluarga Zeline juga seperti itu.


Kemudian hening mengambil oeran selama beberapa menit karena kedua insan itu berperang dalam pikiran dan perasaannya masing-masing.


"Ya udah nanti kita bahas masalah perceraian! Sekarang aku mau ralat kata-kata aku beberapa waktu lalu!" ujar Zeline kemudian.


"Kata-kata yang mana?" King balik bertanya dengan menaikan satu alisnya.


"Nanti setelah kita menikah, aku ga mau kamu ketemu Jenifer lagi. Titik!!!"


"Kenapa? Kamu cemburu?" King tergelak.


"Enak aja... Aku mau balas dendam sama dia! Dia yang udah bikin aku ada diposisi ini, eeeh... Tadi dia nemuin aku trus marah-marah nyuruh aku batalin pernikahan kita... Kan ngeselin!!" tutur Zeline murka.


King terkekeh.


"Enak aja...ga ada ralat-ralat Zeline, aku ga mau ada perjanjian segala! Omongan kamu malam itu udah bener, aku bebas walau kita sudah menikah!" Kini pria itu tertawa puas.


Zeline mengerucutkan muka dan bibirnya. Ia benar-benar menyesali kebodohannya. Jadi untuk apa dia menikah kalau tidak bisa membalas Jenifer?


Hanya untuk mengembalikan nama baiknya saja itu belum cukup karena menikah bukan perkara sederhana.


"Ayolah King!" rengek Zeline.

__ADS_1


"Engga... sekali engga ya tetep ngga!" King melipat tangannya di dada.


"Trus kapan kita cerai?" tiba-tiba pertanyaan Zeline menghentak batin King.


"Nikahnya aja belom udah nanyain kapan cerai! Nikah aja dulu...," jawab King santai.


"Iiiih... Nyebeliiiinnn" teriak Zeline dalam hati.


"Ko kamu santai banget sih mau dinikahin sama orang yang ga kamu cintai?" celetuk Zeline tiba-tiba, pandangannya masih fokus kearah depan.


"Awalnya sih aku mau nolak, malah udah ada rencana buat jual semua aset aku disini dan memindahkannya ke newyork, mulai bisnis dengan grandpa atau Uncle Janson tapi setelah kamu bilang kalau setelah nikah aku boleh bersama wanita lain, ya udah....ga ada masalah kan?" balas King dengan santai.


"Kamu memang istri pengertian..." tambah King disertai senyum miring.


"Aaaah... Sial... Sial... Sial... Harusnya aku ga usah sok-sokan ngomong gitu kemaren!!! Aaarrggghhh keseeeel!!! Ngomong sama dia bikin emosi jiwa!!!" teriak Zeline dalam hati.


Setelah mobil yang keduanya kendarai tiba di depan rumah Papa Andra, Zeline langsung turun dan membanting pintu mobil tanpa menghiraukan King.


Ia terus masuk kedalam rumah melewati ruang tamu, padahal disana sedang ada Papa Andra, Mama Rena, Tante Anita juga Rangga yang sedang berkunjung.


"Zeline.... " panggil Papa Andra.


Tapi Zeline menulikan telinganya, ia tak menoleh sedikitpun padahal Papanya sudah memanggil.


"Zeline... Ada Tante Anita dan Ka Rangga, kamu ga kangen sama mereka?" panggil Mama Rena.


Lagi-lagi Zeline tidak mau mendengar, ia masih melangkahkan kakinya menaiki anak tangga menuju kamar.


Emosinya benar-benar sudah tidak bisa ia bendung, ia ingin nangis, marah, teriak mengingat pernikahannya hanya tinggal mengitung hari dan King tidak mau diajak bekerjasama.


"Selamat Malam...Om.. Tante... " sapa King dari pintu.


"Eh... King... " saut Papa Andra.


"Ayo masuk... Sini kenalin, ini Tante Anita temen Mama dan ini Rangga anaknya Mama Anita, Rangga ini temen Ken dan Zeline dari kecil... " Mama Rena memperkenalkan King pada sahabatnya.


"Dan King ini adalah calon suami Zeline... " Papa Andra memperkenalkan King.


"Oooh... Ini calon suaminya Zeline... Ganteng ya!" ujar Tante Anita.


King menyalami Tante Anita dan Rangga.


Rangga menahan sebentar tangan King dengan menjabatnya sedikit kencang. Tatapan mata Rangga tak terbaca, dan King membalas tatapan itu dengan tajam.


"Zeline kenapa, King?" tanya Mama Rena.


"Kayanya kecapea Ma, soalnya tadi abis pemotretan langsung beli cincin kawin" jawab King dengan setengah berbohong.


"Boleh Rangga samperin Om? Sekalian Rangga buatin susu coklat buat Zeline...," ijin Rangga pada Papa Andra.


"Ya ampun Rangga, kamu masih inget aja suka bikinin susu coklat buat Zeline" ujar Mama Rena.


"Ya udah kalau Rangga mau, kedapur aja nanti tanya maid dimana tempat coklat dan susunya" Papa Andra memberikan ijin.


Tanpa pikir panjang lagi, Rangga langsung menuju dapur hendak membuatkan Zeline susu coklat kesukaannya.


"Dari kecil Rangga sangat dekat dengan keluarga ini karena Tante Anita sering pergi keluar kota jadi Rangga, Tante titipkan disini dan Zeline menjadi sangat manja pada Rangga bahkan sering meminta Rangga datang hanya untuk membuatkannya susu coklat" tutur Tante Anita mencoba mengkonfirmasi kedekatan anaknya dengan Zeline.


King hanya membalas Mama Anita dengan senyuman tapi hatinya kesal mendengar Rangga sangat dekat dengan calon istrinya.


"Si Rangga buatin susu coklat trus dianter ke kamar? Jangan-jangan alesan dia aja biar bisa berduaan dikamar sama Zeline" batin King gusar.


"Ma... Pa... King pamit pulang ya udah malem, boleh King pamit sama Zeline?"


"Boleh donk sayang, naik aja keatas ke kamarnya... Udah tau kan kamarnya?"


"Iya... Udah tau Ma... " pamit King beranjak dari duduknya.


Dengan langkah panjang ia menuju kamar Zeline dengan wajah yang merah padam menahan amarah. Entah kenapa ia merasa kesal dan tidak suka bila Rangga dekat-dekat dengan Zeline.


"Kenapa pintunya di tutup?" gumam King curiga


Tanpa mengetuk, King langsung membuka pintu kamar calon istrinya.


Dan


Jeng


Jeng


Jeng

__ADS_1


King tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Sayang..." panggil King lembut, ia berusaha mati-matian menahan emosinya.


Zeline yang sedang tidur dipangkuan Rangga, mendongak kearah pintu. Gadis itu langsung menurunkankan kakinya yang berselonjor di sofa besar di kamarnya.


Tanpa ragu, pria itu duduk disamping Zeline, kini ketiganya duduk disafu sofa dengan Zeline berada ditengah-tengah kedua pria tampan itu.


Tiba-tiba King menarik Zeline dalam dekapannya.


"Kamu ngapain?" bisik Zeline


Gadis itu mendapat kecupan King dikepalanya, membuat Zeline berontak tapi tubuhnya sudah dikuasi King. Zeline tenggelam dalam pelukan pria kekar itu.


"Rangga... Zeline perlu istirahat, hari ini jadwalnya padat. Bisa tinggalkan kan dia sekarang?" seru King dengan penekanan diakhir kalimat.


Rangga mengusap punggung Zeline.


"Ka Rangga pulang dulu ya... " pamit Rangga pada Zeline lalu bangkit dari sofa.


"Tunggu Ka... " Zeline sekuat tenaga melepaskan dirinya dari dekapan King.


"Makasih ya susu coklatnya" ucap Zeline setelah lepas dari pelukan calon suaminya.


Rangga tersenyum hangat kemudian berlalu keluar dari kamar Zeline tanpa menghiraukan King.


Rangga membawa luka keluar dari kamar itu, karena Tuan Putrinya akan menikah dengan pria lain.


"Apaan sih peluk-peluk, King?" Zeline meninju perut King kesal.


"Aww... Gila kamu ya, sakit tau!" ringis King sambil memegang perutnya.


"Sana pergi, aku mau tidur!!" Zeline mengusir King lalu masuk kedalam selimutnya diatas ranjang.


"Hey... Tunggu dulu!" King menarik tangan Zeline hingga gadis itu terduduk diranjang.


"Apa lagiiiii???" Zeline melototkan matanya.


"Kamu ga boleh deket-deket sama Rangga lagi!" seru King dengan menajamkan tatapannya.


"What??? Kenapa? Ka Rangga itu temen aku dari kecil!"


"Ya pokoknya ga boleh!" tegas King lagi.


"Kalau gitu kamu juga ga boleh ketemu sama Jenifer atau wanita one night stand kamu lagi!" tawar Zeline.


"What? Ga bisa gitu donk!! Sebagai pria dewasa aku kan butuh penyaluran!!" tolak King sengit


"Ya udah kalau gitu, kamu ga boleh ngelarang aku ketemu sama Ka Rangga!!" Zeline tak kalah sengit.


"Kamu ya!!!" geram King.


"Apa??" tantang Zeline dengan mengendikan dagunya dan menyimpan kedua tangannya di pinggang.


King berbalik menuju pintu kamar hendak keluar meninggalkan Zeline, ia sudah tak sabar menghadapi gadis keras kepala itu.


Selangkah sebelum keluar dari pintu, King berbalik.


"Oke... Aku ga akan ketemu Jenifer atau one night stand dengan wanita lain tapi kamu ga boleh ketemu sama Rangga lagi!" Akhirnya King menyanggupi tawar menawar itu.


Zeline berpikir sejenak, ia menyayangi Rangga seperti kakak kandungnya sendiri. Rangga sudah seperti keluarga, seperti Keenan dan Keanu. Tak mungkin bila ia harus memutuskan tali silaturahmi dengan Rangga hanya demi King.


Zeline menggelengkan kepalanya.


"Engga... Aku ga bisa! Kamu boleh melakukan apapun dengan Jenifer atau wanita lain, Ka Rangga lebih berharga dari itu semua!" ucap Zeline dengan suara rendah dan tatapan sayu.


King menatap Zeline dalam, mata abu itu menyiratkan banyak makna.


Tanpa berucap, King membalikan tubuhnya kembali lalu menutup pintu kamar Zeline sedikit kencang.


Zeline menghela nafas, menekuk lutut dan menenggelamkan kepala diatas lutut sambil memeluk lututnya.


Hiks...


Hiks...


Hiks...


Gadis itu menangis...


Dan King, setelah pria itu berpamitan pada kedua calon mertuanya langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan kencang, ia butuh menyalurkan kekesalannya.

__ADS_1


NightClub milik sahabatnya menjadi salah satu pilihan pria itu kali ini, entahlah mungkin ia akan minum-minum dan atau meminta sahabatnya memilihkan wanita terbaik untuk menemaninya malam ini.


__ADS_2