Zeline Dan King

Zeline Dan King
Ternoda


__ADS_3

"Reka? Lagi apa disini?" Kening Zeline terlipat dalam saat mendapati Reka di loby hotelnya.


"Mau ketemu kamu!" jawabnya dengan ekspresi wajah serius.


"Hah? Ada apa?" Zeline mengajak Reka duduk di sofa loby hotel.


"Lin... Ikut aku sebentar, please!" wajah Reka memelas.


"Kemana?" tanya Zeline penuh tanya.


"Nanti juga kamu tau... Ayo!" Reka menarik tangan Zeline dan semudah itu Zeline menurutinya.


Cukup lama keduanya berkendara dimalam hari, melihat Reka yang serius mengemudi membuat Zeline enggan bertanya.


Entah kenapa Zeline menyesal menuruti keinginan Reka untuk mengikutinya, padahal suaminya pernah bilang kalo Reka itu psycho.


Awalnya Zeline turun ke loby hanya ingin mencari udara segar disekitaran kolam renang tapi malah berakhir di mobil Reka dengan masih menggunakan sendal hotel.


"Eh tunggu, ini kan di Bali ko Reka punya mobil ini?" batin Zeline curiga.


"Reka... Kita mau kemana sih?" tanya Zeline hati-hati dengan suara pelan.


Tapi Reka menutup mulutnya rapat, tatapan matanya fokus kearah jalan.


"Reka... Kamu mau bawa aku kemana sih?" kini Zeline sudah menaikan nada suaranya, ekspresi wajahnya sudah tidak bisa menyembunyikan kekhawatiran.


Jalan yang mereka lalui semakin sepi bahkan jalan itu tidak beraspal dan terdapat banyak pohon disana juga semak belukar.


Zeline semakin waspada, keringat dingin sudah mengucur dari keningnya.


Beragam pertanyaan muncul dibenaknya, apakah Reka akan membunuhnya? Mungkinkah mayatnya tidak akan pernah ditemukan?


Beberapa menit kemudian Reka menghentikan mobilnya didepan semuah kabin ditengah hutan.


"Turun!" perintah Reka dingin.


"Nggak Reka, aku ga mau turun! Sekarang bawa aku kembali ke hotel!" bentak Zeline dengan membulatkan matanya.


Reka menyeringai kemudian turun dari mobil berjalan setengah memutari mobil untuk membuka pintu penumpang.


Reka menarik tangan Zeline dengan kasar membawanya turun dari mobil tapi Zeline bersikeras menahannya.


"Nggak Reka... Kamu mau apa?" teriak Zeline dengan buliran bening yang mulai jatuh membasahi wajahnya.


Zeline merasa terancam, tubuhnya bergetar karena ketakutan.


Tapi kekuatan Zeline tidak sebanding dengan Reka yang memiliki tubuh kekar.


Pria itu menyeret Zeline keluar dari mobil menuju kabin.


Zeline terus berteriak tapi tak akan ada satu pun yang mendengar, mereka berada didalam hutan.


"Teriaklah Zeline... Tidak akan ada yang mendengar!" tantang Reka dengan santai.


Reka mendorong Zeline ke ranjang besi yang ada di dalam kabin, dengan seringai dibibir dan tatapan mata mengerikan seperti srigala yang akan memangsa buruannya, Reka merangkak ke ranjang.


Zeline terus beringsut ke kepala ranjang, "Jangan Reka... Jangan, kamu ga boleh kaya gini!" Zeline memohon sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.


Tapi Reka seperti tidak mempunyai belas kasihan, pria itu terus merangkak mengikis jarak dengan Zeline.


Tangan besar Reka mencengkram leher Zeline, semakin lama semakin kuat.


Zeline meronta memukul kepala, pundak dan dada Reka.

__ADS_1


Kaki Zeline juga tidak tinggal diam, menendang kearah Reka semampu yang ia bisa.


Tapi Reka seperti tidak merasakan apapun hingga gadis itu mulai kehabisan oksigen dan pandangannya mulai buram lalu tidak sadarkan diri.


*****


"Pak Kevlar... Zeline ga ada di kamarnya!" Anin kalang kabut saat bertemu Kevlar di loby hotel.


Kevlar melengkungkan alisnya kebawah, "Coba hubungi ponselnya!"


"Ponselnya ada di kamar, pakaiannya semua ada juga dompetnya... Ga mungkin Zeline pergi cuma pakai gaun tidur yang dia pake tadi malam!" seru Anin dengan kerutan diantara alisnya.


"Nona Zeline ga ada dimana-mana, Nin!" Joe berlari dengan nafas tersengal menghampiri Anin.


"Mati kita joe!" Anin meringis,


"Nin, kita harus hubungin Tuan King...!" Joe sudah pasrah bila harus dipecat, dipukuli bahkan dibunuh oleh Tuannya itu, karena keselamatan Zeline lebih penting dari segalanya.


Anin mengangguk, kemudian mencari ponselnya di tas untuk menghubungi King.


"Saya akan lapor polisi" ucap Kevlar kepada Joe, kemudian pria itu berlari menuju parkiran.


Berkali-kali Anin menghubungi King tapi panggilannya tidak tersambung.


Lalu sang asisten menghubungi Elgi dan panggilan itu pun tersambung.


"Hallo.... " jawab Elgi dari sebrang sana.


"Pak... Nona Zeline hilang, saya ga bisa menemukannya dimana pun, ponselnya ada, dompetnya ada pakaiannya juga masih ada... Terakhir saya ketemu Nona Zeline tadi malam setelah makan malam!" tutur Anin dengan suara tertahan.


"Tunggu disana... Kami akan kesana sekarang juga!" jawab Elgi dan sambungan telepon pun terputus.


Dengan langkah seribu Elgi langsung menginterupsi rapat yang sedang dilakukan Tuannya bersama Jacob juga para direksi di perusahaan milik King tersebut.


Elgi melangkah mendekati King kemudian membungkukan sedikit tubuhnya dan membisikan sesuatu kepada Tuannya.


Kini ekspresi wajah Elgi tadi menulari King, "Maaf Tuan Jacob, bisa kita lanjutkan rapatnya nanti? karena ada sesuatu yang sangat penting yang harus saya selesaikan!" King beranjak dari duduknya, pria itu keluar dari ruang rapat tanpa menunggu persetujuan para peserta rapat.


Semua orang didalam ruangan rapat itu saling pandang dengan penuh tanya.


"Kenapa bisa terjadi Elgi?" tanya King sambil melonggarkan dasinya, pria itu berjalan cepat menuju lift.


"Saya akan ceritakan semuanya di pesawat nanti, Tuan... Sekarang helikopter sudah siap di atas langsung akan membawa Tuan menuju bandara dan pesawat juga telah siap disana....Saya sudah menghubungi kedua orang tua Anda dan Nona Zeline" tutur Elgi mengimbangi langkah kaki King.


Elgi memang tidak berbohong, pria itu menjelaskan semuanya bahkan mungkin informasi yang di ketahui Elgi lebih banyak daripada yang diketahui Anin dan Joe.


Elgi sudah meminta orang-orang kepercayaannya mencari Zeline di Bali, bahkan Elgi memecat orang suruhannya yang bertugas memantau Zeline dari kejauhan karena lalai menjalankan tugasnya.


Informasi terakhir yang Elgi dapatkan adalah Reka menemui Zeline di loby hotel setelah itu Zeline menghilang.


Privat Jet yang akan King tumpangi sudah siap tinggal landas, King mendapati Jenifer yang sedang menangis dengan tubuh terikat di kursi.


Ternyata orang-orang suruhan Elgi sudah mengintrogasinya tapi tak satu pun informasi yang mereka dapatkan dari Jenifer.


"Kiiing... " Jenifer melirih,


Jujur, walaupun tidak ada cinta dihati King tapi pria itu tidak tega melihat Jenifer dengan keadaan babak belur seperti itu.


"Buka ikatannya!" perintah King pada Elgi kemudian pria itu duduk membelakangi Jenifer.


"Maaf King... Aku ga tau kemana Reka membawa Zeline pergi, aku ga pernah menyuruh dia melakukan ini semua... Kamu bunuh aku sekalipun, jawaban aku tetap sama King... Aku ga tau" ucap Jenifer dengan lemah.


"Aku minta maaf, King... Harusnya aku ga pernah cerita apapun sama Reka! Aku mohon King, kalau kamu menemukan dia... Tolong jangan bunuh dia, cukup masukan dia kepenjara... Cuma dia satu-satunya keluarga yang aku punya King!" Jenifer merintih memohon kepada King.

__ADS_1


Hati King berdenyut nyeri mendengar rintihan Jenifer tapi ia juga murka dengan apa yang dilakukan Reka dan rasa khawatir tentang keberadaan Zeline semakin besar.


Sesampainya di Bali yang pertama kali King temui adalah Anin dan Joe.


King tidak punya waktu untuk menyalahkan kedua asisten Zeline itu, yang ia butuhkan adalah informasi.


"King.... " Kevlar dengan ditemani dua orang polisi berpakaian preman menyapa King di Loby.


King terlihat tidak suka tapi pria itu tetap menyambut sapaan sang sepupu walau hanya dengan mengendikan dagu.


"Aku udah bikin laporan ke polisi, dan bersama kedua Bapak Polisi ini sudah melihat rekaman CCTV... Zeline pergi dengan seorang pria... "


"Reka... Adik Jenifer yang pshyco!" King menjeda ucapan Kevlar.


Sontak mata Kevlar membulat, rahangnya mengetat. Ia bersumpah bila terjadi sesuatu dengan Zeline, pria itu yang akan membunuh Jenifer dengan tangannya sendiri.


*****


Zeline menggerakan tubuhnya, rasanya seperti remuk berkeping-keping.


Terasa sakit diseluruh bagian, ia juga masih merasakan sakit di tenggorokannya.


Zeline berusaha membuka mata, mengerjap beberapa kali menyesuaikan cahaya yang masuk dari celah tirai uang mengenai retina nya.


Maniknya menindai sekeliling, ia sadar ini bukan kamar hotelnya.


Kemudian memejamkan mata mengingat kembali apa yang telah terjadi tadi malam sampai ia merasakan tangan melingkar diperutnya.


Zeline terhenyak dan menghela tangan itu kasar, ia bangun dan terkejut setengah mati saat melihat tubuhnya polos tanpa sehelai benang pun dengan Reka sedang tertidur pulas disampingnya dan sama sepertinya, tanpa sehelai benang pun.


"Ya Tuhan!! " Zeline merintih dengan isak tangis yang tak kuasa ia bendung.


Suara isak tangis Zeline makin lama makin membesar membuat Reka terbangun.


Reka mendudukan tubuhnya didepan Zeline yang sedang menutup wajahnya dengan kedua tangan.


"Sayang... Maaf, tapi aku harus lakukan ini agar sesuatu berjalan dengan semestinya... Setelah ini, King pasti akan membenci dan meninggalkan mu lalu Ka Jeni akan kembali pada King..." ucap pria itu sambil mengusap kepala Zeline.


Zeline mendongak dengan berderai air mata, "Kamu jahat Reka!! Dan aku pastikan, semua usaha mu ini akan sia-sia!!" Zeline menggeram kemudian meludahi wajah Reka.


Reka mengusap wajahnya dengan kasar kemudian mencengkram rambut Zeline, pria itu tanpa belas kasihan menampar dan memukuli wajah dan kepala Zeline.


Zeline menahan rasa sakit itu tanpa sudi meminta ampun atau mengeluarkan air mata.


Setelah puas memukul Zeline, pria itu membiarkan Zeline tergelatak tak berdaya.


Reka memunguti pakaian lalu mengenakannya dan berjalan keluar dari kabin tak lupa mengunci pintunya.


Dengan kesakitan dan sisa tenaganya, Zeline mengenakan kembali pakaiannya setelah mendengar suara mesin mobil dinyalakan tanda Reka sudah pergi.


Tidak tinggal diam, Zeline berusaha meraih pintu walau harus merangkak.


Menggedor-gedor pintu dan berteriak sekuat tenaga.


"Toooolllooooong"


Lalu ia merangkak menuju jendela, tapi sayangnya jendela itu pun terkunci.


Tubuh Zeline merosot kelantai, saat ini rasanya ia ingin sekali Tuhan mencabut nyawanya saja.


Walaupun dikasih kesempatan hidup, apa ia sanggup menanggung rasa bersalah karena telah dinodai oleh Reka?


Dan bila yang dikatakan Reka benar, apa bisa ia kehilangan King?

__ADS_1


__ADS_2