
Zeline masih meratap saat pintu kabin terbuka, Reka langsung berlari memburu Zeline hendak membawanya ke ranjang tapi Zeline meronta.
Merasa kesal karena sikap bar-bar Zeline, Reka mencengkram dagu Zeline dengan tanganya.
Wajah cantik Zeline kini terlihat mengenaskan dengan luka dan jejak ungu dibeberapa bagian.
"Jangan melawan kalau kamu masih ingin hidup!" ancam Reka.
Tapi Zeline terus memukul, berteriak dan menendang dengan sekuat tenaga.
Harapannya kali ini adalah Reka membunuhnya saja, ia tak akan sanggup hidup seperti ini.
Reka beridiri lalu tanpa perasaan menarik rambut Zeline kemudian menyeret tubuh ringkih itu ke ranjang, Zeline berteriak semampunya.
Brak!!!
Zeline dan Reka menoleh kearah pintu yang dibuka paksa.
Sudah ada beberapa orang polisi, Kevlar, Elgi, dan King menerobos masuk.
Dengan amarah yang sudah membuncah, King menarik kaos Reka lalu membabi buta menghajar pria yang telah menyakiti istrinya itu.
Zeline menjerit saat darah dari wajah Reka bercucuran ke lantai, lalu menahan tubuh King agar berhenti memukuli Reka disaat yang lain hanya diam mematung menontong King yang menghajar Reka habis-habisan.
"Hentikan King... Aku ga mau kamu menjadi seorang pembunuh!" Zeline memohon dengan memelas sambil menahan tangan King.
Seketika King menoleh, menatap Zeline dengan wajah penuh luka dan lebam.
Tanpa berpikir panjang, King melepaskan cengkraman tangannya dan beralih meraih tubuh Zeline.
Di gendongnya Zeline keluar dari kabin dengan perasaan hancur dan nyeri yang teramat sangat dihatinya.
Kalau Zelinenya tidak mengingatkan, mungkin saat ini Reka sudah kehilangan nyawanya.
Dengan mudah King menemukan Zeline setelah tanpa sengaja Papi Zach mengabarkan berita hilangnya Zeline kepada Bianco.
Bianco melacak Zeline dari kalung yang ternyata terdapat gps dengan sinyal kuat di liontin pada kalung yang diberikannya beberapa waktu lalu.
Setelah mendengar penuturan tentang ancaman keselamatan Zeline, Bianco langsung meminta orang-orangnya membuat kalung dengan gps tersebut dan memberikannya pada Zeline saat berkunjung ke Jakarta.
Bianco memberikan koordinat gps dimana Zeline berada dan secepat kilat King dan yang lain menyergap kabin tersebut.
Bukan hanya King, Kevlar pun merasakan hal yang sama. Pria itu menatap Reka dengan tajam sambil mengepalkan kedua tangannya.
Hatinya ikut merasakan sakit saat melihat kondisi Zeline tadi tapi pria itu tidak berani menyentuh Zeline.
Kevlar hanya bisa menatap Zeline dengan iba sambil menahan amarahnya pada kakak beradik yang selalu ingin memisahkan King dan Zeline itu.
Setelah pulang dari Bali hal yang pertama harus ia lakukan adalah bertemu Jenifer.
Gadis itu harus ikut bertanggung jawab atas apa yang telah adiknya lakukan.
Sebelum membawa Zeline pergi, King meminta Kevlar dan Elgi mengurus Reka.
__ADS_1
Pria itu harus membayar perbuatannya di penjara.
Didalam mobil, King tidak lepas memeluk sang istri yang mash gemetar karena trauma.
King langsung membawa Zeline ke Jakarta dengan privat jetnya, King tidak percaya dokter lain menangani Zelinenya.
Sang suami membawa Zeline ke rumah sakit milik Papi Zach.
Zeline sempat terlelap tapi tidurnya gelisah setelah itu berteriak tak karuan.
King berusaha menenangkan Zeline dengan memeluk dan memberikan kecupan lembut di kepala.
Pria itu merasakan sakit yang Zeline rasakan hingga sudut matanya mengeluarkan buliran bening tanpa ia sadari.
Selama perjalanan, Zeline tidak pernah lepas dari pangkuan atau pelukannya.
Ia membenci dirinya sendiri yang tidak bisa menjaga Zeline, padahal sudah menempatkan orang menjaga Zeline dari jauh.
Dan ia juga benci ketika tidak bisa memuaskan emosinya dengan membunuh Reka saat itu juga.
Ini semua salahnya, andai saja ia bisa mengendalikan keadaan dengan menjauhkan Jenifer dan Reka dari hidupnya, mungkin Zelinenya tidak akan terluka.
Dipandanginya wajah Zeline yang sedang terlelap kemudian King mencium setiap luka dan lebam di wajah dan tubuh Zeline.
Tak bisa ia bayangkan bagaimana Reka menyakiti Zelinenya.
Sesampainya di landasan pacu pribadi, sebuah ambulan telah menunggu di sana.
Mama Rena tidak berhenti menangis melihat kondisi putri kesayangannya dan Papa Andra pun terlihat sangat terpukul.
Keduanya hanya bisa saling berpelukan di ruang tunggu saat, menanti Zeline yang sedang di observasi oleh oara dokter terbaik di rumah sakit tersebut.
Papi Zach memegang pundak King yang sedang menutup wajah dengan kedua tangan menopang pada lututnya.
King merasa hancur, marah, sedih, kecewa dan semua perasaan itu bercampur menjadi satu menyesakkan dadanya.
"Apa kamu sudah meminta dokter melakukan visum et repertum, King?!" Papi Zach berbisik agar tidak terdengar oleh orang tua Rena.
(Visum et repertum adalah visum yang dilakukan untuk membuktikan terjadinya tindak kekerasan seksual)
Papi Zach merupakan pria cerdas, tindak kekerasan seperti ini bisa jadi dibarengi dengan tindak kekerasan seksual juga.
"Aku tidak peduli, Pi! Aku saja sebelum menikah dengannya adalah pria brengsek! Apapun yang terjadi dia tetap istri ku!" jawab King dingin tanpa menatap sang Papi.
Papi Zach tersenyum samar dan merasa bangga pada King ternyata anak sulungnya yang dulu luar boasa nakal telah menjadi pria dewasa yang bijak dan bertanggung jawab.
"Papi janji, pria itu akan seumur hidup berada di penjara!" Papi Zach yang terkenal berdarah dingin mulai menampakan aslinya.
"Jangan Pi... Kasian Jenifer, hanya Reka kerabat dia satu-satunya!" ucap King dengan sangat menyesal.
"Apa? Kamu masih mau membebaskan ******** itu King?" Mami Azuri menggeram disamping King.
"Aku udah janji pada kedua orang tua mereka akan selalu menjaga mereka, Mi!" jawab King lemah sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.
__ADS_1
Mami Azuri dan Papi Zach hanya bisa saling pandang dengan perasaan kesal.
Setelah para dokter melakukan CT Scan dan mengobati luka Zeline, gadis itu langsung dibawa ke ruang perawatan.
Zeline sudah sadar saat itu tapi tidak bisa berbuat banyak, hanya bisa melihat Mami Azuri dan Mama Rena menangis.
"King... Kamu harus balas perbuatan orang yang sudah membuat anak Papa menderita, atau Papa sendiri yang akan membalasnya!" seru Papa Andra dengan amarah yang sudah tidak bisa dibendung.
"Iya Pa.... " jawab King singkat tanpa bisa membuat Papa Andra puas.
Papi Zach membawa Papa Andra keluar dari ruang rawat untuk menenangkannya.
"Sayaaaang Mama... Kenapa bisa seperti ini, sayang...." Mama Rena terisak sambil memegang tangan Zeline disisi ranjang.
"Ma... Zeline ga apa-apa ko, jangan nangis... Yang penting Zeline bisa selamat!" ucap Zeline lemah sambil memaksakan senyum.
Mami Azuri juga tidak bisa menyembunyikan sedihnya, wanita parih baya itu terus saja mencium kepala Zeline dari sisi ranjang yang lain.
Zeline tercenung, memikirkan bagaimana bila semua tau bahwa Reka telah menodainya? Apa mereka masih akan menyayanginya seperti ini?
*****
Ting Tong Ting Tong....
Kevlar dengan tidak sabar memencet bel pintu apartemen Jenifer lalu dengan kesal ia mendorong pintu itu ternyata langsung terbuka karena tidak tertutup dengan rapat.
Yang pertana Kevlar dapati adalah Jenifer yang tergeletak di lantai dengan tubuh dan wajah penuh luka lebam sama seperti Zeline.
Jenifer merintih kesakitan, setelah para bodyguard King memukulnya habis-habisan setelah mengintrogasi gadis itu, Jenifer langsung diantarkan ke apartemennya dan dibiarkan begitu saja.
"Jenifer... Bangun!!" Kevlar menepuk-nepuk pipi Jenifer.
"Ampun... Ampun... Aku tidak tau dimana Ze... Lin... A... Ku, tidak ta-" ucapan Jenifer terhenti karena gadis itu tidak sadarkan diri.
Kevlar membawa Jenifer ke kamar dan meletakannya di ranjang, kemudian menghubungi dokter pribadinya tidak lupa menceritakan kondisi Jenifer agar dokter tersebit siap dengan segala alat dan obat-obatan untuk mengobati Jenifer.
Kevlar tau, sepupunya itu pasti yang telah membuat Jenifer seperti ini.
Amarah Kevlar mereda melihat Jenifer yang mengenaskan seperti itu, Kevlar membersihkan luka Jenifer dengan handuk dan air hangat yang sempat ia bawa tadi dari dapur.
Tapi Jenifer tidak akan lepas begitu saja darinya, banyak yang akan ia tanyakan pada gadis itu.
*****
Setelah Kedua orang tua dan Mertuanya pergi, tinggalah King disana.
Pria itu masih tidak mau banyak bicara atau bertanya, King masuk kedalam selimut lalu memeluk Zeline.
"Maafkan aku, baby!" bisik King sambil menghujani kepala Zeline dengan ciuman.
Zeline terisak sambil memeluk tubuh sang suami dengan erat, isakannya berubah menjadi tangis pilu yang semakin menyayat hati King.
Hingga tanpa sadar kini mata King telah basah dengan air mata.
__ADS_1