
"Apa??? Kamu ga tau itu anak siapa? Oh My Ghooshh Zeline!!!!" Anin menjerit gemas.
"Kan kamu bisa itung usia kandungan kamu sama kejadian di Bali! Lagian waktu di Bali itu kamu ngerasa ga udah ditidur-in Reka?" Anin melototkan matanya sambil berkacak pinggang.
"Udah aku itung Nin, umur kandungan aku kurang lebih cocok dengan kejadian di Bali trus aku ga inget apa-apa waktu itu, waktu sadar aku udah ga pake baju.... " tutur Zeline dengan mata berkaca-kaca.
"Ga mungkin Lin, ga mungkin kalau cuma sekali bisa langsung hamil, aku yakin itu anak Tuan King! Ya aku yakin banget!" Anin berujar dengan penuh keyakinan.
"Entahlah Nin, aku ga tau!" Zeline menutup wajah dengan kedua tangan.
Anin termenung ditempatnya memikirkan cara apa yang bisa mereka lakukan untuk bisa secepatnya mengetahui ayah biologis dari janin yang ada dalam perut Zeline.
Setelah kembali dari Italy, Zeline menceritakan semuanya kepada Anin karena ia tidak bisa menyimpan masalah ini sendiri.
Masalah ini cukup berat baginya dan Zeline butuh solusi, butuh bantuan.
"Nin... Bisa ga anter aku ketemu Reka? Aku harus ngomong sama dia!" cetus Zeline tiba-tiba.
"Aduh... Kalau Tuan King tau, mati aku Lin... " Anin berujar dengan ekspresi ketakutan yang tidak dibuat-buat.
"Seenggaknya kasih aku jalan, biar aku yang menemuinya sendiri... " Zeline memelas, karena menurutnya hanya dengan menemui pria itu, ia bisa mendapatkan penjelasan.
Anin menghembuskan nafas kasar, "Ya udah... Besok, kita ijin buat ngemall nanti aku drop kamu disana!" akhirnya Anin mengabulkan keinginan Zeline walau pekerjaannya yang menjadi taruhan, mau bagaimana lagi Anin terlanjur sayang pada Zeline.
Dan bila itu bisa memberikan penjelasan dan menenangkan Zeline, sepertinya memang patut dicoba.
*****
"King, boleh hari ini aku jalan-jalan sebentar di Mall?" tanya Zeline pelan saat keduanya sedang menikmati sarapan pagi walau Zeline tidak berselera dengan sarapan pagi yang dibuat koki di rumah itu.
King menatap Zeline sambil menaikan satu alisnya, merasa bingung karena sang istri biasanya sangat anti untuk keluar rumah karena traumanya.
"Kamu yakin? Tapi kandungan kamu sangat lemah, Baby... Aku ga mau terjadi sesuatu dengan kamu dan bayi kita... " jawab King tegas.
"Tapi aku bosan dirumah terus... Sebentar aja, boleh yaaaa..... " Zeline memelas sambil memanjangkan kata.
"Tapi Joe sedang cuti dan aku akan meninjau lapangan, nanti siapa yang mengantar?" King berusaha mencari alasan.
"Anin kan bisa nyetir, sayang... Biar Anin aja yang antar... " Zeline memberikan solusi, tidak lupa puppy eyes ia perlihatkan agar King menyerah dan memberikan ijin.
"Ya udah tapi ga lama ya, maksimal tiga jam harus udah di rumah... Kamu denger sendiri kan kandungan kamu sangat lemah begitu juga dengan kondisi tubuh kamu... " panjang lebar King memperingatkan sang istri.
__ADS_1
Zeline tersenyum kemudian mengangguk, "Maaf King, aku membohongi mu... " batin Zeline getir.
"Aku pergi ya... " pamit King kemudian menyambar bibir sang istri penuh damba setelah itu berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan perut Zeline yang masih rata.
"Daddy kerja dulu ya... Kamu jaga Mommy untuk Daddy karena hari ini Mommy nakal pengen jalan-jalan" bisik King tepat didepan perut Zeline seolah berkomunikasi dengan si jabang bayi lalu mendaratkan kecupan di sana.
Hati Zeline tercubit, perhatian dan kasih sayang King begitu besar dan harapannya kepada janin yang di kandungnya pun begitu kuat.
Bagaimana Zeline harus menghadapi ini?
King kembali berdiri kemudian mendaratkan kecupan di kening Zeline cukup lama setelah itu memutar tubuh memasuki mobil yang sudah ada Elgi dan driver didalamnya.
Zeline melambai hingga mobil mewah sang suami menghilang di belokan.
Mual itu kembali datang, apalagi saat memikirkan siang nanti ia akan menemui Reka seketika saja perasaan jijik menghinggapinya, apakah ia bisa menghadapi Reka nanti?
Zeline setengah berlari menuju kamar mandi lantai bawah untuk memuaskan rasa ingin memuntahkan sesuatu dari mulut.
Apa yang dimakan tadi pagi keluar dari mulutnya, hingga tubuh Zeline melemas rasa mual itu masih saja datang.
Maid yang mendengar suara dari kamar mandi langsung menerobos masuk kedalam kamar mandi yang pintunya terbuka sedikit.
Maid tersebut berteriak meminta pertolongan akhirnya, security dan pria yang dipercaya untuk membersihkan kolam dan taman menghampiri dan segera membantu Zeline untuk kemudian membawanya ke kamar.
Setelah mengiyakan keinginan Nyonya-nya, mereka pun keluar dari kamar itu.
Zeline merasakan setiap hari tubuhnya melemah dan semakin melemah, mungkin karena janin yang ada dalam kandungannya.
Tapi hari ini ia harus menuntaskan rasa penasarannya untuk bertemu dengan Reka, tidak peduli apa yang akan terjadi nanti.
Dilain tempat,
"Elgi... Suruh orang untuk mengawasi istriku dari jauh, aku khawatir... Tadi pagi dia meminta ijin untuk keluar rumah!" titah King kepada sang asisten dan langsung mendapatkan anggukan kepala dari Elgi.
"Baik Tuan... " jawab Elgi lalu mulai menghubungi orang kepercayaannya.
King turun dari mobil dan disambut oleh kepala proyek, sambil memakai helm keselamatan King turun langsung meninjau proyeknya secara langsung.
Belum pernah ia seserius ini dalam hidupnya.
Menjelang siang Anin datang, sang asisten itu langsung masuk kedalam kamar Zeline setelah maid memberitahu keadaan Zeline tadi pagi.
__ADS_1
"Lin... " panggil Anin sambil mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan dan mendapati Zeline sedang berbaring diranjang.
Anin duduk disisi ranjang, megusap kepala Zeline yang saat itu wajah cantiknya terlihat pucat pasi.
"Lin... " Anin melirih dengan hati yang bergetar hebat karena sedih melihat Zelinenya yang hancur seperti ini.
Buliran bening sudah mendesak keluar dari kelopak matanya.
Zeline mengerjap, "Anin.... " panggilnya parau.
Anin menghapus jejak air mata dipipi sebelum Zeline benar-benar sadar.
"Kamu yakin akan bertemu Reka hari ini? Kata maid tadi pagi kamu muntah-muntah parah... Besok aja ya kita pergi, kamu istirahat dulu sekarang...!" bujuk Anin sambil menarik selimut untuk menutupi tubuh Zeline.
"Ngga Nin, aku harus ketemu Reka sekarang!! Harus secepatnya...!!! " seru Zeline tidak mengindahkan kekhawatiran Anin sambil berusaha menguatkan tubuhnya yang lemas.
Dengan sangat terpaksa Anin mengikuti keinginan Nona mudanya itu, dari mulai membantunya bangun dari ranjang, memandikannya di bathub hingga memakaikan pakaiannya.
Anin melakukannya dengan penuh kesabaran.
Dalam perjalanan menuju lapas dimana Reka ditahan, Zeline bungkam.
Jantungnya sudah mulai berdetak dengan tempo cepat, keringat dingin pun sudah ia rasakan ditambah telapak tangannya yang basah.
Zeline tidak bisa menggambarkan perasaannya pada Reka, siksaan yang Reka berikan masih membayanginya dalam tidur.
Tapi itu tidak sebanding dengan kekalutannya saat ini, saat tidak mengetahui dengan pasti siapa ayah dari janin yang dikandungnya.
Anin menghentikan mobilnya beberapa meter dari lapas.
"Lin.. Buka kalung itu, kalung itu berisi pelacak yang bisa diakses langsung oleh Tuan King, biar aku yang memakainya...Nanti kabari aku kalau sudah selesai! Kamu harus kuat Lin, aku harap itu adalah anak dari Tuan King!" Anin berucap dengan tatapan nanar.
Zeline langsung memeluk Anin, setelah itu membuka kalung pemberian Uncle Bianco dan memberikannya pada Anin.
Oh Astaga, bahkan Zeline tidak mampu untuk melangkah turun dari mobil.
Tubuhnya begitu lemas, tubuhnya bergetar hebat tanda serangan panik akan muncul.
Zeline menghirup oksigen dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan, terus ia ulangi hingga beberapa kali.
Setelah merasa kuat, ia turun dari mobil menuju lapas.
__ADS_1
Zeline belum tau bagaimana memulai berbicara dengan Reka pria psikopat yang mungkin saja ayah dari janin dalam perutnya.
Dengan tekad kuat, Zeline melangkah memasuki lapas meminta ijin untuk bertemu Reka.