Zeline Dan King

Zeline Dan King
Ayah kandung Nafeesa


__ADS_3

King mengerjapkan matanya membiasakan retina pada sinar matahari yang masuk melalui jendela besar dikamar tersembunyi itu.


Dengan lengan kekarnya berusaha menghalau sinar matahari agar bisa membuka mata yang masih ingin terpejam.


Sesosok wanita dengan hanya menggunakan kemeja putih miliknya yang terlihat kebesaran ditubuh mungil itu membuat King memaksakan matanya untuk terbuka lebar.


Rambut wanita itu diikat bun kebelakang dan membiarkan anak rambut membentuk poni menutupi keninngnya.


Dan bibir tipipis dengan dua gigi kelinci yang selalu membuat King gemas kini melengkungkan senyum.


Zeline seribu kali lipat lebih cantik, seksi dan menggoda dimatanya.


Apa ibu hamil di trimester pertama seperti ini?


"Baby.... Tutup tirainya, ayo kita tidur lagi!" King mengeluarkan suara parau khas bangun tidur.


"Kita ga punya waktu sayang, kamu lupa nanti sore adalah akad nikah Nafeesa? Kita harus ke Bandung sekarang!" Zeline menuang kopi yang baru saja dibuatnya dari mesin espresso kemudian membawanya ke ranjang.


"Oh ya aku lupa... " King menghembuskan nafas, padahal ia ingin sekali lagi mengulang malam panas tadi malam bersama istrinya.


"Minum dulu kopinya, Anin dan Joe udah nunggu kita di bawah... " Zeline memberikan mug kopi tersebut kemudian beranjak melangkah menuju kamar mandi.


King bisa melihat cara Zeline berjalan yang melenggak lenggokan tubuhnya seperti model dengan ujung kemeja yang hanya sebatas bawah bokong.


"Shittt!!! " King mengumpat karena sesuatu sudah menegang dibawah sana.


Cukup lama Anin dan Joe menunggu dan mereka yakin Tuan dan Nonanya itu bukan hanya mandi diatas sana.


Hingga akhirnya penantian mereka berakhir, King dan Zeline keluar dari box besi yang membawa mereka dari lantai paling atas gedung pencakar langit ini.


Suasan kantor cukup sepi karena hari sabtu para karyawan libur, hanya ada beberapa satpam saja yang berjaga.


Pengalaman menginap di kantor megah dan mewah milik suaminya itu memang luar biasa.


Zeline baru merasakan bahagianya menjadi manusia biasa, bukan seorang aktris yang sibuk dengan rentetan jadwal syuting atau pemotretan yang membuatnya lelah.


Ia bisa ikut kemana suaminya pergi, bahkan ke kantor sekalipun.


Seperti pengantin baru, Zeline bergelayut manja dilengan King dan sang suami tidak keberatan akan hal itu.


Perjalanan Jakarta - Bandung kali ini tidak memakan waktu lama, mereka tiba saat matahari belum tepat berada diatas kepala.


Joe memarkirkan kendaraan di rumah Kakek yang jaraknya tidak jauh dari rumah Om Ricko dan Tante Lia karena garasi rumah Om dan Tante nya saat itu sudah penuh dengan mobil keluarga yang lain.


Masih dengan tangan yang saling menggenggam, King dan Zeline masuk kedalam rumah yang sudah dihias sedemikian rupa dengan bunga-bunga hidup yang memenuhi setiap ruangan rumah mewah milik adik kandung dari Mama Rena itu.


Ternyata sebelumnya baru saja dilakukan acara siraman dan Zeline termasuk orang yang tidak beruntung karena tidak memasukan acara adat tersebut dalam rangkaian acara pernikahannya bersama King.


"Tante.... " Zeline berhamburan memeluk sang Tante yang sudah lama tidak dijumpainya dan meninggalkan King begitu saja.


"Sayang.... " Tante Lia memeluk keponakannya tersayang.


"Tante ko matanya sembab? Abis nangis?" tanya Zeline sambil mengusap pipi sang Tante yang masih terdapat buliran bening disana.


"Ah biasa... Abis siraman, melow-melow gitu!" dustanya.

__ADS_1


"Kamu keatas gih temenin Nafeesa... Bujuk dia agar mau dirias" pinta Tante Lia.


"Loh kenapa dia ga mau di rias?" Rena yang sudah membawa Tantenya itu duduk disofa, bertanya dengan raut heran.


"Kamu coba tanya dia langsung aja ya, Tante mau nemuin tamu yang lain dulu... " Tante Lia mengelus kepala Zeline penuh sayang kemudian beranjak meninggalkan sang keponakan.


Zeline melihat King sedang asyik bersenda gurau dengan para sepupunya yang lain di ruang tamu, maka wanita itu pun pergi ke lantai dua menuju kamar Nafeesa.


Tok... Tok...


Ceklek...


"Sa... " panggil Zeline pelan dan adik sepupunya itu sedang terisak membenamkan wajah diatas bantal.


Zeline berpikir mungkin karena Ka Rangga, karena pangerannya itu sempat lari hampir tidak akan menikahi Nafeesa.


Tapi kemudian ia ragu mengingat beberapa waktu lalu King pernah meyakinkan Rangga agar menikah dengan Nafeesa dan pria itu menyanggupi jadi tidak mungkin bila didetik-detik terakhir, Rangga membatalkannya.


"Sa... Kamu kenapa?" Zeline duduk disisi ranjang sambil mengusap punggung Nafeesa.


"Lin... " Nafeesa mendudukan tubuhnya dengan mata sembab seperti Tante Lia.


"Kenapa?" Zeline kembali bertanya sambil menyelipkan rambut yang menghalangi wajah Nafeesa kebelakang telinganya.


"Aku baru tau kalau aku anak haram, Lin... Hek.. Hek.. Hek..!" Nafeesa terisak dan Zeline langsung memeluknya.


"Kamu ngomong apa sih, Sa... Kamu anak Om Ricko sama Tante Lia... Mereka berdua itu sayang sama kamu!" Zeline berusaha menenangkan Nafeesa yang sedang meracau.


Nafeesa melepaskan pelukannya, "Lin... Kamu tau, ternyata aku bukan anak Ayah Ricko... " Nafeesa menghampus air matanya dengan gusar.


Setelah Rangga bersedia nikahin aku, kita berdua pulang ke Bandung dan berusaha jujur sama Ayah dan Bunda, dan kamu tau apa?" Nafeesa menjeda kalimatnya karena sudah tidak kuat menahan isak tangisnya, Nafeesa kembali menangis.


"Ternyata aku bukan anak Ayah Ricko... Dan aku harus mencari ayah kandung ku untuk menjadi wali nikah, sedangkan makin lama perut ini semakin besar... Akhirnya Om Andra berhasil nemuin Ayah kandung aku tapi sialnya dia ga mau ngakuin aku, Lin... " Nafeesa berucap dengan nafas tersendat dan setelah itu ia memukul dadanya yang terasa sesak kemudian kembali menangis.


"Pantesan aku kaya gini Lin, aku dapet karma dari ayah aku yang brengsek itu" dan Nafeesa kembali menangis.


Zeline tercenung, ketika ia mendapat musibah penculikan dan pemerkosaan oleh Reka ternyata adik sepupunya juga sedang mengalami musibah dan dirinya tidak ada untuk membantu Nafeesa saat itu.


"Trus gimana sekarang? Tapi Ayah kamu itu mau bikin surat untuk wali nikahkan?" tanya Zeline.


Nafeesa menganggukan kepala, "Tapi semua tau kalo Ayah Ricko itu ayah aku dan pas akad nikah Ayah Ricko mungkin akan duduk ditempat lain, bukan orang yang menjabat tangan Rangga saat mengucapkan ijab kabul... Semua pasti heran Lin, sekalian aja tulis di jidat aku yang besar ANAK HARAM!" Nafeesa setengah berteriak mengucapkan itu mengeluarkan segala beban didadanya.


"Sa... Aku tau kamu sakit hati, tapi saat akad nikah nanti ga akan banyak tamu yang datang hanya keluarga aja, dan kayanya para orang tua kita udah tau masalah ini!" sekali lagi Zeline berusaha menenangkan perasaan Nafeesa.


"Mereka semua tau Lin, bahkan Kakek dan Nenek nutupin semua ini dari aku!"


"Sekarang gini Sa, sebentar lagi akad nikah kamu berlangsung... Perjalanan ke hotel juga cukup memakan waktu, sekarang kamu harus mentingin diri kamu, calon suami kamu dan anak yang ada dalam perut kamu... Lupain dulu itu semua, karena anak kamu termasuk yang beruntung, Ayahnya mau bertanggung jawab...!" perkataan Zeline yang terdengar biasa itu membuat Nafeesa tersadar bahwa bukan waktunya meratapi diri.


Sekarang saatnya mengubah masa lalu, biarlah kesalahan yang dulu menjadi pelajaran dan menutupnya rapat-rapat, kedepannya ia harus bahagai bersama Rangga dan anak mereka.


Dokter cantik itu kemudian mengusap air matanya dan meminta Zeline untuk memanggil MUA yang sedari tadi menunggu diluar kamar.


Setelah memastikan Nafeesa dirias dengan baik, Zeline turun ke lantai bawah mencari sang suami.


"Kalian mau nginep di hotel?" tanya Om Aras yang baru saja tiba.

__ADS_1


"Iya Om, kalau bolak balik macet nanti... " balas Zeline.


"Oke... Om duluan ya, Kake sama Nenek juga udah ada disana jadi kamu langsung aja kesana "


"Oke... Om..." jawab Zeline dan King berbarengan.


****


"Kamu tau ga Lin, masalah Ka Nafeesa" Keenan. Yang menumpang mobil King mencondongkan kepalanya ke kursi bagian tengah.


"Yang mana?" tanya Zeline tanpa menoleh.


"Semuanya... " balas Keenan lagi.


Akhirnya Zeline menoleh, "Aku tau semuanya, tapi itu bukan urusan aku... Karena aku sepupunya jadi tugas aku adalah menyemangati dia, mau dosa apapun yang dia buat atau anak siapa pun Nafeesa, dia tetep sepupu aku!" ucap Zeline dengan tatapan serius dan penuh keyakinan.


"Bang... Bini lo semenjak hamil jadi dewasa gini ya! " sambar Keanu dari kursi belakang.


"Pencintraan doank... Aslinya mah, beuuuuh!" King mendesis sambil menipiskan bibirnya dan menatap sembarang karena sang istri sedang menatapnya tajam.


"Aku serius loooh.... " Zeline mengerucutkan bibirnya kesal.


Setelah sampai di hotel, Anin dengan sigap menuju resepsionis setelah menghubungi wedding organizer mengenai akomodasi keluarga besar Zeline.


Setelah mendapat kunci kamar, Zeline dan King langsung menuju kamar mereka, bukan untuk menengok sang jabang bayi yang masih sebesar biji kacang seperti yang ada dikepala King saat ini tapi untuk mengganti pakaian karena keluarga sudah berkumpul di Ballroom.


Moment seperti ini selalu saja Zeline tunggu-tunggu karena setiap keluarga pasti menyempatkan hadir dan benar saja semua keluarga sudah memenuhi ballroom tersebut termasuk keluarga Rangga.


Pangerannya itu terlihat gugup dan raut khawatir tercetak jelas diwajah blasterannya.


"King... Aku ke Ka Rangga dulu ya, kamu disini temenin Kakek sama Nenek... " tanpa menunggu jawaban dari King, Zeline sudah melesat sambil mengangkat gaunnya menghampiri Rangga.


"Ka Rangg.... " sapanya dan pria itu tersenyum hangat kemudian mereka berpelukan.


"Nafeesa... " kalimat Rangga menggantung.


"Aman... Nafeesa aman.... " Zeline melanjutkan kalimat Rangga dan pria itu menghembuskan nafas lega.


"Ka... Tolong jaga Nafeesa ya, dia cukup terpukul setelah mengetahui statusnya dan jangan ulang kesalahan lagi... Jangan sampai anak kalian merasakan apa yang Nafeesa rasakan!" Zeline memohon kepada Pangerannya.


Rangga tersenyum sambil memegang tangan Zeline, "Walau Aku belum yakin sama perasaan ini, tapi aku akan berusaha mencintai ibu dari anak ku!" tutur pria itu kemudian.


"Janji ya Ka... " dan mendapat anggukan antusias dari Rangga.


Setelah itu Zeline pamit untuk bergabung bersama keluarganya.


King masih berbincang dengan dengan Kakek dan Nenek juga kedua orang tua Zeline yang baru saja tiba.


Acara akad nikah berlangsung penuh haru karena seluruh keluarga mengetahui status Nafeesa tapi tidak juga mengurangi kekhidmatan dan ke sakralan acara tersebut.


Setelah akad nikah dilanjutkan dengan pesta resepsi, semua menikmati pesta tersebut.


Nafeesa berusaha tegar sesekali Rangga menggenggam tangan wanita itu berusaha menegarkannya.


Dokter cantik yang memakai gaun pengantin dengan model baby doll itu dapat menyamarkan perutnya yang sudah sedikit membuncit.

__ADS_1


Zeline mengusap perutnya, ia patut merasa bersyukur setelah semua hal buruk yang menimpanya karena ia tidak sendiri, mungkin banyak orang didunia ini juga pernah mendapat hal buruk dan mereka masih berjuang untuk hidup.


Zeline berharap sudah tidak ada badai lagi, ia ingin bahagia bersama King dan anaknya kelak.


__ADS_2