Zeline Dan King

Zeline Dan King
Serangan Panik


__ADS_3

"Kapan terakhir Anda menstruasi?" tanya dokter saat menekan stetoskop di perut Zeline.


Kening Zeline berkerut, mengingat-ngingat kapan tetakhir dirinya datang bulan tapi sepertinya sudah sangat lama hingga ia pun lupa.


Zeline menggelengkan kepala, "Sepertinya sudah lama saya tidak menstruasi, Dok!" jawab Zeline.


"Mual dipagi hari juga pening? Nafsu makan bagaimana?" cecar dokter itu lagi.


"Mual tidak tapi pening dan kurang nafsu makan... " balas Zeline lemah.


Dokter merapihkan stetoskopnya kedalam tas, "Menurut diagnosa saya, Anda sedang mengandung... Tapi sebaiknya diperiksa langsung ke Rumah Sakit untuk dilakukan USG agar lebih yakin!" tutur Dokter itu kemudian.


"Aaaarrrggghhh.... Kamu hamil Zeline? Congratulation!!!" Azalea berteriak kegirangan.


Sedangkan Zeline masih tercenung tidak percaya dengan apa yang dikatakan Dokter, seharusnya ia merasa bahagia karena berkali-kali King menginginkan anak tapi ingatannya kembali pada beberapa minggu lalu saat ia terbangun dengan tubuh polos di samping Reka.


"Ini anak siapa?" Zeline meringis dalam hati.


Tanpa sadar ia sudah sendirian didalam kamar karena Azalea sedang mengantar Dokter ke luar, bahkan ia tidak mendengar saat Dokter tersebut berpamitan kepadanya.


Jantung Zeline berdebar kencang, ia merasakan sesak didadanya seperti ada batu besar menghimpit.


Nafasnya menderu, Zeline panik.


Dengan kasar tangannya merogoh ke dalam tastas mencari obat yang diresepkan psikiater kepadanya bila serangan panik itu datang.


Mengeluarkan isi tasnya diatas kasur mencari obat yang entah terselip dimana.


Zeline frustasi, menggeram sambil berlinang air mata.


Bagaimana bila yang dikandungnya adalah anak Reka? Bagaimana reaksi King? Apakah King akan terluka? Apakah King akan membencinya? Bagaimana reaksi keluarga Alterio? Bagaimana dengan kedua orang tuanya? Bagaimana dengan dirinya yang sudah sangat mencintai King? Apakah King akan meninggalkannya?


Semua pertanyaan itu berkecamuk dalam kepalanya, Zeline merasakan pandangannya berputar-putar.


Ia menggeram sambil menarik rambutnya, mencoba menghilangkan semua suara-suara itu dari kepalanya.


Jantung Zeline berdebar semakin kencang dan ia belum juga menemukan obat yang dimaksud.


Zeline berteriak sambil membuka seluruh kantung didalam tasnya lalu menemukan obat tersebut di sleting paling dalam tas tersebut.


Saat Zeline akan memasukan obat itu kemulut, ia ingat kalau tadi dokter mendiagnosanya sedang mengandung dan obat yang akan dikonsumsinya sangat terlarang untuk wanita hamil.


Zeline ingat saat itu psikiater menanyakan apakah ia sedang mengandung atau tidak, bila ia meminumnya pasti akan berakibat buruk untuk kandungannya karena mungkin saja itu anak King.


Zeline tidak mau terjadi sesuatu pada janinnya kalau memang benar anak ini adalah anak King.


Tapi serangan panik itu kadung muncul, Zeline sudah tidak kuat menahan sesak dan sakit dikepalanya.


Jantungnya yang berdetak semakin kencang menambah penderitaannya.


Kemudian ia merasa pandangannya semakin kabur dan akhirnya tergeletak lemas, sayup-sayup ia mendengar suara Azalea memanggil namanya.

__ADS_1


"Iya Bang... Kata dokter Zeline hamil tapi belum tau pasti, besok kita akan ke.... Zeliiinnneeeee!!!!!!" teriak Azalea saat menemukan Sang kakak ipar tergeletak dengan sebagian tubuhnya terkulai dari tempat tidur.


*****


Zeline mengerjap menyesuaikan retinanya dengan cahaya yang masuk dari celah tirai jendela.


Bau disinfektan yang menyengat, menusuk indera penciumannya dan seketika membuatnya membuka mata dengan sempurna.


Tangannya terangkat untuk memijit pelipis yang terasa sakit tapi tertahan karena selang infus tertancap dilengannya.


Zeline memindai ruangan serba putih itu, barulah ia sadar sedang berada di rumah sakit.


Pandangannya teralihkan pada sosok pria yang membuka pintu.


"Baby...!" suara King sangat lembut membuat hatinya terasa nyeri.


Pria itu langsung memburu Zeline dan membawanya masuk kedalam pelukan, menghujani sang istri dengan ciuman.


"Baby... Kamu jangan banyak gerak dulu, tidurlah..." King merebahkan tubuh Zeline yang sempat ia peluk tadi.


"Kenapa kamu disini? Ini masih di Italy kan?" Kening Zeline terlipat dalam.


"Yes baby... Ini masih di italy, aku langsung kesini setelah mendengar kamu pingsan... Menurut dokter kamu terkena serangan panik dan ga langsung minum obat, lalu kita mengerti kenapa kamu ga minum obat.... Kamu takut bayi kita kenapa-napa kan?" King mengusap perut Zeline yang masih terlihat datar.


"Bayi kita? Bagaimana bila bayi ini bukan bayi kita, King?" Zeline membatin.


"Kenapa?" King menyentuh pipi Zeline, membuatnya kembali dari lamunan.


King menuangkan air kedalam gelas kemudian memasukan sedotan, pria itu membantu tubuh Zeline untuk duduk "Minum dulu baby, kamu sudah tertidur lebih dari 24 jam... "


Seperti orang kehausan, Zeline menghabiskan air di dalam gelas tersebut hingga tandas tak bersisa.


Setelah menyimpan gelas yang telah kosong, King kembali duduk di sisi tempat tidur.


Menyelipkan anak rambut yang menghalangi wajah Zeline kebelakang telinga.


"Apa yang membuat mu tertekan, hem?" tanya King lembut.


Zeline mengusap perutnya, tanpa menjawab apapun.


"Kamu takut belum siap jadi seorang ibu?" tanya King lembut, melapisi tangan Zeline yang sedang mengelus perut ratanya.


Tatapan mata King jatuh pada perut yang kini terdapat kehidupan lain disana, ia menundukan tubuhnya mulai mencium perut sang istri.


"Ada aku, baby... Kita akan sama-sama membesarkan anak kita" bisik King dari depan perut Zeline.


Mendengar King mengucapkan "anak kita" membuat hati Zeline berdenyut nyeri.


"Ya Tuhan... Bagaimana bila ini bukan anaknya?" batin Zeline sambil mengedarkan pandangan keseluruh ruangan.


Matanya memanas karena buliran bening sudah merangsak ingin keluar membasahi mata indahnya.

__ADS_1


"Hey... Ada apa?" King mengusap air mata Zeline yang lolos tanpa meminta ijin.


Dosa apa yang dilakukannya dimasa lalu hingga Tuhan memberikan cobaan seperti ini pada dirinya.


Padahal ia sudah susah payah melupakan trauma akan Kevlar dan menerima King dihatinya.


Seharusnya ia merasakan hidup bahagia seperti yang dirasakannya semenjak lahir.


Zeline memeluk tubuh King erat seolah memohon agar sang suami tidak meninggalkannya apapun yang terjadi.


Ia teramat sangat mencintai pria itu, tidak sanggup merasakan kecewa dan kehilangan lagi.


King tidak akan bertanya, sudah berjanji dalam hati untuk selalu melindungi sang istri dan selalu ada saat Zeline membutuhkannya.


Menghargai keputusan Zeline yang belum mau cerita tentang kegundahan hatinya.


"Baby.... Terimakasih telah memberiku seorang anak, aku bahagia... I love you so much!" King mencium kening Zeline.


Mendengar kalimat manis King, tangis Zeline semakin kencang dan semakin mengeratkan pelukannya.


Lagi-lagi King tidak akan bertanya, biar Zeline sendiri yang bercerita suatu hari nanti.


Pria itu mengusap punggung Zeline, berharap sang istri tenang.


Pelukan keduanya terurai saat petugas catering rumah sakit masuk mengantar makan siang untuk Zeline.


Setelah menyimpannya di meja, wanita paruh baya itu sedikit menunduk kemudian berjalan keluar dari ruang rawat Zeline.


King mendekatkan meja beroda khusus makan itu kemudian menyendokan makanan ke mulut Zeline.


Gadis itu langsung membuka mulut sambil menyeka jejak air mata di pipinya.


Sesuatu yang masuk kedalam mulutnya terasa hambar tapi Zeline tidak ingin bayi dalam kandungannya kekurangan nutrisi dan juga berusaha untuk tidak membuat King khawatir.


Maka terpaksa ia menelan makanan itu dengan susah payah.


Zeline menatap King lekat, wajah tampan itu terlihat kusam dan lelah, terdapat dua lingkar hitam dibawah matanya.


"King... Kamu belum tidur ya?" tanya Zeline dengan suara lemah.


King tersenyum tipis, "Aku mengkhawatirkan kamu, Baby! Dua kali aku meninggalkan rapat demi kamu... Kurang apa aku coba?!" King berusaha menggoda Zeline.


Zeline tersenyum getir, saat pria itu sangat mencintainya dengan seluruh jiwa dan raga tapi dirinya malah ternoda oleh pria lain karena sebuah kebodohan yang dibuatnya.


"Mama Rena dan Mami Azuri, aku suruh pulang dulu tadi untuk beristirahat... Sebentar lagi mereka datang..." King kembali menyendokan makanannya ke mulut Zeline saat dirasa mulut itu sudah kosong


"Berita kehamilan kamu sudah tersebar hingga Newyork, GrandPa Matthew dan Uncle Janson sudah tau dan salah satu rumah mode disana meminta kamu jadi model untuk peragaan busana wanita hamil setelah kandungan mu kuat nanti... Apalagi di Indonesia, berita ini langsung booming, masih dalam kandungan aja anak kita udah tenar!" King tertawa pelan sambil mengelus perut rata Zeline.


Mendengar hal itu membuat Zeline tersedak makanan di dalam mulutnya, King dengan sigap langsung memberikan minum.


Sepertinya Zeline akan mendapat serangan panik kembali.

__ADS_1


__ADS_2