Zeline Dan King

Zeline Dan King
Sungguh nyaman


__ADS_3

Berjam-jam telah berlalu, King sudah merasakan pegal di lehernya. Kedua belah mata mengering karena terlalu lama mematuti layar laptop di meja kerja, ia meregangkan tubuh menarik kedua tangan yang bertautan jauh diatas kepala.


Pria itu beranjak menuju dapur hendak mengambil air mineral pelepas dahaga, kemudian membuka kulkas mencari sedikit kudapan, melihat bubur di dalam kulkas yang dibuat oleh Anin barulah pria itu tersadar ada makhluk cantik menemaninya di apartemen mewah ini.


Setelah menandaskan satu gelas air mineral, dengan langkah panjang pria itu menuju kamar.


Cahaya redup tak melewatkan pandangannya terhadap gadis cantik yang sedang merintih di atas ranjang.


Merintih, gadis itu merintih dan sesekali mengigau menahan sakit. Suara rintihannya hingga mampu membuat sudut hati King berdenyut.


Melangkah ringan lebih mendekat ke arah ranjang, menempelkan punggung tangan ke kening kemudian leher istrinya.


Kening pria itu terlipat dalam, meringis merasakan suhu panas ditubuh Zeline yang tidak wajar, tangan kekarnya mulai sibuk membuka laci disamping ranjang mencari alat pengatur suhu, setelah menemukan dilaci kedua, ia menempelkannya di kening gadis itu.


40°C itu yang tertera pada layar digital digenggamannya.


"Baby... " panggil King seraya menepuk lembut pipi Zeline.


"Emmh..." Zeline bergumam dan masih bergerak tidak nyaman.


"Hey... Buka mata mu, lihat aku... Baby! Bangun lah, lihat aku...," King berusaha menyadarkan Zeline.


King membuka kaos yang melekat ditubuhnya hingga kini pria itu tengah bertelanjang dada, merengkuh tubuh istrinya dengan kedua tangan hingga Zeline terduduk.


Tapi Zeline terlalu lemah walau hanya untuk membuka mata.


"King...," ia bergumam lirih.


"Wake up, beib!" pria itu belum menyerah membangunkan istrinya.


King memeluk Zeline sambil terduduk diranjang, kepala Zeline yang mendongak lemas, ditopang oleh telapak tangan besar suaminya.


"Baby... Bangun, demam mu sangat tinggi! Buka baju ya?" bisik King di telinga istrinya yang dibalas anggukan lemah oleh gadis itu dengan mata masih terpejam.


Pria itu begitu panik, mengingat kembali instruksi yang diberikan dokter sebelumnya bila suhu tubuh Zeline kembali naik. Sungguh, tidak ada maksud lain dipikirannya hanya ingin gadis itu terlepas dari rasa sakit yang menggerogoti tubuhnya.


King mulai melepas helai demi helai kain yang menutup tubuh Zeline, begitupun dengan dirinya.


Hingga hanya terdengar suara detak jam dinding setelah beberapa menit keduanya berpelukan untuk menurunkan suhu tubuh Zeline dengan metode skin to skin didalam selimut.


Nafas gadis itu mulai teratur seiring suhu tubuh yang sudah kembali normal, tubuhnya rileks tidak menunjukan kegelisahan bahkan Zeline terlihat lelap dalam dekapan suaminya.


Satu masalah selesai, dan kini timbul masalah baru. Sekuat tenaga ia menahan segala gejolak hasrat, jantungnya berdegub sangat kencang, suhu tubuh mulai naik, entah karena transfer panas dari tubuh istrinya atau karena hasrat yang menggebu, berkali-kali menelan saliva saat merasakan pening mulai menjalari kepala.


Walau sudah merasakan kebas dilengan yang tertindih tubuh Zeline, tapi sedikit pun pria kekar itu enggan bergerak.


Sungguh keadaan seperti ini sangat menyiksanya, gadis itu bergerak sedikit saja sudah dipastikan benteng pertahanannya akan roboh. Tubuh keduanya kini benar-benar nenempel tanpa penghalang sehelai benang pun.


Tadi saja saat melepaskan kain ditubuh istrinya, mata King berusaha terfokus hanya pada wajah Zeline. Ia tak ingin tujuan utamanya berubah saat melihat tubuh indah milik istrinya.


Tanpa diduga, gadis itu tiba-tiba merubah posisi tidur membelakangi suaminya. Barulah King bisa bernafas lega, menatap nanar lengannya yang sudah mati rasa.


King menutup tubuh Zeline dengan selimut kemudian memakai kembali pakaiannya yang berserakan di lantai.


Disentuhnya kembali kening istrinya, suhu tubuhnya sudah kembali normal tapi sewaktu-waktu bisa saja kembali naik.


"Semoga saja tidak...," batinya.


King merebahkan kembali tubuhnya dan meraih Zeline dalam dekapannya. Memejamkan mata berharap memiliki mimpi indah yang sama dengan Zeline.


*****


Bulu mata lentik, lebat nan panjang yang diturunkan Mama Rena pada gadis cantik itu mulai mengibas, mengerjapkan kelopak mata untuk menyesuaikan bias cahaya yang masuk ke kamar apartemen yang berada di lantai 23 dimana ia terbaring diatas ranjang king size dengan tubuh polos hanya terbalut selimut.


Zeline merasa lemas dan lesu, tenggorokannya kering sangat sulit menelan saliva seperti ada batu besar tersangkut disana.


Berusaha sekuat tenaga menyandarkan tubuh di kepala ranjang, mengingat kembali apa yang terjadi padanya.


Selimut itu terlepas


"Aaaarrrrgggghhh...., " teriak Zeline saat tersadar tubuhnya polos hanya selimut yang membalutnya.

__ADS_1


Ingatannya dipaksa mundur kebelakang


"Oke... Aku sekarang tinggal di apartemen bersama King, aku demam lalu aku tidur sendiri. Tapi... " gumamannya terhenti saat mendengar pintu terbuka.


Ceklek...


"Ada apa?" King masuk dengan langkah cepat kedalam kamar.


"Stop!! Berenti disitu! " teriak Zeline dengan mengangkat jari telunjukn dan seketika menghentikan langkah suaminya.


"Kamu tega ya King, perkosa istri kamu sendiri!" Zeline mulai terisak.


"Baby..., " King melangkah dengan mengangkat tangan didada dan kedua telapak tangan mengarah istrinya.


Zeline beringsut menarik kaki sambil memegang kencang selimutnya didada.


King menghentikan langkahnya.


"Maaf..., " ucapnya dengan dahi berkerut dan tatapan sayu.


"Tadi malam demam kamu tinggi banget, jadi aku ngikutin perintah dokter menggunakan skin to skin methode... Dan aku udah minta persetujuan kamu, walau hanya kamu jawab dengan anggukan" tutur King hati-hati dengan merendahkan nada suaranya.


"Haus..., " ucap Zeline tiba-tiba, ia sudah mengingat kejadian tadi malam. Walau setengah sadar memang mengiyakan bisikan King ditelinganya.


Malam itu ia benar-benar kesakitan dan hanya ingin terbebas dari rasa itu. Jadi apapun itu sepertinya setimpal untuk rasa sakitnya dan Zeline mengiyakan bisikan King ditelanginya tadi malam.


King lebih mendekat mengambil gelas di atas nakas samping tempat tidur kemudian memberikannya pada Zeline.


Gadis itu langsung meneguknya dengan teburu-buru hingga tetesan air sedikit berhamburan dan membuat sungai kecil dari mulut turun ke dagu dan turun terus hingga keleher jenjangnya membuat King menelan saliva.


Seketika itu juga air digelas itu habis tak bersisa, ia memberikannya pada King walau tangannya lebih dekat menjangkau nakas.


Tapi King seperti terhipnotis, ia mengambil gelas itu dan memegangnya dengan kedua tangan.


"Kamu lapar? Aku lagi angetin bubur..." ucapnya.


Zeline mengangguk dengan mengulas senyum tipis.


"Heuh.. Dia senyum" batin King


Pria itu menjulurkan tangan menyentuh dahi istri cantiknya, dan pemilik dahi yang biasanya akan meronta atau menghindar kali ini ia diam dan malah menatap abu didepannya. Seperti berkaca, ia bisa melihat pantulan wajahnya disana.


"Udah ga demam..." ucapnya, kemudian menggerakan jari menghela rambut yang menjuntai menutupi wajah cantik dan menyelipkannya kebelakang telinga.


Zeline kembali mengangguk.


"Aku ambil dulu buburnya... " Pria itu beranjak, tapi bukan kedapur ia berbelok didepan walk in closet dan beberapa detik kemudian keluar membawa pakaian Zeline.


"Baju kamu basah karena keringat, ganti aja ya?" tanyanya basa basi seraya memberikan pakaian baru untuk Zeline.


Gadis itu mengambil pakaian di tangan King dan kembali mengulas senyum tipis.


Setelah itu seperti katanya tadi, ia pergi kedapur mengambil bubur yang sudah dihangatkan oleh maid yang baru saja datang untuk memasak sarapan paginya.


"Cantik..." batin King lalu tersenyum sendiri saat sudah berada di luar kamarnya.


Saat kembali kekamar ia tak melihat siapa pun diranjang, hanya terdengar suara gemericik air dari arah kamar mandi lalu meletakan baki berisi bubur dengan toping daging cingcang, jus jambu, air mineral dan freh milk di meja coffe depan sofa panjang disudut kamarnya.


Ceklek...


Zeline membuka pintu kamar mandi dan mendapati suaminya berdiri disana.


"Kenapa ga bilang mau kekamar mandi?" tanya king.


Zeline merasakan tubuhnya melayang, pria iru menggendongnya ala bridal style.


"Aaah, Kiiiing..." jeritnya seraya mengalungkan tangan dipundak berotot suaminya.


"Nanti aku gendong kalau mau kekamar mandi, kamu belum boleh banyak bergerak" ucapnya lalu mendudukan gadis itu di sofa.


"Ga usah berlebihan King, aku cuma demam" balasnya dengan suara khas manjanya.

__ADS_1


King terkekeh, rasanya ia suka suara manja istrinya itu.


"Buku mulut mu..." ucapnya kemudian, menyodorkan satu sendok bubur kedepan mulut Zeline.


"Aku saja..." Zeline hendak mengambil sendok dari tangan King dan pria itu malah menjauhkannya sambil menggeleng.


Bukan waktunya berdebat, perutnya sudah sangat lapar saat ini. Ia pun membuka mulut membiarkan King memanjakannya.


Sambil menyandarkan kepala dengan duduk miring menghadap King, Zeline dengan lahap memakan bubur yang disuapi suaminya.


"Kamu udah sarapan?" Tanya Zeline dibalas dengan gelengan kepala oleh King.


"Ga ngantor?" tanya gadis itu lagi, dan lagi-lagi King hanya menggeleng.


"Kenapa?" kali ini pertanyaan itu butuh penjelasan karena Zeline sudah jengah dengan jawaban anggukan dan gelengan kepala.


"Nemenin istri yang lagi sakit" jawab King datar


Blushing! Entah kenapa Zeline merona, begini rasanya diperhatikan oleh lawan jenis dan sudah sangat lama ia tak merasakannya. Ia memalingkan wajah tak ingin pria didepannya menangkap rona merah diwajahya.


Tapi terlambat, pria itu sudah melihat wajah cantik istrinya yang sedang merona. King mengulum senyum seraya memalingkan wajah menyimpan mangkok kosong dan menggantinya dengan gelas berisi air mineral.


Zeline meneguk sedikit air digelas dan mengembalikannya pada King padahal meja itu tepat didepannya.


"Minum obat ya..." King mengambil obat lalu memberikannya pada Zeline.


"Mau tiduran lagi?" tanya King setelah empat butir obat itu Zeline telan.


King menghujani Zeline dengan perhatian yang berlebihan, memperlakukan Zeline seperti seorang tuna daksa.


"Disini dulu... Abis makan" jawabnya canggung.


"Aku nyalain TV ya?"


Zeline mengangguk dan beberapa menit keduanya menonton TV series di saluran berbayar dengan canggung seperti abg tanggung yang baru jadian.


Seperti modus pria di film-film tahun 80an, King merentangkan satu tangannya di sandaran sofa sebagai kode bila gadis disampingnya butuh sandaran, pundaknya sudah terbuka lebar.


Zeline geli sendiri, jemari King sudah mulai memainkan rambut sebahunya dengan pura-pura fokus menonton TV.


Zeline menoleh menatap wajah tampan disampingnya, mata mereka bertemu saat tiba-tiba King menoleh kearahnya.


"Mau Jus..." ucapnya asal saat sudah ketauan curi-curi pandang.


King mengambil jus didepannya dan memberikannya kepada Zeline.


Bila Uncle Bianco tau, mungkin ia sudah dibully habis-habisan sebagai budak cinta.


Cinta? Apa benar pria itu sudah mencintai Zeline? Atau hanya cara merayu gadis itu agar menyerahkan dirinya karena King tidak pandai berkata-kata.


Setelah meletakan kembali gelas jus yang diberikan Zeline, pria itu kembali merentangkan tangannya.


Tapi Zeline masih saja menatap pria itu,


"Kenapa?"


Zeline menggelengkan kepala sambil mengigit bibir bawahnya.


King memberanikan diri menarik pundak Zeline, agar gadis itu menyandar dibahunya dan Zeline tidak menolak malah mengesekan lembut kepalanya mencari kenyaman dipundak King. Pria itu pun memiringkan kepalanya menumpu pada kepala Zeline.


Nyaman yang Zeline rasakan, sepertinya ia akan tertiur dalam dekapan pria itu.


"Ini sungguh nyaman..." batin Zeline mulai memejamkan matanya.


Tangan King yang mendekap tubub Zeline mengusap lengan gadis itu dengan tempo semakin membuat Zeline nyaman dan mudah meraih alam tak sadarnya.


Sesaat kemudian suara perut King menghempaskan moment romantis bersama istrinya.


Zeline yang sudah hampir terlelap malah terkekeh mendengar suarat perut suaminya.


"Sarapan dulu gih..." ucapnya lembut.

__ADS_1


King menggaruk tengkuknya yang tidak gatal


"Memalukan!!" geramnya dalam hati.


__ADS_2