Zeline Dan King

Zeline Dan King
Kembalinya Kevlar


__ADS_3

King dan Zeline sudah memasuki gerbang megah gedung stasiun TV milik Papi Zach.


"Turunin aku di loby aja ya, King..." pinta Zeline sambil merapikan riasannya.


King mengangguk sekilas, ia langsung mengambil jalur sabelah kanan menuju loby.


Ada beberapa antrian mobil didepan mobil yang mereka tumpangi.


Zeline melirik jam tangannya sekilas,


"Disini aja, biar aku jalan..." ucapnya kemudian.


"Jangan... Aku turunin kamu di loby, masih ada waktu buat kita bersama pagi ini" King menarik tangan Zeline sambil menatapnya hangat.


Kehangatan itu menulari hingga hati Zeline. Wanita itu hanya bisa tersenyum. King membawa tangan Zeline dan mencium punggung tangannya berkali-kali hingga wanita itu tergelak.


Tinggal satu antrian lagi didepan mobil mereka, seorang pria yang sangat kedua nya kenal turun dari mobil besutan eropa yang hanya diproduksi 20 dan tersebar di seluruh dunia, salah satunya ada didepan mobil mereka saat ini.


"Kevlar..." Zeline berucap tanpa suara.


"Sedang apa dia disini?" batin King geram, terlihat kedua alisnya menyatu dan tangannya mencengkram stir mobil erat.


King langsung membelokan stirnya, ia menuju pelataran parkir dan mencari petugas Valet.


"Kiiiing.... " Zeline memekik, saat King melajukan mobilnya sedikit kasar.


"Aku anter kamu sampai ruang rias, aku ada perlu dengan CEOnya..." ucap King dengan nada suara yang berusaha ia tahan serendah mungkin.


Zeline hanya bisa diam, ia tau apapun yang berhubungan dengan Kevlar pasti akan membuat suaminya marah.


King benar-benar mengantar Zeline hingga ruang rias, Anin sudah berada disana.


"Ayo touch up dulu, Zeline! Sebentar lagi mulai...." ucap Anin yang sudah menarik kursi didepan kaca besar dengan deretan bohlam lampu disetiap sisi kaca tesebut.


"Selesai jam berapa? Nanti aku jemput ya... " King menggenggam kedua tangan Zeline seolah tidak ingin berpisah.


"Kiiing... Kamu harus kerja, aku bisa pulang sama Anin dan Joe" ucap Zeline diakhiri senyuman gigi kelincinya.


"Kamu udah ga marah kan? Jangan bales dendam ya... " Kini tatapan King berubah sendu.


Zeline tergelak, "jangan ulangin lagi ya! Nanti aku marah... Kalo nanti kamu ketemu Jeni, lari yang kenceng!" Zeline kembali tergelak setelah, merasa lucu akan ucapannya sendiri.


Sedangkan King, ia tertawa kecil kemudian mencium kening Zeline, lalu pipi kiri, pipi kanan kemudian hidung dan berakhir di bibir.


"Makan siang sama aku ya!" ucap pria itu seolah perintah, tanpa menunggu jawaban Zeline, King langsung melangkah keluar ruang rias tersebut.


"Ck... hampir aja aku pingsan melihat kemesraan kalian yang lebay itu" Anin memutar bola matanya jengah dan Zeline membalas dengan kekehan.

__ADS_1


Anin lega, akhirnya Nona mudanya sudah menerima King sebagai suaminya. Bahkan kemesraan mereka tadi sudah Anin abadikan dengan kamera ponselnya dan langsung terkirim pada Mama Rena juga Mami Azuri.


*****


King langsung menuju ruangan CEO, ia kenal betul siapa CEO dari stasiun TV milik Papinya itu. Sudah lama memang ia tak mengunjunginya dan main golf bersama karena kesibukan masing-masing. Dan sekarang waktunya mengunjungi sahabat lama itu sambil menanyakan tentang Kevlar. Ya, Kevlar sebetulnya alasan King menemui sahabatnya itu.


"Ada yang bisa saya bantu Tuan?" sapaan lembut sang sekertaris berparas cantik itu menahan langkah King.


"Aku ingin menemui Aditama" saut King datar, kemudian kembali melangkah kan kakinya.


"Maaf Tuan tapi... " ucapan sang sekertaris tersebut terhenti karena pria kekar nan tampan itu sudah memutar knop pintu ruangan Bosnya. Ia pun hanya bisa mengesah dan kembali terduduk dikursinya.


Alis King tertaut melihat Kevlar duduk di kursi kebesaran yang dulu diduduki sahabatnya, Aditama.


"Sedangkan apa kau disini?" tanya King langsung pada intinya. Sama sekali ia sudah tidak menganggap Kevlar sepupunya setelah pria bermata hazel itu menghina Zeline.


Kevlar terkekeh, sambil menautkan kedua jemari tangannya di atas meja yang menumpu pada sikut.


"Kamu lucu King....Ya apa lagi kalau bukan bekerja, sekarang aku CEO disini!" tanpa King tanya, Kevlar langsung memperkenalkan dirinta sebagai CEO baru.


"Bagaimana dengan Aditama?" bisa-bisanya disaat seperti ini King menanyakan sahabatnya, King memang sahabat sejati.


"Ia sudah pindah ke stasiun TV lain, mungkin itu alasan ia tidak memberitahu mu, setau ku... Aditama sahabat mu kan? Kini tidak lagi King, dia berkhianat!" tutur Kevlar dingin.


Sebetulnya suka-suka Aditama pindah kemanapun, untuk mencari yang lebih baik. Toh ia hanya orang yang dipekerjakan Papinya untuk mengurus salah satu perusahaan miliknya. Bila Aditama merasa stasiun TV sebelah lebih baik, ya syah-syah saja untuk pindah.


"Dan kamu tau, hal pertama yang aku lakukan adalah menjadikan Zeline salah satu artis yang terikat kontrak dalam perusahaan ini, kedepannya ia akan memiliki program sendiri dan aku bisa terus bersamanya" Kevlar menyeringai.


King menggeram, rahangnya mengetat. Didalam saku celananya, ia sudah mengepalkan kedua tangan hingga buku-buku jarinya memutih.


Ingin sekali ia melemparkan kepalan tangannya di rahang pria blasteran Turki-Indonesia-Amerika itu tapi ia urungkan karena Kevlar akan menang, dan ia akan menjadi penjahatnya karena tiba-tiba datang dan memukul Kevlar, King tidak akan terpancing.


Bukannya menonjok pria menyebalkan dihadapannya, King malah memutar tubuh menuju pintu keluar. papi Zach adalah orang yang harus ia temui sekaran.


King menghubungi Elgi melalui earphone buetooth ditelinganya untuk membatalkan semua jadwalnya pagi ini.


*****


Kantor Papi Zach.


Dengan ijin Uncle Aldo, sekertaris Papi Zach, King memasuki ruangan dengan interior minimalis dan ekslusive.


Pria yang diusia setengah abad lebih masih terlihat gagah itu sedang sibuk menatap laptopnya, sesekali ia melihat kertas-kertas yang berserakan dimeja hingga tidak sadar anak sulungnya sudah berada tepat dihadapannya.


Papi Zach mendongak menatap pria yang menjulang dihadapannya. Perhatiannya kini menatap King yang sudah duduk di kursi berhadapan dengannya hanya meja kerja sebagai pembatas.


"Ada apa? Tumben sekali kamu dateng kesini?" sapa Papi Zach sambil menaikan satu alisnya.

__ADS_1


Kesuksesan King memang menurun darinya, Zach tidak perlu repot-repot membantu King tapi anak laki-lakinya itu sudah seperti singa jantan perkasa merambah bisnis walau belum bisa menyaingi ayahnya tapi King termasuk pengusaha muda yang patut diperhitungkan.


"Kenapa Kevlar menjadi CEO di perusahaan Papi?" King memang bukan pria yang suka berbasa-basi, ia lebih menyukai to the point untuk menghemat waktunya yang super padat.


"Kamu dateng-dateng bukannya nanya kabar Papi atau Mami kamu setelah pulang honeymoon, malah nanyain Kevlar..." Ucap Papi Zach ketus.


"Papi apa kabar? Kalo Mami, kemarin aku udah ketemu waktu makan siang dengan client direstoran... Mami lagi arisan di restoran yang sama" King berucap dengan menahan jengahnya.


Kini Zach tertawa kecil,


"Gimana bulan madunya? Enakan dapetin perawanan? Beruntung kamu King, kaya Papi!" Zach menaik turunkan kedua alisnya. Ia terkekeh mengingat kelakuannya yang sama percis dengan King saat muda dulu.


King berdecak, seharusnya Papinya itu tidak perlu membicarakan hal mesum seperti itu dengannya. Ia kan seorang Raja dikerajaan bisnisnya, apa kata para karyawan kalau mereka mendengar perkataan Papinya tadi. Mungkin mereka akan berbondong-bondong mengundurkan diri, tak mau dipimpin oleh pria mesum seperti Papinya itu.


Padahal perkataan Zach tadi hanya ingin menggoda King, sudah lama ia tidak bersenda gurau dengan anak kebanggaannya itu. Tapi King yang sedari tadi tersulut emosi semenjak perjumpaannya dengan Kevlar, membuat pria itu tidak peka akan kerinduan Papinya.


"Pi... Kenapa Kevlar ada di stasiun TV milik Papi?" desak pria itu, King mengulang pertanyaanya, ia sudah tidak sabar mendengar jawaban dari Papinya itu.


Zach membuang nafas kemudian membuka kacamata lalu meletakannya dimeja.


"Ada masalah apa kamu dengan Kevlar? Kenapa saat di Australia kamu bertengkar dengannya hingga sepupu mu itu babak belur?" bukannya menjawab, Zach malah melemparkan pertanyaan pada King.


Dan itu sangat membuat kesabaran King sudah hampir habis.


Pria itu pun menarik nafas kemudian menghembuskannya perlahan.


Akhirnya ia menceritakan masa lalu Kevlar dan Zeline, lalu perkataan dengan unsur penghinaan yang Kevlar lontarkan kepada Zeline hingga membuatnya harus memukul sepupunya itu. Lalu dengan pertemuannya tadi dengan Kevlar yang sedang duduk di meja CEO menggantikan sahabatnya.


"Aduh... Kenapa anak itu jadi nakal gitu ya?" Papi Zach menggaruk tengkuknya yang tidak gatal


"Stasiun TV itu sudah Papi hadiahkan untuk Sam saat ia akan menikah dengan aunty mu dan berhenti bekerja pada Papi, tapi Sam memutuskan untuk tinggal di London bersama Aunty mu hingga perusahaan itu Papi kelola dengan Aditama sebagai CEO nya... " Zach menjeda penuturannya, ia menyesap kopi yang sudah dingin dimejanya.


"Semua keuntungannya masuk kerekening Uncle mu, dan beberapa waktu lalu setelah Kevlar lulus kuliah bisnisnya, Sam menyuruh anaknya itu untuk menjadi CEO disana. Disaat yang sama, Aditama mengundurkan diri karena mendapat tawaran yang lebih baik dari stasiun TV sebelah" tambah Papi Zach panjang lebar.


(Kalau bingung, baca dulu Cinta Tanpa Syarat ya, 😁)


"Tapi sekarang dia mengincar istri aku, Pi!" erang King frustasi dengan menyugar rambut.


"Cieee... Yang udah punya istri!" goda Papi Zach.


"Piiii... Aku serius ini!"


Zach tergelak,


"King... Kamu seorang suami, kepala rumah tangga dan kamu berhak atas istri kamu. Pilihannya cuma dua, percaya pada istri mu atau menjadi diktator dengan memenjarakannya dari dunia luar!" ucap Zach dengan tegas, kali ini ekspresi wajahnya terlihat serius.


King makin frustasi, ia tidak bisa mengeluh terus seperti pria lemah pada Papinya. Bukan, ia buka pria seperti itu. Ia selalu bisa mencari solusi dalam setiap permasalahan yang terjadi dalam perusahaannya dan King selalu menang.

__ADS_1


Tapi hellooo, yang King hadapi adalah Zeline. Wanita serapuh porselen tapi jelmaan singa yang labil, dalam pendidikannya hingga S2 itu, King belum pernah mempelajari bagaimana menghadapi jenis wanita seperti itu.


__ADS_2