Zeline Dan King

Zeline Dan King
Azalea


__ADS_3

Pagi itu setelah King pergi kekantor, Azalea datang berkunjung dengan maksud ingin membantu kaka iparnya mempersiapkan pesta pernikahan untuk besok tapi apa daya gelar Nona Besar yang disandangnya membuat Azalea hanya bisa membantu kaka iparnya dengan doa.


"Ka... Gimana rasanya nikah?" celetuk Azalea yang sedang memainkan handphonenya dengan tubuh tengkurap diranjang dikamar Zeline.


"Ga bebas, apa-apa harus ijin, apa-apa harus nurut sama suami, ga enak lah pokoknya..., " tukas Zeline dari meja rias, gadis itu sedang memakai kutek yang diciptakan seseorang religius asal Polandia yang bernama Wojciech Inglot.


Azalea membalikan tubuhnya


"Seriusan kamu, Ka!" tanyanya lagi dengan mengangkat satu alisnya.


Menghembuskan nafas, Zeline beranjak dari kursi meja rias dan merebahkan tubuh disamping Azalea dengan posisi terlentang sambil meniup-niup kuku-kukunya.


"Bukannya enak ya?" celetuk Azalea lagi


"Kamu mah mikir yang begituannya aja" Zeline menyolek pipi Azalea.


Walau mereka seumur tapi ia merasa seperti mempunyai adik perempuan, keduanya pun sudah tidak segan berbagi cerita karena sikap Azalea yang humble.


Azalea terkekeh.


"Eh Ka, kemarin aku ikut Ka Ken loh ke London abis dari Aussie itu... Aku ada temen disana yang ngajakin bisnis"


"Trus?"


"Kayanya aku suka deh sama Kakak kamu, Ka! Dia tuh ganteng banget ya, trus pinter udah gitu sukses lagi... Aaaah... Jadi pengen nikah sama dia!" Tutur Azalea dengan mata berbinar


"Paan sih kamu, itu kan Kaka aku! Ntar gimana jadinya, aku nikah sama kaka kamu trus kamu malah nikah sama kaka aku, ngaco ah kamu!" seru Zeline, entah kenapa ia tidak suka. Bukan karena Azalea tidak pantas menjadi istri Kakaknya, tapi bagaimana rumitnya nanti silsilah keluarga mereka.


"Kamu kan nikah sama Abang King cuma sandiwara Ka, karena keadaan yang menuntut kalian harus menikah, benerkan? Dan kalian juga ga saling mencintai kan? Kapan aja kalian bisa cerai, jadi maksud aku... Sekarang aku pendekatan dulu nih sama Ka Ken, setelah kalian cerai baru deh aku nikah sama Ka Ken! Gimana ide aku? Kamu mau kan bantuin aku, Ka?" Zeline menopang dagu dengan kedua telapak tangannya, mata bulat itu berbinar menunggu persetujuan dari Kakak iparnya.


Zeline menggigit bibirnya, keningnya berkerut mengguratkan ekspresi tidak terima.


"Ka Ken udah punya pacar!" ucap Zeline tanpa melihat Azalea, ia bangun dari ranjang dan keluar dari kamar berjalan tak tentu arah.


Perasaannya begitu kesal setelah mendengar pengakuan adik iparnya yang menyukai Ken, apalagi prediksinya dimasa depan tentang perceraiannya dengan King yang belum tentu terjadi.


Sepertinya ia membutuhkan air dingin untuk mendinginkan hatinya yang panas. Zeline membuka kulkas dan menuangkan air dingin ke gelas, ia meneguknya dengan cepat hingga air dalam gelas itu tandas tak bersisa.


Ting... Tong...


Bel apartemen berbunyi


Ceklek...


"Mama... Mami... Kalian janjian?" telunjuk Zelina bergerak bergantian kearah Mama Rena dan Mami Azuri, heran melihat dua wanita kesayangannya yang masih saja cantik diusianya yang tak lagi muda tiba berbarengan di apartemennya.


"Iya..." saut Mama Rena


"Ngga..." jawab Mami Azuri


Secara bersamaan, keduanya pun saling pandang kemudian menutup mulut dengan telapak tangan sambil tertawa


Zeline mundur tiga langkah, membuka pintu lebar-lebar karena Mami dan Mamanya merangsak masuk dengan berbarengan.

__ADS_1


"Semua sudah siap ya sayang... Nanti sore baju pengantin akan diantar juga tuxedo punya King" ucap Mami Azuri sambil mendudukan bokongnya di sofa


"Mending sekarang kamu spa deh ya, biar besok tampil kinclong" Mama Rena masih berdiri mengelus rambut anaknya.


"Mamaaaa...." Azalea keluar dari kamar langsung berhamburan memeluk Mama Rena, yang dibalas dengan pelukan hangat oleh Mama Rena.


"Heh... Heh... Mami kamu tuh disini... " Mami Azuri meunjuk hidungnya sendiri dengan sewotnya.


"Miii... Di rumah kan kita sering ketemu, kalau sama Mama Rena kan jarang, ya kan Ma?" Azalea bergelayut manja dilengan Mama Rena.


Mama Rena terkekeh melihat kelakuan manja Azalea, bahkan Zeline pun tak semanja itu padanya. Ya jelas Azalea seperti itu karena ia memiliki maksud tertentu.


Zeline melipat tangannya di dada dengan wajah ditekuk, tubuhnya setengah tersandar di dinding.


"Ck... Mulai deh cari muka**" batin Zeline kesal


Setelah Zeline bersiap, mereka berempat pun pergi ke spa langganan Mami Azuri.


Matahari sudah menampilkan warna jingganya, tanda bahwa akan pamit dan digantikan dengan sang rembulan.


Mama Rena sudah terlebih dahulu pulang diantar oleh Mami Azuri dan Azalea, tinggal ia sendiri di loby menunggu King menjemputnya.


Entah kenapa rasa kesal masih belum hilang dari hatinya, apalagi melihat kemesraan Azalea dengan Mama Rena yang seolah ingin menyingkirkannya.


Ada apa ini sebenarnya? Kenapa adik iparnya jadi mencintai Kaka kandungnya sendiri?


Zeline menggeleng-gelengkan kepala, memikirkan berbagai hal buruk yang sempat singgah dikepalanya. Mengingat Azalea adalah gadis yang ambisius percis Mami Azuri dan Papi Zach, gadis itu akan melakukan cara apa pun agar keinginannya terwujud, tapi semoga saja tidak seperti Jenifer yang melakukan jalan pintas dengan cara kotor.


"Udah selesai?" ucapnya lembut.


Zeline menganggukan kepala dengan wajah ditekuk


"Mama sama Mami udah pulang?"


"Udah..." saut Zeline kemudian berdiri dan berjalan menuju pintu loby meninggalkan King.


Dahi King mengernyit dalam, ia datang menjemput istrinya tapi istrinya itu malah meninggalkannya maka ia memutar tubuhnya berjalan setengah berlari menyusul Zeline.


"Mau kemana?" King meraih tangan Zeline hingga membuat gadis itu menghentikan langkahnya.


Zeline berbalik


"Pulang..." jawabnya malas


"Mobilnya disana" King menunjuk mobil yang ia parkir di bagian kiri gedung


"Bukan disana" lalu menunjuk kesebelah kanan gedung yang menjadi arah tujuan gadis itu.


"Ooo... " saut Zeline datar kemudian berjalan menuju mobil suaminya terparkir


"Kenapa lagi sih? Perasaan tadi pagi masih sayang-sayangan!" gumam pria tampan itu.


Selama dalam perjalanan keduanya terdiam dengan pikirannya masing-masing.

__ADS_1


Zeline kembali mengingat perkataan Azalea tadi siang, ia bimbang antara mengatakan perihal ini pada suaminya atau tidak, atau mungkin juga pria itu sudah mengetahui Azalea yang mencintai Ken mengingat Azalea adalah adiknya.


"Pantas saja Azalea seenaknya bilang aku dan King akan bercerai, mungkin dia udah curhat-curhat sama adiknya mau cerain aku... Brengsek!!" batin Zeline kesal.


Zeline menghembuskan nafas kasar sambil melipat tangan didada dan sempat mengambil alih perhatian King.


"Kamu kenapa?" tanya pria itu lembut sambil mengelus rambut Zeline, gadis itu menjauhkan kepalanya dari tangan King dengan wajah ditekuk.


Kali ini King menghembuskan nafas kasar.


"Aku salah apa sama kamu? Suami pulang kerja tuh harusnya dikasih senyum bukan malah dicemberutin, baby!"


Zeline mengalihkan pandangannya pada suaminya yang fokus menyetir, dahi gadis itu berkerut masih dengan wajah memberengut.


"Kamu mau ceraiin aku kapan?" Gadis itu berujar dengan ketus.


King menginjak pedal remnya dalam hingga keduanya sedikit terdorong kedepan dari kursi, untung mobil yang mereka tumpangi sudah masuk pelataran parkir dan hari sudah malam sehingga saat itu tidak ada mobil dibelakang mobil sport yang mereka tumpangi, dan drama rem mendadak itu tidak menimbulkan korban.


"Kamu ngomong apa sih? Pesta pernikahan kita itu baru besok dan sekarang kamu udah nanya kapan kita cerai? Maksud kamu apa? Hah!" Emosi pria itu sudah tidak bisa dibendung sepertinya, bukan sifat King mengalah dan memanjakan seseorang bahkan adiknya sendiri pun adalah wanita mandiri.


Zeline sempat terhenyak, mengigit bibir dengan dahi mengernyit menyesali perkataannya.


King menginjak pedal gasnya kembali, dengan kasar ia mengemudikan mobilnya hingga depan loby kemudian turun dan melempar kunci pada petugas valet tanpa menghiraukan Zeline.


Dengan jantung yang masih berdebar kencang, gadis itu turun dari mobil perlahan, ia tak ingin satu lift dengan pria kasar itu. Padahal Zeline sudah sangat pelan melangkahkan kakinya tapi sepertinya keberuntungan tidak berpihak padanya, ia berdiri dibelakang King yang sedang menunggu pintu lift terbuka.


Ting...


Tanda bahwa lift siap mengantar keduanya ke lantai yang menjadi tujuan mereka, lift tersebut kosong hanya mereka berdua di dalam.


Zeline menyandar di sisi kanan lift dan King berdiri tegap disisi kiri lift, keduanya sedang enggan berdekatan bahkan mungkin enggan menghirup udara yang sama.


Didalam kamar, King membuka jas dan kemejanya dengan kasar lalu masuk kekamar mandi untuk membersihkan diri.


Zeline mengganti pakaiannya dengan piyama dan masuk kedalam selimut, ia harus tidur cepat agar besok kantung mata tidak terlihat.


Setelah beberapa menit dikamar mandi, King keluar dengan handuk terlilit dipinggang ia berjalan santai menuju walk in closet sambil melirik Zeline yang yang sudah terbaring di ranjang dengan balutan selimut, setelah memakai pakaian nyaman untuk tidur, pria itu mematikan lampu lalu keluar kamar yang sebelumnya menutup pintu dengan pelan tak ingin membangunkan Zeline.


King masuk kekamar sebelah dan merebahkan tubuh dikasur King size disana, ia melipat tangannya menyangga kepala. Tatapan mata menerawang ke langit-langit kamar, pekerjaan yang sangat melelahkan ditambah seorang istri yang merepotkan dengan mood yang berubah-berubah. Ini bukan kehidupan yang ia impikan, sama sekali bukan.


"Mungkin dalam sejarah klan Alterio, hanya aku yang bercerai nantinya, tapi nanti setelah kesabaran ku benar-benar habis!" batin King dengan perasaan kesalnya.


Ia pun berusaha memejamkan mata, mengistirahatkan tubuh dan pikirannya.


Sedangkan Zeline dikamar sebelah merasa kehilangan, ia tidak bisa mengenali pikiran juga perasaannya.


Ia tidak mau mencintai King, dibangunnya tembok yang lebih tinggi dari tembok yang terkenal di tiongkok itu di hatinya tapi ia seperti tak mau kehilangan pria itu.


Mulutnya bertolak belakang dengan hatinya, berkali-kali menghinakan King dengan mulutnya, mengucapkan tidak ingin bersama tapi perasaannya tidak seperti itu. Bahkan saat ini saja, gadis itu ingin dirayu oleh pria itu dan tidur dalam pelukannya.


Zeline turun dari ranjang, mencari obat tidur yang dulu sesekali ia konsumsi saat pekerjaannya padat.


Meminum dua tablet obat tersebut karena dia yakin malam ini ia tidak akan bisa tidur mengingat pikiran dan hatinya sudah King ambil alih.

__ADS_1


__ADS_2