Zeline Dan King

Zeline Dan King
Malam Pengantin


__ADS_3

"Ma... Apa perlu kita sabotase malam pengantinnya Zeline?" Papa Andra tiba-tiba berujar saat keluar dari kamar mandi, pria yang masih tampan diusianya yang sudah tidak lagi muda itu mengeringkan rambutnya dengan handuk.


"Maksud Papa?" Mama Rena mengernyitkan dahi, menatap sekilas suaminya lalu kembali mematuti layar handphone sambil menyandarkan tubuh di kepala ranjang.


"Kaya waktu malam pengantin kita dulu, ga di kasih baju cuma gaun tidur seksi buat Mama aja..., " Papa Andra mengulum senyum mengingat malam pengantinnya dulu dengan Mama Rena. (Masih inget Novel Cerita Cinderela Versi Aku?)


"Aaaa..., yang Mama semaleman tidur disofa itu?" sindir Mama Rena, pura-pura berpikir dengan mengetukan jarinya di dagu.


"Yaaaa, sapa suruh Mama tidur sofa?" Papa Andra melirik Mama Rena yang sedang terlihat pura-pura kesal.


"Abis Papa ga pake baju, kan Mama geli!!" sanggah Mama Rena seraya mengerucutkan bibirnya.


Papa Andra terkekeh...


"Jangan-jangan anak kita tidur disofa juga, Ma?"


"Nggaaaa, tenang aja... Mami Azuri udah nyuruh pihak hotel ga kasih sofa dikamar pengantin anak kita"


"Hah? Gila juga idenya... Gimana kalau anak kita malah tidur dilantai, Zeline kan keras kepala, Ma?"


Mama Rena mengendikan bahu


"Apa mau kita suruh Zeline tidur disini ajaa?" goda Mama Rena.


"Yaaa jangaan donk, entar kita ga bisa honeymoon" Papa Andra kini duduk dibibir ranjang disamping istrinya.


"Pa... Anak kita yang menikah kenapa kita yang honeymoon?" Mama Rena mengernyitkan dahi.


"Kan terbawa suasan, Ma..." Papa Andra menarik tangan Mama Rena dan membawanya dalam pelukan.


Disaat yang sama.


"Zeline!!" panggil King dengan geram seraya menggedor-gedor pintu kamar mandi karena sudah beberapa jam istrinya itu didalam sana.


Zeline menangis tertahan membayangkan malam pertamanya dengan pria yang ia tidak cintai. Gadis itu tertunduk dilantai dengan memeluk kedua lututnya.


"Baby...," King mulai melembutkan suaranya.


Zeline mendongak "Apa aku ga salah denger?" gumamnya.


Ceklek...


Zeline keluar dengan mata sembab, rambut berantakan dan make up yang luntur, baju pengantin pun masih ia kenakan.


King menatapnya dengan bingung, kemudian terkekeh.


"Kenapa?" tanya pria itu lembut.


Zeline hanya menunduk sambil meremat jemarinya.


Tidak mendapatkan jawaban, King menghela nafas lalu melewati Zeline yang masih mematung didepan kamar mandi kemudian masuk kedalamnya dan menyalakan shower.


Zeline sempat tertegun, padahal ia sudah berusaha membuat pria itu kesal agar meninggalkannya malam ini tapi King malah santai menanggapinya.


Gadis itu berlari menuju kaca besar disudut ruangan, kemudian membekap mulut agar King tak mendengar tawanya.


Wajah pucatnya terlihat mengerikan tapi gadis itu malah tertawa, rambut berantakan, maskara yang meleleh hingga pipinya, eyeshadow dan lipstik yang sudah tidak pada tempatnya.


Zeline mirip dengan hantu pengantin difilm-film horor.


"Syok kali dia liat aku mirip setan gini!" Zeline masih menahan tawanya sambil memegang perut yang sudah mulai keram.


Setelah puas tertawa, gadis itu menghapus makeupnya dengan tissue basah yang memang diperuntukan menghapus makeup.


Setelah wajahnya bersih ia pun mengganti gaun yang dikenakan dengan piyama lengan panjang yang sudah disiapkannya.


Ia tak ingin memberi alasan kepada King untuk membangkitkan hasrat pria itu.


Memiringkan kepala kekiri dan kekanan lalu memukul pundaknya perlahan, mengusir rasa pegal ditubuhnya.


Kaki jenjangnya melangkah menuju ranjang berukuran besar dikamar itu dan masuk kedalam selimut.


Suara shower masih terdengar, entah apa yang dilakukan King berlama-lama di dalam sana pikir Zeline.


Matanya mulai menutup karena deraan rasa lelah ditubuh semakin menjadi ketika merasakan nyaman ranjang dengan bantal berbahan bulu angsa tersebut.


Ceklek...

__ADS_1


Suara pintu kamar mandi yang terbuka tidak membuat gadis itu lantas membuka mata dan kewaspadaan sudah meninggalkan kesadaran.


Hingga akhirnya ia merasakan sentuhan dingin di perut dan punggungn juga benda kenyal nan lembab yang menggelitik leher membuatnya menggeliat dan mendesah.


Seketika kesadarannya mengambil alih.


"Kiiiiiing!!!" teriaknya seraya mendorong wajah pria itu dan beringsut ke ujung ranjang.


"Apa yang kamu lakukan, hah?" teriaknya lagi dengan mata melotot.


King malah menampilkan senyum smirk dan menatap kearah Zeline lebih tepatnya kebagian dada.


Zeline mengernyitkan dahi lalu melihat kearah dada yang ternyata kancing piyamanya sudah tercerai berai, ia pun langsung menutupnya dengan menyilang kedua tangan di dada.


King menarik kaki Zeline hingga gadis itu terlentang dan tegeser lebih ketengah ranjang. Pria itu mengungkungnya dengan tubuhnya yang kekar.


"Kiiiing.... mau ngapain?" Zeline mulai terisak.


"Ya ngapain lagi kalau bukan melakukan hal yang seharusnya pengantin baru lakukan di malam pertamanya!" ucapnya santai.


"Tapi aku belum siap King, jangan sekarang ya... Please, jangan sekarang..." Zeline melirih.


"Tapi aku udah siap Zeline, udah siap lahir bathin malah... Sekarang aja ya?" King menunduk mulai menyusuri leher Zeline tapi lagi kedua tangan Zeline menahannya.


"Tapi aku belum siap King, setiap acting aku baru diajarin ciuman doank belum sampe ML!" Zeline mulai meracau mencoba mengulur waktu.


King sempat tertegun menatap gadis dibawahnya.


"Kita kan cuma akting King, pernikahan kita sandiwara doank kan?" imbuhnya dengan wajah polos.


"Ya udah aku ajarin gimana caranya berakting ML!" ucapnya lagi kembali menundukan kepala mulai mencumbu kembali.


"Kiiing... Aku bilang jangan sekarang! Kasih aku wak... tu... Euungh!!" Zeline masih meronta dengan brutal.


King merasa frustasi, ia pun bangkit dan melepas kungkungannya, terduduk dipinggir ranjang lalu menyugar rambutnya dengan geram.


"Pake baju dulu gih, masuk angin entar..., " ucap gadis itu tanpa dosa sambil mengancingkan piyamanya.


Masih dengan degub jantung yang memburu bukan karena berhasrat tapi karena kesal, ia pun mengambil baju di dalam lemari dan memakainya didepan Zeline.


Gadis itu membuang tatapannya ke segala arah dengan merona karena tak sengaja melihat sesuatu yang dibanggakan suaminya itu.


"Ngga lah... Kamu istri aku, istri durhaka!" umpatnya.


Zeline menelan salivanya dengan susah payah.


"Aku mau ijin!" ujar pria itu yang kini sudah berdiri disamping ranjang.


Zeline mengalihkan pandangannya menatap pria itu.


"Ijin apa?" tanyanya


"Ijin tidur sama perempuan lain!" ketus King dengan alis menaut.


Zeline menatap bola mata abu itu, berharap suaminya hanya bercanda tak benar-benar mengatakannya.


"Kamu diem berarti Iya" ucapnya lagi sambil berlalu.


"King..., " panggil Zeline


Membuat tangan kekar itu berhenti memutar knop pintu tapi King tidak membalikan tubuh karena bibirnya sudah menyunggingkan senyum. Ia yakin sebentar lagi gadis itu memintanya untuk tinggal dan melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan.


"Jangan sampai ketauan ya..., " ucap Zeline lirih, bahkan suaranya menyiratkan kekecewaan.


Senyum King berubah berganti dengan aura kelam, ia memejamkan mata sekilas menahan emosi dengan rahang mengetat. Entahlah ia emosi karena apa? pria itu sendiri pun bingung, padahal ia tau gadis itu tak mencintainya, apa yang ia harapkan?


King melanjutkan niatnya kembali, membuka pintu dan membantingnya kencang hingga gadis yang berada diatas ranjang itu terlonjak kaget.


"Astaga!! King Kong!" umpatnya kesal


*Bar Hotel


"King?" panggil Uncle Janson.


"Uncle?" King merasa salah tingkah kepergok Unclenya sedang menegak minuman kerasa dengan ditemani wanita sexy disebelahnya pada malam pengantin.


"Pergilah... Ini untuk mu!" Uncle Bianco, sahabat Papi Zach yang datang bersamaan dengan Uncle Janson memberikan beberapa lembar uang kepada wanita itu.

__ADS_1


Cup. Wanita itu mencium pipi King sekilas.


"Call me" ucap nya tanpa suara dengan menggoyangkan jari kelingking dan jempolnya di dekat telinga dengan gestur meminta pria itu menghubunginya sambil berlalu.


King tak menghiraukan kode dari wanita itu, malah berdecak dengan membuang mukanya.


Uncle Janson yang merupakan adik tiri Papi Zach itu duduk disamping kirinya dengan Uncle Bianco duduk disamping kanannya.


Keduanya merangkulkan tangan di pundak keponakan yang selalu mereka manjakan.


"Tragis hidup mu, King!!" sindir Uncle Janson.


"Paan sie, Uncle!" King melepaskan rangkulan kedua Unclenya dengan wajah tak bersahabat.


Kedua Unclenya terkekeh...


Sebelumnya memang Papi Zach sudah memberitahukan hubungan King dan Zeline mengapa anak muda itu segera dinikahkan.


"Aku heran, kenapa kalian titisan Matthew Alterio yang terkenal memiliki banyak istri bahkan sangat kesulitan mendapatkan satu wanita... Bukannya kamu seorang Cassanova, King?" sindir Uncle Bianco itu terkekeh.


King mendecak!


"Dia doank yang nolak aku, yang lainnya memohon-mohon untuk aku puaskan!" King menyombongkan dirinya.


"Kenapa kamu sefrustasi ini? Memangnya kamu mencintainya?" pancing Uncle Janson sambil meneguk gelas berisi wine dimeja.


"Entahlah... Aku cuma minta hak aku doank ko, tapi dia malah nangis dan meronta-ronta, cih! Emang dia pikir dia siapa? Aku bisa cari penggantinya malam ini juga!" ancam pria itu gusar


"Jatuh cinta itu namanya, King!" celetuk Uncle Janson sembari meniupkan asap rokok ke udara.


"Sebrengsek-brengseknya Uncle dan Papi kamu, kita tidak pernah tidur dengan wanita lain setelah menika, King! Kamu berusahalah merebut hati dan kepercayaannya..., perlakukan dia seperti seorang Tuan Putri...." tutur Uncle Janson memberi saran.


"Buncin donk aku nantinya!" King mencebik.


"Apa tuh, Bucin?" Uncle Bianco mengernyitkan dahinya.


"Budak Cinta, Uncleee" ucapnya memanjangkan panggilan Unclenya.


"Hah? Budak Cinta?" kening Bianco makin terlipat dalam.


"Iyaaa, kaya Uncle sama Onty Valeri, mantannya Papi! Mauuu aja disuruh-suruh anter sana anter sini pake privat Jet, 24 hours selalu tersedia untuk Onty Valery, udah kaya McD aja Uncle tuh!" seloroh King membalas sindiran Unclenya.


Uncle Janson tergelak hingga tersedak wine yang baru saja ia minum.


Uncle Bianco menggelengkan kepala sambil mengulum senyum tersipu.


"Mending sekarang kamu kembali ke kamar, peluk istri kamu kalau dia meronta bilang aja kamu cuma mau tidur meluk dia, ga akan ngapa-ngapain. Kamu sabar aja dulu King.... Santai aja, masih banyak waktu yang penting hargai dulu kehendaknya!" tutur Uncle Bianco bijak.


King membuang nafas kasar..


"Ya udah aku balik ke kamar...," King beranjak dari sofa yang setengah melingkari meja bundar tersebut dengan langkah gontai menyeret kakinya menuju kamar.


Sedangkan Zeline setelah ditinggal King dengan ijin yang akan bersama wanita lain, ia terlihat gusar dan gundah gulana.


Rasa kantuk dan lelahnya kini berubah menjadi cafein yang malah membuatnya sulit terpejam. Dibalikannya tubuh ramping itu kekiri dan kekanan, lampu sudah padam hanya cahaya lampu dari balkon saja yang berbagi sinarnya didalam kamar tersebut.


Zeline menendang kakinya kesal hingga selimutnya jatuh berantakan.


"Aaaaarrrrggghhhhh.... aku kenapa sih ini? Mau tidur aja susah banget dah!" geramnya frustasi sambil mengacak-ngacak rambutnya.


Ia pun beranjak duduk, kemudian melipat lutut dan memeluknya. Kepala ia benamkan diantara lutut kemudian kembali mendongak meniup poni yang menghalangi wajahnya.


"Fiuh... Fiuh... "


"Lagi ngapain ya si King Kong? Lagi ah uh kayanya sama cewe lain, brengsek! Brengsek! Emang playboy cap kampak, kamu tuh King Kong!!!" teriak nya sambil memukul-mukul bantal dengan tinjunya.


Klik!


Terdengar suara Keycard di tap kemudian pintu terbuka.


Zeline langsung membaringkan tubuh pura-pura tertidur.


King membuka jaket kulitnya dan melemparnya sembarang, pria itu memutari ranjang untuk memungut selimut yang Zeline tendang dan menyelimuti tubuh istrinya itu.


"Euh..., " Zeline mengerjap tidak percaya setelah King kembali memutari ranjang dan membuka kaosnya hingga terpampang lah otot di dada dan perutnya, mengganti celana jeans dengan celana tidur kemudian merebahkan tubuhnya disamping gadis itu.


Tanpa berkata apa pun pria itu memeluk istrinya yang sedang tertidur memunggunginya dari luar selimut.

__ADS_1


Zeline membuka matanya, perasaannya mulai tenang dan tidak menolak pelukan hangat tersebut.


Setelah terdengar suara nafas King yang mulai teratur walaupun ia merasa sedikit meremang karena sebagian nafas itu menyentuh tengkuknya, tapi sepertinya ia sudah bisa menutup mata karena lelah dan kantuk itu tiba-tiba datang kembali bersamaan dengan hatinya yang menghangat.


__ADS_2