
Beberapa hari berlalu dan Zeline sudah bisa kembali ke rumah, bahkan King menghubungi Kevlar agar memberikan job untuk Zeline.
King ingin istrinya itu hidup kembali seperti dulu, karena berada didunia entertainment memang kebahagian Zeline.
Tapi Zeline masih menutup diri, ia kini merasa enggan menjadi pemberitaan.
Mungkin masih terlalu banyak trauma yang harus dilupakannya.
Wanita yang awalnya haus dengan popularitas itu kini malah tidak merasa nyaman dengan popularitas tersebut dan lebih tertutup.
Akun media sosialnya pun sudah tidak tersentuh, Zeline tidak peduli.
Ia ingin menjadi seperti Mama Rena menjadi Ibu rumah tangga seutuhnya sepertinya hidupnya akan damai.
Selama ini Zeline tidak pernah melihat Mama Rena stress, marah-marah atau harus bertemu psikiater seperti dirinya.
Zeline ingin menjadi manusia normal, menjadi istri dan ibu dari anak-anaknya kelak.
Berbicara soal anak, walau kini anak yang ada didalam kandungannya belum terdeteksi siapa ayahnya tapi Zeline sudah sangat menyayanginya begitu pula dengan King.
Tengah malam sang suami hingga rela pergi membeli nasi goreng dari warung pinggir jalan menggunakan motor karena tempatnya yang selalu dipadati pengunjung dan sulit mencari parkir.
Dan Zeline hanya ingin makan nasi goreng dari tempat itu.
Atau dini hari King harus kepasar mencari gado-gado karena Zeline hanya ingin King yang membelikannya.
Tapi King yg dulu merupakan pria egois, tidak sabaran, kasar dan playboy cap kampak itu dengan sabar tingkat dewa mau saja menuruti keinginan Zeline.
Jangan lupakan kalau King adalah Presdir di perusahaan yang dirintisnya sendiri dan ia juga adalah cucu dari Matthew Alterio, pengusaha sukses yang masuk kedalam lima besar orang terkaya didunia dan anak dari Zachery Alterio pengusaha sukses yang terkenal hingga Asia tenggara dan Australia.
Tapi dimata Zeline, King Edzard Alterio adalah suami siap tanggap yang selalu sabar menghadapi hormon ibu hamil yang sedang Zeline alami.
Zeline tertawa saat King hampir tertidur di meja makan dengan tangan yang menopang rahang tegasnya.
Pria tampan itu keukeuh ingin menemani Zeline makan ice cream yang baru saja ia beli di minimarket 24 jam karena sekarang sudah jam 1 dini hari.
pria itu mengerjap beberapa kali kemudian melipat tangannya dan membenamkan wajahnya disana.
Setelah menghabiskan satu pot ice cream, Zeline mengusap kepala King kemudian menciumnya.
"Sayang... Pindah yu ke kamar!" suara lembut itu membangunkan King, bergegas pria itu bangun dan melesat menuju kamar.
Saat sudah ditengah-tengah tangga, King membalikan tubuh ternyata Zeline masih tertinggal jauh karena satu kakinya belum berfungsi dengan baik pasca operasi maka ia kembali turun menghampiri Zeline.
Zeline memekik saat merasakan tubuhnya melayang karena King sedang menggendongnya ala bridal style.
King tersenyum lalu memberikan ciuman disetiap jengkal wajah sang istri sambil menggendongnya ke lantai dua.
King merebahkan Zeline perlahan ditempat tidur kemudian ikut merebahkan diri disamping sang istri lalu membawanya kedalam dekapan hingga pagi menjelang.
Setiap pagi seperti hari-hari seblumnya Zeline didera morningsick yang parah hingga King sering terlambat kekantor hanya untuk menemani Zeline memuaskan rasa ingin muntahnya.
__ADS_1
"Kiiing....hoek....!" rengek Zeline disela mualnya.
"Yes, baby... Sabar ya, kata dokter hanya sampai 12 minggu... " dengan suara lembut King berujar sambil memijat tengkuk Zeline.
Setelah dirasa Zeline cukup puas mengeluarkan isi perutnya, King menggendong Zeline kembali ke ranjang.
"Kemeja kamu kena muntahan, Maaf... " Zeline memelas lemah.
"Ga apa-apa, aku bisa ganti baju lagi... " balas pria itu sambil mengusap kepala Zeline kemudian menghadiahkan kecupan dikening sang istri.
King beranjak menuju walk in closet untuk mengganti kemeja yang terkena muntahan Zeline.
Tanpa merasa jijik pria itu dengan santai dan seperti sudah biasa melihat muntahan istrinya.
"Baby... Aku pergi ya, kabari aku kalau butuh sesuatu!" pamit King kepada Zeline.
"Sayaaang.... Ga usah ngantor ya hari ini, aku pengen dipeluk...!" rengek sang istri yang terlihat menggemaskan.
Bibir King melengkungkan senyum sambil berpikir keras bagaimana cara mengkloning dirinya agar menjadi dua, pasalnya perusahaannya membutuhkannya begitu pula Zeline.
Sering bolos saat rapat sepertinya bukan hal yang baik untuk keberlangsungan perusahaannya.
"Oke... " akhirnya King merangkak naik keatas ranjang kemudian memeluk Zelinenya penuh kasih sayang.
Satu tangannya tidak berhenti bekerja mengetikan perintah untuk elgi di ponselnya, ia akan datang kekantor walau terlambat setelah sang istri tertidur lelap.
Untungnya pagi ini tidak ada schedule rapat penting dan untuk sementara Elgi bisa menggantikan dirinya mengerjakan pekerjaan kantor.
Zeline yang masih merasakan mual, mendapatkan sensasi hangat dan pijatan lembut di perutnya dari tangan King ternyata bisa menggantikan rasa mual tadi.
Perlahan nafas Zeline teratur, tanda kesadarannya sudah memasuki alam mimpi.
"Semoga kamu anak Daddy... " King melirih kepada janin yang ada dalam perut Zeline, tangannya masih setia mengusap perut rata itu.
Setelah Zeline benar-benar tertidur, King perlahan bergerak menuruni ranjang kemudian keluar dari kamar.
Pria itu harus mengejar waktu menuju kantor, mengerjakan apa yang sudah menjadi tanggung jawabnya.
*****
Waktu seminggu yang dijanjikan untuk mengetahui hasil test DNA terasa begitu lama tapi Zeline dan King dengan sabar menunggu.
Kedua orang tua Zeline dan King tidak mengetahui perihal tes DNA tersebut, bahkan sang Paman yang menjadi Direktur rumah sakit dimana Zwline melakukan tes, luput dari berita ini.
King cukup cerdik untuk membayar orang dalam melakukan test DNA tanpa sepengetahuan pihak rumah sakit, hanya Anin dan Joe juga Elgi yang mengetahuinya.
Biarlah ini menjadi rahasia mereka dan akan mereka simpan hingga ke liang kubur.
Seperti kawin kontrak yang mengawali kisah cinta Mama Rena dan Papa Andra yang tidak seperti dalam drama-drama korea yang menjadi konflik karena rahasia itu terbongkar.
Mama Rena dan Papa Andra bisa menyimpannya hingga tak satupun yang mengetahui bahkan kedua anaknya sekaLipun
__ADS_1
Dan kalaupun sejarah harus terulang, semoga bisa sesempurna yang dilakukan Mama Rena dan Papa Andra.
Hari ini adalah hari yang paling ditunggu oleh King dan Zeline, berkali-kali King menenangkan Zeline atau mungkin itu berlaku untuk dirinya sendiri juga.
"Baby... Percaya sama aku, apapun hasilnya... Kita akan bahagia! Jangan biarkan orang lain merampas kebahagiaan kita... " tutur pria itu lembut.
Walau yang dikatakan King memang manis, tapi kenyataan kadang begitu pahit.
Keduanya pergi bersama menuju rumah sakit, selama perjalanan pria itu menggenggam tangan Zeline bahkan membawanya saat harus memindahkan perseneling.
Zeline memang terlihat gugup, bahkan wajahnya sudah pucat pasi.
Setelah King memarkirkan kendaraannya, mereka berdua berjalan beriringan masuk kedalam gedung rumah sakit milik Papi Zach.
Maksud kedatangan mereka untuk mengetahui hasil tes DNA, tercover oleh alasan Zeline yang datang untuk kontrol kandungannya.
Seseorang berjas putih menemui King dan Zeline diruang rapat rumah sakit tersebut.
Mereka tidak membutuhkan sample DNA Reka karena King saja sudah cukup, bila sample yang diambil dari janin dalam perut Zeline tidak cocok dengan King sudah dipastikan janin yang ada didalam kandungannya adalah anak Reka.
Mengingat hal itu kepala Zeline mendadak pusing, dan kembali didera rasa ingin muntah.
Padahal pagi tadi hingga lemas tubuhnya mengeluarkan banyak cairan.
Pria berkaca mata tadi menyerahkan amplop berwarna putih dengan logo rumah sakit tersebut disudutnya.
Dengan tidak sabar King mengeluarkan kertas dari dalam amplop tapi tangan Zeline menahan dengan wajah memelas.
Ga apa-apa... Sebentar lagi kita akan tau, anak siapapun itu aku tetap menyayangi mu dan anak itu... " King berucap dengan nada rendah dan sorot mata hangat.
Sang pria berjas putih masih berdiri disana, menatap keduanya penuh haru karena ia tau betul hasil dari tes tersebut.
Jantung Zeline berdetak kencang saat perlahan King mengeluarkan kertas putih dari amplop tersebut.
Zeline hanya menatap King tanpa mau membaca isi dari kertas yang di pegang suaminya.
Dengan seksama King membaca kata demi kata yang ada dalam kertas putih tersebut seperti gerakan slow motion hingga akhirnya pria itu mendongak menatap Zeline dengan mata melebar sempurna.
Tenggorokan Zeline tercekat, ia takut apa yang dibayangkannya selama ini akan terjadi melihat ekspresi tak terbaca dari King.
Pria itu memegang kedua lengan Zeline kemudian menggoyangkannnya cukup kencang, terlihat matanya sudah memerah dan mengalir satu buliran bening dari sudut matanya.
Pria itu menangis....
King Edzard Alterio menangis...
Bahkan pria itu kini terisak, Zeline tidak mengerti, lidahnya kelu tidak bisa menggerakan bibirnya walau hanya untuk bertanya apa isi dari kertas itu.
Zeline bahkan mematung saat King memeluknya, pria itu masih terisak.
"Anak ku... Itu anak ku... " bisik King ditelinga Zeline dengan nafas tersendat.
__ADS_1