Zeline Dan King

Zeline Dan King
Pengakuan


__ADS_3

"Baby.... " suara bariton sexy dengan lembut memanggil Zeline.


Wanita itu mendongak, "Hem..?"


King khawatir karena semenjak memasuki mobil, Zeline tidak bicara hanya menyandarkan kepala di pundaknya dengan jemari mereka saling bertautan.


"Kamu ga kenapa-napa kan?" tanya King pelan.


Zeline menggelengkan kepala, kemudian satu tangan yang bebas mengusap perutnya.


"Dede bayi pengen kwetiaw!" imbuhnya menirukan suara anak kecil.


King tertawa pelan, "Pak... Cari restoran chinese food ya... " ucap pria itu kepada driver yang mengemudikan mobilnya.


Setelah menganggukan kepala, driver tersebut memutar kemudi memutar arah untuk mencari restoran chinese food yang sesuai dengan pakain yang dikenakan sang Tuan dan Nyonya.


Beberapa menit sesuai arahan dari suara wanita di alat Gps yang terpasang di dasboard mobil akhirnya mereka sampai di restoran tersebut.


King turun terlebih dahulu kemudian membuka pintu untuk sang istri.


Tanpa memesan tempat sebelumnya mereka langsung disambut oleh pemilik tempat tersebut yang merupakan teman sekolah King selama SMA.


"Kemana aje lo, sibuk banget semenjak kawin!" Richard mengendikan dagu kearah Zeline.


"Kan ngikutin elo yang sibuk sama bisnis!" balas King sambil menepuk pelan pundak Richard dan dibalas gelak tawa oleh sang sahabat.


"Silahkan... Silahkan... Ini harus nya buat tamu VIP tapi mereka ga jadi datang karena Neneknya tiba-tiba kena serangan jantung!" tutur Richard kemudian dengan jarinya memberi kode agar pelayan mendekat.


"Gue kebelakang dulu ya...!" pamit Richard karena sedari tadi Manager restoran tersebut membuntutinya dari belakang.


Setelah mendapat anggukan, Richard meninggalkan sahabatnya juga sang istrinya bersama pelayan yang sudah siap menuliskan pesanan mereka.


"Sabar ya sayang... Sebentar lagi, kwetiawnya datang" King mengelus pelan perut Zeline penuh kasih sayang.


"Aku belum ngucapin selamat ya?" pria itu bertanya basa-basi sambil mengulurkan tangannya.


Zeline menipis pelan tangan King dengan meletakannya diatas perutnya.


"Ga penting.... " gumamnya masih terdengar oleh King.

__ADS_1


"Loh, Ko ga penting? Aku bangga banget, hebat banget kan istri aku, jadi pemain wanita terbaik!" ucapnya pongah.


"Kamu suka aku di rumah aja atau jadi aktris?" pertanya yang meluncur cantik dari bibir Zeline merupakan pertanyaan jebakan bagi King.


Bagaimana tidak, karena suatu saat nanti pasti ia yang harus bertanggung jawab pada pilihannya saat ini.


Bila King memilih di rumah saja yang merupakan keinginannya dari hati yang paling dalam, Zeline pasti akan menurut tapi baru beberapa hari di rumah dia pasti akan berulah dengan alasan jenuh dan King akan dibuat pusing setengah mati dengan tingkah ibu dari calon anaknya itu


Tapi kalau King memilih Zelinenya untuk tetap menjadi seorang aktris, jadwal yang padat pasti akan membuat waktu Zeline berkurang untuk keluarga, ia juga akan kelelahan dan tidak akan bernafsu untuk melayaninya diranjang.


Alasan yang terakhir tadi adalah alasan yang paling kuat bagi untuk King menolak istrinya menjadi seorang aktris.


"Aku suka kalau kamu bahagia!" akhirnya kalimat ambigu itu yang bisa King lontarkan.


Zeline terkekeh, ia tadi sempat melihat wajah pucat pasi King dengan kerutan di keningnya.


Pria itu terlihat berpikir hanya untuk menjawab pertanyaan darinya.


Dan jawaban dari hasil berpikir keras tadi hanya sebuah kalimat dengan banyak makna.


Tidak berapa lama makanan pesanan mereka pun datang, dengan lahap Zeline memasukan sendok demi sendok kwetiaw ke mulutnya yang kecil.


"Pelan-pelan, baby... " King mengelap sisa makanan di sudut mulut sang istri.


Kevlar memarkirkan mobilnya menghadap lautan lepas yang tengah dilakukan Reklamasi besar-besaran.


Jeni sudah merasakan sesak didalam dada sejak Zeline mengutarakan kata maaf di panggung tadi, saat Kevlar membawanya kemari pun ia sudah tidak mampu berdebat dan kini ia membuka pintu mobil dan setengah berlari menuju pinggir pantai.


"Aaaaarrrrrggghhhhh...... " teriak Jeni sekuat tenaga.


Beberapa orang yang berada dipinggir pantai sempat menoleh sekilas kemudian kembali melakukan aktifitasnya.


Mungkin mereka sudah terbiasa melihat orang berteriak untuk melepas penat, amarah bahkan stress di bibir pantai sana.


Kevlar menyandarkan sedikit tubuhnya di kap mobil, dengan kedua tangan di masukan kedalam celana pria itu tersenyum miris.


Setelah puas berteriak Jeni berlutut kemudian terdengar isak tangis pilu dan Kevlar tidak bisa diam saja, sebentar lagi orang-orang akan menghampiri Jeni.


Maka dengan langkah panjang Kevlar bergerak ke bibir pantai.

__ADS_1


Benar saja Jenifer sedang menangis, lelaki itu pun duduk disamping Jenifer dengan menekuk kedua lututnya.


Dibelainya rambut panjang Jeni dan gadis itu pun ikut mendudukan bokongnya diatas pasir pantai.


"Sakit... Hati aku sakit, Kev!" Jeni memukul dadanya sambil terisak.


"Lepaskan Jen... Kamu ga bisa melawan takdir!" ucapnya pelan.


Tangis Jeni semakin kencang, ia benar-benar mengeluarkan segala emosinya.


"Reka... Dia penyuka sesama jenis!" ucap Jeni setelah tangisnya mereda.


Kevlar sontak menoleh Jeni yang sedang menatap kosong pantai didepannya.


"Reka ga pernah memperkosa Zeline, semua foto-foto itu hanya rekayasa dan Reka membuat Zeline agar beranggapan seperti itu" imbuhnya lagi, tangannya dengan kasar mengusap buliran bening yang membanjiri pipi.


Kevlar mengalihkan pandangannya kedepan "Hampir aku membunuh adik kamu dipenjara!"


"Secinta itunya kamu sama Zeline hingga berani membunuh seseorang?" tanya Jeni sarkas, ia menaikan satu alisnya sambil menoleh kearah Kevlar.


"Kalau Ken tau, mungkin ia sudah melakukan hal yang sama.... " Kevlar menjeda kalimatnya.


"Tapi aku bersedia melepas Zeline karena dia lebih bahagia bersama King, itu namanya cinta! Dan perasaan kamu sama King, hanya ambisi!" Kevlar menambahkan, katakanlah ia pria paling tidak berperasaan di dunia tapi Jeni harus sadar agar hatinya tidak terluka.


Jeni tercenung mencerna setiap kata yang Kevlar lontarkan, beberapa lama mereka berdua hanya diam memandangi pantai dan berteman dengan angin.


Kevlar membuka jasnya kemudian ia sampirkan di pundak Jeni.


"Jadi kita ini orang-orang apa, Kev? Pecundang?" tiba-tiba Jeni mwngeluarkan suara setelah Kevlar merapihkan jasnya yang menutupi pindak terbuka Jeni.


Pria itu terlihat menarik nafas, "Justru kita pemenang Jen, karena kita berhasil menang dari peperangan melawan ego kita sendiri, melawan perasaan cinta yang malah akan membuat seseorang terluka... Kita pemenang dalam kisah kita sendiri Jen!" Kevlar berkata bijak.


Jeni kembali termenung, menundukan pandangan kemudian menyandarkan kepalanya dipundak Kevlar.


Seketika lelaki itu menegakan tubuhnya mensejajari tubuh menjulang Jeni.


"Aku lelah Kev... " Jeni melirih.


"Mau pulang?" ucap Kevlar dan Jeni menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Sebentar lagi... "


Kembali keheningan terbentang diantara keduanya, Kevlar memilih untuk menemani gadis itu beberapa saat kemudian berniat untuk mengantarnya pulang dan ia akan kembali ke rumahnya, itu pun kalau Jenifer tidak memintanya untuk tinggal.


__ADS_2