
Sudah hampir seminggu Zeline di Italy dan selama itu pula sang suami menemaninya.
Zeline memaksa King untuk kembali ke Indonesia tapi pria itu menolak bahkan hingga Zeline bersedia ikut pulang bersamanya pun, sang suami tetap ingin menggenapkan waktu liburan Zeline sesuai dengan yang telah direncanakan sebelumnya.
Zeline menyerah, akhirnya ia menuruti kemuan King. Walau akhirnya King tetap harus bekerja melalui laptop atau macbooknya bahkan melakukan rapat video conference.
Seperti saat ini, pria itu tengah sibuk memeriksa laporan yang dikirimkan oleh para pimpinan terkait diperusahaannya.
Matanya terlihat serius memindai layar datar dipangkuannya, tanpa sadar King nengerutkan kening mungkin karena ada sesuatu yang tidak sesuai dengan harapannya.
Zeline tersenyum samar, hatinya menghangat melihat keseriusan sang suami dalam mengurus perusahaan.
Padahal Papi Zach pernah cerita kalau dahulu King selalu malas-malasan dalam bekerja, pria bermata abu itu lebih suka pesta dan hura-hura bersama teman-temannya.
Tapi setelah menikahi Zeline, anak sulung Papi Zach itu lebih serius dalam menjalankan perusahaannya.
Diam-diam Zeline bangga karena sang playboy cap kampak kini bertransformasi menjadi hubby-able dan sudah akan naik level menjadi Daddy-able, pantas saja akhir-akhir ini King menginginkan kehadiran anak dalam pernikahan mereka.
King mendongak menggapai ranjang dimana Zeline tengah berbaring sambil menatapnya.
Beberapa hari ini sang istri tercinta sedang bermuram durja, entah apa yang sedang dipikirkan kepala cantik itu bahkan semua bingung dibuatnya.
King mematikan laptop, beberapa notes yang berserakan di meja pun ia rapihkan sebelum beranjak menuju ranjang.
"Kemarilah... " King yang sudah merebahkan tubuhnya diranjang, merentangkan kedua tangan agar Zeline masuk kedalam pelukannya.
Zeline bergerak merubah posisi untuk masuk kedalam pelukan hangat sang suami.
"Apa ada yang ingin kamu makan?" tawar King sambil mengelus perut Zeline dan langsung dibalas gelengan kepala oleh istrinya.
"Apa ada tempat yang ingin kamu kunjungi?" tanya pria itu lagi, jawaban Zeline masih sama, gadis itu menggelengkan kepala.
"Apa ada yang ingin kamu beritahukan? Atau ceritakan?" pancing King kemudian dan Zeline menjauhkan tubuhnya demi bisa menatap wajah King.
Zeline menatap sendu kearah King dengan alisnya yang melengkung kebawah.
King tersenyum hangat, sehangat sorot mata yang tengah menatapnya kini.
Ah, Zeline tidak sanggup untuk menceritakan kegundahannya pada King karena tidak ingin senyum hangat itu berubah.
Tapi harus kepada siapa Zeline menceritakan masalahnya?
Boleh tidak Zeline menyembunyikan masalah ini selamanya?
Menutupi kebenaran siapa ayah biologis dari anak yang di kandungnya.
Anak Reka atau anak King, anak ini harus jadi anak King.
Tapi Reka yang merupakan blasteran Tionghoa dan King yang blasteran Irlandia pasti akan menjadikan perbedaan yang mencolok bila ternyata anak yang dikandungnya adalah anak Reka.
__ADS_1
Aaarrrggghhh... Zeline frustasi, apa yang harus Zeline lakukan?
"Baby.....!" suara lembut King membawa Zeline kembali ke dunia nyata.
Zeline mengerjap "Hem?" saut Zeline cepat.
"Ibu hamil ga boleh stress loh... Jadi apapun yang kamu pikirkan atau rasakan, kamu bisa menceritakannya kepada suami mu yang tampan ini, Baby! " King menaikan turunkan kedua alisnya berkali-kali.
Bila dalam situasi berbeda mungkin Zeline akan tergelak melihat wajah konyol sang suami tapi kali ini hatinya semakin terasa sakit.
Oh ya Tuhan, harus kah ia menceritakannya semua pada King.
"Aku ingin ice cream... " akhirnya kalimat itu yang bisa ia ucapkan karena tidak ingin King curiga.
King terlihat berpikir, "Sepertinya akan menegangkan bila kita menjarah dapur castle ini.... " King memicingkan mata.
"Apa kita akan masuk penjara?" tanya Zeline dengan mata berbinar, sepertinya ia sedang mengikuti skenario yang King buat.
"Ayo kita cari tau.... " King membantu Zeline bangun dari tempat tidur, memakaikan night robenya kemudian keluar dari kamar menuruni anak tangga.
Castle yang besar membingungkan mereka dan berkali-kali tersesat.
Sampai akhirnya mereka tiba diruangan paling belakang didalam castle tersebut yang tidak lain ada lah dapur.
Tanpa segan King membuka lemari es mencari ice cream yang sang istri inginkan.
Putra Mahkota itu pasti mengerti karena ia pun kini sedang merasakannya bagaimana menghadapi ibu hamil.
Satu pot ice cream beserta sendok sudah ada didepan Zeline.
"Ayo makan, Baby.... Jangan sampai anak kita kelaparan!"
Lagi-lagi kalimat "Anak Kita" membuat hati Zeline terasa diremas.
Zeline mengangguk sambil tersenyum kemudian mulai memakan ice cream strawberry yang sudah diusahakan suaminya walau dengan cara belum meminta ijin pada sang pemilik.
Besok ia akan menggantinya bila putra mahkota itu sampai mempermasalahkan ice cream yang di makan Zeline.
King memperhatikan sang istri lekat, Zelinenya itu seperti mempunyai banyak beban.
Sorot mata yang kadang kosong, bahkan dalam tidur bola mata itu berlarian didalam kelopak matanya.
Dan dokter bilang kalau Zeline tertekan, tapi tertekan karena apa?
Kejadian penculikan itu hampir satu bulan berlalu dan Zeline sepertinya sudah bisa melupakannya, lalu apa yang dipikirkannya saat ini?
Seberapa keras King berpikir tetap saja tidak menemukan alasan Zelinenya bersedih.
Satu sendok ice cream, Zeline dekatkan ke mulut King dan pria itu membuka mulutnya.
__ADS_1
"Ice cream disini enak ya sayang.... " celoteh Zeline.
"Hem... " King membalas dengan gumaman.
"Kamu mikirin apa sayang?" tanya sang istri karena dilihatnya tadi King melamun sambil menatapnya dalam
"Mikirin kamu... " jawab King singkat.
Zeline mengernyit tanda tidak mengerti disusul hembusan nafas kasar King.
"Sudahlah... ayo kita tidur!" King membawa Zeline kembali ke kamar untuk beristirahat.
Percuma membahasnya dengan Zeline, bila istrinya itu tidak ingin cerita hanya akan menambah tekanan untuknya saja.
*****
Dari balik jendela, Zeline menatap halaman yang ditumbuhi dengan berbagai macam bunga berwarna-warni.
Terdapat kolam ikan besar di tengah halaman tersebut, di bangku taman bercat putih, Adrian sedang menemani Azalea yang sedang berjemur dibawah matahari pagi yang hangat.
Keduanya tampak bahagia, Adrian berlutut mensejajarkan tubuhnya dengan perut Azalea kemudian mencium perut sang istri hingga Azalea tergelak menahan geli.
"Apakah aku akan merasakan kebahagiaan itu juga nanti?" Zeline membatin.
Kedua tangannya mengusap perut yang yang masih rata itu dengan tatapan nanar.
King mengintip dari pintu kamar yang terbuka sedikit, perlahan pria itu masuk sambil membawa gelas berisi susu ibu hamil ditangannya.
"Baby... "
Zeline menoleh kemudian tersenyum melihat King membawakannya satu gelas susu.
"Minumlah... " King memberikan gelas tersebut dan langsung di sambut oleh Zeline kemudian meminumnya.
King bisa melihat apa yang Zeline pandangi sedari tadi, "Kamu mau berjalan-jalan ditaman?" tawar King setelah mendapat gelas kosong dari Zeline.
Zeline menggelengkan kepala, sepertinya ia hanya ingin berbaring karena merasakan tubuhnya yang melemah.
Semenjak bangun tidur Zeline didera morning sick yang sangat parah, "King... Kapan kita pulang?"
"Setelah kamu kuat... Dua hari lagi kita kontrol dan bila dokter mengijinkan, barulah kita pulang.... " King mengusap lembut kepala Zeline yang sudah terbaring di ranjang.
"Aku ingin pulang sekarang.... " entah kenapa Zelinenya jadi sesensitif ini, wanita itu terisak dengan buliran bening di matanya.
"Belum bisa, baby... " bujuk King lembut, kemudian mengecup kening Zeline dalam.
Zeline merasa dengan keadaannya yang lemah percuma ia berlama-lama di negri orang, ia hanya ingin pulang dan bertemu Reka.
Loh ko?
__ADS_1