
"Kiing... Lepas!!" Zeline memohon berkali-kali pada sang suami tapi King seperti menulikan telinga. Pria kekar itu terus saja menyeret Zeline dengan mencengkram pergelangan tangan istrinya erat. Zeline yakin setelah ini pasti terdapat jejak biru berbentuk jari dipergelangan tangannya.
"King... Aku minta maaf, itu ga seperti yang kamu liat!!" Zeline makin kencang memohon kepada King, lagi-lagi pria itu bungkam.
Zeline terseok-seok mengimbangi langkah panjang King dari loby hingga lift, bila tidak begitu mungkin tubuhnya akan terseret manja di lantai.
King masih menampakan wajah garangnya semenjak drama berpelukan ala sahabat tadi dengan Kevlar.
"Aaah.... " pekik Zeline saat King mendorongnya masuk kedalam unit apartemen hingga tubuh ramping itu limbung dan terjatuh bersimpuh dilantai.
Bukannya iba, King malah menarik Zeline untuk berdiri dan kembali menyeretnya memasuki kamar mandi, tangan besar itu mendorongan keras Zeline membuatnya terjatuh terduduk di lantai kamar mandi.
"King... Dengarkan aku dulu, tadi aku.... Aaah" ucapan Zeline terjeda karena air dari shower mengguyur tubuhnya.
Ternyata King juga sudah membuka kran air dibathub.
"King... Liat aku!" Zeline memegang lengan King yang sedang mengangkatnya berdiri. Tatapannya memohon dan memelas kepada King.
Kini satu tangan King yang besar mencengkram rahang Zeline.
"Kamu harus tau diri, kamu itu milik aku! Tubuh ini milik aku!!" teriak King didepan wajah Zeline. Membuat Zeline gemetar dengan jantung yang berpacu kencang, bukan karena berbunga-bunga tapi karena rasa takut yang luar biasa.
"I.. Iya aku tau, aku minta maaf... Tadi itu.... " lagi-lagi Zeline tidak bisa melanjutkan kalimatnya karena King sudah merobek minidress lengan panjang berwarna pink berhamburan tulisan moschino sebagai motifnya yang sedang dikenakan Zeline saat itu.
"King... Jangan, kamu lagi marah... King aku mohon, ampuuuun" isak Zeline, buliran air mata sudah membanjiri pipinya.
Pria itu tak bergeming, ia memojokan Zeline ke dinding hingga air ikut membasahi tubuhnya yang masih lengkap dengan stelan jas.
Tatapan mata King sangat tajam menusuk mata Zeline, terdapat amarah, kecewa dan benci disana membuat Zeline makin gemetar ketakutan. Demi apapun, King terlihat seperti binatang buas yang kelaparan dan siap menerkam mangsanya.
"Sayang... Kita bisa bica.... " King membungkam mulut Zeline dengan bibirnya disaat nafas pria itu naik turun menahan emosi. Kepala Zeline sudah berkali-kali membentur tembok, sesakit apapun tak ia rasakan karena kini hatinya lebih sakit diperlakukan kasar oleh suaminya.
Bibir King memborbardir bibir Zeline dengan kasar, tangannya sibuk membuka kain penghalang terakhir ditubuh Zeline.
Zeline terisak dalam ciuman suaminya sendiri, ini pertama kalinya King berbuat kasar setelah menikah. Ia sudah tidak bisa merasakan bibirnya, karena sedari tadi King menciumnya dengan kasar bahkan pria itu menggigit bibir Zeline hingga ia bisa merasakan rasa darah dibibirnya.
"Kiiing... " panggil Zeline lirih, setelah pagutannya terlepas. Rupanya pria itu sedang melucuti pakaiannya sendiri.
Kembali King mendorong Zeline dan menekan tubuh polosnya ke Zeline, ia juga menaikan satu kaki Zeline agar melingkar dipinggangnya.
Tanpa aba-aba dan secara paksa, King memasuki Zeline dengan kasar.
"Aaaaaahhhhh..... " teriak Zeline, King terus mendorong tubuhnya memasuki Zeline yang sudah berteriak kesakitan.
"Kiing udah... Sakiiit" teriak Zeline lagi. Teriakan Zeline makin mempercepat dorongan tubuh King
Kini pria itu malah membalikan tubuh Zeline dan mendorongnya ke meja watafel dengan kaca besar didepannya.
Satu tangannya menarik perut Zeline hingga mengarahkan tubuh Zeline untuk sedikit membungkuk.
Diliputi amarah yang membuncah, kembali pria itu memasuki istrinya dengan kasar dari belakang, terus menghentak hingga tubuh malang itu terlonjak kedepan. Kedua tangan Zeline terjulur menopang tubuhnya di meja wastafel, ia terlihat berantakan juga menyedihkan, tapi King tidak memperdulikan itu
"Kii... iiing" g
King bisa melihat Zeline dari kaca didepannya sedang berderai air mata, keningnya berkerut, memejamkan mata sambil menggigit bibir menahan sakit di bagian bawah karena ulahnya. Kedua tangan King mencengkram pinggul Zeline menariknya berlawanan.
Percuma berteriak, percuma menolak. Zeline hanya bisa menangis, dan terus menangis saat King menghentaknya berkali-kali dengan kasar dari belakang, memacu tubuhnya terus dan terus tidak peduli akan kesakitan yang Zeline rasakan sampai wanita itu merasakan hangat di rahimnya dan King akhirnya berhenti.
Tapi Zeline masih belum bisa bernafas lega, King menarik pinggang Zeline dengan kasar hingga tubuh malang itu terjatuh kedalam bathub berisi air penuh membuat air berhamburan kelantai kamar mandi.
Dan untuk kesekian kalinya, King melampiaskan amarahnya dengan memasuki Zeline lagi secara kasar didalam bathub.
Empat puluh lima menit berlalu, tubuh Zeline sudah lemas dan memucat. Tidak rasa nikmat yang ada nyeri, perih dan harga dirinya seperti terkoyak seiring dengan hatinya yang hancur lebur.
Setelah puas, King membersihkan dirinya kemudian meninggalkan Zeline begitu saja yang masih tergeletak tak berdaya di dalam bathub. Bahkan air didalam hanya tersisa setengah tidak mampu menutup tubuh polos Zeline.
Zeline memeluk kaki dan menenggelamkan wajahnya diatas lutut untuk kemudian menangis sepuasnya. Tidak peduli, pria itu akan mendengarnya.
King termenung mendengar suara tangis Zeline dari kamar mandi, hatinya teriris mendengar tangisan pilu istrinya setelah ia lecehkan, tapi amarahnya masih belum hilang setelah melihat dengan mata kepala nya sendiri, Kevlar dan istrinya sedang berpelukan mesra.
Zeline berkhianat dibelakangnya, kalimat itu lah yang kini terpatri dipikiran dan hati King. Dan ia tak akan bisa memaafkan pengkhianat.
Pria itu memakai kaos dan celana jeansnya dengan cepat, kemudian menyambar jaket kulit yang tergantung didalam walk in closet setelah itu berjalan keluar apartemen.
Satu yang ada dipikirannya, ia harus balas dendam. Maka ia pun mengemudikan mobilnya ke arah apartemen milik Jenifer.
__ADS_1
Zeline membersihkan tubuhnya, guyuran shower sejalan dengan airmatanya yang tidak mau berhenti mengalir padahal ia sendiri sudah lelah menangis.
Sepi, tidak ada siapa pun dikamar saat Zeline melintasi kamar menuju walkincloset. Ia memakai gaun tidur set dengan kimononya.
Dengan menahan sakit diantara paha, ia memaksakan diri berjalan mencari King.
Kamar tamu, ruang kerja bahkan dapur tapi King tidak ada disana, sudah jelas ruang TV yang sedari tadi ia lewati. Kosong, hanya ia penghuni apartemen mewah itu saat ini.
Zeline menjatuhkan tubuhnya dilantai, ia menyandarkan kepala di samping sofa menengadah agar air matanya tidak kembali mengalir karena rasa sakit dihatinya makin menjadi saat tidak menemukan King dimanapun diapartemen mereka.
Setelah pelecehan dan perbuatan kasarnya, pria itu meninggalkannya tanpa sepatah kata pun. Tapi Zeline tidak mampu, air matanya kembali luruh dan isakan tangis membahana diseluruh ruangan.
*****
Ting... Tong...
Ceklek...
"Kiiing... " wanita cantik berkaki jenjang itu menyapa hangat. Senyum terkembang dibibirnya, tatapan rindu membuat King terhipnotis untuk memagut bibir bergincu merah didepannya.
Tanpa kata, King menarik tengkuk Jenifer dan menyatukan bibirnya dengan bibir wanita itu. Perasaan Jenifer membuncah bahagia, apa pun yang terjadi antara King dengan Zeline saat ini, ia sangat mensyukurinya. Kekasihnya itu pasti sedang bertengkar dengn Zeline saat ini, kalau tidak King tidak akan pernah datang ke apartemennya apalagi menciumnya seperti ini.
"Sayang... Aku kangen" bisik Jenifer manja setelah King melepaskan bibirnya.
Wanita itu menarik King dengan berjalan menggoda kearah kamarnya, perlahan mendorong tubuh kekar itu ke ranjang sampai King terlentang disana. Ekspresi wajah King terlihat datar, saat Jenifer mulai mencumbunya dari atas.
Anehnya, King tidak merasakan apapun semenjak mencium bibir Jenifer tadi hingga gadis itu sudah polos duduk diatasnya merayunya dengan segala kemampuan yang dimilikinya. Hambar, bahkan detak jantungnya terasa biasa saja.
King mendorong tubuh Jenifer saat wanita itu sudah akan mengulum sesuatu miliknya dibawah sana. Keningnya mengernyit tidak suka, ia gegas membetulkan kembali celana jeansnya dan beranjak pergi dari kamar Jenifer.
Jenifer mendengus kesal, ia pun kembali mengenakan pakainnya.
"Kiiing... Kamu kenapa?" rengeknya manja.
King yang sudah duduk disofa ruang TV, mengangkat tangan memijit pelipisnya,
"Jenifer... Hubungan kita harus berakhir, aku tidak akan mengingatkan mu kembali kenapa alasannya"
Niat King datang ke apartemen Jenifer adalah untuk membalas Zeline, tapi entah kenapa hasrat itu hilang begitu saja, menguap entah kemana dan saat ini King malah memikirkan Zeline tapi ego nya cukup besar untuk kembali pulang menemui Zelinenya.
Akhirnya ia akan bertahan dulu disini beberapa saat dan kesempatan ini ia pergunakan sebaik-baiknya untuk memutuskan hubungannya dengan Jenifer.
"Tapi ga ada cinta Jeni, aku tidak mencintai mu dari awal... kamu hanya pelampiasan hasrat ku... Kamu juga tau itu kan?" King menatap Jeni tajam dengan alis tertaut.
"Ga apa-apa sayang, aku rela walau hanya jadi pemuas nafsu mu.... Seperti sekarang ini, kamu ada masalah dengan Zeline kamu bisa mendatangi ku..." tawar Jeni lagi sambil bergelayut manja ditangan King.
"Ngga... Aku ga bisa, aku ga bisa mengkhianati istri ku lagi!! Pergilah Jen, aku akan berikan sebagian saham ku disalah satu production house dan kamu bisa mengelola ph tersebut. Hidupmu tidak akan kekurangan... Tapi tolong berhentilah mengganggu rumah tangga ku..." King menghempaskan dengan kasar tangan Jeni yang menggelayutinya.
"King... 10 tahun itu bukan waktu yang sebentar, aku benar-benar mencintai mu, hingga memilih mengesampaingkan sakit hati ku saat tau kau tidur dengan wanita lain, apapun aku lakukan agar kau bahagia... Tapi kenapa kau malah memilih Zeline, perempuan yang tidak mencintai mu?" Jenifer mulai mempengaruhi King.
Keheningan membantang beberapa saat, King dan Jenifer terpekur dengan pikirannya masing-masing.
"Apa benar Zeline tidak pernah mencintai ku? Sampai detik ini memang aku belum pernah mendengar ia mngatakannya" batin King.
"Bagaimanapun caranya, King harus kembali kepelukan ku!" batin Jenifer.
Hingga suara dering telepon King memecah keheningan itu.
King mengambil ponsel dari dalam saku jaket kulitnya, terlihat foto Zeline dengan tulisan My Lovely Wife. Jempolnya reflek menggeser ikon hijau dilayar tersebut.
"Kiiing.... " panggilan lembut dari sebrang sana seperti meremmas jantung King.
"Ya... " jawabnya datar
"Pulaaaang.... " suara berat itu menandakan, Zelinenya sedang terluka.
"........ " hening, tidak ada jawaban.
"Kamu dimana?" tanya Zeline lagi.
"Apartemen Jenifer" jawab King cepat, sepertinya King belum puas menyakiti wanitanya.
"Tunggu aku.... " suara itu terdengar lemah tapi jelas, Zeline memintanya menunggu lalu sambungan telepon pun terputus.
"Kau sedang bertengkar dengan istri mu?" tanya Jenifer dengan seringai.
__ADS_1
"Bukan urusan mu!" jawab King ketus.
Jenifer masuk kedalam kamarnya, tak berapa lama wanita itu keluar dengan lingery super seksinya membuat mata King terbelalak.
"Kau gila, Jeni!" bentak King, sekuat mungkin ia mendorong tubuh Jenifer yang sudah merayunya kembali diatas pangkuannya.
"Ya... Aku gila karena terlalu mencintai mu!" desis wanita itu tanpa tau malu.
Ting... Tong... Ting... Tong... Ting... Tong...
Suara bel terdengar berkali-kali membentak, seolah seseorang disana tidak sabar ingin segera meledakan apartemen itu.
King dan Jenifer saling pandang sesaat, kemudian wajah Jeni yang sudah memucat bergegas lari menuju pintu dan membukanya.
Mata Zeline membulat sempurna melihat Jeni dengan lingery yang sama sekali tidak menutup tubuhnya, membayangkan King bersama Jeni pun ia tak sanggup maka sebelum pikiran buruk muncul ia berteriak memanggil suaminya.
"Kiiiing.... " panggil Zeline, mendorong pintu itu lebar-lebar dan berlari masuk kedalam apartemen Jeni mencari suaminya.
Ekspresi pucat pasi Jenifer berubah lega, saat melihat Zeline yang datang.
King tidak menyangka, Zelinenya menyusul hingga ke apartemen Jeni.
Tapi Jenifer tidak semudah itu membiarkan Zeline masuk kedalam daerah kekuasaannya. Wanita itu dengan berang menarik tangan Zeline.
"Heh... ******! Ngapain kamu kesini?" Jenifer memelototkan mata sambil mencengkram tangan Zeline dengan kuat.
"Aku mau jemput suami aku... " Zeline melepaskan cengkraman tangan Jenifer dengan kasar.
"King pacar aku, kamu ga bisa seenaknya main jemput gitu... Kamu tau? Kita baru satu ronde malam ini melakukannya, biasanya King akan melakukannya terus hingga pagi!" ucap Jenifer pongah.
Deg
Deg
Deg
Jangan salahkan jantung Zeline, tapi hatinya terlalu sakit sehingga jantungnya ikut bergetar merasakan sakit yang luar biasa Zeline rasakan. Dengan sisa-sisa kekuatan yang dimilikinya, Zeline mencoba membela diri untuk mempertahankan rumah tangganya.
"Ayolah Jen, kamu yang menghadiahkan King kepada ku... Aku ucapkan terimakasih, dan tolong jangan ambil hadiah mu kembali... Jangan jadi wanita hina perebut suami orang, kamu wanita cantik dan baik, carilah pasangan mu sendiri!" nafas Zeline tersengal, sekuat tenaga ia mengucapkan kalimat demi kalimat itu walau dadanya terasa sesak.
"Tadi adik mu, Reka datang menemuiku... Ia mengancam, akan menghancurkan hidup King... Sekarang aku mohon, kalian berhentilah... Relakan King bersama ku! King mencintai aku" dengan kepercayaan diri yang entah datang dari mana, Zeline mengucapkan itu.
"Dan aku mencintai King, sangat!" imbuh Zeline lirih, yang masih bisa King dengar dari sofa yang tidak jauh dari tempat Zeline berdiri.
King dan Zeline saling beratatapan, tatapan keduanya penuh arti seolah saling melemparkan kata maaf, bibir Zeline bergetar menahan tangis yang ia tahan.
Jenifer yang berada tepat didepan Zeline hanya bisa bungkam, seolah ada batu besar ditenggorokannya. Hati Jenifer sakit.
Bergantian ia melihat King dan Zeline yang saling menatap, ia belum pernah melihat King menatapnya seperti menatap Zeline seperti itu. Tatapan cinta dan hangat, walau ada luka disana.
"Kiiing.... " Zeline masuk lebih dalam ke apartemen Jenifer, ia berlutut didepan King yang sedang duduk, air matanya kembali menetes. Sakit, hatinya dan fisiknya terasa sakit dan Zeline tidak bisa menanggungnya sendirian.
Wanita itu pun memeluk perut King dan menenggelamkan kepalanya didada bidang nan kekar milik King.
"Pulang... " ucapnya terisak.
King mengangkat tubuh Zeline kepangkuannya, membuat wanita itu terduduk menyamping kemudian memeluk tubuh rapuh yang tadi sudah ia sakiti. Zeline melingkarkan tangannya di pundak King dan menenggelamkan wajah di ceruk leher suaminya. Keduanya saling berpelukan, merasakan hangat dan nyaman tubuh mereka yang saling menempel.
"Aku minta Maaf... Ayo pulang, kita bicara" bisik Zeline lemah.
Melihat adegan romantis King dengan Zeline membuat Jenifer murka.
"Dasar perempuan tidak tahu malu!" wanita itu menarik rambut Zeline hingga hampir terjengkang untung King menahan tubuhnya.
"Aaarrrgggghhh.... " teriak Zeline kesakitan.
"Jenifer, cukup!!!" bentak King sambil memelototkan matanya kearah Jenifer.
King mendorong tubuh Jenifer agar melepaskan tangannya dari rambut Zeline, lalu kemudian menggendong Zeline keluar dari apartemen itu hingga masuk kedalam mobilnya.
Meletakan dengan hati-hati tubuh Zeline dikursi penumpang depan lalu mekaikan seatbelt. Setelah menutup pintu, ia memutari setengah bagian mobil dan duduk dibelakang kemudi.
Tangannya terangakat menyentuh kepala Zeline, kemudian mengusap jejak air mata dipipi Zeline lalu mengancingkan longcoat yang istrinya kenakan.
"Kamu hanya memakai gaun tidur itu kesini? Bagaimana kalau ada yang menyakitimu tadi di jalan?"
__ADS_1
"Aku langsung kesini menyusul mu setelah menutup telepon, ga sempet ganti baju... Cuma inget pake longcoat aja trus manggil taksi" jawab Zeline lemah.
Zeline teringat, saat memutuskan sepihak sambungan teleponnya karena cemburu mendengar King berada diapartemen Jenifer, Zeline langsung menyambar longcoat yang tergantung di dibalik pintu walk in closet bahkan ia masih memakai sendal rumah saat ini.