
Empat kaka beradik itu kini sudah duduk dalam satu meja, Ken memilih restoran di hotel tersebut untuk menjelaskan duduk permasalahan yang telah terjadi.
Sekertaris Iren berada di meja sebrang, tatapan matanya terpusat pada cangkir berisi capuchino yang ia genggam dengan kedua tangannya. Zeline bisa merasakan bahwa wanita itu sedang menegaskan pendengaran seperti tak ingin sedikit pun informasi yang terlewat dari kejadian yang menimpa Tuannya.
Beberapa menit keempatnya masih terdiam, hingga King yang sudah terlihat kembali gusar mulai melayangkan rentetan pertanyaan.
"Apa yang sedang kamu lakukan di Paris? Kenapa bisa kamu ada dikamar Ken tadi pagi? Abang tau, dibalik bathrobe itu kamu tak memakai sehelai benang pun, ya kan? Dan kamu Ken, apa tidak ada wanita lain yang bisa kamu tiduri selain adik ku, hah? Adik dari adik ipar mu sendiri!!" seru King dengan jari telunjuk yang hampir menyentuh hidung Ken.
"Abaaaang....ga kaya gitu, bang... Ini salah aku!" Azalea terisak sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Ken termenung, ia sungguh tidak mengerti apa yang sudah terjadi. Tadi malam, Iren pamit untuk tidak menemaninya bersama client di Nightclub merayakan kesepakatan bisnis yang baru saja terjalin.
Ken memang sedikit mabuk, saat tidak sengaja bertemu Azalea, pria itu masih sadar tapi ia sudah tidak mengingat kejadian apapun setelah itu. Dan pagi harinya ia terbangun oleh tinju yang dilayangkan adik iparnya.
Tapi Ken bukan pria brengsek, ia tidak akan menyalahkan siapapun. Bila memang ia sudah menodai Azalea walau tanpa sadar, Ken akan bertanggung jawab. Tapi masalahnya adalah Azalea merupakan adik ipar dari Zeline, adik kandungnya sendiri.
"Ka Ken..." panggil Zaline sambil mengusap lengan berotot kakaknya membawa Ken kembali kedunia nyata.
Ken mengusap wajahnya dan menyugar rambutnya dengan gusar.
"Aku... Aku boleh berbicara dulu sebentar dengan Azalea?" pinta Ken, ia butuh penjelasan dari gadis itu, walau pasti Azalea akan tersinggung tapi Ken butuh sesuatu yang meyakinkan dia untuk mengambil keputusan.
Ken menarik tangan Azalea agar menjauh dari meja dimana King dan Zeline berada, ia mengambil duduk di meja di sudut ruangan restoran itu.
Setelah Ken dan Azalea pergi, King menangkup kedua tangan Zeline yang berada diatas meja.
"Kamu ga apa-apa?" tanya King serius karena ia bisa melihat Zeline begitu terguncang, keningnya sedari tadi mengkerut bahkan tadi tubuhnya sempat bergetar saat menahannya untuk memukul Ken kembali.
Zeline tertawa kering.
"Pertanyaan macam apa itu King? Bagaimana aku tidak apa-apa? Kaka ku tidur dengan adik dari suami ku sendiri? Gimana kalo Azalea hamil? Trus gimana kalau pulang dari sini aku juga hamil karena hampir tiap saat kamu memasuki ku! Ini bohong kan King? Ini cuma prank kan? Ken ga bisa menikah dengan Azalea karena status pernikahan kita King, kecuali.... " Zeline tak sanggup melanjutkan kalimatnya.
__ADS_1
Airmatanya sudah menggantung dan sekali kedip, buliran bening itu mengalir deras membentuk anak sungai di pipinya.
Dan Zeline tidak sanggup, ia terisak. King beranjak dan menarik kursi yang tadi Ken duduki disamping Zeline. Ia membawa istrinya kedalam dada bidangnya.
"Jangan... Jangan kamu lanjutkan, aku ga akan sanggup, baby! Itu tidak boleh terjadi" ucap King lalu mengecup kepala istrinya berkali-kali. Ia tau betul apa kelanjutan dari kalimat istrinya.
Zeline mendongak, menjauhkan sedikit tubuhnya dari King.
"Lalu kita harus gimana King? Kita harus gimana?" Zeline kembali terisak, ia menyandarkan kepalanya didada King.
Sejujurnya King bingung, ia belum tau harus mengambil keputusan apa. Ia hanya bisa berharap Azalea tidak hamil, masalah tidak perawan masih bisa melakukan operasi selaput dara karena sekarang zaman sudah canggih, apapun bisa dilakukan dengan uang.
Selang beberapa menit, dengan wajah frustasi dan nafas terengah, Ken dan Azalea menghampiri King dan Zeline.
"Aku akan menikahi Azalea... " ucap Ken lugas.
"Apa?" King langsung berdiri dari duduknya dengan rahang mengetat dan buku jari yang memutih.
Terdengar pecahan kaca dari arah samping, ternyata Iren tidak sengaja menjatuhkan gelasnya.
Ken terlihat seperti akan mengejar Iren tapi ia sadar tangan Azalea wanita yang tanpa sadar ia tiduri tadi malam ada dalam genggamannya.
"Aku akan menikahi, Azalea! Aku akan bertanggung jawab!" imbuhnya lagi, kini perhatian Ken sudah terfokus pada King dan Zeline.
"Kenapa Ka?" Zeline bertanya diiringi dengan derai airmata. Ia tidak menyangka akan keputusan kakaknya.
"Bagaimana dengan aku dan Zeline, Ken? Kamu lupa Azalea itu adik aku?" seru King dengan menyatukan alisnya, emosinya sudah diubun-ubun. Ia jelas tidak mau mengorbankan pernikahannya dengan Zeline.
"Kiiing... Duduk dulu, kita bicarakan dengan kepala dingin!" Zeline ikut berdiri, mengusap dada suaminya dan membawa pria jangkung itu duduk.
Ken dan Azalea pun duduk berhadapan dengan King dan Zeline.
__ADS_1
"Aku tidak mungkin melepaskan tanggung jawab ini, walaupun tadi malam kita tidak sadarkan diri melakukan hal itu tapi itu sudah terjadi, aku tidak bisa lari begitu saja. Apalagi kalau Azalea hamil nantinya, aku harus menikahi dia. Aku minta maaf, tapi kalian kan menikah karena terpaksa dan diawali dengan sandiwara atas skenario Uncle Nicholas jadi kalian bisa berpisah kapan saja. Dan Zeline tolong mengerti, kalau kamu berpisah dengan posisi yang sudah tidak lagi perawan itu tidak masalah karena kamu pernah menikah tapi Azalea, bagaimana nasibnya nanti? Tolong mengerti lah!" Ken berujar dengan nada terendahnya berusaha membuat King dan Zeline mengerti akan keputusannya.
Zeline menggelengkan kepala "Kaka jahat, dulu kakak sendiri yang bilang kalau aku tidak boleh bercerai karena tidak ada sejarahnya dalam keluarga kita bercerai, sekarang kakak tega nyuruh aku bercerai dengan King?" seru Zeline dengan suara berat.
"Ga bisa Ken, aku ga bisa bercerai dari Zeline dan ga akan pernah! Jangan bodoh Ken, kalau masalah selaput dara itu bisa operasi!" seru King gusar, ia sedikit menggebrag meja.
Ken mengernyitkan dahi, penuturan King tadi menjelaskan bahwa King mencintai Zeline dan membuatnya makin serba salah.
"Trus aku harus gimana, bang? Abang ga kasian sama aku?!" Azalea mengusap air matanya.
"Makanya kamu mikir dulu sebelum bertindak, Yaya!" bentak King kepada adiknya.
Azalea hanya bisa terisak, Ken menggenggam tangan Azalea semakin erat.
"Kita harus bicarakan dengan kedua orang tua kita"
"Jangan Ka, jangan bawa orang tua kita! kita selesaikan aja dulu masalah ini sendiri..., " Zeline memelas.
Ia tak ingin keterlibatan orang tuanya malah membuatnya bercerai dari King. Seperti yang Ken bilang barusan, ia dan King menikah karena sandiwara untuk meredam pemberitaan dan sekarang yang terjadi malah mereka semua lupa pernah adanya pemberitaan miring mengenai Zeline dan King.
Perusahaan King kembali stabil dan bertambah pesat sedangkan tawaran kerja untuk Zeline semakin mengantri. Pemberitaan miring itu menguap begitu saja, dan bila kini Azalea ternyata hamil yang bisa dikorbankanlah adalah pernikaham mereka berdua.
"Tapi ga bisa berlarut-larut, De! Gimana kalau Azalea hamil?" Ken tidak setuju, ia memang belum mencintai Azalea tapi kejadian malam ini tidak bisa diremehkan. Ia harus menjaga nama baik keluarganya dan keluarga Azalea.
"Tunggu sampai beberapa minggu, kalau ternyata memang Azalea hamil baru kita beritahu orang tua!" pinta Zeline dengan tatapan sendu.
"Tapi sama aja kan Zeline, ujung-ujungnya aku harus nikah sama Ka Ken!" seru Azalea
"Ngga... Kalau kamu ga hamil kamu ga boleh nikah sama kaka aku!" Zeline menggelengkan kepalanya.
"Kenapa? Apa kamu udah mulai mencintai Abang aku, hah?"
__ADS_1
"Kamu pikir apa kalau bukan itu? Trus gimana kalau aku juga hamil? Gimana??" Zeline membentak, kini ia yang tersulut emosi, semua sumpah serapah sudah ada diujung lidahnya tapi ia tahan karena King sudah mengelus punggungnya.
King sontak menoleh menatap istrinya, penuturan Zeline tadi walau tidak langsung tapi tersirat bahwa wanita itu mencintainya, sejenak hatinya merasa bahagia.