
Setelah drama percintaan Kakanya dengan Azalea yang salah sambung tapi berakhir happy ending, Zeline kembali melakukan aktifitasnya begitu pula King dan seluruh keluarga.
Kesehatan Kake Rony pun berangsur pulih, dan semua keluarga berbahagia.
Semenjak King membatasi kegiatan Zeline didunia keartisannya, gadis itu semakin fokus dengan kuliah yang tinggal dua semester lagi.
Tetapi jadwal kuliah tidak selalu padat, Zeline mempunyai banyak waktu luang di apartemennya.
Seperti hari ini, setelah diantar Joe pulang, Zeline hanya rebahan dengan sebuah buku novel ditangannya.
Baru membaca lima lembar saja, Zeline sudah bosan kemudian mengambil remot dan menyalakan televisi. Setiap chanel ia jelajahi tapi tidak ada yang menarik perhatiannya.
Menghela nafas, wanita bertubuh langsing itu beranjak menuju dapur dan membuka kulkas.
Terdapat banyak kue dengan creamer dan puding-puding buah full cream.
"Ga papa kali ya, aku cheating hari ini aja!" gumam Zeline sambil menyuapkan puding kemulutnya.
Setelah puding itu ia habiskan, kini Zeline berpindah pada kue red velvet di depannya. Hanya beberapa suap, kue itu pun habis tidak bersisa.
Merasa kekenyangan, Zeline merebahkan tubuhnya di sofa besar depan TV.
Hari sudah malam saat Zeline terbangun, ia bergegas memasak makan malam untuk suaminya. Setelah itu mandi untuk menyambut King pulang dari kantor.
Setelah tubuhnya bersih dan wangi, sengaja Zeline menggunakan sleepshirt tanpa pant dan duduk manis didepan televisi sambil memainkan handphonenya.
Berkali-kali Zeline melirik jam dinding, suaminya masih tak kunjung pulang, Zeline mulai gelisah tapi terlalu gengsi untuk menghubungi King terlebih dahulu.
Jam 21:32 akhirnya pintu apartemen terbuka, menghadirkan sosok tampan yang sedari siang tadi ia nantikan.
Zeline menyambut King dengan senyuman dan kecupan di pipi, membuat dahi pria itu mengernyit dalam dengan bibir tertarik membentuk lengkung senyum.
"Ko pulang malam?" Zeline bergelayut manja di lengan suaminya sambil berjalan menuju kamar.
"Tadi ada makan malam sama klien dari korea!" saut King ringan.
Zeline menautkan alis saat membuka kancing kemeja King sedikit kasar, bibirnya mengerucut dan sukses membuat King menyambar bibir itu sekilas.
"Aku tadi masak loh buat kamu!" seru Zeline masih dengan alis tertaut, Zeline melempar kemeja King ke dalam keranjang cucian kemudian berlalu keluar kamar meninggalkan King yang masih tercenung kebingungan karna swing mood istrinya.
Setelah membersihkan tubuh, King keluar kamar hanya memakai celana panjang berbahan kain dan bertelanjang dada.
Kakinya melangkah menuju dapur dimana Zeline sedang membuat kopi untuknya.
King mengambil air mineral dari dispenser kemudian meneguknya.
"Ini kopinya... " Zeline menggeser kopi yang dibuatnya di meja bar.
"Aku ngantuk baby, besok pagi ngopinya" King mencium pelipis Zeline kemudian membalikan tubuhnya berjalan menuju kamar.
Menghela nafas, Zeline membuang air kopi yang dibuatnya ke wastafel dengan kesal lalu menyusul King ke kamar.
Terdengar dengkuran halus dari hidung King, bahkan pria itu tidak terganggu sama sekali saat Zeline membolak balikan tubuhnya hingga ranjang mereka bergoyang.
Zeline begitu kesal, setelah jam menunjukan angka tiga barulah gadis itu itu terlelap karena lelah menahan kesal.
Keesokan harinya,
Matahari sudah menyapa saat Zeline bangun dari tidurnya, terdengar suara berisik dari arah dapur dan Zeline sudah tidak menemukan suaminya diatas ranjang.
Zeline mendesah, ia turun dari ranjang menuju dapur. Ia tau Anin atau maid yang sedang berada didapur karena King pasti sudah pergi ke kantor saat ini.
"Nin... " panggil Zeline, benar saja asistennya yang sedang mengacak-ngacak dapur membuatkan sarapan.
"Tadi ketemu King?" tanya Zeline sambil menarik kursi yang tersembunyi dibawah meja.
"Ngga... Aku datang Tuan Muda udah ga ada... Ayo sarapan dulu, hampir telat kuliah tuh..." Anin memberikan mangkuk berisi salad dan potongan ikan tuna diatasnya.
__ADS_1
Setelah sarapan dan melakukan ritual mandinya Zeline pergi kuliah seperti biasa, hanya ada dua mata kuliah dan ia kembali pulang ke apartemen.
"Sangat membosankan!!" keluhnya
Seperti biasa, Zeline menunggu King pulang, lagi-lagi King pulang dengan keadaan lelah dan langsung tertidur, tanpa menanyakan bagaimana hari Zeline, tanpa peluk cium atau cumbuan.
Zeline mendesah sambil memukul bantal dengan kepalan tangannya.
Hari berikutnya pun seperti itu, King sibuk dengan kerjaannya dan Zeline luang dengan waktunya. Ia merasa bosan, dan tidak berguna.
Entah hari keberapa,
"King... Aku mau bicara" Zeline mengintip dari balik pintu ruang kerja King, hanya terlihat kepalanya kemudian ia masuk lebih jauh sebelum King menjawab.
Mata dan jemari King sedang sibuk dengan laptopnya.
"Sebentar lagi ya, aku selesaikan dulu ini sebentar" jawab King lembut tapi tidak sopan karena melihat Zeline pun tidak.
Zeline menghembuskan nafas, kemudian kembali kekamar. Menunggu beberapa jam tapi sepertinya pria itu lebih suka menghabiskan waktu dengan laptopnya dari pada dengan istrinya sendiri.
Lelah menunggu, Zeline pun terlelap.
Pagi harinya Zeline bangun terlebih dahulu, ia memasak sarapan pagi kemudian mandi dan kembali ke meja makan, King sudah berada disana lengkap dengan stelan jasnya.
"Hari ini aku syuting trus meeting sambil makan siang sama Kevlar" ucap Zeline dengan mulut penuh makanan.
King mendongak menatap wajah istrinya, sorot matanya terlihat tidak suka juga alis yang menaut menandakan pria itu tidak setuju dengan apa yang diucapkan Zeline.
"Aku ga kasih ijin!" balas pria itu geram.
"Aku lagi ngasih tau bukan minta ijin!" seru Zeline tidak kalah geram.
"Kamu... " rahang King mengetat, ia tidak bisa melanjutkan kalimatnya padahal semua kata-kata yang akan menyakiti istrinya itu sudah di ujung lidah.
"King... Tiap hari aku masak tapi kamu ga makan, nunggu kamu pulang larut malam dan kamu pulang langsung tidur tanpa nanya kabar aku, tanpa ajak ngobrol aku!!! Aku bukan boneka King, yang pas kamu suka trus kamu mainin pas udah bosen kamu lupain gitu aja!!! Aku juga butuh kesibukan biar ga gila di rumah terus!!!" seru Zeline, gadis itu seolah meluapkan semua emosi yang terpendam selama seminggu ini.
Zeline menyambar tas di atas nakas, tidak peduli joe belum menjemput pokoknya saat ini juga ia harus pergi dari apartemen ini.
Saat akan berbalik menuju pintu, King sudah berdiri disana dengan tatapan tak terbaca.
Pria itu berjalan pelan mendekati Zeline, terus berjalan mengikis jarak dengan Zeline. Tubuh Zeline bergetar hebat, ia ingat kejadian beberapa waktu lalu saat King dengan emosi melecehkannya di kamar mandi.
"I'm sorry, baby!" King merendahkan suaranya seperti berbisik, bibirnya langsung ia tempelkan di bibir Zeline, menggigit kecil dan mengecup lembut tidak menuntut.
Tidak, kejadian dulu tidak akan King ulangi semarah apapun pada istrinya.
Tubuh Zeline yang tadi bergetar hebat kini menegang dan terasa desiran di sel-sel didalam tubuhnya.
"King... Nanti kamu ter... Lam, euunghh.... " Zeline berusaha menolak saat bibir itu sudah merayap kepipi, kemudian turun keleher dan berakhir di dada.
"Kiiing.... " sekali lagi Zeline menolak, tapi suara itu terdengar merdu ditelinga King dan malah membuat mata King berkabut.
Sungguh memabukan cumbuan King, Zeline terbuai tanpa sadar kini tubuh Zeline sudah berada dibawah King diatas ranjang mereka tanpa sehelai benang pun.
Beberapa jam hanya terdengar decapan, desahan hingga erangan panjang tanda sesi bercinta itu berakhir.
"Kiiing... Bukannya kamu ada rapat pagi ini?" Zeline bertanya dengan nafas tersengal.
"Iya... Tapi udah telat!" balas pria itu sambil melirik arloji seharga mobil di tangan kirinya.
"Ya udah, aku mau mandi lagi niiih!" Zeline beringsut, tapi lengan King menahan pinggangnya.
"Aku anter kamu kuliah, syuting, dan meeting dengan Kevlar...."
Zeline mengernyit sambil menoleh kebelakang menatap suaminya.
"Kamu bukannya sibuk?" Zeline memicingkan mata.
__ADS_1
"Daripada kamu sama Kevlar, berduaan!" jawab King ringan
Zeline berdecak kesal, kemudian benar-benar melepaskan tangan King dari pinggangnya. Ia bergegas mandi sebelum jam kuliahnya dimulai.
King mengecek ponselnya, banyak panggilan tak terjawab dari Elgi juga pesan masuk dari sang sekertaris.
Hingga pesan terakhir, "Meeting sudah saya handle dan berjalan lancar" membuat King tersenyum, ia memang harus menaikan gaji sekertaris andalannya itu.
*****
*Kampus Zeline
Seorang pria tampan dengan macbooknya menjadi pusat perhatian di kantin kampus yang sedikit ramai saat jam makan siang.
King terpaksa melakukan pekerjaannya dari kantin kampus Zeline agar bisa menemani istrinya seharian.
Pria itu sadar beberapa hari terakhir disibukan dengan proyek barunya hingga melupakan Zeline. Setelah menikah, fokus King berubah dari hanya yang main-main saja dalam memimpin perusahaannya kini menjadi lebih fokus.
Mungkin kehidupan pernikahan dan mimpi memiliki banyak anak bisa merubah cowo menjadi pria.
Beberapa mahasiswa perempuan melirik King dengan antusias, kemudian berbisik sambil senyum malu-malu.
"Bang... " perhatian King teralihkan oleh suara pria yang memanggilnya.
"Reka?" sapa King dengan memanggil namanya.
Reka duduk didepan King, pria itu terlihat tidak bersahabat mungkin karena King memutuskan hubungan sepihak dengan Jenifer yang merupakan kakak kandung dari Reka.
"Apakabar kamu, Ka?" tanya King basa-basi, nada suaranya tenang seperti tidak berdosa.
"Seperti yang abang liat!" jawab Reka sekenanya.
"Nungguin Zeline ya, Bang?"
King tidak menjawab, tapi malah balas bertanya "Kamu kemarin nyamperin Zeline, ada masalah apa sama dia?"
"Gue pengen tau aja, cewe yang ngerebut elo dari kakak gue, Bang!" saut Reka dengan seringai dibibir.
"Maksudnya mau hancurin gue apa?" tanya King lagi dengan nada menantang
"Ga ada maksud apa-apa, hanya saja kalau lo nyakitin kaka gue... Gue juga bisa nyakitin Zeline dan membuat hidup lo ancur, Bang! Coba aja.... " ancam Reka dengan ekspresi wajah serius.
King tau apa yang dilontarkan Reka bukan hanya kata ancaman, tapi pria psycho itu bisa melakukan apapun sesuai keinginannya.
Mengenal Jenifer sepuluh tahun sama saja dengan mengenal Reka. King ada disamping Jeni saat gadis itu berusaha merehabilitasi Reka akan kecanduan obat terlarangnya, juga membebaskan pria itu saat ia tertangkap karena telah berhasil membunuh orang dan kini King menyesel mengenal Reka apalagi pernah membantunya.
"Satu gores aja Zeline terluka karena ulah lo! Gue pastiin kuburan lo ga akan pernah ditemukan!" King mengancam balik dengan tatapan tajam menandakan ia tak kalah serius dengan ucapannya.
Reka sempat gentar tapi ia sembunyikan dengan baik ketakutannya karena Reka tau, King yang memiliki paman seorang pemimpin mafia bisa dengan mudahnya melenyapkan Reka bahkan saat ini juga.
"Hai sayang...." panggil Zeline, ternyata gadis itu sekarang sudah berada dibelakang Reka.
King membalas dengan senyum lalu menarik tangan Zelien agar duduk disampingnya kemudian mencium pipi Zeline sekilas.
Seketika para gadis yang sedari tadi memperhatikan King, merasa kecewa mereka menggumamkan kata-kata yang tidak dimengerti.
"Kamu udah kenal sama Reka kan? Dia adik Jenifer..." tangannya sengaja ia lingkarkan ke bahu Zeline, menunjukan bahwa kini ia sangat mencintai istrinya bukan Jenifer lagi.
Mata Zeline sempat membulat saat melihat Reka, kembali ingatan ditarik mundur saat Reka menghampirinya dan mengancam akan menghancurkan hidup King.
"Reka... Kamu harus tau, bukan aku yang merebut King. Tapi Jenifer yang menjebak aku untuk dijual kepada pria hidung belang, tapi ternyata resepsionis di hotel itu salah memberikan kunci dan malah King yang masuk kekamar saat itu.... Dan sampai akhirnya kita menikah sekarang, memangnya Jeni ga cerita?" Zeline berusaha bicara baik-baik dengan pria itu, karena sepertinya salah bila Reka harus membencinya.
Reka berdecih, ia tidak percaya dengan apa yang diucapkan Zeline.
"Reka, aku ga mau ya punya masalah sama kamu karena aku ga kenal kamu! Sebaiknya kamu tanya Kaka kamu" Zeline berucap masih dengan nada rendahnya.
"Ayo sayang... " Zeline memberi kode agar mereka bisa cepat pergi karena Zeline harus syuting satu jam lagi.
__ADS_1
Zeline berdiri diikuti dengan King, "Aku duluan ya... Sekali lagi aku minta maaf, tapi ini ga semua salah aku" Zeline memegang pundak Reka sesaat sebelum meninggalkan pria itu dengan ekspresi kesalnya.