
Tidak berapa lama Dokter kepercayaan keluarga King pun tiba dengan menenteng tas ditangannya berisi peralatan yang dibutuhkan untuk memeriksa kondisi tubuh Zeline. King sudah menceritakan gejala yang dialami istrinya itu pada saat menghubunginya tadi.
Anin langsung mempersilahkan Dokter itu kekamar, dimana Zeline masih terbaring gelisah dengan bola mata bergerak acak didalam kelopak matanya yang menutup sempurna.
Dokter menggunakan stetoskop untuk memeriksa tubuh Zeline lalu melingkarkan alat tensi ke lengan gadis itu tidak lupa pengatur suhu otomatis ia tempel sekilas di kening Zeline.
"Suhunya tinggi, tapi tekanan darahnya rendah. Saya akan mengambil sample darah Nona Zeline untuk di cek di lab" Dokter berujar seraya merapikan peralatan dan memasukannya kembali ke dalam tas.
King menganggukan kepala, setelah mendapat persetujuan dari King, dokter mengambil jarum suntik yang merupakan alat untuk mengambil darah.
Saat jarum itu tertancap, Zeline malah melenguh dan menggelinjang tidak nyaman. Suara lenguhan manja itu begitu terdengar sexy ditelinganya hingga membuat sesuatu terbangun dibawah sana.
"Sial!! " pekik King dalam hati. Disaat seperti ini masih saja ia terpikir akan hal itu. Walau bagaimana pun ia harus menahan segala hasratnya hingga gadis itu sembuh. Tidak untuk malam ini.
Zeline membuka mata,
"Aaah.. Saaaakiiit!!" gadis itu berteriak ketika melihat jarum suntik tertancap di tangannya.
Air mata langsung mengalir membanjiri pipi, Anin dan Joe dengan sigap memegangi tubuh Zeline disisi kiri dan kanan agar dokter bisa menjalankan tugasnya. Membuat King mundur selangkah dengan tatapan heran.
Salah satu yang Zeline takuti dalam hidupnya selain Tuhan adalah jarum suntik.
Anin mengusap air mata Zeline dengan tissue, ia merasa bersalah karena menyepelekan penyakit Zeline.
"Maafin aku, Zeline!" bisik Anin sambil memeluk Zeline dan mencium pelipisnya.
Anin merasa sangat bersalah karena sudah teledor menyepelekan penyakit Zeline. Ia tidak menyangka Influenza yang dialami gadis itu ternyata parah dan bisa menjurus pada penyakit lainnya.
Dokter sudah selesai mengambil darah Zeline dan dengan tenang menyimpannya kedalam tas, tidak memperdulikan sedikitpun jerit tangis pasiennya.
"Besok dan lusa, saya akan menyuruh suster mengambil sample darah Nona Zeline lagi bila demamnya masih belum turun... Bila dalam dua hari kedepan demamnya masih belum reda, Nona Zeline harus dirawat di rumah sakit secara intensive. Untuk malam ini saya akan memberikan resep obat" Dokter menuliskan sesuatu di kertas yang terdapat blangko atas namanya lalu memberikannya kepada King.
Saat King akan mengambil kertas itu, dokter menariknya kembali.
"Bila malam ini suhu tubuhnya diatas 39° celcius, gunakan metode skin to skin" imbuhnya lalu memberikan kertas resep itu kepada King.
King mengernyitkan dahinya, masih belum mengerti apa yang dibicarakan dokter pribadinya tapi lain dengan Zeline yang tau betul apa arti metode yang disarankan dokter berkepala botak itu.
"Ga ada cara lain dok?" tanya Zeline lirih.
Dokter menggelengkan kepalanya,
"Kompres saja tidak cukup! Sebetulnya bisa dengan merebahkan tubuh dilantai keramik atau marmer agar panasnya berpindah tapi saya liat seluruh apartemen ini dilapisi karpet, hanya lantai dapur saja yang dilapisi kayu" jawab dokter, lalu pandangannya beralih pada King.
"Jadi kalau demamnya sudah kembali naik setelah minum obat, kalian harus berpelukan tanpa sehelai benangpun membalut tubuh kalian" Dokter tersebut menatap King dan Zeline bergantian "Agar suhu tubuh Nona Zeline yang panas bisa berpindah kepada Tuan Muda" tambahnya lagi.
Yang langsung di iyakan dengan anggukan antusias oleh King karena mendengar kata berpelukan diikuti kalimat tanpa sehelai benangpun.
"Ya Tuhan, kalo nolak dipeluk suami dosa ga ya?" Zeline membatin dengan menatap King nanar dan dibalas dengan senyum sejuta pesona oleh pria itu.
Zeline langsung mengalihkan tatapannya ke arah lain.
King mempersilahkan dokter pergi dan mengantar hingga depan pintu lalu menyuruh Joe membelikan obat yang telah diresepken oleh dokter dan memberinya beberapa lembar uang berwarna merah.
Anin kembali sibuk mempersiapkan bubur untuk Zeline di dapur.
King masuk ke kedalam kamar, melihat Zeline sedang menyandar di kepala ranjang. Mata gadis itu memindai sekelilingnya, kamar dengan walpaper perpaduan warna abu, putih dan hitam juga furnitur yang simple dengan warna senada memberi kesan bahwa pemilik kamar tersebut adalah seorang lelaki yang memiliki kepribadian misterius dan simple.
"Ah... Yang benar saja, jelas-jelas si King mesum... Miaterius apanya?" cela Zeline.
Tapi begitulah yang tertulis di majalah-majalah remaja mengenai arti dari warna favourite.
Terdapat walk in closet di sebelah kiri ranjang dan kamar mandi disebelah kanan ranjang. Zeline berpikir sangat tidak sesuai dengan fengshui, entah fengshui mana yang ia jadikan patokan.
Menurut otak didalam kepala cantiknya itu, seharusnya kamar mandi diletakan didekat atau bahkan di dalam walk in closet, sehingga setelah mandi ia langsung bisa mengganti pakaian tanpa harus berkeliaran dikamar dengan tubuh terlilit handuk mengingat suaminya itu memiliki tingkat mesum diatas rata-rata.
"Kenapa?" suara bariton sexy itu membuyarkan pikiran Zeline mengenai penilaiannya pada kamar tersebut.
"Seriusan kita akan tinggal disini berdua aja?" tanya Zeline hati-hati.
__ADS_1
"Yup..." jawab King sok mengirit kata, ia mendudukan tubuhnya disamping Zeline dibibir ranjang.
"Kamu tidur dikamar sebelah?" tanya Zeline lagi
"Nope... " saut King dengan menggelengkan kepala sok misterius.
Zeline menghembuskan nafas kasar, sebetulnya banyak yang akan ia sampaikan mengenai masalah tinggal bersama ini. Walaupun mereka sudah menikah, tapi Zeline tidak mencintai pria itu jadi ia harus memberikan aturan dan batasan pada suaminya.
"Itu nanti sajalah... Pening kepala aku, Ya Tuhaaan" Zeline mengangkat tangan kembali mengurut pelipisnya.
"Tidurlah... Biar aku yang pijit" ucap King lembut.
Sesaat pandangan keduanya bertemu, dan mata abu itu menawarkan kehangatan yang seolah menular dan berhasil menembus secara perlahan dinding hati Zeline yang sedingin es.
Zeline buru-buru memutus tatapan itu karena ia merasakan bahaya mengancam, yang pertama bahwa ia sadari kini sudah mulai merasakan debaran aneh dijantungnya saat mendapat tatapan manik abu itu yang kedua pasti pria didepannya ini akan meminta imbalan atas apa yang sudah dilakukannya.
"Ooo... Tidak semudah itu Ferguso!!" cibir Zeline dalam hati.
"Ga usah... " penolakan Zeline terpotong saat Anin masuk membawa bubur.
"Kamu makan dulu ya setelah itu baru minun obat, sebentar lagi Joe datang!" Anin menyimpan baki diatas meja yang diatasnya terdapat semangkuk bubur yang masih mengepul dengan taburan ayam cincang, abon sapi dan bawang daun juga satu gelas air hangat.
"Tuan Muda bisa tolong suapi Zeline? Saya mau beresin baju-baju Zeline dulu kedalam lemari" pinta Anin dengan sopan kepada King.
King mengangguk dan tersenyum lalu tangannya terjulur mengambil mangkok dari atas meja.
"Aaaniiiinnn.... " rengek Zeline manja yang dibalas pelototan sayang oleh Anin.
Rengekan Zeline membuat ekspresi wajah King berubah sedikit kesal terlihat dari kerutan diantara alisnya.
Lalu mau tak mau ia harus menghargai dan menuruti suaminya.
Zeline membuka mulutnya, dan satu sendok bubur hangat berhasil masuk kemulut kecil Zeline.
Gadis itu menatap pria didepannya sambil mengunyah, begitu juga dengan King. Mereka hanya terdiam beberapa saat, lalu Zeline memutuskan tatapan itu dan mengedarkan pandangannya ke segala arah.
Hanya tiga suap Zeline bertahan, dan suapan ke empat Zeline sudah menggelengkan kepala.
"Sekali lagi...," King menyodorkan satu sendok ke depan mulut Zeline dan gadis itu langsung menggeleng.
"Ayolah...sekali lagi, biar cepet sembuh" King tampak memelas.
"Kenapa? Kamu ga mau ngurus aku lagi sakit? Ga apa-apa, aku ga minta di urus ko... Ada Anin sama Joe" ucap Zeline memancing keributan.
King memejamkan matanya sambil mengatur nafas, benih-benih emosi sudah mulai bermunculan.
Ia menunduk sambil mengaduk bubur ditangannya,
"Sekali lagi aku janji..." King kembali melembutkan suaranya.
"Ga mau!! Aku bilang ga mau ya ga mau!!" tolak Zeline setengah berteriak.
King membanting mangkok ditangannya ke atas baki, hingga sebagian bubur itu berhamburan mengotori baki dan meja, sekilas pria itu menatap Zeline kesal dengan dua alis yang menaut
Zeline terhentak sejenak, jantungnya berdegub kencang, tubuhnya gemetar. Wajah pucat itu kini semakin pucat dengan keringat dingin yang mengalir dari pelipisnya. Zeline tidak bisa diperlakukan kasar, syaraf-syaraf di otak dan tubuhnya tidak bisa menerima hal itu. Tangis tanpa suara mengiringi kepergian King dari kamar tersebut.
Anin menghampiri Zeline,
"Apa kamu ga bisa bersikap sopan sama suami kamu? Dia itu bukan aku atau Joe yang bisa kamu bentak seenaknya. Diperusahaannya, Tuan Muda King itu adalah pemimpin tertinggi dan sekarang dia itu suami kamu, pemimpin dalam rumah tangga kalian... " Anin menghentikan kalimatnya, menghela napas.
"Bersikaplah selayaknya seorang istri Zeline, belajarlah menjadi dewasa... Tuan King sudah berusaha meenjadi suami yang baik, tadi saja dia yang mengompres kening kamu sebelum dokter datang" terlihat keseriusan dari wajah Anin terbukti dengan alisnya yang melengkung kebawah dan tatapan yang dalam.
Zeline tidak menjawab, ia mengusap sendiri air matanya, membawa ingatannya mundur ke masa lalu, memang setelah menikah pria itu berusaha manis dan sabar menghadapinya. Tapi hati Zeline masih saja ragu, ia terlalu takut mencintai karena ia sudah merasakan bagaimana sakitnya dikhianati.
"Joe sudah datang, aku dan Joe pulang dulu ya... Besok kita kesini lagi. Ingat!! Jadilah istri yang baik!" Anin memeluk Zeline dan mengecup kepalanya.
Zeline menganggukan kepalanya sambil tertunduk, lalu membereskan bubur diatas meja.
Setelah Joe membelikan obat yang diresepkan untuk Zeline, ia pun pamit dan pulang bersama dengan Anin.
__ADS_1
"Tuan Muda... Saya harap Tuan Muda bisa sabar menghadapi Nona Zeline, mungkin akan sulit karena ia pernah terluka sebelumnya karena cinta tapi berusaha lah Tuan, Nona Zeline adalah gadis yang baik" tutur Anin diambang pintu dengan binar di matanya.
King mengulas senyum tipis, pria itu selalu berusaha ramah pada orang terdekat istrinya.
Sebelum melangkah keluar, Anin pamit dengan membungkukan sedikit tubuhnya dan menututup pintu apartemen tersebut.
Setelah pintu itu tertutup, King terdiam sejenak mencerna perkataan Anin. Kini kepalanya yang merasa sakit karena harus menghadapi gadis keras kepala yang sedang sakit itu, ingin rasanya ia pergi ke Night Club bersama Daniel melepaskan semua penat dan hasratnya.
"Aaaarrrggghhhh....!!" King hanya bisa teriak dengan tertahan sambil mengepalkan kedua tangannya.
Menghela nafas,
Pria itu memutar tubuhnya berjalan menuju dapur, mengambil obat dan gelas berisi air lalu berjalan melewati pintu kamarnya.
Zeline masih terduduk di ranjang, melihat siluet seseorang yang masuk kedalam kamar, ia pun mendongak dan mata sembab dengan jejak air mata itu bertubrukan dengan mata abu hangat milik suaminya.
"Kenapa matanya? Apa dia habis nangis?" batin King.
Pria itu mendudukan tubuhnya di samping Zeline seperti tadi, kedua tangannya terjulur membingkai wajah cantik itu kemudian menghapus jejak air mata dengan jempolnya.
"Minun obat dulu ya, setelah itu tidur...., " ucapnya dengan suara rendah, seperti seorang kekasih.
Zeline mengangguk, ia akan berusaha patuh kali ini karena membangkang pun sudah tak ada tenaga.
King mengeluarkan satu persatu obat dari toples plastik berwarna kuning, lalu memberikannya ke tangan Zeline.
Gadis itu langsung menelan 4 pil sekaligus dengan sekali telan lalu meminum air digelas hingga tandas.
"Satu-satu minumnya, entar kamu keselek!" seru King dengan nada khawatir.
"Udah biasa... " saut Zeline sembari merebahkan tubuhnya.
King menepuk dua kali telapak tangannya, kemudian lampu utama dikamar itu mati, menepuk tangannya lagi sekali dan lampu tidur disamping kiri dan kanan ranjang langsung menyala.
"Tidurlah..." King menyelimuti Zeline hingga leher dan berniat meninggalkan gadis itu untuk tidur di sofa ruang TV.
"King..." panggil Zeline.
Langkah Kaki King terhenti kemudian ia membalikan tubuhnya.
"Mau kemana?" tanya Zeline lemah.
"Tidur diluar..." jawab Pria itu datar.
"Tidur disini aja... " Zeline menepuk space kosong di sampingnya.
"Nanti kalau aku haus, biar ada yang ambilin air minum" Zeline beralasan.
Padahal ia ingin ditemani saat sakit seperti ini, juga ingin memperbaiki hubungannya dengan pria itu tapi egonya terlalu tinggi untuk meminta suaminya tinggal.
King tersenyum tipis, kemudian melanjutkan niatnya melangkah keluar kamar.
Tidak berapa lama pria itu masuk dengan gelas berisi air putih ditangannya.
"Siapa tau nanti malem haus" King berujar dengan menyimpan gelas di atas nakas samping ranjang.
Pria itu mengusap kepala Zeline sekilas, kemudian mencondongkan tubuhnya, hendak mencium kening istrinya.
Wajah King sudah semakin dekat dengan kepala Zeline, gadis itu tau suaminya akan mencium keningnya maka ia pun memejamkan mata.
Hingga nafas harum itu sudah menerpa wajah Zeline, tapi ciuman hangat tak kunjung Zeline dapatkan.
King menahan senyum saat gadis itu sudah memejamkan mata bersiap sedia menerima ciumannya.
Lalu ia menjauhkan wajah dan tubuhnya, membenarkan selimut Zeline kemudian berlalu meninggalkan gadis itu dengan mata masih terpejam.
Brugh!
Suara pintu tertutup, Zeline sontak membuka mata dan belum pernah merasa sekonyol ini.
__ADS_1
"Dasar brengsek!!!" geramnya dalam hati.