
...☠️☠️☠️...
Di dalam mansion kediaman Sagara ,terlihat dua orang yang sedang mempersiapkan diri mereka .
"Lo bawa senjata ?!"tanya Gara pada Dafa yang sedang memasukan senjata ke dalam saku jaketnya.
"Yah mereka bukan lawan sembarangan Gar ,kalau kita nggak bersiap yang ada kita mati di sana."sahut Dafa.
Mereka berdua berniat mengacaukan rumah sakit yang di huni oleh Zoya serta teman-temannya.
Gara mengangguk singkat mereka kembali sibuk mempersiapkan diri dan bergegas menuju rumah sakit .
Bersamaan dengan itu Javas sedang dalam perjalanan menuju mansion Gara , setelah mendapat petunjuk dari Alvaz yang memerintahkannya untuk mengepung kediaman Sagara , sayangnya kedatangan mereka telat karena begitu mereka tiba di sana Gara dan Dafa telah pergi menuju rumah sakit.
..._____________________...
Malam semakin larut ,jam sudah menunjukan pukul 11 malam dan ruangan Zoya kini hanya berisi Bima dan Dafi , karena Naufan izin ke toilet dan Alvaz masih dalam perjalanan setelah menyelesaikan pekerjaannya terlebih dulu.
Bima menguap lebar .''Daf gue tidur dulu yah ,bentar lagi juga Naufan datang .''
''Oke .'' jawab Dafi .
Bima mulai merebahkan tubuhnya di sofa ,dalam sekejap dia telah tertidur pulas Dafi yang melihat hal tersebut tertawa pelan , ternyata teman-teman Alvaz care terhadap adiknya .
Penjagaan di luar ruangan juga sudah di perketat setelah Naufan bercerita tentang perasaan nya yang mendadak gelisah.
''Gue seneng lo ketemu orang-orang baik seperti mereka Zoy .''ucap Dafi pelan menatap sang adik .
Saat dia duduk di samping Zoya ,tiba-tiba tangan Zoya bergerak sebentar sebelum kembali diam seperti semula yang membuat Dafi terkejut.
Dia melihat wajah Zoya yang belum menunjukan tanda-tanda akan segera sadar ,tanpa Dafi sadari Zoya telah sadar hanya saja dia malas untuk membuka matanya saat mendengar suara Dafi di sampingnya.
Dafi hanya bisa menghela nafas berat , baru saja dia akan merebahkan kepalanya di sisi ranjang Zoya ,secara tiba-tiba lampu di ruangan tersebut mati yang membuat Dafi berdecak sebal.
"Ck kenapa mati lampu sih." dia berdiri dari duduknya dan menyalakan senter dari ponselnya.
Tap. Tap. Tap.
"Bim bangun woi ,gue titip Zoya bentar ."ujar Dafi membangunkan Bima.
"Hm mau kemana Daf."suara serak terdengar dari Bima.
"Gue mau ngecek kenapa listrik mati ,lo jagain Zoya yah jangan molor lagi."pesan Dafi.
"Oke." sahut Bima dengan mata terpejam.
Setelah kepergian Dafi , Bima kembali tertidur karena matanya sangat berat bahkan dia tidak mengetahui jika setelah Dafi pergi terjadi pertarungan di luar ruangan.
Zoya samar-samar yang mendengar suara perkelahian ,menjadi waspada dia mencari benda apa saja yang bisa dia pakai untuk berjaga-jaga .
Zoya merasa tubuhnya sedikit membaik hanya saja rasa lemas masih menyerangnya ,dan kepalanya masih berdenyut nyeri jika di bawa bergerak.
Ceklek.
Pintu ruangan yang gelap mulai terbuka membuat orang tersebut dengan mudah memasukinya ,dia berjalan menuju ranjang Zoya setelah mengalahkan para bodyguard yang berjumlah tujuh orang yang Malven kirim ,karena anggota Zoya masih sibuk mengejar Dafa yang ternyata kini sudah berada di hadapan Zoya.
"Malam ini lo nggak bakal bisa lolos Zoy ,lo harus membayar perbuatan lo sama kita berdua ."bisik Dafa di telinga Zoya .
Gara serta Dafa mulai melepas selang infus yang ada di tangan Zoya , dia juga mencopot alat bantu pernafasan yang Zoya kenakan.
Setelah semua selesai Dafa menarik tangan Gara ."Lo angkat tubuhnya mumpung belum ada yang sadar."
Gara mengangguk singkat , tanpa mereka sadari perlahan-lahan Zoya mengambil pisau buah yang sudah dia simpan di samping bantalnya .
Saat Gara akan mengangkat tubuh Zoya ,tiba-tiba sabetan pisau mengenai lengannya dan tendangan yang mengenai dadanya.
SREETT. BUUAAK.
__ADS_1
Gara terpental hingga dia membentur sudut ranjang, Bima yang mendengar suar gaduh langsung terbangun dari tidurnya.
"PENYUSUP." teriaknya dan berlari ke arah ranjang Zoya dengan susah payah karena ruangan tersebut masih gelap gulita.
BUUGH.
Belum juga sampai tiba-tiba tengkuk Bima di pukul menggunakan tongkat bisbol yang Dafa pegang hingga membuat Bima langsung pingsan.
"Pftt gue kira lo belum sadar , ternyata insting lo emang tajam Zoy." Dafa tertawa sinis.
Mendengar nada meremehkan dari Dafa berhasil membuat Zoya tertawa ."Haha duh gue nggak nyangka kalo lo berdua ternyata pecundang yang beraninya nyerang orang yang lagi nggak berdaya kaya gue."
"Jaga mulut lo Zoy , kalau aja lo nggak melakukan ini semua gue sama Gara nggak mungkin nyerang lo."hardik Dafa.
"Yakin hm ?! bukannya kalo gue diem lo berdua malah semakin menjadi ?!."sahut Zoya yang kini sudah berdiri di sisi ranjang.
Tenaganya masih lemas ,tapi dia tidak mungkin membiarkan mereka begitu saja.
"Zoy kalo lo nurut sama kita ,gue janji nggak bakal melukai lo." ucap Gara mencoba merayu Zoya.
"Cih lo kira gue percaya hm , dari awal niat kalian aja nggak baik gimana bisa gue ngikutin kemauan kalian." jawaban Zoya mampu membungkam Gara .
Dafa yang sudah muak mendengar ucapan Zoya akhirnya memutuskan menyerangnya meski kondisi Zoya masih lemah Dafa tidak perduli.
BUUAAK.
Tanpa di duga Dafa memberikan tendangan tepat di perut Zoya hingga membuat dia terjatuh dan kepalanya membentur nakas di samping ranjang .
BRUUK.
"Daf lo gila ?! Zoya belum pulih lo mau bunuh dia ." sentak Gara saat melihat tindakan Dafa ,Gara menyalakan senter di ponselnya dia melihat ada darah yang menetes di lantai dari kepala Zoya.
"Yah lo benar gue mau bunuh dia ,di saat kondisinya seperti ini akan lebih mudah untuk menyingkirkannya dan perlu lo tau Gar orang yang membunuh ayah lo adalah dia ." ujar Dafa mengingatkan kembali perbuatan Zoya pada Gara.
"Gue tau tapi gue nggak tega Daf."Ujar Gara sendu ,dia tidak tega menyakiti Zoya orang yang masih dia sayangi ,apa lagi kondisinya semakin parah setelah mendapat tendangan dari Dafa.
Bersamaan dengan itu lampu ruangan Zoya kembali menyala ,kini mereka bertiga saling tatap dapat Gara lihat dengan jelas kondisi Zoya yang sangat memprihatinkan .
Perban yang melilit kepalanya kembali mengeluarkan darah cukup banyak ,bisa di pastikan jika jahitan di belakang kepalanya kembali robek setelah dia membentur nakas.
'Sial kepala gue sakit banget.'batin Zoya kesal.
Dia menatap Gara dan Dafi ."Ck gue muak lihat pembunuh kaya lo Daf mending Kita akhiri aja malam ini ,lo atau gue yang akan pergi dari dunia ini."
Dafa tersenyum sinis ."Ide bagus dengan begini gue nggak perlu merasa bersalah sama lo."
Zoya tak menjawab ,dia melihat tubuh Bima yang terkapar di lantai dan para bodyguard yang berjaga di luar sudah mereka atasi sebab Dafa membawa bodyguard yang bertugas membereskan penjagaan ruangan Zoya .
Zoya sendiri tidak menyangka jika Dafa akan menyerangnya bahkan dia membawa bodyguard hanya untuk membunuhnya .
Kini dia hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri, Zoya menghela nafas sebentar dan mulai memasang kuda-kuda dia hanya punya senjata sebilah pisau buah yang tadi sudah dia gunakan untuk menyerang Gara.
Drap. Drap. Drap.
BUGH. BUGH.
BRAAKK.
Zoya dan Dafa saling menyerang satu sama lain ,Dafa mendapat bogeman mentah di pipinya begitupun dengan Zoya.
Dafa mengeluarkan belati dari saku jaketnya , dia kembali menyerang Zoya dengan brutal.
SRETT. SEEET. DUAKK.
Zoya berhasil menangkis belati yang mengarah padanya dengan menendang tangan Dafa , nafas Zoya mulai tidak stabil dia merasa pusing dan pandangan nya mulai tidak jelas ,dia menggeleng-gelengkan kepala untuk mengurangi rasa pusing yang menyerangnya.
'Apa gue bakal berakhir seperti ini ,meski gue udah berusaha merubah kematian gue .'batin Zoya risau.
__ADS_1
'Seandainya gue mati ,setidaknya gue sudah menepati janji gue sama mereka berdua , yah meski sejujurnya gue nggak mau usaha gue selama ini sia-sia tapi jika takdir gue harus mati gue nggak bisa berbuat apa-apa.' lanjut Zoya di dalam hatinya .
Dia sudah pasrah dengan takdir yang mengikatnya ,jika memang semesta berpihak padanya dia pasti akan mendapat akhir yang bahagia tidak perduli seberapa pahit jalan yang harus dia lalui untuk mencapainya begitu juga sebaliknya jika semesta tidak berpihak padanya , maka sejauh apa pun dia berusaha maka akhir yang dia dapat pasti kematian.
Gara yang tak tega melihat kondisi Zoya meminta Dafa menghentikan serangannya."Daf cukup , meski dia membunuh bokap gue tapi dia orang yang gue sayangi Daf gue nggak bisa biarin dia mati di tangan lo."
Mendengar hal itu amarah Dafa membuncah."Lo lebih mentingin dia dari pada bokap lo hah ?! Munafik lo Gar."
"Gue akui gue munafik ,bahkan gue egois tapi kondisi dia lebih parah dari yang lo bayangin Daf ,lebih baik kita pergi biarin Zoya bahagia Daf ,dia terlalu banyak menderita karena perbuatan kita selama ini." ujar Gara mencoba membujuk Dafa ,dia benar-benar tidak berniat lagi mengikuti rencana gila dari Dafa.
Tanpa menghiraukan ucapan Gara ,Dafa berniat menyerang Zoya kembali namun Gara mencegahnya dengan menendang punggung Dafa yang membuatnya terjatuh ke lantai.
BUUAKK.
BRUUUK.
"Daf rencana awal kita cuma membawa dia pergi dan misahin dia dari Alvaz agar gue bisa membalas rasa sakit gue sama dia , gue setuju karena gue kira lo nggak ada niatan buat membunuhnya , kalo tau ini yang lo mau gue nggak bakal nolongin lo Daf." ujar Gara dengan tajam.
"Pftt haha yah sayangnya semua sudah terjadi Gar ."sahut Dafa tertawa sinis.
Saat Gara berbalik ingin menolong Zoya, tiba-tiba Dafa langsung menodongkan pistol ke arah Gara. "Sory Gar tapi lo menghalangi jalan gue."
"Apa mak-"
DOR. DOR.
Belum sempat Gara menyelesaikan ucapannya , dua peluru telah mengenai dahi Gara hingga menembus ke belakang kepalanya hingga membuatnya langsung meninggal di tempat, Dafa tersenyum senang melihat darah yang keluar dari kepala Gara.
"Ck tidak berguna ." gumam Dafa jengkel.
Dia kembali menatap Zoya yang sedang memegangi kepalanya . "Sekarang giliran lo Zoy."
Dafa mengarahkan pistol ke arah Zoya , dia menampilkan senyum smirk sebelum dia mendengar dobrakan pintu yang membuatnya menoleh.
BRAAKK.
"BEDEBAH SIALAN." bentak seseorang yang baru saja masuk .
"Wow selamat datang adik ku tersayang."Dafa menarik sudut bibirnya ke atas ketika melihat kedatangan Dafi.
"Menjauh dari adik gue bajingan." sentak Dafi.
"Ck ck gue baru tau hubungan kalian sudah sejauh itu , tapi gimana yah gue nggak mau nurutin perintah lo ." terdengar nada remeh di setiap ucapan yang Dafa lontarkan.
Urat-urat di leher Dafi menonjol keluar ,dia marah apa lagi saat melihat keadaan Zoya yang sedang memukuli kepalanya yang kembali mengeluarkan darah.
"Brengsek."umpat Dafi yang langsung berlari menyerang Dafa.
DRAP. DRAP. DRAP.
BUAGH. BUAAKK. BRAAKK.
Dafa terpental hingga menabrak tembok setelah Dafi menghajar wajah dan menendang ulu hatinya , setelahnya Dafi bergegas menghampiri Zoya dan berniat membawanya keluar dari ruangan tersebut.
Sayangnya niat Dafi harus dia tunda ketika Dafa kembali menyerangnya dengan membabi buta ,pertarungan dua pemuda tersebut sangat sengit dimana mereka berdua memperebutkan Zoya yang sedang di ambang kesakitan luar biasa .
.......
.......
.......
Apakah Zoya akan selamat ?! Atau kah Dafa yang memenangkan pertarungan tersebut ?! Atau justru mereka semua mati sekaligus ?!
Penasaran ?! Sama aku jga penasaran wkwkwk😂
...See you next time.........
__ADS_1