
...☠️☠️☠️...
Malven ,Dafi serta Alvaz bergegas keluar dari mobil ketika mereka sampai di rumah sakit milik Malven.
DRAP. DRAP .DRAP.
"BRANKAR MANA BRANKAR CEPAT."teriak Dafi menyusuri lorong rumah sakit.
Seketika semua perawat menjadi panik ,mereka bergegas membawa brankar ke arah Malven.
Malven meletakan Zoya di brankar ,mereka mendorong brankar Zoya memasuki ruang UGD .
"Maaf tuan ,kalian tidak bisa ikut masuk."cegah suster ketika mereka bertiga akan ikut masuk ke ruang UGD.
Setelah mencegah mereka bertiga suster pun menutup pintunya ,membuat mereka bertiga terduduk lesu di sisi pintu.
Alvaz mengusak rambutnya dengan kasar , tak berbeda jauh dengan Dafi yang kini sedang terduduk di lantai.
Baru saja mereka mendudukan tubuh di kursi tunggu ,pintu ruangan UGD kembali terbuka dan brankar Zoya kembali di dorong keluar.
"Dok kenapa Zoya keluar lagi ?!."tanya Alvaz menatap sang dokter.
"Nona Zoya harus menjalani operasi ,luka tembak yang dia terima mengalami infeksi dan harus bersihkan serta di jahit ."
DEGH.
Tubuh mereka bertiga terasa lemas mendengar penjelasan dari dokter ."A-apa cuma itu luka yang ada di tubuh keponakan saya ?!." ujar Malven.
"Tidak ,ada luka lain di bagian belakang kepala dan kami perlu memeriksanya lebih teliti lagi tuan."sahut dokter tersebut.
"Saya permisi dulu tuan ,nona perlu penanganan secepat mungkin."pamit sang dokter yang di angguki Malven.
Mereka bertiga mengikuti dokter tersebut menuju ruang operasi , mereka bertiga hanya bisa berdoa agar Zoya baik-baik saja.
'Tuhan tolong selamatkan adikku, jangan biarkan dia kenapa-napa.'batin Dafi sendu.
'Tuhan jangan biarkan gadisku pergi ,tolong sembuhkan dia secepatnya.'batin Alvaz.
'Tuhan kali ini aku serahkan semua kepadamu ,aku hanya bisa berdoa dan memohon agar engkau mengangkat rasa sakitnya dan segera membuatnya kembali sadar .'batin Malven.
Lampu ruang operasi telah menyala ,mereka bertiga duduk di kursi tunggu dengan perasaan yang sama-sama cemas harapan mereka cuma satu yaitu kesembuhan Zoya .
__ADS_1
Di sisi lain pengejaran Dafa masih di langsungkan , semua anggota Malven serta Zoya berpencar untuk mencari keberadaan Dafa .
Sayangnya usaha mereka akan berakhir sia-sia karena Dafa saat ini sudah bersembunyi di kediaman milik Gara .
BRAK.
Dafa menggebrak meja ,dia marah dengan tindakan yang Zoya lakukan dia tidak menyangka Zoya berhasil membongkar semuanya dan membuatnya malu ,bahkan barang bukti yang sudah dia jauhkan berhasil Zoya temukan .
''Sial , kenapa dia bisa menemukan semua bukti itu ck .'' amarah Dafa tak kunjung reda .
Gara yang duduk di samping Dafa hanya mengangkat kedua bahunya acuh .''Dari awal harusnya lo lebih waspada sama Zoya ,kalau dulu lo nggak abai mungkin semua ini nggak bakal terjadi .''
''Mana gue tau kalau dia diam-diam lagi ngumpulin bukti, gue kira dia gadis bodoh karena selama ini dia cuma tergila-gila sama kasih sayang dari gue dan Dafi .'' sahut Dafa , dia mengeratkan rahangnya ketika mengingat Dafi ikut andil dalam rencana Zoya.
''Btw sejak kapan Dafi akur sama Zoya ?! Bukannya dia benci banget sama Zoya ?.'' ujar Gara ,dia merasa heran dengan tindakan Dafi yang sangat perduli sama Zoya .
Dafa mengangkat kedua bahunya acuh ,dia sendiri bingung dengan sikap Dafi yang berubah.
''Sekarang apa rencana lo ?.'' tanya Gara yang melihat Dafa terdiam .
''Bukankah lo udah tau ?! atau lo mau gagalkan rencana kita tempo hari?.'' tatapan Dafa sangat tajam pada Gara .
''Nggak ,buat apa gue gagalkan rencana itu setelah bokap gue meninggal dan sekarang nyokap gue menjadi gila ,apa lo kira gue bakal diam aja melihat mereka bahagia di saat hidup gue berantakan karena mereka.'' sahut Gara dengan tegas.
''Lo yakin ?! Bukanya sekarang Zoya sedang di kawal dengan ketat ?.''ujar Gara.
''Gue punya cara lain buat pengalihan mereka , lo ikuti aja komando dari gue.''jawab Dafa dengan yakin .
Gara mengangguk singkat,mereka kembali berdiskusi dan menyusun rencana untuk besok malam .
...-------------------------------------...
Di rumah sakit ,Malven mendapat kabar jika Cakra mengamuk di kantor polisi dia menolak untuk di interogasi , mau tak mau Malven harus mengurusnya lebih dulu agar Cakra mendapat balasan yang seadil-adilnya .
''Anak-anak om titip Zoya sama kalian berdua , om harus mengurus bajingan itu .''ujar Malven pada kedua pemuda yang terlihat lesu .
''Baik om , jangan khawatir kita pasti jagain Zoya .''sahut Alvaz.
Malven mengangguk ,dia bergegas menuju kantor polisi untuk mengurus semua berkas yang akan dia ajukan ke dalam pengadilan untuk mengadili Cakra .
Setelah kepergian Malven ,Alvaz menghela nafas berat di samping Dafi .
__ADS_1
''Daf apa semua bakal baik-baik aja ?.''lirih Alvaz .
Dafi menoleh dia dapat melihat wajah lelah Alvaz , kini dia yakin bahwa Zoya tidak salah memilih pendamping .
''Kita harus percaya sama Zoya ,dia pasti bisa melewati masa kritisnya dia sudah berjuang sejauh ini sendirian ,dia nggak bakal kalah hanya karena mendapat luka Al .'' ujar Dafi yang membuat Alvaz sedikit tenang
Waktu berlalu berlalu begitu cepat ,tanpa terasa tiga jam sudah Zoya di ruang operasi ,Alvaz serta Dafi tak lelah memanjatkan doa agar Zoya bisa melewati masa kritisnya dan kembali pulih seperti sedia kala .
Sedangkan di dalam ruang operasi sedang terjadi ketegangan ,Infeksi yang ada pada luka Zoya membuat mereka sangat hati-hati dalam mengobatinya .
Beberapa saat kemudian lampu ruang operasi mati ,Alvaz dan Dafi serempak berdiri saat mereka melihat dokter keluar dari ruangan operasi .
''Bagaimana kondisi adik saya dok ?.''cetus Dafi pada sang dokter.
''Alhamdulilah pasien berhasil melewati masa kritisnya.'' sahut dokter tersebut tersenyum tipis.
Wajah Alvaz serta Dafi menampilkan raut lega , mereka benar-benar bersyukur atas jawaban dari dokter tersebut .
''Pasien akan saya pindahkan ke ruang rawat ,kalian bisa menjenguknya secara bergantian nanti.'' pesan dokter tersebut .
''Terima kasih dok.''ucap mereka berdua kompak .
Dokter tersebut mengangguk , tak berselang lama brankar Zoya keluar dari ruang operasi ,mereka berdua melihat kepala Zoya yang di perban serta lengan nya .
Mereka berdua mengikuti Zoya dari belakang , saat sudah sampai di ruang rawat VVIP Alvaz mengajukan diri untuk menemui Zoya lebih dulu pada Dafi .
''Boleh gue dulu yang nemenin Zoya ?.''izin Alvaz yang mendapat anggukan dari Dafi .
Setelah suster keluar ,Alvaz bergegas masuk begitu berada di dalam ruangan netranya tertuju pada gadis yang terbaring lemah di atas ranjang dengan mata yang tertutup.
Alvaz mendekat dia menarik kursi yang berada di samping Zoya , dia mendudukan tubuhnya di sana perlahan Alvaz menggenggam tangan Zoya yang banyak mendapat luka gores .
''Sayang, kamu hebat kamu berhasil mencapai tujuanmu , sekarang semua sudah selesai .''ucap Alvaz tersenyum lembut ,dia mengecup punggung tangan Zoya .
''Cepat bangun yah , semua orang cemas sama kondisi kamu ,a-aku kangen sama suara kamu sayang .'' suara Alvaz terasa tercekat di tenggorokan .
Dia menunduk saat merasa kedua netranya mulai berair . ''Maaf karena aku gagal melindungi kamu ,andai aku lebih waspada mungkin aku bisa mencegah kejadian ini terjadi sama kamu .''
Perasaan Alvaz semakin sesak melihat gadis pujaannya terbaring dalam kondisi seperti saat ini .
''Cepat sadar sayang ,jangan tidur lama-lama aku menunggumu .'' lirih Alvaz ,dia berdiri dan mengecup kening Zoya cukup lama sebelum dia keluar dari ruangan dan menghapus bulir kristal yang jatuh di pipinya .
__ADS_1
...See you next time........