Zoya Antagonist Girl.

Zoya Antagonist Girl.
Chapter 84


__ADS_3

...☠️☠️☠️...


Di sisi lain Javas dan para rekan nya mulai memasang dinamit di dinding ruangan , mulai dari lantai dua dan seterusnya .


Pekerjaan mereka lakukan dengan cepat karena mereka semua sudah terbiasa terlatih , kini mereka sudah kembali ke lantai satu Javas berjalan menuju pintu yang masih tertutup untuk memeriksanya namun saat dia akan membuka pintu tersebut tiba-tiba pintu terdorong dari dalam hingga membuat tubuhnya limbung dan jatuh ke lantai, ternyata itu merupakan tempat berkumpulnya beberapa anggota yang di tugaskan oleh Pramudya untuk menjaga laboratoriumnya .


BRUUK.


Drap. Drap. Drap .


''Siapa kalian ?.'' tanya bodyguard milik Pramudya ketika mereka keluar ruangan tersebut, mereka menodongkan senjata tepat ke arah Javas yang masih terduduk di lantai .


Javas memperhatikan gerak gerik mereka , hingga suara bentakan dari bodyguard tersebut kembali terdengar .


''JAWAB BAJINGAN !! SIAPA YANG MENYURUH KALIAN HAH ?.''


Javas berdecak sinis '' Ck saya tidak perlu menjelaskan apa pun pada kalian bedebah .''


''Lancang sekali mulutmu !! Apa kau tidak tau kami siapa hah ?.'' hardik bodyguard tersebut .


Javas mengangkat kedua bahunya acuh .'' Saya tidak perduli dan saya juga tidak ingin tau siapa kalian .''


Javas berdiri dari duduknya di lantai , dia dengan santai nya menyingkirkan satu pistol yang berada di dahinya . ''Kalian hanya perlu tau kalau sebentar lagi kematian akan menghampiri kalian semua .''


''Brengsek !! Jangan banyak ba-''


DOR. DOR. DOR.


Tiga peluru dari rekan Javas telah berhasil membuat bodyguard itu mati di tempat , melihat teman nya telah kehilangan nyawa mereka mulai menyerang Javas dan semua teman nya .


BUGH . BUUAK . DUAAK.


DOR. DOR . BRAAK .


Javas menendang , dia juga menembaki satu persatu bodyguard milik Pramudya hingga akhirnya mereka bisa mengalahkan bodyguard yang berjumlah sekitar dua puluh orang tersebut .


''Kerja bagus semua .''ucap Javas sambil mengacungkan jempolnya pada teman-teman nya .


Mereka kembali bergegas memasang dinamit yang tersisa , sedangkan di sisi Zoya kini mereka telah membawa sekitar sepuluh botol kecil yang ada di brangkas milik Pramudya .


Mereka berhasil membuka brangkas tersebut setelah bersusah payah selama sepuluh menit membobol brangkas tersebut.


''Udah semua Zoy ?.'' tanya Nata .


Zoya mengangguk . '' Cabut Nat .''


Nata mengangguk ,saat mereka akan keluar tiba-tiba tatapan Zoya teralihkan oleh lembaran kertas yang ada di atas meja milik Pramudya .


Zoya mengambil kertas tersebut dan mulai membacanya dengan seksama ,hingga dia menemukan sebuah fakta yang sangat mengejutkan .


''Bajingan ! Jadi semua ini sudah mereka rencanakan sejak lama .'' gumam Zoya .


Nata yang melihat raut wajah Zoya berubah merah padam menjadi heran . ''Kenapa Zoy ?.''


Zoya tersadar dari lamunan nya , dia menggeleng pelan , Zoya melipat kertas tersebut dan memasukan nya pada saku celana panjangnya .


Dia berbalik menatap Nata . ''Yuk kita harus bergegas .''


Mereka semua keluar dari ruangan tersebut , saat di pintu keluar Zoya kembali menengok ke tempat para manusia yang berada di bawah kendali alat-alat milik Pramudya.


''Maaf gue nggak bisa bebasin kalian , karena tubuh kalian bukan lagi tubuh manusia melainkan tubuh ciptaan Pramudya ,jika kalian di biarkan berkeliaran yang ada kalian akan membahayakan banyak orang .'' ujarnya pelan sebelum pergi meninggalkan tempat tersebut .


Javas dan para teman nya juga sudah berkumpul di aula lantai satu , tak berselang lama Zoya dan Nata juga tiba di sana .

__ADS_1


Tap . Tap . Tap .


'' Bagaimana Jav ?apakah semua sudah beres ?.'' tanya Zoya .


Javas mengangguk . '' Mari keluar dari gedung ini nona .''


''Baiklah .''


Mereka semua bergegas keluar dari gedung tersebut , setelah jarak mereka cukup jauh Javas menyerahkan remote kecil yang menjadi kunci untuk meledakan semua dinamit yang sudah mereka pasang .


Zoya menerimanya dengan senang hati ,dia menatap gedung yang sebentar lagi akan rata dengan tanah .


Zoya mulai menghitung mundur untuk memencet tombol di remote nya .


3


2


1


KLIK.


DUUAAARRR .


Ledakan yang sangat hebat terjadi hingga membuat tanah yang mereka pijak ikut bergetar hebat .


Nata bahkan berpegangan pada lengan Zoya ,dia memejamkan kedua matanya saat ledakan terjadi .


''Zoya jantung gue nggak jatuh kan ?.''gumam Nata yang masih memejamkan matanya .


Zoya tertawa kecil . '' Kalau jantung lo jatuh yang ada lo udah pindah alam Nat .''


''Ck gue takut tau Zoy , ledakan nya aja bikin gue jantungan.''


'' Iya deh tapi kan ledakan nya nggak bakal bikin lo meninggoy kecuali lo ada di dalam gedung itu Nat .'' sahut Zoya .


Zoya hanya tertawa menanggapi ucapan Nata , dia menatap gedung yang sudah hancur berantakan , asap mulai keluar dari bangunan tersebut.


Senyum senang terlihat di bibir tipis milik Zoya , satu persatu orang-orang yang berurusan dengan nya mulai berkurang tinggal sedikit lagi maka dia akan selesai dengan semua tujuan nya .


Setelahnya mereka semua kembali menuju mobil masing-masing untuk menemui Malven dan menyerahkan botol yang sudah mereka dapatkan.


...___________________...


Di tempat lain Dafi telah sampai di rumah yang menjadi tujuan Pramudya , awalnya dia ingin pergi setelah memastikan bahwa Pramudya tidak menuju laboratorium .


Namun saat dia melihat Alvaz memasuki rumah tersebut dengan tergesa-gesa ,dia menjadi penasaran dan curiga jika Alvaz bersekongkol dengan ayahnya yang mungkin akan mengancam adiknya .


Dafi akhirnya memutuskan untuk menyelinap ke samping rumah tersebut ,dia ingin mencari tau apakah Alvaz berkhianat atau tidak .


Sayang nya niatnya harus gagal karena dia tidak menemukan celah untuk menerobos rumah tersebut , Dafi hanya berdiri si samping tembok sambil menunggu Alvaz keluar namun baru beberapa menit dia berdiri di sana tiba-tiba dia mendengar suara tembakan dari dalam ruangan tersebut di susul derap langkah kaki yang saling bersahutan di lantai.


Tanpa pikir panjang Dafa berlari menuju pintu utama rumah tersebut , saat dia sampai betapa terkejutnya dia ketika melihat peluru saling beradu di dalam rumah tersebut , satu hal yang membuat Dafi terkejut adalah sosok Alvaz yang sedang melawan puluhan orang sendirian .


"Ck sialan bisa-bisanya dia melawan mereka sendirian ?! Kalau Zoya tau hal ini pasti dia ngamuk ." gumam Dafi.


Setelah memperhatikan pertarungan tak seimbang tersebut , akhirnya dia memilih membantu Alvaz , dia mengeluarkan pistol dari balik bajunya .


"Hah~ gue bantuin dia cuma demi adik gue biar nggak sedih."ucap nya pada diri sendiri sebelum berlari menerjang kerumunan puluhan bodyguard tersebut.


DRAP. DRAP. DRAP.


DOR. DOR. BUUAAK.

__ADS_1


Alvaz yang mendengar suara tembakan dari arah depan akhirnya menoleh , dia melihat sosok Dafi yang sedang menghadapi beberapa orang di sana.


Dafi yang sadar sedang di perhatikan ,dia memandang pada Alvaz. "JAGA PANDANGAN LO BEGO ! KALAU LO BELUM MAU MATI SIALAN."


Dafi berteriak sambil mengumpat karena Alvaz melihatnya sejak tadi dan mengabaikan puluhan orang yang sedang menodongkan senjata pada mereka.


Alvaz tersadar , dia mengalihkan pandangan nya dari Dafi dan kembali fokus pada pertarungan.


DOR. DOR . BUGH.


Alvaz menembak dan memukul bodyguard yang ada di hadapan nya , mereka berdua bekerja keras mengerahkan semua tenaganya untuk melawan para bodyguard tersebut.


BUGH. DUAAK. BRAAK.


Dafi memukul rahang bodyguard yang berhadapan dengan nya , dia juga menendang perut bodyguard itu hingga terlempar menabrak meja.


"Al anggota lo mana ?! Kenapa mereka nggak bantuin lo ?!." tanya Dafi begitu dia berdekatan dengan Alvaz.


"Di jalan." sahut Alvaz dingin.


"Ck nggak usah sok cool deh ,kalau bukan karena Zoya gue juga ogah bantuin lo kali." Dafi menatap sinis Alvaz.


"Terserah." jawab Alvaz membuat Dafi kesal.


"Sialan lo."


BUAAK. BRAAK. DOR.


"Sssttt ." Alvaz berdesis ketika satu peluru berhasil menembus pundaknya.


Dafi menoleh dia melihat Alvaz sedang memegangi pundak kirinya . "Lo nggak papa Al ?!."


"Hm." dehem Alvaz sebagai jawaban pertanyaan Dafi.


"Ck nyesel gue nanya sama lo." sindir Dafi yang di acuh kan oleh Alvaz.


Mereka kembali melawan puluhan bodyguard , mereka mulai kewelahan padahal mereka sudah menumbangkan sebagian bodyguard itu namun mereka masih saja banyak.


"Aelah kapan selesainya sih. " gumam Dafi , nafasnya sudah terengah-engah begitu juga dengan Alvaz.


BUUAAK . JLEEB.


"Anj*** , tangan gue." reflek Dafi mengumpat ketika sebuah pisau menancap di lengan nya.


Dia menatap nanar lengan nya yang terasa perih. "Bajingan lo semua , berani nya main curang."


Dafi mencabut pisau tersebut , dia berlari menerjang bodyguard yang menusuk lengan nya.


DRAP. DRAP. JLEEB.


"Mampus lo anj*** ! makanya jangan suka main-main sama pisau ." sinis Dafi setelah berhasil menancapkan pisau tersebut di mata sebelah kanan bodyguard yang tadi.


BUUKK. BRAAK.


DOR.


Dafi menendang bodyguard tersebut hingga menabrak tembok ,sayangnya bodyguard itu sempat menembakan peluru para betis Dafi hingga membuat Dafi menggeram marah , dia kembali mengarahkan pistolnya pada bodyguard tersebut .


DOR. DOR. DOR.


Akhirnya bodyguard itu tewas dengan mengenaskan , Dafi tersenyum senang dia sudah lama tidak melakukan hal seperti ini.


Di saat dia menikmati momen tersebut , tiba-tiba dia mendengar derap langkah kaki mendekati ruangan tersebut , saat dia menoleh ke arah pintu ternyata mereka adalah anak-anak Alaska.

__ADS_1


Akhirnya bantuan datang ,mereka semua membabat habis bodyguard di sana tanpa tersisa sedikit pun ,hingga ruangan tersebut menjadi lautan darah dengan mayat yang berserakan di lantai.


...See you next time.......


__ADS_2