
...☠️☠️☠️☠️...
Darah mengalir membasahi lantai ,tubuh Aruna bergetar hebat dan kedua bola matanya menatap nanar pada tubuh yang tergeletak di lantai.
"Nggak ! Ini nggak mungkin." Aruna terus bergumam dan menolak fakta yang ada di hadapan nya.
"Cie selamat udah jadi pembunuh Aruna Zetana ,nggak sia-sia nama lo ada setannya ." sindir Zoya tertawa lirih.
Yah orang yang terkena tusukan katana bukanlah Zoya melainkan Nabila , tadi saat Aruna berlari ke arahnya Zoya langsung menarik tubuh Nabila untuk menggantikan tempatnya ,bersamaan dengan itu katana milik Aruna berhasil menghunus tepat di jantung Nabila.
"Ini semua karena lo , gue bukan pembunuh gue nggak salah." Aruna menatap nyalang pada Zoya .
"Ck iyain biar seneng ,btw makasih loh udah bantu gue nyingkirin satu hama ."senyum smirk Zoya berikan pada Aruna.
"Brengsek ! Lo harus mati Zoya."sentak Aruna , dia mengambil pistol milik Nabila yang tergeletak di depan Aruna.
Aruna mengarahkan pistolnya pada Zoya yang masih bergeming di tempatnya .
"Buruan njir , gue mau lihat seberapa hebatnya lo yang punya muka berlapis."ujar Zoya.
Mendengar ucapan provokatif dari Zoya ,Aruna langsung menembakan peluru tanpa henti pada Zoya.
DOR. DOR. DOR.
Untuk menghindari peluru tersebut Zoya melakukan salto dan beberapa kali dia berguling di lantai.
Tujuh peluru telah berhasil dia hindari ,kini giliran Zoya yang menyerang .
Drap. Drap. Drap.
BUGH. PLAAK. GUBRAK.
Dia membogem wajah Aruna lalu menamparnya dan terakhir menendang perutnya hingga dia jatuh tersungkur di lantai.
"Makanya Run jadi orang kalo mau jahat ya jahat aja nggak usah di sok baik , apa lagi munafik ujung-ujungnya lo sendiri yang rugi."ucap Zoya , dia berbalik badan dan berniat pergi .
Zoya berniat membiarkan Aruna karena waktunya sudah mepet ,dia berfikir Aruna tidak terlalu membahayakan baginya lagi pula Nabila yang merupakan dalang sesungguhnya sudah tewas.
Namun baru saja Zoya tiba di dekat tangga , tiba-tiba dia mendengar derap langkah kaki menuju ke arahnya Zoya menoleh seketika kedua netranya membulat sempurna ketika melihat Aruna berlari ke arahnya ,dalam hitungan detik Aruna mendorong tubuh Zoya ke arah tangga ,reflek tangan Zoya menarik lengan Aruna hingga mereka berdua jatuh berguling-guling di tangga.
BRUUKK.
__ADS_1
"Kalau gue harus mati , gue nggak akan mati sendirian Zoy karena lo juga harus mati bareng gue." ucap Aruna di sela mereka terjatuh.
"Sory Run tapi gue ogah pergi ke akhirat bareng dedemit kaya lo." mereka berdua terus berguling-guling hingga jatuh ke lantai dua. .
'Gue harus selamat ,bagiamana pun caranya gue nggak akan biarin kehidupan kali ini sia-sia.' batin Zoya.
BRAAAKKK.
Tubuh mereka berdua jatuh membentur lantai , Zoya merasakan tubuhnya remuk dan tulangnya patah serta kepalanya berdenyut nyeri dan penglihatannya mulai buram.
'Nggak , gue nggak boleh nyerah gue pasti bisa yah gue harus yakin.' batin Zoya penuh tekad.
Dia memejamkan kedua matanya guna mengurangi rasa pusing yang menjalar di kepalanya , Zoya merasa darah mulai keluar dari pelipisnya akibat benturan tadi dan ternyata bukan hanya pelipis tapi lengan ,punggung serta kakinya penuh dengan luka gores yang baru dia sadari.
Beberapa saat kemudian dia kembali membuka matanya , dia melihat Aruna sedang merintih kesakitan di lantai .
Zoya menggelengkan kepalanya pelan untuk mengurangi rasa pusing sebelum berdiri dengan tertatih-tatih , dia mengambil katana yang tergeletak di lantai lalu berjalan menghampiri Aruna , dia tidak memperdulikan darah yang menetes dari dahinya akibat benturan yang terjadi tadi.
"L-lo mau apa Zoy?!." Aruna bertanya dengan gagap.
"Sory Run cerita lo harus selesai di sini aja ,semoga di kehidupan selanjutnya lo nggak jadi orang munafik lagi ."Ujar Zoya dan langsung menebas kepala Aruna ,dalam sekali tebasan kepala Aruna telah terpisah dari tempatnya.
Setelahnya dia berjalan menuruni tangga menuju lantai satu dan meninggalkan gedung tersebut yang sudah di penuhi dengan mayat dimana-mana .
Darah Zoya terus menetes sepanjang langkahnya menuju pintu keluar , saat dia sudah berada di teras Zoya menghela nafas berat ,hari ini adalah hari paling melelahkan baginya.
"Setelah ini semua selesai ,gue mau tidur sepuasnya ." ujarnya tersenyum tipis.
Dia kembali berjalan menuju motor yang terparkir di halaman gedung tersebut ,Zoya mengerahkan seluruh sisa tenaganya untuk mengendari motor tersebut menuju kediaman Jazzairo.
BRUM. BRUM. BRUM.
Tanpa memperdulikan rasa sakit yang menyerang seluruh tubuhnya , Zoya mengendari motornya dengan kecepatan di atas rata-rata agar dia bisa cepat sampai di kediaman Jazzairo.
...______________________...
Di sisi lain Alvaz dkk sedang menyusuri jalanan dengan harapan menemukan petunjuk tentang Zoya .
Mereka sudah berkeliling kesana kemari selama dua jam ,namun belum ada satu pun petunjuk yang mereka dapat .
"Ck kemana lagi kita harus nyari Zoya Al ?! Apa nggak bisa kita lacak ponsel dia aja ?!." ujar Bima.
__ADS_1
"Ponsel Zoya ada sama gue Bim ,ponselnya jatuh di pasar malam waktu itu." sahut Alvaz.
"Kenapa bisa jatuh di sana sih ya tuhan ,kalo kaya gini terus yang ada sampai lusa kita juga nggak bisa nemuin Zoya Al." Bima mengusak rambutnya dengan kasar .
Mereka bertiga kekurangan istirahat semenjak Zoya menghilang , perasaan cemas terus menghantui mereka.
"Jangan kebanyakan ngeluh Bim ,mending lo fokus liat kiri kanan siapa tau nanti Zoya muncul depan mata lo." ujar Naufan.
"Lo kira Zoya hantu yang bisa tiba-tiba muncul depan mata ." sungut Bima.
"Yakan sapa tau aja gitu ,berharap kan nggak masalah." sahut Naufan santai.
"T** lo." sinis Bima yang langsung memalingkan wajahnya ke arah jalan.
Naufan hanya mengangkat kedua bahunya acuh ,Alvaz yang sedang duduk di kemudi stir tiba-tiba membulatkan kedua netranya dan langsung mengerem mobilnya secara mendadak.
CKIITT.
BRUUKK.
"Buset Al ,kalo lo mau ke akhirat jangan ngajak-ngajak dong gue belum kawin tau." gerutu Bima setelah dahinya mencium jok mobil di hadapan nya sebab Bima duduk di bangku penumpang.
Bima merasa aneh ketika Alvaz tidak menjawab ,hingga dia melihat satu motor sport melaju di sampingnya dengan kecepatan tinggi.
WUUUSSSHHH.
Bima tertegun dia seperti tidak asing dengan orang yang membawa motor tersebut , rambut panjang yang berkibar terbawa angin dan wajah dingin dengan tatapan tajam membuat mereka bertiga seketika berteriak.
"ZOYA."
"Al tadi Zoya kan ?! Gue nggak salah lihat kan ?!." heboh Bima.
Naufan mengangguk. "Iya gue juga yakin tadi Zoya ."
Tanpa menjawab pertanyaan kedua sahabatnya Alvaz memutar balik arah mobilnya dan mengejar motor yang di kendarai oleh Zoya .
'Kenapa wajah kamu babak belur Zoy ?! Apa yang sebenarnya terjadi sama kamu.' batin Alvaz tak karuan .
Sekilas tadi dia melihat wajah Zoya penuh dengan noda darah , kemungkinan besar dia terluka parah hal itu membuat Alvaz benar-benar Khawatir , dia menambah kecepatan mobilnya agar bisa menyusul motor Zoya.
...See you next time........
__ADS_1