
" Ya biar tidak pusing mikirin orang yang belum jodohnya Ibu". Jawab Sindy yang seakan tidak ingin lagi pacaran
" Yakin ngak mau? tapi tadi malam pergi dengan siapa? ". Tanya Ibu
" Dengan sepupunya Bela, Zain namanya". Jawab Sindy
" Untung ayah mu tidak mengetahuinya". Ucap Ibu
" Kalau tau memang nya kenapa ibu? ". Tanya Sindy
" Kamu kan tau ayah mu bagaimana, dia hanya ingin melihat anak nya sukses sebelum memutuskan untuk menikah apalagi hanya pacaran ". Ucap Ibu
" Jodoh tidak ada yang tau Ibu, kapan dan Di mana bertemunya". Jawab Sindy
" Iya ibu juga tau itu". Ucap Ibu
Keesokan harinya ayah bertanya kepada Sindy tentang bagaimana cara Sindy membuat surat lamaran kerja.
" Sindy kamu sudah melamar kerja apa belum? "Tanya ayah kepada Sindy yang sedang duduk santai Di taman rumah nya
" Sudah ayah, rencana nya besok akan melamar Di tempat lain lagi". Jawab Sindy
__ADS_1
" Belum ada Satupun panggilan ya". Tanya ayah lagi
" Belum ayah, kan baru Satu hari, ngak mungkin secepat itu lah ayah". Jawab Sindy
" Coba Ayah lihat bagaimana kamu membuat surat lamaran kerja, jangan-jangan kamu buat nya asal-asalan makanya tidak Satu pun perusahaan yang mau memperkerjakan kamu". Ucap ayah yang sangat menyakitkan hati Sindy
" Ini ayah surat lamaran yang aku tulis". Sindy sambil meneteskan air mata mendengar perkataan ayah nya
" Kenapa begini? Pantas saja kamu tidak Di terima surat lamaran kerja aja buat nya begini". Ucap ayah yang sangat kesal karena Sindy menganggur
" Yang benar bagaimana ayah". Tanya Sindy menguji kesabaran ayahny, tetapi ayah nya Sindy tidak memberikan cara yang benar dalam penulisan surat lamaran kerja
Sindy hanya terdiam dan menangis karena sangat merasa sedih dan sakit hati dengan perkataan ayah nya. Saat ayah nya marah dengan Sindy, Ibu tidak ada Di rumah sehingga tidak ada yang membela Sindy.
Seharian Sindy hanya Di kamar sebelum ayah nya pergi kerja Sindy tidak mau keluar kamar nya, Ibu tidak tau kalau Sindy sedang sedih.
" Sin, kamu kenapa seharian Di kamar? apa kamu sudah makan siang? ". Tanya Ibu Sindy
" Tidak apa ibu, Belum Ibu, sebentar lagi aku akan makan ibu". Ucap Sindy kepada Ibu, tetapi Sindy masih saja tidak keluar dari kamarnya sedangkan ayah nya sudah pergi bekerja.
" Makan dulu Sindy nanti kamu masuk angin ". Ucap Ibu yang menunggu Sindy keluar dari kamarnya
__ADS_1
" Iya nanti saja Ibu ". Jawab Sindy masih menyembunyikan matanya yang masih terlihat sipit dan membengkak.
" Kenapa Sindy hari ini tidak keluar dari kamarnya kak? ". Tanya Ibu kepada kakak pertamanya. Sang kakak tidak mengetahui mengapa ad in nya mengurung diri nya sendiri Di kamar.
" Aku tidak tahu Ibu, mungkin ada sesuatu yang membuatnya sedih". Jawab Kakak Sindy
" Coba Di Tanya kak! ". Ibu menyuruh kakak nya untuk bertanya langsung kepada Sindy
" Nanti saja bu tunggu Sindy nya keluar dari kamar, kalau mau Tanya sekarang kan kamarnya Di kunci dari dalam". Ucap Kakak
" Iya kak, nanti saja lah". Jawab Ibu
" Biasanya kalau Sindy seperti ini pasti Sindy sedang Di marah oleh ayah Ibu, kan Sindy paling tidak bisa kalau mendengar suara kasar nya ayah. Tapi Ayah marah kenapa kalau memang iya". Ucap Kakak Sindy
" Kamu benar kak, apa jangan-jangan masalah cicilannya sepeda motor lagi ya? ". Jawab Ibu
" Bisa jadi itu Ibu". Ucap Kakak mengira Sindy Di marah karena cicilannya, tetapi ayah nya marah karena cara pembuatan surat lamaran Sindy yang menurut ayah nya salah.
" Ya Sudah nanti kita Tanya apa sebenarnya yang membuat Sindy begitu". Ucap Ibu
Ibu dan Kakak Sindy makan siang duluan karena Sindy tidak mau keluar kamar. 15 menit kemudian Ibu dan Kakak delay selesai makan siang tetapi Sindy belum juga keluar.
__ADS_1