
Sesampainya di rumah Sindy sempat menawarkan Zain masuk ke rumah Terlebih dahulu, dan sempat bertemu sang Ibu, ia bersalaman dengan Ibu, tetapi tidak bersalaman dengan ayah nya padahal ayah nya ada di luar yang sedang ngobrol dengan temannya.
Sebelum Zain pulang, Ayah Sindy keluar dengan temannya ke pasar terdekat untuk ngobrol bareng. Sehingga waktu Zain pulang, Zain tidak dapat bersalaman untuk pamit dengan ayah Sindy.
Dari pertemuan Itu sang ayah sudah merasa kecewa dengan Zain yang berani mendekati anaknya sedang kan dengan ayah nya Zain tidak menunjukan sifat hormat nya kepada orang yang lebih tua.
"Bu, Saya pamit dulu ya bu." pamit Zain karena sudah mengantar Sindy pulang ke rumah dengan selamat.
"Loh, kamu tidak nginap saja nak, perjalanan kamu kan jauh, masa' mau pulang lagi?." tanya Ibu kasian melihat Zain.
"Lain Kali saja bu, lagian ini masih awal juga kok bu, saja sudah biasa." jawab Zain tidak enak kalau sampai merepotkan keluarga Sindy meskipun sekarang sudah resmi berpacaran.
"Kamu yakin mau pulang sekarang nak." tanya Ibu Sindy sekali lagi.
"Iya tidak apa-apa bu, nanti orang tua saya khawatir jika saya tidak pulang." jawab Zain beralasan, padahal bisa saja kalau dia ingin.
"Nanti kan bisa di kasih tahu melalui telpon atau WhatsApp." saran Ibu kepada Zain.
__ADS_1
"Ngak usah bu, lain Kali saja ya." jawab Zain menolak.
"Ya sudah kalau kamu masih ingin pulang, tapi hati-hati ya, kalau sudah sampai rumah kabari saja dan terimakasih karena sudah mengantar Sindy sampai rumah." ucap Ibu tersenyum kepada Zain.
"Iya sama-sama bu, saya pamit bu." ucap nya sekali lagi.
Akhirnya Zain memutuskan untuk pulang lagi tanpa pamit kepada ayah Sindy.
Tiba-tiba ayah datang ke rumah dan bertanya kepada Sindy.
"Siapa laki-laki yang bersama mu tadi Sin." tanya sang ayah dengan keras.
"Teman atau pacar?." tanya ayah dengan kecurigaan.
"Teman yah." jawab Sindy takut.
"Teman kok sampai diantar ke sini segala, ayah tahu dia bukan sekedar teman bagimu." jawab ayah dengan sangat yakin.
__ADS_1
Sindy terdiam karena memang benar Zain adalah kekasihnya.
"Kenapa kamu diam? ayah benar kan?." Bentak ayah yang kecewa dengan Zain tidak hormat kepada nya.
"Tidak ayah." Sindy masih saja berbohong karena takut ayah akan semakin marah kepada nya.
"Kau masih saja menyangkal. Sekarang lupakan masalah itu, tapi bagaimana dengan kerjaan, apa sudah ada panggilan?." ucap ayahnya.
"Belum ada yah." jawab Sindy singkat.
"Bagaimana kamu ini Sin, mana bulan depan harus bayar cicilan. Kamu usahakan segera untuk membayarnya." ucap ayah dengan keras.
Sindy yang akhirnya menetes kan Air mata mendengar ucapan sang ayah, karena belum bisa berbuat apa-apa.
Mengenai uang cicilan bulan depan memang Sindy belum mempunyai nya, yang sangat membuat nya sedih ialah ucapan sang ayah yang tidak memberi dukungan untuk membantu membayar cicilannya.
Akhirnya Sindy nekat mencari pekerjaan apapun yang penting halal dan bisa mencukupi kebutuhannya dan cukup untuk melunasi cicilannya.
__ADS_1
Jika masih banyak kesalahan dari Author mohon masukan nyaš jangan lupa untuk dukung dengan cara like, komen, dan Vote karya author biar author tambah semangat Up nyaš„°
Terimakasih semuanya salam kenal dari authorš„°