
" Soal nya kemarin aku Sudah pergi keluar antar surat Lamaran itu". Jawab Sindy
" Kan Ini beda, kamu keluar untuk bertemu dengan aku bukan antar surat Lamaran lagi". Jawab Zain
" Iya, maka dari itu, aku tidak bisa keluar tanpa urusan penting". Jawab Sindy sehingga membuat Zain kecewa
" Memangnya aku tidak penting bagimu? ". Tanya Zain
" Hm.. kok malah begini bahasnya". Sindy tidak ingin mengecewakan Zain dengan jawabannya kalau sampai ia Jujur.
"Kenapa? Aku tidak penting bagimu? ". Tanya Zain sekali lagi
" Bukan begitu Zain. aku bingung mau jawab apa sekarang". Jawab Sindy
" Ya Sudah lah Sin, Kalau kamu tidak ingin keluar dengan ku". Ucap Zain Merajuk
"Kamu marah ya Zain, Maaf Zain bukan aku tidak mau, kalau aku keluar setiap hari, yang ada ayah ku semakin marah padaku". Jawab Sindy membuat Zain mengerti dengan keadaannya.
" Kalau kamu mau keluar dengan ku, aku siap pergi minta Izin kepada ayahmu". Ucap Zain music ngotot ingin bertemu dengan wanita pujaan.
" Tidak Zain, Tidak perlu". Jawab Sindy ketakutan. Karena ayahnya bukan seperti ayah di luarr sana yang bisa mengizinkan anak perempuannya pergi dengan pria yang bukan ia kenal dengan baik.
__ADS_1
" Kenapa Sindy?". Ucap Zain dengan lantang " Bukankah itu solusi terbaik jika kamu takut di marah oleh ayah mu? ". Tanya Zain dengan Nada tinggi.
" Iya Zain Itu baik menurut
mu, tapi tidak untuk ayahku". Jawab Sindy
" Kamu aneh Sin, aku kan hanya meminta Izin untuk membawa mu pergi menghirup udara segar dan menikmati pemandangan di luar sana. Apa itu tidak boleh? ". Tanya Zain kembali
" Boleh Zain, tapi tidak hari ini, aku belum bisa karena kemarin aku Sudah pergi seharian. Ku mohon mengertilah Zain". Jawab Sindy menolak ajakan Zain untuk keluar, padahal Zain sangat ingin bertemu dengan wanita pujaannya.
" Baiklah Sindy jika itu keputusan mu, tapi lain Kali aku harap kita bisa bertemu". Ucap Zain
" Iya Zain ". Jawab Sindy
Sindy merasa saat ini tidak ingin membalas chat nya Zain, pikirannya menjadi kacau belum lagi ia harus berhadapan dengan ayahnya yang selalu menginginkan ia bekerja karena Sindy harus memenuhi tanggung jawab nya untuk melunasi kreditnya.
" Sindy kenapa kamu membalas chat ku hanya sedikit? Maaf kan aku Sin aku tidak bermaksud melukai hatimu". Zain mengirimkan pesan lagi via WhatsApp nya.
" Lalu aku harus bagaimana Zain? ". Jawab Sindy
" Tolong jangan cuek kepada ku Sin, Jujur saja aku tidak bisa jika kamu yang bersikap cuek kepada ku". Sesaat Zain seperti orang tidak Pemarah padahal ia baru saja melampiaskan kemarahannya.
__ADS_1
" Sudah lah Zain, sekarang aku sibuk. aku mau beres-beres dulu". Ucap Sindy mengakhiri chat nya
" Baiklah Sin". Jawab Zain. Namun hanya di read saja oleh sindy.
" Yah cuma read saja " Batin Zain.
Kakak Sindy yang baru sadar Dari tidur nya melihat Sindy dan Tisa Sudah tidak ada di kamar.
" Kemana mereka ". Ucap kakak sendirian dan langsung menuju keluar kamar untuk melihat apakah Sindy dan Tisa ada di luar rumah. Ternyata kakak hanya melihat Sindy yang sedang memegang sapu lantai.
" Sin.. ". Ucap kakak kepada Sindy
" Iya Kak, kakak Sudah bangun? ". Tanya Sindy sambil menyapu lantai rumah nya.
" Iya Baru bangun. dimana Tisa? ". Jawab kakak menanyakan Tisa karena Tisa juga tidak pamit kepada kakaknya.
" Tisa baru saja pulang kak, tadi kakak tidurnya pulas sekali jadi kami tidak membangunkan kakak untuk pamit". Ucap Sindy menjelaskan kepaa kakak
" Oh iya Sin, tidak masalah. Ibu di mana ya? ". Tanya kakak
" Ibu di dapur kak". jawab Sindy
__ADS_1
" Baiklah, kakak ke dapur dulu ya ". Kakak langsung berjalan ke arah dapur.
" Iya kak ". Jawab Sindy