
Rose berlari ke arah Viona sebelum panah itu di lepas, tapi panah yang di tarik sudah di lepaskan, panah itu tidak akan berhenti sebelum mengenai sasarannya.
Rose dengan cepat berlari ke arah Viona beriringan dengan panah tersebut.
Semua bangsawan heboh, kenapa Yang mulia Ratu yang anggun berlari di tengah aula pesta.
Mereka akhirnya sadar setelah melihat panah melewati mereka.
Panah itu semakin mendekat ke arah Viona.
Rose melambaikan tangannya kepada Viona, itu merupakan tanda bagi Viona untuk menyingkir jangan melangkah lagi.
" Lady Viona!!!!!!!!! " Teriak Rose.
Rose yang sudah sampai di hadapan Viona dia dengan sigap mendorongnya.
' Dubrak!! ' Suara seseorang jatuh.
' Jlebbbb..... '
' ughhhhh!!! '
Dan panah tersebut mengenai Rose, yang tidak sempat menghindar.
" Yang muliaaaaaaaa!!!!!!! " Teriak semua orang.
...----------------...
Tiba-tiba aku merasakan rasa sakit di punggungku. Secara bertahap, detak jantung meningkat.
Tubuhku terhuyung-huyung tidak setabil dan kepalaku merasa sangat pusing.
Mataku yang kabur menangkap sosok suami yang tidak mencintaiku.
Brayen....yang membenciku.
Matanya terlihat menggeliat seolah-olah dia merasakan sesuatu yang tidak biasa, dia tampak bangkit.
Aku bertanya-tanya kenapa dia bangkit? Apa karena rasa khawatirnya kepada Calon Ratu ke dua?
Sebelum aku berpikir banyak, rasa sakit terus terasa di belakang punggungku, sakit seperti di tusuk-tusuk, aku dibutakan oleh rasa sakit yang luar biasa.
Aku batuk dan muntah kecil, merasakan ribuan suntikan mendidih di bawah punggungku.
' Uhuk!! '
Gaunku yang putih tiba-tiba tertutup dengan warna merah. Bukannya tidak, itu benar-benar darah merah yang keluar dari punggungku.
Aku bahkan mendengar jeritan orang-orang yang terdengar dari jauh dan luas di telingaku.
Aula itu ramai sehingga aku semakin pusing.
Brayen yang terus memanggil tabib, wajahnya terlihat begitu cemas.
__ADS_1
Aku bertanya lagi dalam pikiranku, kenapa kau membuat wajah seperti itu? Wajah cemas seolah kau menganggap ku sebagai manusia? Bukankah ini keinginanmu? Bukankah kau hanya menganggapku serangga?
Aku sedikit membuka mulutku.
" Yang Mul—lia.....
" Diam!!!! Kau sedang sekarat!!! " Dia berteriak dengan wajah panik nya.
Anehnya aku malah tersenyum.
" Bu—bukankah I—ini
" Ke—inginan
" A—anda!...
Dengan susah payah aku mengatakan hal itu.
Mataku sudah terasa berat sekali untuk tetap terbuka.
Aku diguncang keras ke atas dan ke bawah, dan sekali, aku merasa seperti aku sudah mati.
Jeritan, raungan kasar, kekacauan, teriakan, semua orang yang tidak peduli padaku terdengar panik.
' Apa aku bisa bertahan. Tapi aku harus bertahan demi adikku. '
Aku memejamkan mata, sembari mengingat adikku.
...----------------...
Dia berhasil menangkap tubuh yang ambruk dan memeluknya.
Dan pada saat yang sama cairan merah dengan cepat bergerak ke seragam putihnya.
Di sisi lain, Alex yang juga berlari, namun terdahului oleh Brayen, karena jarak Brayen lebih dekat.
" Cepat panggil tabib istana!!!! " Teriak Brayen panik.
Penjaga istana pun datang dan melindungi anggota kerajaan.
Brayen menyadari bahwa perempuan yang ada di pangkuannya sekarang sangat kurus dan lemah.
Melihat rambut putihnya hampir merah, perlahan memudar seperti bunga musim semi yang jatuh.
Memegang Rose di tangannya, Brayen berteriak dengan keras.
Suara gemuruh akhirnya mengungkap suasana mati rasa. Satu persatu, orang-orang yang membeku, dipenuhi keheranan, akhirnya mereka semua mulai bergerak.
" Dimana tabibnya??!!! " Tanya Brayen panik.
Tidak peduli dengan darah yang lengket di tangannya, Brayen membelai Rose dan berbisik.
Ada perasaan kasih sayang yang aneh di antara mereka berdua, tapi dia tidak tahu kenapa ada rasa seperti ini, padahal dia hanya membencinya.
__ADS_1
Rose yang membuka matanya sedikit, dia bersuara.
" Yang Mul—lia.....
" Diam!!!! Kau sedang sekarat!!! " Brayen berteriak dengan wajah panik nya.
Rose tersenyum.
" Bu—bukankah I—ini
" Ke—inginan
" A—anda!...
Seketika ucapan Rose memukul Brayen.
Brayen terdiam membeku, dengan ucapan Rose Saat dia mengatakannya dengan suara rendah seolah itu adalah mantra sihir yang memukul hatinya.
Rose pun memejamkan matanya.
" Rose?!!!! Rosee?!!!!" Brayen semakin panik.
" Persetan, kapan tabib itu datang! Tidakkah kalian lihat dia sekarat?!! " Brayen berkobar dan meledak karena marah.
| Ini bukan keinginanku, aku hanya ingin kamu mengakui kejahatanmu, aku tidak tahu kalau kamu akan menghalangi panah tersebut. | Pikir Brayen.
Kemudian, terdengar seseorang berteriak dengan tergesah-gesah.
" Brayen!! Sepertinya itu panah beracun...
Yang tidak lain adalah Alex, dia muncul bersama Viktor dari kerumunan.
" Aku mempunyai ramuan pereda rasa sakitnya, itu akan membuat Ratu bisa bertahan, sebelum Tabib istana datang. " Ucap Alex dengan cemas.
" Kalau begitu cepat berikan ramuan itu!! " Ucap brayen serius.
" Viktor!! keluarkan ramuan itu!! " Alex memberi perintah.
Viktor mengeluarkan kotak.
Dan isinya adalah ramuan berwarna merah.
...----------------...
BERSAMBUNG...........
APA YANG AKAN TERJADI KEPADA ROSE.....
NANTIKAN CHAPTER SELANJUTNYA....
__ADS_1