
" Apa yang anda maksud? " Tanya Brayen.
Wilson dan Julius saling bertatapan satu sama lain dan mereka pun berbicara.
" Kamu mungkin tidak menyadari bahwa aku sudah menaruh burung ini saat mengirim surat kepadamu. " Ucap Julius.
Brayen menatap lekat burung itu.
Wilson pun menambahkan perkataan Julius.
" Ayah sudah mengawasimu mulai dari surat pertama datang, kau pasti tahu burung apa itu, benarkan? " Ucap Julius seraya bertanya kepada Brayen.
" Aku tahu burung itu, burung itu adalah burung sihir. " Ucap Brayen.
" Argus bicara!! " Julius memerintahkan Argus untuk berbicara.
Argus hanya memiringkan kepalanya.
" Bicara!! " Julius kesal.
" Mana ada burung yang bisa bicara. " Ucap Brayen.
Argus pun mengeluarkan suaranya, tetapi bukan bahasa manusia, dia mengeluarkan suara burung.
' Cip, cip ,cip.......Cip,cip. '
Julius pun mulai marah, dia menyentil paruh Argus dan berbicara dengan emosi.
" Cip, cip,cip,cip. Bicara sekarang juga!! sebelum aku menjadikanmu burung rica-rica!! " Ucap Julius kesal.
Argus pun ketakutan dan dia segera membuka paruhnya lagi.
" Kau tidak sabaran!! aku butuh pemanasan. " Argus berbicara dengan mengepakkan sayapnya.
Brayen yang mendengar suara Argus, dia syok berat.
" Hey bocah!!! Kau menyebut mertuamu Bajingankan, ngaku cepat. " Ucap Argus.
Brayen mengingat perkataanya saat bersama Tensis.
— " Bajingan mana yang berani mengambil istriku, bilang padanya, aku tidak akan menginzinkan Sang Ratu pergi."
Brayen mengusap wajahnya kasar.
| Sial, aku terciduk. Ternyata burung itu mengawasi setiap pergerakkanku, dia bahkan melaporkannya kepada ayah mertua. Burung sialan. | Brayen meludah kesal dalam batinnya.
" Maafkan saya. " Brayen meminta maaf untuk pertama kalinya selain kepada Rose.
" Saya tidak tahu jika anda adalah mertua saya. " Ucap Brayen.
Julius melebarkan matanya.
" Kau tidak tahu, seberapa gatalnya aku ingin merobek mulutmu itu. Tapi melihat putriku, aku menarik diri untuk tidak merobek mulutmu. Aku tidak rela dia mempunyai suami yang tidak memiliki mulut. " Ucap Julius dengan tatapan sinis.
| Ternyata berurusan dengan mertua sangat merepotkan. | Batin Brayen.
" Sebagai gantinya, aku akan memberimu pelatihan bagaimana menjadi menantu yang baik. " Julius berjalan ke arah Brayen dan menepuk pundaknya.
" Bersiap besok, kita akan memulainya. " Bisik Julius.
| Hanya pelatihan saja, aku akan menerimanya. | Brayen berbicara dalam batinnya.
" Pergilah, aku sudah menyiapkan istana di bagian Timur. " Julius memerintahkan Brayen.
| Sepertinya gelarku tidak berlaku di hadapan ayah mertua. Ini kehormatan yang besar bagi ayah mertua, karena bisa menyuruh seorang Raja Turnataran. | Batin Brayen.
" Ingat adik ipar, jangan berbelok ke istana selatan. " Wilson menambahkan.
Brayen menatap Wilson sinis, dan dia pergi begitu saja.
...----------------...
Saat Brayen keluar dari ruangan itu, dia langsung menggerutu.
__ADS_1
" Masa bodo, dengan larangannya. Aku akan tetap pergi ke istana selatan dan tidur bersama Rose. " Brayen menggerutu sambil berjalan.
Brayen pergi ke arah selatan, dia tidak mematuhi Julius.
Tetapi, sebelum itu dia harus menemui Daniel, untuk membantunya mencari kamar Rose.
...----------------...
Istana Selatan.
Malam Hari.
Rose di sambut oleh para Pelayan di istana selatan.
" Selamat datang di istana selatan putri. " Ucap Mereka seraya menunduk hormat.
" Terima kasih. " Ucap Rose ramah.
" Silahkan masuk Putri, kepala pelayan akan memandu anda. " Ucap Gilbet.
" Baiklah, terima kasih karena telah mengantar saya. " Ucap Rose.
" Ini sudah menjadi kewajiban saya. " Ucap Gilbet.
" Kalau begitu, saya permisi. "
" Baiklah. " Ucap Rose.
Gilbet menunduk memberi hormat dan pergi.
Rose pun di pandu menuju kamarnya.
...----------------...
Brayen nekat menyusup ke istana selatan bersama dengan Daniel.
Saat Brayen sampai di istana selatan dia di kejutkan dengan prajurit yang menjaga istana tersebut.
" Sihir, gunakan sihir cepat. " Brayen menyuruh daniel untuk menggunakan sihirnya.
" Yang mulia, di sini ada alarm sihir, jika saya menggunakan sihir, maka kita akan ketahuan. " Daniel berbicara.
" Cari ide lain. " Perintah Brayen.
" Kita coba lewat pintu belakang. " Daniel memberi ide.
Tidak ada cara lain selain lewat pintu belakang, tetapi itu semua tidak ada gunanya, di setiap pintu masuk ada prajurit yang menjaganya.
Brayen tidak kehabisan ide, dia akan masuk dengan memanjat dinding istana.
" Aku harus memanjat dinding istana. " Ucap Brayen yang masih mengendap-ngendap di balik rumput.
" Apa? "
" Anda yakin, akan memanjat dinding? " Tanya Daniel.
" Mengapa tidak, aku tidak bisa membiarkan istriku tidur sendirian. Dia pasti merindukanku. " Ucap Brayen percaya diri.
| Sepertinya bukan Yang mulia Ratu yang merindukan anda, tetapi anda yang merindukan yang mulia Ratu. | Batin Daniel.
Brayen meminta bantuan Daniel untuk mencari di mana kamar Rose.
" Cari kamarnya di sebelah mana!! " Perintah Brayen.
" Saya sudah menggunakan burung untuk mencarinya yang mulia. " Ucap Daniel.
" Ughhh, jangan katakan nama burung di hadapanku, aku trouma dengan burung. " Brayen menggeliat mendengar kata burung.
" Baiklah yang mulia, saya tidak akan mengatakannya." Ucap Daniel.
" Dimana? " Tanya Brayen.
" Itu tepat di depan anda, ada satu jendela di sana yang sudah mematikan lampu, tapi itu cukup tinggi, apa anda bisa memanjatnya. " Tanya Daniel.
__ADS_1
Brayen melihat ke arah jendela tersebut.
Jendela itu cukup tinggi, karena kamar Rose berada di lantai yang paling atas.
Tapi demi Rose, Brayen menyanggupinya.
" Aku sanggup, itu tidak tinggi sama sekali. "
| Gigih sekali. | Daniel menggelengkan kepalanya.
" Silahkan Yang mulia, anda bisa memanjatnya dengan melewati jendela satu persatu. "
Brayen mulai memanjat layaknya cicak.
Dia beralih dari jendela satu ke jendela lainnya, dia terus memanjat hingga keringat yang dia keluarkan tertiup kencangnya angin.
Brayen yang sudah setengah memanjat dia menatap ke bawah.
" Ternyata tinggi banget. "
" Jangan liat ke bawah. " Brayen yang menggantung di jendela atas, dia terus menenangkan dirinya.
| Sial, jika bukan karena kata bajingan, mungkin saja aku tidak akan terjuntai-juntai di atas sini. | Brayen membatin.
...----------------...
Brayen tidak tahu, jika dirinya sudah di pantau oleh Wilson dan julius.
Wilson dan Julius mengawasi istana Rose dengan Tropong sihir yang bisa melihat dalam jarak jauh.
" Ayah, lihat itu. Entah dari hutan mana kera itu berasal. " Ucap Wilson yang melihat ke arah jendela dengan Tropongnya.
" Apa Maksudmu? " Julius bertanya.
" Jangan bilang bocah itu nekad memanjat. " Julius berdiri dan merebut tropong tersebut.
" Kemarikan!! " Julius mengambil teropong tersebut dan menggunakannya.
Julius melihat Brayen memanjat dari tropong tersebut, dia tidak menyangka bahwa menantunya sangat keras kepada dan gigih.
" Bocah tengik itu keras kepala juga, dia nekat memanjat setiap jendela. Dia pikir dia kera apa. " Ucap Julius.
" Bagaimana ini ayah? " Tanya Wilson.
Julius yang masih memperhatikan Brayen dia berbicara.
" Panggil Prajurit dan suruh dia turun. "
| Anak yang gigih, tapi keras kepala. Lumayan, kesukaanku terhadapnya meningkat 10%. | Julius berpikir.
...----------------...
" Sial, anginnya terlalu kencang, badanku seperti akan tertiup angin. " Brayen yang masih bergelantungan, terombang ambing angin yang kencang.
" Yangg muliaaaaaaaaa, semangaaaaaat. " Daniel berteriak memberinya semangat dari bawah sana.
" Bocah tengik!!! jangan berisik, nanti prajurit mendengarnya. " Brayen meludah kesal.
...----------------...
BERSAMBUNG........
__ADS_1