
Sore hari.
Eksekusi Ibu suri dan Count Ferdi beserta pengikutnya akan di laksanakan sore hari ini juga.
Brayen yang sudah berdiskusi dengan Menteri hukum. Tentang hukuman yang akan di berikan kepada keduanya.
Telah memutuskan, bahwa mereka akan di hukum penggal.
Brayen sempat berselisih dengan Menteri hukum, dia ingin Count Ferdi dan Ibu suri di eksekusi dengan cara yang berbeda dengan para pengikutnya.
Tapi itu, di tolak oleh Menteri hukum, karena hukuman yang di maksud sangat kejam dan tidak baik di pertontonkan di depan semua rakyat.
Terutama, hukum tersebut sudah lama di hapus dari hukuman kerajaaan.
Sebagai gantinya, Brayen meminta pengecualian, dia ingin Count Ferdi tetap di hukum dengan di potong alat Vitalnya dan di penggal.
Karena Brayen bersikukuh, akhirnya Menteri hukumnya menyetujuinya.
...----------------...
" Untuk pemotongan alat Vital Count ferdi, akan di laksanakan sekarang sebelum hukuman penggal. " Ucap Tensis.
" Pemenggalan tersisa 30 menit lagi, aku akan menyiksanya dulu sebelum memenggalnya. " Ucap Brayen bersemangat.
" Apa aku boleh ikut? aku ingin melihat dia meringis kesakitan, seberapa menderitanya dia. " Ucap Rose.
Brayen mendekat ke arah Rose dan dia berbisik.
"Aku tidak akan mengizinkan istriku untuk melihat itu semua, tidak boleh." Bisik Brayen.
Rose menatap wajah Brayen dengan bingung.
Dan dia bertanya kembali.
" Kenapa? " Tanya Rose.
" Hah.. " Brayen menghela nafasnya.
" Tensis, tunggu aku di luar, aku ingin berbicara dengan Ratu. " Brayen memerintah.
Tensis dengan patuh menjawab.
" Baik yang mulia, semoga anda di berkahi. "
Tensis pergi dari ruangan tersebut, dan di ruangan itu hanya ada Rose dan Brayen.
Mereka saling bertatapan.
Rose yang bengong dia bertanya kembali.
" Kenapa aku tidak di perbolehkan untuk melihatnya? " Tanya Rose.
" Kau tahu sifatku? " Tanya Brayen.
" Kau keras kepala. " Ucap Rose.
Brayen mengangguk dengan pasti.
" Selain itu, aku juga seorang suami yang posesif, aku tidak mau istriku melihat milik orang lain. Sedangkan milikku, kau belum melihatnya sama sekali. " Ucap Brayen.
Rose tidak mengerti apa maksudnya, dia bertanya kembali.
" Apa maksud milikmu dan milik orang lain? "
Brayen mengusap wajahnya kasar, dan dia berbisik lagi kepada Rose.
"........." 18+
Setelah Brayen berbisik, wajah Rose pun memerah, dia mengerti apa maksud Brayen.
" Jadi, jangan ikut. Jika kau tetap ikut, aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan kepadamu nanti. " Ucap Brayen.
" Ba..baiklah. aku tidak akan ikut, aku akan menyaksikan pemenggalannya saja. " Ucap Rose.
__ADS_1
" Akhirnya aku lega. " Ucap Brayen seolah melepaskan beban berat.
" Aku pergi dulu, tunggu aku di tempat eksekusi. "
' Muaachh ' Brayen mencium kening Rose dan pergi.
Rose memegang keningnya yang di cium oleh Brayen.
Dan dia tersenyum cerah.
...----------------...
Brayen segera pergi ke ruangan tempat Count Ferdi di penjara.
Count Ferdi di penjara di bawah tanah, di tempat yang lebab dan dingin.
Dengan kaki dan tangan terkunci, badannya sangat kurus kering, bahkan pakaian yang dia gunakan sudah tidak berbentuk.
Brayen masuk dengan beberapa Algojo yang akan memotong alat Vital Count Ferdi.
Count yang menyadari kehadiran Brayen.
Dia memberontak, meronta-ronta.
" Lepaskan aku!! Lepaskan!! " Teriaknya.
Brayen duduk di kursi yang telah di siapkan, dia kemudian berbicara.
" Berhentilah memberontak, karena kau tidak akan bisa lepas dari belenggu itu, simpan tenagamu untuk hal lain. " Ucap Brayen dingin.
Count Ferdi yang matanya di tutup dia kemudian meludah ke arah Brayen.
" Cihhh. " Count Ferdi meludah.
' Sringg '
" Beraninya kau dengan mulutmu!! " Tensis berteriak.
Brayen berdiri dari duduknya kemudian menghampiri Count Ferdi.
Brayen dengan kasar meraih dagu Count Ferdi dan meremasnya.
" Sudahku bilang, simpan tenagamu untuk nanti!! " Ucap Brayen dingin.
" Kau adalah manusia yang paling menyebalkan!! Sejak dulu aku tidak suka dengan kenaikan tahtamu!! " Teriak Count Ferdi.
Brayen hanya menyeringai mendengar kata-kata Count.
" Heh....
" Aku tidak peduli, jika kau suka atau tidak. Itu tidaklah penting. "
Count Ferdi menatap Brayen dengan mata penuh dendam.
Brayen melepaskan cengkramannya dengan kasar, dia kemudian duduk lagi di kursinya.
" Ini hari eksekusimu Count Ferdi, apa kau tahu hukuman apa yang cocok denganmu? " Tanya Brayen.
" Itu sudah pasti hukum penggal, akan lebih baik seperti itu. " Ucap Count Ferdi dengan wajahnya yang masih sombong.
Brayen tertawa dengan ucapan Count Ferdi.
" Hahahhah.....
" Kau pikir, aku akan mudah melepaskanmu? " Ucapnya.
" Tidak, kau salah Count. " Brayen menegaskan.
Count Ferdi heran dengan omongan Brayen, wajahnya seketika layu.
" Hukum penggal sudah termasuk hukum kerajaan, tidak ada hukuman yang lain. " Ucap Count Ferdi.
__ADS_1
" Algojo!! " Panggil Brayen kepada Algojonya.
Count yang melihat Algojo masuk membawa kampak di tangannya, wajahnya menjadi tidak tenang.
" Apa kau akan menghukumku di sini? " Tanya Count Ferdi.
" Ya, setengahnya di sini, dan sisanya nanti. " Ucap Brayen.
" Apa, yang akan kau lakukan? " Tanya Count Ferdi tidak sabar.
Brayen menjawab dengan suaranya yang dingin namun tegas.
" Karena kau sudah bermain-main dengan adik istriku, maka taruhannya adalah alat Vitalmu. " Ucap Brayen.
Mendengar hal itu, Count Ferdi berteriak layaknya orang gila, dia tidak pernah menyangka bahwa dirinya akan melalui hukuman yang seperti itu.
Dia mengira, bahwa dirinya akan mati cepat dengan cara di penggal.
Tetapi dia menerima 2 hukuman.
" Apa kau gila!! Aku ini sudah tua, bisakah kau menarik hukuman itu, itu sangat kejam!! " Teriak Count Ferdi.
" Kejam kau bilang? "
Brayen bertanya dengan kesal.
" Melakukan penipuan terhadap anak di bawah umur, melakukan hubungan badan dengan anak di bawah umur, itu pun dengan sesama jenis, tidak hanya itu, kau bahkan menyiksanya dengan cara memukul, tidak memberikan dia makan. Kau bahkan membunuh adikku, sekarang dengan mulutmu kau bilang ini kejam. " Ucap Brayen penuh amarah.
" Aku tidak tahu apa yang anak itu pikirkan ketika dia mati, tapi yang jelas dia sangat menderita karena dirimu. " Tegas Brayen
Brayen memandang Count Ferdi dengan jijik.
" Kau bilang hukuman itu kejam? Tidak, itu tidak kejam bagi orang yang menjijikan seperti dirimu. " Brayen menegaskan.
" Itu hanya untuk kesenanganku saja, itu hal yang wajar!! " Count Ferdi sudah gila dengan mengatakan bahwa yang dia lakukan adalah hal yang wajar.
Ketika Brayen mendengar itu dari mulut Count, dia marah, sangat marah.
Brayen menarik rantai yang mengikat Count Ferdi.
Count Ferdi tercekik karena rantai itu.
' ugghh, khook '
" Aku tidak tahu kenapa manusia sepertimu berada di bumi, kau tidak pantas menjadi manusia!!! Kau lebih pantas menjadi iblis!! "
" yah, sepertinya kau iblis perwujudan manusia. " Brayen dengan ganas menarik rantainya.
' Ughh...ugghh...ugghhh '
Tensis yang melihatnya, segera menghentikan Brayen.
" Yang mulia hentikan!!! dia bisa mati sebelum di eksekusi. " Tensis berusaha menghentikan Brayen.
Brayen yang mulai menyadarinya, dia melepaskan rantainya dengan emosi.
" Hah " Brayen membuang nafas kasar.
" Cepat potong alat Vitalnya, setelah itu beri dia garam pada lukanya, aku tidak peduli mau itu kejam atau pun tidak. Manusia seperti dirinya tidak cocok di kasihani. " Ucap Brayen dengan penuh amarah.
Count Ferdi memohon lagi, agar hukuman itu tidak terjadi.
" Aku mohon, jangan lakukan itu, kau tahu betapa sakitnya itu, apa...apa lagi dengan garam. Kau tidak akan benar-benar melakukanya, kau....yah.....kau tidak akan melakukannya. " Count Ferdi berbicara seperti orang gila yang kehilangan akal.
" Lakukan sekarang juga!!! " Brayen berteriak dengan emosi.
...----------------...
BERSAMBUNG.....
Oke, karena aku dapet notiv terus dari MT dan banyak yang minta up, jadi aku memutuskan untuk update.
Sisanya malam yah😉
By-by
__ADS_1