AKU BUKAN PENJAHAT YANG MULIA

AKU BUKAN PENJAHAT YANG MULIA
CHAPTER 76


__ADS_3

" Aku mohon!! Jangan lakukan itu, lebih baik jika kau langsung membunuhku saja, itu akan lebih baik. " Count terus memohon.


Algojo sudah bersiap dengan kampak tumpul yang ada di tangannya.


" Telanjangi dia!! " Tensis mengarahkan pasukannya.


Algojo itu maju dan beberapa dari pasukan yang Brayen bawa, mereka membantu menelanjangi Count Ferdi.


Count Ferdi terus memberontak, dia merasakan ketakutan yang amat dahsyat bahkan sebelum kampak itu mengenai alat vitalnya.


" Aahhhhh!!......jangan!!....aku mohon jangan!!!...kasihanilah aku...." Count terus merintih dan memohon.


" Diam!!! " Brayen menyambarnya dengan suara keras.


" Lakukan hingga tidak tersisa sedikitpun. " Perintah Brayen.


Tensis dan para Prajurit lainnya, tidak kuat melihat hal tersebut, bagaimanapun juga mereka adalah laki-laki dan memiliki burung yang sama.


Algojo itu mengarahkan kampak tersebut ke arah alat Vital Count Ferdi. Melihat hal itu, Count semakin memberontak, hingga lengannya mengeluarkan darah akibat gesekan yang terjadi antara kulit dan besi.


Count bahkan mengeluarkan cairan kuning yang menjijikan dari alat Vitalnya, saking takutnya dia.


" Tidaaak....lepaskan aku...jangan....jangan menyentuhku......


Algojo mengangkat kampaknya dengan ganas dan perlahan memotong Alat Vital Count Ferdi.


' Grakkck ' suara alat tumpu..


"Tidaaaaaakkkkk......aahhhhhhhhhhhkkkkkkkk...ahhhhhhuuggghh....


Suara rintihan dan jeritan terdengar mengerikan.


Sangat lantang dan nyaring.


" Aaaarghhhggg.....uggghhhhhh.....haahhhh...


Tensis dan para prajurit lainnya, mereka mengalihkan pandanganya.


Hanya suara jeritan dan rintihan yang terdengar.


" Ini belum seberapa, ingatlah sesuatu yang telah kau perbuat selama ini, ayo ingat. " Brayen masih emosi.


Jeritan terus terdengar, kampak tumpu itu masih belum selesai memotong alat vitalnya.


" Aku sengaja memilih kampak tumpu, agar kau bisa merasakannya dengan nikmat. " Ucap Brayen.

__ADS_1


Kampak tumpu, tidak akan langsung memotong sesuatu, benda itu hanya akan memotong perlahan namun pasti.


Ini balasan yang pantas bagi dirinya, dia memang menjijikan dan tidak memiliki hati.


...----------------...


Selama 20 menit Count Ferdi di potong alat Vitalnya, karena semua alat Vitalnya sudah habis terpotong.


Setelah itu, Brayen memberi perintah untuk menaburi garam di atas luka yang masih mengeluarkan banyak darah.


Count masih menjerit dan merintih kesakitan.


" Taburi sekarang juga, biarkan dia merasakan perihnya. " Perintah Brayen.


" Baik Yang mulia. " Jawabnya patuh.


Count yang sudah tidak bertenaga dia terus menangis dan memohon untuk mati lebih cepat.


" A....pa....ya... ng " Ucapnya dengan susah payah.


" Simpan tenagamu, ini masih belum selesai. " Ucap Brayen.


Mereka menaburi garam di atas luka count ferdi.


" Aaaaaaaaahhhhhrrrrggghhhh.....uuhhkk.....


Dia kehabisan tenaga dan suara.


" Ini belum cukup untuk manusia seperti dirimu. " Ucap Brayen dingin.


Count berguling-guling kesakitan, dia tidak bisa berbuat apa-apa, saat ini dia hanya ingin secepatnya mati dan dia menyesali perbuatannya.


" Yang mulia, apa dia akan di biarkan seperti ini? " Tanya Tensis.


Brayen yang masih menatap Count, dia kemudian menjawab.


" Biarkan saja. " Ucap Brayen.


" Baik. " Jawab Tensis patuh.


" Saat eksekusi tiba, bawa dia keluar dan berikan pakaian yang ketat, agar dia terus merasakan lukanya. " Perintah Brayen.


" Saya mengerti yang mulia. "


Brayen berdiri dari duduknya dan dia pergi meninggalkan Count Ferdi yang masih berguling-guling dan meringis kesakitan.

__ADS_1


" Aku harus melakukan eksekusi lainnya. " Ucap Brayen.


...----------------...



Rose tiba di tempat eksekusi, dia dlturun dari kereta.



Saat Rose keluar, semua rakyatnya menyorakkan namanya dengan penuh bangga.


" Hidup, Ratu Rose!!! "


" Hidup, Ratu Rose!! "


Mereka bersorak dengan kedatangan Rose.


Rose yang melihatnya merasa terharu, dia telah berjuang dengan keras untuk ini semua.


Di tengah itu semua, Rose terpaku dengan Guillotin yang terpasang di tengah lapang.


" Itu, adalah pertunjukannya. " gumam Rose.


Saat Rose bergumam, tiba-tiba Rakyatnya menyorakkan nama Brayen.


Itu menandakan bahwa dia sidah datang.


Rose berbalik dan melihat ke belakang.


Di sana, ada Brayen dengan kudanya dan beberapa Prajurit yang dia bawa.



" Apa sudah selesai penghukumannya. " Gumam Rose.


Brayen turun dari kudanya dan menghampiri Rose.


" Rose? Kau sudah siap dengan ini? " Tanya Brayen.


" Ya, aku sudah siap." Ucap Rose.


...----------------...


BERSAMBUNG.......

__ADS_1


byby...😂


__ADS_2