AKU BUKAN PENJAHAT YANG MULIA

AKU BUKAN PENJAHAT YANG MULIA
CHAPTER 50


__ADS_3

" kembalilah sekarang, selagi ada waktu " ucap alex


" apa kondisinya seburuk itu? " tanya rose


| aku tidak tahu jika kondisinya buruk saat itu, jika aku tahu, mungkin aku akan menuruti perkataannya, dan pergi lagi setelah kondisinya membaik. | pikir rose


" kondisinya lumayan menghawatirkan, aku takut ada orang yang memanfaatkan kondisinya saat ini. "


"Terlebih, kita tahu bahwa mana yang ada di dalam jantung brayen sangat besar, mana itu di buru oleh para penyihir, terutama penyihir gelap " jelas alex


alex berdiri dari duduknya, dan menghampiri rose.


" kita harus secepatnya kembali ke istana turnatara, sebelum segelnya benar-benar hancur " ucap alex


saat mereka membicarakan itu semua, tiba-tiba, Julius dan Wilson datang.



" maafkan saya, karena mengganggu pembicaraan kalian " ucap Julius


" maklumilah ayahku, beliau memang seperti itu " ucap Wilson seraya menuju kursi dan duduk


" bajingan tengik!! dimana tatakramamu, apa aku sudah menyuruhmu untuk duduk " ucap Julius datar.


mendengar hal itu,Wilson pun dengan cepat berdiri dari duduknya.


" maafkan saya ayah!! " ucap Wilson lembut seraya membungkuk.


alex dan rose yang melihat hal tersebut menjadi bingung dengan tingkah laku mereka berdua.


" aku baru melihatnya hari ini, bahwa keluarga kerajaan moniquee memiliki hubungan yang harmonis seperti ini " bisik alex kepada Wilson


Wilson dengan hati-hati, mendekatkan kepalanya dan berbisik.


" kau bilang ini harmonis?sebenarnya kau melihat dari mata sebelah mana, sehingga bisa menyimpulkan kata harmonis. " bisik Wilson


" duduk lah, aku tidak akan membiarkan seorang tamu, berdiri seperti itu" ucap julius


mereka semua duduk, dan Julius pun membuka mulutnya lagi.


" aku mendengar bahwa lady ini, adalah ratu kerajaan turnatara ? " tanya Julius


" anda benar, beliau adalah ratu rose Damian turnatara " ucap alex


rose pun berdiri dari duduknya dan memperkenalkan dirinya.


" izinkan saya, memperkenalkan diri dengan hormata " ucap rose seraya membungkuk dengan anggun layaknya seorang ratu


" perkenalkan, nama saya rose Damian turnatara, ratu pertama dari kerajaan turnatara "


Julius hanya tersenyum lembut, dan dia menyuruh rose untuk duduk kembali .


dan rose pun duduk kembali.


" bukankah nama anda adalah Carla? apa itu nama samaran ? " tanya Julius penasaran


" nama saya memang Carla, tapi karena alasan tertentu nama saya berubah menjadi rose " ucap rose.


" jadi seperti itu " Julius mengangguk paham.


rose terlihat gelisah, dia takut jika raja moniquee menanyakan alasan dia kabur dari kerajaannya.


untung saja, Julius adalah raja yang tidak mau ikut campur dengan urusan orang lain.


" saya tidak akan bertanya mengenai alasan anda melarikan diri dari kerajaan anda,


" tapi, saya tadi mendengar sekilas, bahwa anda akan kembali ke turmatara, apa itu benar ? " tanya Julius


" anda benar " jawab rose.


" kapan anda akan kembali ke sana? " tanya Julius sekali lagi


| sebenarnya aku ingin memastikan hal itu terlebih dahulu , tapi aku takut jika itu akan membebaninya | pikir Julius


" secepatnya, mungkin hari ini " jawab rose.


wilson yang sedari tadi mendengarkan Julius dan rose berbicara, dia pun akhirnya membuka mulutnya.


" apa kamu yakin, akan kembali hari ini, kamu tahukan dari kerajaan turnatara ke moniquee sangat menyita waktu? " ucap Wilson


" 3 hari, jika melewati jalur laut, dan 6 hari jika jalur darat " ucap Julius


" saya waktu itu memakai jalur laut , tapi sepertinya saya harus kembali secepatnya " rose serius


" saya dengar, jika kerajaan moniquee memiliki alat teleportasi jarak jauh " alex pun berbicara


" kamu benar, jika kalian memang ingin menggunakannya, silahkan saja " ucap Julius


" bolehkah ? "


" tentu, tapi dengan satu syarat " Julius menambahkan satu persyaratan


" syarat? " tanya alex dan rose


" syaratnya cukup mudah, aku ingin ratu turnatara kembali ke sini, aku hanya ingin menjamu dirimu dengan baik, lebih dari ini, dan banyak sekali hal yang harus di bicarakan " ucap Julius


rose dan alex setuju dengan syarat yang di berikan.

__ADS_1


singkatnya, mereka akhirnya kembali ke kerajaan turnatara dengan alat teleportasi.


...----------------...


setelah mereka pergi dari kerajaan moniquee, Wilson mendatangi ayahnya, dan bertanya.


ruang kerja kerajaan moniquee.



" aku ingin bertanya atas syarat yang anda ajukan tadi " Wilson yang masuk tanpa pemberitahuan segera bertanya.


julius yang sibuk dengan dokumennya mulai berhenti, dan menatap ke arah putranya.


" sudah ku bilang jaga tatakramamu " ucap Julius


" di sini tidak ada siapa-siapa, jadi beritahu saya apa yang ayah lakukan ? " tanya Wilson penasaran


Julius bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah jendela, dia menatap keluar.


" aku teringat dengan ibumu Wilson " ungkap Julius


mendengar hal tersebut, Wilson semakin penasaran.


" apa maksud ayah? " tanya Wilson masih tidak mengerti


" dia mirip dengan ibumu dulu, sosok yang selama ini ku cari , dan perempuan yang bisa membodohiku sebanyak 4 kali, dia adalah wanita yang bisa menipuku. "


| patrisia, wanita yang telah membuatku terlihat bodoh dan tidak memiliki harga diri, tapi aku tetap mencintainya, meski dia selalu muncul dan pergi. | pikir Julius


dalam benaknya, terlintas seorang wanita yang sangat cantik.



" ibu? " gumam Wilson


" ibumu, orang yang selalu kau tanyakan " ucap Julius


" bukankah anda bilang ,bahwa ibuku sudah meninggal ".


" entahlah, maka dari itu aku ingin memastikan dengan cara melakukan tes, jadi rose harus kembali lagi ke sini, apapun yang terjadi " tegas Julius


" kenapa anda sangat yakin ? " tanya Wilson


" ibumu bilang, jika dia memiliki seorang putri dia akan menamainya Carla yang berarti lembut dan rendah hati. "


" sebelumnya dia bilang bahwa namanya adalah Carla , karena itu aku semakin penasaran, dan ingin memastikannya. " ungkap Julius.


" mungkin itu hanya kebetulan " ucap Wilson.


" pergilah , aku lelah " Julius meminta Wilson untuk kembali.


Wilson pun keluar dari ruangannya ...


...----------------...



rose,Layla, Viktor, dan alex telah kembali ke istana, ketika mereka sampai di depan gerbang istana.


para penjaga terlihat terkejut dengan kedatangan mereka, tapi rose dan alex tidak memperdulikannya.


rose memberi perintah kepada para penjaga untuk membuka gerbang masuk istana brayen.


penjaga itu dengan cepat membukanya, dan rose pun segera menuju ke kamar brayen di temani dengan alex.


beneran menit berlalu, mereka sampai di depan pintu kamar brayen, di sana ada tensis dan taran.


" yang mulia!! " tensis yang kaget karena rose kembali ke istana.


" ya tensis, ini aku " ucap rose.


" yang mulia, syukurlah anda kembali " tensis terlihat sangat senang.


" yang mulia, saya mohon masuk lah , yang mulia terus menyebut nama anda. " pinta taran


" baiklah aku akan masuk " ucap rose.


rose dengan cepat masuk ke dalam dan melihat kondisi brayen .


...----------------...


" ray " aku bergegas masuk ke dalam kamarnya.


ini pertama kalinya aku memasuki kamarnya, Kamar tidur tempat brayen, ternyata lebih kecil dari yang kukira. Ruangan ini secara akurat mencerminkan kepribadian brayen.


di dalamnya tidak ada siapa-siapa. Hampir tidak ada perabotan kecuali tempat tidur dan meja.


Kamarnya berbau obat pahit.


aku merasa goyah, meringis pada bau obat yang tidak enak, dan dengan cepat melintasi ruangan, menuju ke tempat tidurnya.


" ray? " panggilku kepada sosok yang terbaring pucat.


aku melihat dan menatap brayen dengan intens. 


Rambut hitam berkilau berserakan di atas bantal.

__ADS_1


sosok brayen , berbaring dengan mata terpejam, menyerupai mahakarya yang hidup.


Setiap kali dia membuka mulutnya, yang ku ingat dia adalah seorang pria yang mengucapkan kata-kata buruk


kepadaku. Tapi sekarang dia berbaring di tempat tidur tanpa berkata-kata. 


aku merasa aneh.


 "aku pikir memang benar bahwa kondisi dirimu tidak baik." gumamku


"...Maafkan aku," gumamku dengan suara kecil.


Kemudian aku perlahan mengulurkan tanganku dan meletakkannya di bawah hidung brayen dengan hati-hati. 


aku merasakan napas ringan yang menggelitik jari-jariku. 


"...Kau baik-baik saja, kan?" tanyaku.


" bangunlah ray " pintaku, mungkin ini akan memberikan efek ,jika aku memanggilnya.


jujur saja, aku sedikit cemas akan kondisi brayen.


" ini tidak sepertimu ray " sekali lagi aku bergumam.


...----------------...


hari semakin gelap, rose yang menjaga brayen terlihat lelah.


rose bersandar ke tempat tidur brayen mengawasinya dia takut jika brayen, tiba-tiba mati seperti adiknya.


saat sudah larut dia mulai tertidur, dan kadang dia bangun lagi untuk melihat apakah brayen masih bernapas atau tidak.


rose melakukan ini beberapa kali.


dalam kantuknya dia mencoba menggosok matanya agar tetap terjaga.


tapi kemudian dia merasakan ada seseorang yang memegangi tangannya.


" ray ?!! " 


rose melihat tangannya di tangan brayen, tapi matanya masih tertutup dan bersyukur napasnya lebih stabil di banding sebelum dia datang ke istana.


"Apa kau bangun saat aku tertidur.." tanya rose.


Jari brayen tersentak dan bergerak saat rose menyapu punggung tangan brayen dengan tangannya yang tersisa.


Ketika melihat brayen lagi,rose bertemu mata emasnya melalui kelopak matanya yang sedikit terbuka.



" ray, apa kamu baik-baik saja?" Untuk pertanyaan rose, brayen hanya mengedipkan matanya beberapa kali dan tidak menjawab.


"Apakah kamu tahu betapa khawatirnya aku? Kenapa kamu tiba-tiba saja jatuh setelah baik-baik saja?! Mengapa?! jika kau memang sakit maka jangan memaksakan dirimu "


rose lega bahwa brayen membuka matanya dengan utuh dan segera merasa sedih.


"...... rose ?" panggil brayen lemas


Air mata meledak ketika mendengar suara bernada rendah.


"Jangan sakit ...... aku takut. Kamu benar-benar... Aku takut kau akan mati. Aku sangat takut kau akan mati seperti adikku.”


aku tahu betapa konyolnya mengatakan


" jangan sakit tanpa syarat " tetapi rose tidak bisa menghentikan mulutnya yang bergerak.


" khawatir? " tanya brayen lemas


"apa maksudmu ? apa mungkin kau berpikir bahwa aku tidak khawatir denganmu " ucap rose.


" ya "


" apa yang kamu pikirkan tentangku ray ?"


"Kenapa kamu khawatir?" tanya brayen lemas


"Apa yang kamu bicarakan?"


" Kamu hanya mencoba meninggalkanku. Jadi mengapa kamu khawatir?"


" itu...karena...!" aku harus tutup mulut untuk sekarang.


rose tidak bisa menyangkalnya.


"Aku mungkin benar-benar mati." ucap brayen putus asa


“Jangan katakan itu.” ucap rose serius


...----------------...


BERSAMBUNG................


JANGAN LUPA LIKE DAN COMMEN


SEE YOU NEXT CHAPTER....


__ADS_1


__ADS_2